"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
fajar setelah badai
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah gorden, menggantikan kegelapan mencekam malam sebelumnya. Lampu-lampu di langit-langit kamar Lara tiba-tiba menyala, menandakan aliran listrik telah kembali normal sejak fajar tadi.
Lara mengerjapkan matanya, perlahan menyesuaikan diri dengan terangnya ruangan. Hal pertama yang ia ingat adalah badai semalam, dan hal kedua yang ia cari adalah sosok di balik pintu kamarnya.
Saat ia menoleh ke arah pintu yang masih terbuka, ia melihat Baskara masih di sana. Pria itu tidak lagi duduk tegap; kepalanya bersandar di sandaran kursi dengan mata terpejam rapat. Ia tampak tertidur sangat lelap dalam posisi duduk, masih mengenakan kemeja hitam semalam yang kini tampak sedikit kusut. Di tangannya, ia masih menggenggam ponsel yang layar senternya sudah mati.
Lara turun dari ranjang dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia mendekat dan berdiri di ambang pintu, menatap wajah Baskara dari jarak dekat. Dalam tidurnya, gurat tegas di wajah pria itu tampak lebih rileks, meski sisa-sisa kelelahan karena berjaga semalaman tidak bisa disembunyikan.
"Kak Baskara beneran nggak tidur di kamar..." bisik Lara haru.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang ceria terdengar dari ujung lorong. Arsel muncul dengan rambut sedikit berantakan dan handuk di bahunya, sudah siap-siap untuk berangkat sekolah.
"Pagi Kak Lara! Wah, lihat deh si Abang," goda Arsel sambil tertawa kecil saat melihat kakaknya masih di kursi malas. "Dia kalau sudah janji jagain orang memang nggak main-main ya. Padahal aku cek jam tiga pagi tadi dia masih melek banget lho, Kak!"
Suara Arsel rupanya cukup untuk membuat Baskara terjaga. Ia tersentak, matanya langsung terbuka dan seketika menjadi waspada. Hal pertama yang ia lakukan adalah menatap Lara dari bawah ke atas.
"Lara? Kamu nggak apa-apa? Ada petir lagi?" tanya Baskara dengan suara serak khas orang bangun tidur, masih setengah sadar.
Lara tersenyum manis, sebuah senyuman yang jauh lebih cerah dari matahari pagi itu. "Nggak ada, Kak. Sudah pagi, lampunya juga sudah nyala. Kakak pasti capek banget ya?"
Baskara mengusap wajahnya, lalu berdeham sambil membetulkan posisi duduknya yang kaku. "Saya tidak apa-apa. Selama kamu bisa tidur nyenyak, itu sudah cukup."
"Duh, pagi-pagi sudah sarapan drama romantis ya aku," celetuk Arsel sambil berlalu menuju kamar mandi. "Bang! Cepat cuci muka! Katanya mau beli sarapan buat kita sebelum aku berangkat ulangan!"
Baskara berdiri, meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia menatap Lara sejenak, lalu mengacak rambut Lara pelan dengan sisa kantuknya. "Mandilah. Saya akan belikan sarapan untuk kalian. Hari ini hari terakhir PKKMB, kita harus berangkat tepat waktu."
Lara mandi dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Guyuran air hangat seolah meluruhkan sisa-sisa ketakutan dari badai semalam. Ia memilih pakaian yang rapi untuk hari terakhir PKKMB, dan tak lupa, ia menyematkan bros kelopak lili pemberian Baskara di kerah jas almamaternya. Bros itu berkilau indah, menjadi aksen yang sempurna untuk penampilannya pagi ini.
Lara turun ke lantai satu dan mendapati rumahnya sudah jauh lebih rapi. Arsel sedang duduk di ruang makan sambil sibuk membolak-balik buku rumus matematikanya, mulutnya komat-kamit menghafal.
"Wih, Kak Lara! Cantik banget pakai bros itu," puji Arsel tanpa mengalihkan pandangan dari buku. "Pas banget di Kakak. Abang emang kalau milih barang nggak pernah gagal kalau buat orang spesial."
Lara hanya bisa tersipu, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Abang kamu sudah lama perginya, Sel?"
"Baru sepuluh menit yang lalu. Katanya mau cari bubur ayam langganan yang enak di dekat sini. Tahu sendiri kan Bang Baskara, kalau soal makanan buat orang rumah—eh, maksudnya buat Kak Lara—pasti dicarikan yang terbaik," goda Arsel lagi sambil nyengir.