Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Untuk Kalian yang Telah Menemani Kami Sampai Sini
Hai, teman-teman pembaca…
Aku tahu, mungkin kalian bertanya-tanya: *“Kenapa masih ada bab lagi? Bukannya sudah selesai di Bab 20?”*
Jawabannya sederhana: karena aku ingin mengucapkan terima kasih.
Terima kasih sudah membuka halaman pertama cerita ini, meski judulnya terdengar biasa saja. Terima kasih sudah terus kembali, bahkan ketika aku kadang lambat update karena Balqis sakit, atau karena aku kelelahan setelah seharian merawatnya. Terima kasih sudah tertawa saat Balqis bilang “itut!”, ikut deg-degan saat dia tidur di motor, dan mungkin… bahkan meneteskan air mata saat aku menggendongnya masuk kamar dalam keadaan ngantuk berat.
Kalian bukan sekadar pembaca.
Kalian adalah saksi.
Saksi dari setiap langkah kecil Balqis, setiap rengekan manjanya, setiap pelukan hangatnya, dan setiap janji yang aku ucapkan di bawah bintang untuknya.
Aku menulis cerita ini bukan untuk jadi terkenal.
Aku menulis karena aku takut lupa.
Takut lupa bagaimana caranya Balqis memandangku dengan mata bulat penuh kepercayaan.
Takut lupa bagaimana suaranya tertawa saat naik motor.
Takut lupa bagaimana dia menyodorkan es krim cokelat kepadaku, padahal itu miliknya.
Dan kalian… kalian membuat semua kenangan itu hidup lagi. Setiap kali kalian membaca, setiap kali kalian memberi like, setiap kali kalian menunggu bab baru — aku merasa seperti tidak sendirian. Aku merasa seperti punya teman-teman yang ikut menjaga kisah kami.
Ada satu hal yang ingin aku sampaikan:
**Terima kasih sudah percaya bahwa cerita sederhana tentang seorang ayah dan anaknya layak untuk dibaca.**
Di dunia yang sering kali terlalu cepat, terlalu bising, terlalu penuh tekanan — kalian memilih untuk meluangkan waktu, duduk tenang, dan menyelami dunia kecil kami. Dunia di mana “Tatem” dan “Onat” adalah harta karun, di mana “itut!” adalah mantra sakti, dan di mana tidur pulas di punggung Ayah adalah bentuk cinta tertinggi.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mungkin suatu hari nanti, Balqis akan besar, dan cerita ini akan menjadi kenangan baginya.
Mungkin suatu hari nanti, kalian akan menceritakan ulang kisah ini kepada anak-anak kalian.
Atau mungkin, kalian hanya akan tersenyum sendiri saat mengingat betapa lucunya Balqis saat minta jajan sambil pakai helm kuning.
Apa pun yang terjadi, aku ingin kalian tahu:
**Kalian berarti bagi kami.**
Tanpa kalian, cerita ini hanya akan menjadi catatan harian di laptopku.
Dengan kalian, ia menjadi sesuatu yang lebih besar: sebuah perjalanan bersama.
Jadi, jika kalian pernah merasa tersentuh, terhibur, atau bahkan terinspirasi oleh kisah kami — maka izinkan aku berkata sekali lagi:
**Terima kasih.**
Terima kasih sudah menjadi bagian dari petualangan kecil kami.
Terima kasih sudah membuatku merasa bahwa setiap kata yang kutulis bernilai.
Terima kasih sudah membuatku ingin terus menulis, bukan karena kewajiban, tapi karena cinta.
Dan jangan khawatir — ini bukan akhir.
Ini hanya jeda sejenak sebelum petualangan baru dimulai.
Karena selama Balqis masih punya pertanyaan aneh, selama dia masih minta “itut!”, dan selama dia masih tidur pulas di pelukanku — maka cerita ini akan terus berlanjut.
Untuk sekarang, istirahatlah sejenak.
Peluk anak kalian erat-erat.
Cium kening mereka.
Dan ingatlah — momen-momen kecil itulah yang suatu hari nanti akan menjadi cerita terbesar dalam hidup kalian.
Seperti halnya kisah kami.
— Ayah Balqis (dan tentu saja, Balqis yang sedang asyik main boneka kelinci di sampingku)
P.S.: Kalau kalian punya momen lucu atau mengharukan bersama anak kalian, silakan tulis di komentar. Aku ingin membacanya. Karena siapa tahu, suatu hari nanti, kisah kalian juga akan menjadi inspirasi bagi orang lain. 💛