Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
.
"Sayang..." panggil Raditya lagi. Tatapan datar wanita itu sungguh sesuatu yang tidak biasa.
"Kamu capek ya?" tanya pria itu lembut, berusaha mencairkan suasana. Dengan sabar ia mengambil tas yang ada di tangan Anindya, lalu membimbing bahu istrinya untuk duduk di sofa empuk yang ada di ruang tengah.
"Dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah berselingkuh," gumam Anindya dalam hati.
Kedua matanya tetap menatap lurus ke arah wajah suaminya dengan tatapan yang sama sekali tanpa ekspresi.
"Pria yang demi dia a-aku rela mengorbankan segalanya ternyata hanya seorang baj'ingan."
"Sayang… Ada apa?" tanya Raditya yang mulai terlihat bingung dan gelisah. Sejak tadi Anindya hanya menatapnya tanpa suara, dan tatapan itu membuat bulu kuduknya meremang. Ada perubahan besar pada istrinya malam ini, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Tidak apa-apa," jawab Anindya singkat. Suaranya terdengar datar, datar sekali. "Aku hanya sedikit capek."
"Ya sudah, ayo sini istirahat sebentar," ucap Raditya lalu berjalan cepat menuju ruang makan dan tak lama kemudian kembali lagi dengan segelas air putih di tangan, lalu mengulurkannya kepada Anindya yang masih menatapnya dalam diam.
Anindya menerima gelas itu, namun tidak langsung meminumnya. Tangannya menggenggam benda itu erat-erat.
"Apa karena aku terlalu baik, hingga dia mengira apapun yang dia lakukan, aku tak akan pernah marah atau pergi. Atau karena perusahaan sudah berjalan lancar, lalu dia mengira posisinya sudah aman?"
“Tapi Radit... kamu salah besar. Aku yang menemanimu mengalami semua kesusahan saat awal berbisnis. Aku yang membanting tulang bersamamu. Dan sekarang, ada orang lain yang ingin ikut menikmati hasilnya tanpa pernah bersusah payah sedikitpun? Apa kalian pikir aku akan diam saja?”
“Aku yang menemanimu dari nol. Aku yang membangun jaringan, membangun koneksi, berjuang mengerahkan segalanya hanya untuk kebahagiaan kita berdua. Tapi ternyata, semua itu sama sekali tidak berarti di matamu. Karena itu... jangan salahkan aku mengambil semuanya kembali.”
Anindya menatap Raditya yang sedang tersenyum padanya, lalu perlahan ia menyesap air itu, tanpa Radit tahu, di dalam hatinya, api dendam sudah membara siap melahap segalanya.
"Sayang... ada apa?"
Raditya mengibaskan tangannya perlahan di depan wajah Anindya yang terlihat sedang melamun jauh. Tatapan wanita itu kosong, seakan jiwanya berada di tempat lain.
“Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan? Kalau ada masalah, katakan! Kita hadapi bersama.” sungguh manis mulut Radit berucap.
"Ah... tidak ada apa-apa," jawab Anindya pelan. “Oh iya. Aku lelah sekali hari ini. Aku ingin tidur dengan tenang malam ini. Kamu tidur di kamar tamu saja ya."
Tanpa menunggu jawaban atau protes sedikitpun, Anindya segera berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan dengan langkah pasti, tak peduli seruan dari Radit yang menyuruhnya untuk makan malam dulu.
Raditya menatap kepergian istrinya dengan pikiran berkecamuk. Hatinya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan Anindya? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah sedingin es? Ada firasat tidak enak yang mulai menjalar di ulu hatinya, namun ia tak tahu harus berbuat apa.
Sementara itu, di dalam kamar tidurnya...
Anindya menutup pintu dan memutar kunci, lalu berdiri bersandar pada daun pintu itu.
"Pria yang selingkuh itu sampah... menjijikkan," geramnya pelan. “Aku tidak akan sudi lagi bersentuhan dengannya."
Keesokan harinya, jam makan siang.
