Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Rumah yang Bukan Rumah
Gedung perusahaan itu menjulang tinggi di tengah pusat kota, memantulkan cahaya matahari siang layaknya cermin raksasa yang tampak tak terjangkau.
Alya mendongak dari balik jendela mobil, menatap logo besar di bagian atas gedung dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Pratama Group.
Nama itu tidak asing.
Bahkan orang biasa seperti dirinya sekalipun pernah mendengarnya. Perusahaan besar dengan bisnis di mana-mana—properti, hotel, investasi, media. Dunia yang terlalu jauh dari kehidupan Alya selama ini.
Dan sekarang…
Ia baru saja menikah dengan pewarisnya.
Mobil berhenti tepat di depan lobi utama.
Seketika beberapa orang berseragam mendekat dan membungkuk hormat.
“Selamat siang, Pak Raka.”
Raka keluar tanpa banyak bicara.
Alya mengikuti tak lama kemudian, tapi begitu kakinya menyentuh lantai marmer lobi, ia langsung merasa seperti orang asing.
Semua terlihat mewah.
Terlalu mewah.
Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, aroma parfum ruangan terasa mahal, dan orang-orang di sekitar bergerak cepat dengan pakaian formal sempurna.
Alya refleks merapikan kemejanya yang sederhana.
Ia terlihat… tidak cocok berada di sini.
Tatapannya mulai menangkap bisik-bisik kecil.
“Itu istrinya Pak Raka?”
“Mereka menikah kapan?”
“Bukannya Pak Raka belum pernah dekat dengan wanita mana pun?”
Alya menunduk sedikit, merasa tidak nyaman.
Namun langkah Raka tetap tenang.
Tegas.
Seolah tidak peduli pada tatapan siapa pun.
Ia berjalan lebih dulu menuju lift khusus di bagian belakang lobi. Seorang pria berkacamata segera menghampiri mereka sambil membawa tablet.
“Pak, media sudah menunggu di ruang konferensi. Direksi juga sudah hadir.”
Raka mengangguk singkat.
“Baik.”
Pria itu lalu menoleh ke Alya.
Untuk sesaat, ekspresinya berubah sedikit terkejut, seolah tidak menyangka wanita biasa seperti Alya benar-benar menjadi istri atasannya.
Namun ia cepat menutupi ekspresinya dan membungkuk sopan.
“Selamat siang, Nona.”
Alya hanya mengangguk kecil.
Lift terbuka.
Mereka masuk.
Dan ketika pintu lift tertutup, suara keramaian di luar langsung menghilang, menyisakan keheningan yang dalam yang membuat Alya makin gugup.
Ia melirik pantulan dirinya di dinding lift.
Kacau.
Ia bahkan belum sempat menyisir rambut dengan benar.
Sementara di sampingnya, Raka tampak sempurna seperti biasa.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu pemilik perusahaan sebesar ini?” tanya Alya pelan.
Raka tetap menatap lurus ke depan.
“Karena itu tidak penting.”
Alya hampir tertawa kecil.
Tidak penting?
Seluruh hidup pria ini jelas berbeda jauh darinya.
“Bagi saya itu penting,” gumam Alya.
Lift berhenti.
Pintu terbuka.
Dan suara riuh langsung menyambut mereka.
Kilatan kamera.
Suara orang berbicara.
Langkah kaki.
Alya refleks berhenti.
Ruangan besar di depan mereka dipenuhi wartawan.
Puluhan kamera langsung mengarah ke mereka begitu Raka muncul.
“Pak Raka!”
“Benarkah Anda sudah menikah?!”
“Siapa wanita di samping Anda?”
“Kapan pernikahan dilakukan?”
Alya menegang.
Insting pertamanya adalah mundur.
Tapi sebelum ia sempat bergerak, Raka tiba-tiba meraih tangannya.
Alya terkejut.
Hangat.
Itu hal pertama yang ia sadari.
Tangan pria itu besar dan kuat, menggenggamnya dengan mantap seolah memastikan ia tidak kabur.
Alya menoleh cepat ke arah Raka.
Namun pria itu tetap tenang, wajahnya datar seolah tindakan tadi tidak berarti apa-apa.
“Jangan terlihat gugup,” katanya pelan tanpa menoleh. “Mereka akan membaca itu.”
Alya menelan ludah.
Mudah baginya bicara. Tapi yang jadi sorotan kamera saat ini juga dirinya.
Wanita asing yang tiba-tiba muncul sebagai istri pewaris perusahaan besar.
Raka mulai berjalan lagi, masih menggenggam tangannya.
Dan Alya tidak punya pilihan selain mengikuti.
Mereka berdiri di depan ruangan konferensi.
Kilatan kamera kembali menyala bertubi-tubi.
Membuat kepala Alya sedikit pusing.
“Pak Raka, apakah ini pernikahan bisnis?”
“Kenapa Anda merahasiakannya?”
“Apakah keluarga Anda menyetujui pernikahan ini?”
Pertanyaan datang tanpa jeda.
Namun Raka tetap tenang.
Ia menarik kursi untuk Alya terlebih dahulu sebelum duduk di sampingnya.
Gerakan sederhana itu membuat beberapa wartawan langsung berbisik.
“Dia memperlakukan istrinya dengan baik…”
“Jarang sekali melihat Pak Raka seperti ini.”
Alya melirik Raka sekilas.
