Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Arga melangkah menyusuri trotoar Jalan Jingga yang mulai sepi. Lampu jalan yang temaram melemparkan bayangan panjang di atas aspal yang masih lembap oleh sisa gerimis sore tadi. Suara tawa Satria dan binar mata Nala saat mendengarkan kriteria laki-laki idaman gadis itu masih terngiang jelas di telinganya. Kalimat-kalimat Nala terasa seperti sembilu yang menyayat perlahan, menyisakan perih yang tidak berdarah namun sangat nyata.
Angin malam menusuk jaket tipis yang ia kenakan, namun Arga tidak mempercepat langkahnya. Ia justru ingin perjalanan pulang ke rumahnya di Kompleks Griya Asri terasa lebih lama. Ia butuh waktu untuk menata serakan emosi yang porak-poranda setelah mendengar kejujuran Nala di kedai tadi.
Nala ingin seseorang yang aktif. Seseorang yang tidak banyak berpikir. Seseorang yang membawa keceriaan dan keterbukaan dalam setiap langkahnya.
Arga menunduk, memandangi ujung sepatunya yang sudah sedikit usang. Ia adalah antitesis dari semua yang Nala sebutkan. Ia adalah laki-laki yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan pikirannya sendiri, merangkai skenario di kepala yang tidak pernah ia wujudkan dalam tindakan. Ia adalah sosok yang betah bersembunyi di balik bayang-bayang, merasa cukup hanya dengan mengamati Nala dari kejauhan selama bertahun-tahun.
Langkah kaki Arga terhenti di depan sebuah taman kecil yang sudah gelap. Ia menyandarkan tubuhnya pada tiang lampu, lalu menghela napas panjang. Udara dingin yang ia hirup terasa sesak di dada.
Selama delapan tahun ini, Arga merasa dirinya adalah penjaga sebuah rahasia besar. Ia merasa janji masa kecil mereka adalah fondasi yang kokoh untuk masa depan. Namun, kenyataan baru saja menamparnya dengan keras. Nala yang sekarang bukan lagi anak kecil yang menangis saat ia pergi. Nala yang sekarang adalah gadis mandiri yang memiliki standar dan pandangan hidup yang jauh berbeda darinya.
"Apa gunanya menyimpan memori itu jika hanya aku yang memikul bebannya?" gumam Arga pelan.
Suara motor Satria yang tadi menderu pergi seolah kembali terngiang. Satria memiliki segala hal yang tidak dimiliki Arga. Kepercayaan diri yang meluap, kemudahan dalam bergaul, dan keberanian untuk menunjukkan ketertarikan secara terang-terangan. Arga merasa seperti sebuah buku tua yang berdebu di pojok perpustakaan, sementara Satria adalah majalah edisi terbaru yang sampulnya berkilau dan menarik perhatian semua orang.
Arga merogoh saku celananya dan menyentuh gantungan kunci robot yang selalu ia bawa. Benda kecil itu terasa dingin di ujung jarinya. Ia teringat bagaimana Nala menatap benda itu dengan penuh nostalgia beberapa waktu lalu. Ia sempat mengira bahwa momen itu adalah pintu gerbang menuju kembalinya hubungan mereka. Namun, ternyata memori hanyalah memori. Ia tidak bisa menjadi penjamin bagi perasaan di masa kini.
Ia melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih berat. Saat sampai di depan gerbang rumahnya, suasana sunyi menyambut. Arga membuka pintu perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak membangunkan orang tuanya. Ia langsung menuju kamar dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur tanpa sempat mengganti pakaian.
Kegelapan kamar menyelimutinya. Arga menatap langit-langit, membayangkan wajah Nala. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan. Selama ini, ia mungkin hanya jatuh cinta pada bayangan Nala di masa lalu. Ia memuja sebuah janji yang dibuat oleh dua orang anak kecil yang belum mengerti betapa kejamnya waktu bisa mengubah seseorang.
"Mungkin Dimas benar," bisik Arga pada sunyinya kamar.
Ia teringat ucapan sahabatnya itu tentang bersikap realistis. Dimas selalu mengingatkannya bahwa hidup terus berjalan dan manusia berubah. Arga selama ini memilih untuk menutup telinga, lebih nyaman mendekam dalam gua nostalgia yang ia bangun sendiri. Ia menciptakan ilusi seolah-olah waktu berhenti di hari mereka berpisah delapan tahun lalu.
Sekarang, ilusi itu mulai retak. Retakannya menjalar cepat, mengancam akan meruntuhkan seluruh bangunan harapan yang ia rawat dengan penuh ketelitian. Nala sudah bergerak maju. Dia punya dunianya sendiri, teman-temannya yang seru, dan kriteria pria yang sangat jauh dari sosok Arga.
Arga memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan Tania yang menatapnya dengan lembut. Gadis itu selalu ada di depannya, menawarkan sesuatu yang nyata dan tanpa syarat. Namun, Arga selalu memalingkan wajah, terobsesi pada sosok di masa lalu yang kini terasa semakin asing.
"Bodoh," umpatnya pada diri sendiri.
Ia merasa telah menyia-nyiakan waktu dan energi untuk sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kembali. Perasaan setia yang selama ini ia banggakan kini terasa seperti beban yang melelahkan. Ia merasa lelah menjadi pengamat. Ia lelah menjadi orang yang selalu menunggu di garis belakang, berharap seseorang akan berbalik dan menjemputnya.
Nala tidak akan berbalik. Nala sedang berlari menuju masa depan yang cerah, dan Arga hanyalah sisa-sisa kenangan yang tidak sengaja ia temukan kembali di pinggir jalan.
Di tengah kesunyian malam, Arga menyadari sebuah kebenaran pahit. Delapan tahun penantiannya mungkin memang hanya sebuah ilusi sepihak yang ia peluk terlalu erat hingga sesak. Ia merasa seperti seorang pelaut yang terus menjaga mercu suar untuk kapal yang sudah lama tenggelam di tengah samudra.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mendesak keluar dari sudut matanya, membasahi bantal. Arga membiarkan dirinya merasa hancur malam itu. Ia membiarkan kenyataan pahit itu meresap ke dalam jiwanya, menghancurkan sisa-sisa harapan semu yang selama ini menjadi napasnya.
Besok, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan Nala. Namun yang pasti, malam ini Arga harus menerima fakta bahwa cinta yang ia jaga selama hampir satu dekade itu mungkin tidak pernah memiliki tempat di dunia nyata Nala. Arga meringkuk, memeluk lututnya di bawah selimut, mencoba mencari kehangatan di tengah dinginnya kenyataan yang baru saja ia terima.