Anindya duduk sendirian di sebuah restoran mewah. Selama ini ia selalu berhemat. Lebih memilih membawa bekal dari rumah daripada menghabiskan uang untuk makan di tempat semewah ini. Semua itu ia lakukan demi bisa mengumpulkan harta bersama Raditya. Hanya karena pria itu pernah berjanji tidak akan mengecewakannya, ia rela melakukan tirakat berhemat sedemikian rupa.
Tapi kini... tidak lagi.
Ia tidak akan lagi menahan diri. Ia akan membeli apa yang ia suka, makan apa yang ia inginkan. Daripada uang yang ia kumpulkan susah payah dinikmati oleh pelakor, lebih baik ia habiskan untuk dirinya sendiri.
Ponselnya berdering, panggilan dari suaminya. Pasti laki-laki itu sedang kelimpungan di kantor, karena saat itu harusnya ada pertemuan dengan klien. Tapi ia tak peduli. Mulai sekarang ia tak akan bekerja keras lagi. Dia akan menikmati waktu untuk membahagiakan diri sendiri.
Namun, saat ia baru saja hendak menikmati hidangan yang baru diantar oleh pelayan…
Seorang wanita yang usianya terlihat jauh lebih muda darinya, mendekat sambil menyangga perutnya yang besar. Anindya tahu persis siapa dia. Sofia. Selingkuhan Raditya. Wajah itu terpatri kuat di ingatannya sejak melihat foto dan di rumah sakit kemarin.
Anindya meletakkan kembali garpu dan pisau di tangannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi, menyilangkan kedua tangan di dada, dan menatap wanita itu dengan tatapan sedingin es.
Matanya memindai penampilan Sofia dari atas hingga bawah. Pakaian yang dikenakan Sofia jelas berharga mahal. Begitu pula dengan perhiasan yang berkilau di leher dan jari-jarinya.
Dan dari mana semua itu berasal? Tentu saja sebagian dari hasil Anin mandi keringat, memeras otak, memajukan perusahaan dan memenangkan setiap tender. Lalu kini wanita yang tidak ikut bersusah payah ini, seenaknya menikmati hasilnya? Apa dia layak?
"Kamu terlihat begitu bahagia sekarang. Tapi kamu lupa, sesuatu yang didapat dari hasil merampas, tidak akan bisa dinikmati selamanya. Tunggulah hingga hati itu tiba, dan kamu tak kan punya muka untuk bertemu siapapun!" gumamnya.
Sofia duduk tepat di hadapan Anindya tanpa permisi, seolah sengaja ingin memamerkan perut besarnya.
"Hallo, Nyonya Wicaksono," sapa Sofia dengan senyum manis.
Anindya tidak menjawab. Tidak ada respon sama sekali selain tatapan datar yang menembus masuk ke dalam jiwa wanita itu.
"Sepertinya Nyonya tidak mengenal saya," lanjut Sofia lagi, berusaha tetap terlihat ramah meski mulai risih. "Padahal saya sangat mengagumi Nyonya. Seorang wanita pebisnis hebat yang namanya terkenal di seluruh penjuru negeri. Saya pernah melihat Anda di acara pesta dulu."
Anindya tetap diam. Matanya tak berkedip menatap lurus, membuat suasana semakin canggung.
“Kurang ajar!” umpat Sofia dalam hati. “Aku sudah bersusah payah memoles diri, tapi dia sama sekali tidak merespons! Tidak mungkin dia tidak kenal aku!”
Merasa malu, akhirnya Sofia memilih mundur. Dengan wajah memerah menahan dongkol, ia mengambil kembali tas bermerek mahalnya.
"Ah maaf... sepertinya kehadiran saya sangat mengganggu. Saya akan pergi sekarang," ucapnya lalu berdiri cepat meninggalkan meja itu.
Anindya menatap punggung wanita itu pergi dengan wajah tetap dingin tanpa ekspresi.
"Dia masih begitu muda. Wajahnya cantik, kelihatannya terpelajar juga," batin Anindya berkomentar. "Tapi kenapa malah lebih senang jadi simpanan?”
Orng lain aja tau spa yg lbih pntr,tp dia msih bs songong tnpa tau kl dia ga bsa apa2 tnpa anin.....
heraaaannn....sbnrnya pas pmbgian otak,dia kbgian ga sihhhh?????🤣🤣🤣