Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 6
Secangkir kopi hitam Amelia letakkan di meja sofa. Caelan yang semula berbaring di sofa panjang bangun perlahan.
“Terima kasih.”
Amelia hanya mengangguk menerima ucapan terima kasih yang terdengar begitu tulus itu.
“Aku tidak tahu kalau mengurus bayi bisa selelah ini, padahal aku baru mengurusnya sekitar empat jam,” ujar Caelan setelah menyesap kopi.
“Bayangkan kalau kau mengurusnya seharian, setiap hari, selama satu minggu,” sahut Amelia. Ia juga sedang minum kopi, tapi bukan kopi hitam pekat seperti milik Caelan melainkan es kopi susu.
Amelia memerhatikan Caelan yang terdiam, sepertinya pria itu memikirkan apa yang ia katakan sebelumnya. Amelia tidak tega sehingga buka suara lagi agar tidak menakuti Caelan. “Sebenarnya-“
“Kau sangat hebat.” Ucapan Caelan memotong kalimat Amelia. “Bukan hanya kau, tapi semua ibu dan orang-orang yang mengurus bayi di dunia. Karena mengurus bayi benar-benar bukan hal mudah.”
Amelia tersenyum. “Memang tidak mudah, tapi menyenangkan dan seru. Terkadang, membuat emosi naik ke ubun-ubun, tapi lebih sering memberikan rasa bahagia. Khusus untukku, memiliki Emi dan merawatnya setiap hari membuatku merasa hidupku masih berarti.” Pandangan Amelia tertuju pada Emi yang pulas tidur di kasur bayi.
“Aku tidak bisa berkata tidak setuju dengan ucapanmu.” Perkataan Caelan membuat Amelia menoleh pada pria itu. “Meskipun aku baru punya pengalaman beberapa jam mengurus Emi dan kelelahan karenanya, tapi aku merasa bahagia. Aku merasa Henry hadir kembali dalam kehidupanku.”
“Kau merindukan saudaramu,” ujar Amelia yang dijawab anggukan oleh Caelan. “Itu yang menyebabkanmu datang tiba-tiba hari ini. Karena ingin menemukan sosok Henry pada Emi?”
“Apakah itu salah?” tanya Caelan.
“Tidak sepenuhnya, karena aku pun sama,” jawab Amelia.
Amelia dan Caelan terdiam lama, mereka terpesona pada gadis kecil berambut hitam dengan pipi tembem yang masih terlelap.
“Kurasa, saatnya kita bicara serius.” Caelan memecah keheningan.
“Baiklah, ayo mulai,” ucap Amelia.
“Karena Emi adalah anak Henry, berarti dia adalah keponakanku,” Caelan memulai.
Namun, Amelia segera menyela, “Hal itu belum dibuktikan dengan tes DNA.”
“Kurasa ….”
Melihat Caelan yang terlihat ragu, Amelia kembali berkata, “Kau berubah pikiran soal tes DNA?”
Caelan mengangkat bahu. “Sekarang tidak terlalu ingin melakukannya lagi,” sahut pria itu.
“Tapi aku tetap ingin melakukannya sesuai tanggal yang kita sepakati.” Caelan terkejut dengan pernyataan Amelia, membuat Amelia segera mengemukakan alasannya. “Aku tidak ingin ada keraguan bahwa Emi benar-benar anak Henry.”
Caelan mengangguk setuju. “Kalau begitu, lakukan sesuai kesepakatan kita sebelumnya.” Jeda sesaat sebelum Caelan melanjutkan, “Asumsinya sekarang, Emi adalah putri Henry, keponakanku. Jadi, aku ingin terlibat dalam membesarkan Emi.”
Amelia seketika menegang. Pikiran bahwa Caelan akan mengambil Emi darinya kembali muncul. Bagaimana jika setelah hasil tes DNA nanti Caelan malah mengakui Emi sebagai anaknya, bukan anak Henry saudara kembarnya? Jika begitu, Amelia akan kehilangan hak untuk membesarkan Emi.
“Amelia, ada apa?”
Amelia terkejut sementara matanya terangkat ke wajah Caelan, tepat bertatapan dengan mata biru, jernih, dan tajam.
“Katamu kau ingin terlibat membesarkan Emi,” kata Amelia dengan suara tegang.
“Benar. Aku menginginkan hal itu.”
“Terlibat sejauh apa? Apa tepatnya maksudmu?” tanya Amelia, ketakutan Caelan akan merebut Emi membuatnya sangat gugup.
“Tenang, Amelia. Aku tidak akan merebut Emi darimu.” Ucapan Caelan menenangkan Amelia.