Pria itu memang memainkan perannya dengan sempurna.
Terlalu sempurna.
Konferensi dimulai.
Salah satu staf membuka acara singkat sebelum akhirnya mikrofon diberikan pada Raka.
“Hari ini saya ingin menyampaikan bahwa saya telah resmi menikah.”
Suara Raka rendah dan stabil.
Tidak keras.
Tapi cukup membuat seluruh ruangan hening.
Alya merasakan puluhan pasang mata langsung tertuju padanya.
“Perkenalkan,” lanjut Raka. “Istri saya, Alya Maheswari.”
Kilatan kamera kembali menyala.
Alya memaksa tersenyum kecil.
Meski jantungnya terasa hampir meledak.
“Apakah pernikahan ini mendadak, Pak?” tanya seorang wartawan.
“Ya.”
“Apakah ini pernikahan karena tekanan keluarga?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa publik tidak pernah mendengar tentang hubungan Anda sebelumnya?”
Raka terdiam sebentar.
Lalu—
“Kami memilih menjaga privasi.”
Jawaban singkat.
Tapi cukup cerdas untuk media.
Alya mulai menyadari sesuatu.
Raka sangat pandai mengendalikan situasi.
Tidak ada celah dalam jawabannya.
Tidak ada emosi berlebihan.
Semua terukur.
Seolah ia sudah terbiasa menghadapi tekanan seperti ini.
“Bagaimana Anda bertemu dengan istri Anda?” tanya wartawan lain.
Untuk pertama kalinya, Alya melihat jeda kecil di wajah Raka.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun ada sesuatu dalam tatapannya ketika ia menoleh ke arah Alya.
“Takdir,” jawabnya akhirnya.
Ruangan langsung ramai.
Beberapa wartawan tertawa kecil.
Sebagian lagi sibuk mencatat.
Sementara Alya membeku.
Takdir?
Pria ini benar-benar bisa berbohong setenang itu?
Konferensi berlanjut hampir tiga puluh menit.
Sepanjang waktu itu, Alya harus terus berpura-pura tenang.
Padahal telapak tangannya mulai berkeringat.
Kepalanya pening.
Dan setiap kilatan kamera terasa seperti tekanan baru.
Sampai akhirnya acara selesai.
“Terima kasih atas waktunya.”
Raka berdiri lebih dulu.
Lalu lagi-lagi—
Ia mengulurkan tangan pada Alya.
Alya ragu sepersekian detik sebelum akhirnya menerima tangan itu.
Kilatan kamera kembali berbunyi.
Dan entah kenapa… jantung Alya kembali berdebar aneh.
Bukan karena media.
Tapi karena sentuhan itu.
Mereka keluar dari ruangan konferensi dengan cepat, dikawal beberapa staf.
Begitu pintu tertutup dan keramaian tertinggal di belakang, Alya langsung menghembuskan napas panjang.
“Saya hampir mati tadi,” gumamnya.
Raka meliriknya singkat.
“Anda melakukannya dengan baik.”
Alya sedikit terkejut.
Itu… pujian?
Meski nadanya tetap datar, kalimat itu terdengar tulus.
“Serius?”
“Ya.”
Alya menatapnya beberapa detik.
Lalu tanpa sadar tertawa kecil.
Pendek.
Lelah.
“Kalau ini baru awalnya, saya takut membayangkan setahun ke depan.”
Raka tidak menjawab.
Namun untuk sesaat, Alya merasa ekspresi pria itu sedikit melunak.
Sedikit saja.
“Mobil sudah siap, Pak,” kata pria berkacamata tadi.
Raka mengangguk.
“Kita pulang.”
Satu kata itu membuat Alya terdiam.
Pulang.
Aneh sekali mendengar kata itu dari pria ini.
Karena ia tahu—
Tempat yang akan mereka tuju bukan rumahnya.
Bukan tempat yang akrab.
Bukan tempat yang hangat.
Melainkan rumah asing…
bersama suami asing.
Mobil kembali melaju meninggalkan gedung perusahaan.
Kali ini suasana lebih sunyi.
Alya menyandarkan kepalanya perlahan ke kursi.
Tubuhnya lelah.
Mentalnya lebih lelah lagi.
Ia menoleh sedikit ke arah Raka.
Pria itu sedang membaca sesuatu di tabletnya, fokus seperti sebelumnya.
Seolah konferensi tadi bukan hal besar.
Seolah menikah bukan sesuatu yang mengubah hidup.
“Raka.”
“Hm?”
Alya ragu sejenak.
Lalu bertanya pelan—
“Apakah kamu pernah menyesal mengambil keputusan?”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Raka berhenti membaca.
Ia menoleh.
Tatapannya langsung bertemu dengan mata Alya.
Dalam.
Sulit ditebak.
Dan entah kenapa… terasa lebih manusiawi.
“Ya,” jawabnya pelan.
Alya sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka pria ini akan menjawab sejujur itu.
“Lalu?”
Raka kembali menatap lurus ke depan.
“Karena itu,” katanya tenang, “saya tidak suka mengulang kesalahan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Meninggalkan rasa penasaran yang mengganjal.
Kesalahan apa?
Dan kenapa rasanya… pria ini sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada pernikahan kontrak mereka?
Mobil terus melaju.
Menuju rumah yang bahkan belum pernah Alya lihat.
Dan semakin dekat mereka ke sana—
Semakin kuat perasaan bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.