“Lalu apa yang kau inginkan?” Amelia bertanya dengan hati-hati.
“Entahlah,” jawab Caelan. Amelia dapat melihat kebingungan dan kejujuran dalam sorot mata Caelan. “Kurasa, yang kuinginkan adalah sesering mungkin bertemu dan menghabiskan waktu dengan Emi. Meskipun mengurus bayi terasa sangat sulit dan melelahkan, tapi aku akan terbiasa. Benar, kan?”
“Tentu saja, kau akan terbiasa,” jawab Amelia. “Dan tentu saja, kau bisa mengunjungi Emi kapan pun yang kau mau. Aku tidak akan mencegahmu menemui Emi.” Amelia berusaha memberikan kemudahan pada Caelan agar pria itu tidak berpikir merebut Emi darinya. Karena jujur saja, jika Caelan berkeras merebut Emi, Amelia akan sulit bertahan. Di kondisinya sekarang akan sulit mempertahankan hak perwalian Emi apabila Caelan memutuskan membawa masalah mereka ke meja hijau.
Sebelumnya, tujuan Amelia menemui Caelan adalah meminta tanggung jawab dalam bentuk finansial untuk masa depan Emi. Bukannya keterlibatan langsung pria itu dalam kehidupan Emi. Namun, jika Caelan bisa memberikan keduanya tanpa merebut Emi dari Amelia, maka Amelia akan menerima semuanya.
“Jujur saja, aku harap kau tidak mengambil hak perwalian Emi dariku. Tujuanku menemuimu beberapa hari lalu bukan untuk menyerahkan Emi padamu, tapi meminta bantuan dari segi finansial.” Sangat sulit bagi Amelia mengakui keterbatasannya, tapi ia memilih untuk jujur pada Caelan. “Kondisi keuanganku saat ini tidak terlalu bagus untuk bisa memberikan kehidupan layak pada Emi. Meskipun demikian, aku tidak mau melepaskan Emi. Makanya, aku mendatangimu untuk mendapatkan bantuan finansial yang menurutku adalah hak Emi, karena sebelumnya kupikir Emi adalah putrimu. Egois, bukan?”
Tidak terasa air mata Amelia menetes. Ia menangis karena terlalu menyakitkan untuk mengakui keterbatasannya. “Aku tidak bisa kehilangan Emi. Dia satu-satunya kenangan yang tertinggal dari Olivia.”
Caelan menenangkannya dengan lembut. “Manusia mana yang tidak egois. Kalau di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kau tenang saja, aku tidak akan merebut hak perwalian Emi. Kondisi finansialku memang tidak ada masalah, tapi aku laki-laki belum menikah yang tinggal sendirian di apartemen di lantai teratas kantorku. Meskipun bisa menyewa babysitter, aku tidak terbiasa mengasuh seorang bayi. Sedangkan kau sudah mengasuh Emi sejak lahir meskipun dengan keterbatasanmu, kau melakukannya dengan baik.”
Amelia memejamkan mata sekejap dan mengangguk. “Jadi, kau tidak akan merebut Emi dariku?”
“Tentu saja, bukan itu niatku saat datang.” Dengan suara lembut Caelan menenangkan Amelia. “Aku sama sepertimu, ingin memiliki kenangan terakhir dari adikku. Aku akan terlibat dalam kehidupan Emi, mungkin dengan datang seminggu sekali untuk menghabiskan waktu dengannya. Jika kau setuju.”
Amelia cepat-cepat menjawab. “Aku tidak masalah dengan itu.”
“Selain itu, aku juga ingin datang di pesta ulang tahun, hari raya, dan lainnya. Kemungkinan besar, orangtuaku juga ingin ikut terlibat dalam kehidupan Emi.”
Mendengar orangtua Caelan disebut, Amelia seketika ketakutan lagi.
“Tenang, mereka tidak akan mengambil Emi. Aku jamin.” Caelan segera menenangkan. “Mungkin sesekali mereka ingin Emi menginap. Namun, tidak akan mengambil Emi darimu. Karena mereka juga ingin menikmati masa pensiun yang santai.”
Amelia mengangguk sambil menyapu air mata dari pipinya.
“Aku akan membiayai semua kebutuhan Emi, akan kukirimkan setiap bulan. Untuk jumlahnya kau katakan saja padaku.”
“Aku akan kirimkan perhitungan pengeluaran untuk Emi setiap bulannya. Biaya susu, popok, pakaian, dan lainnya, akan kurincikan,” ujar Amelia.
“Tentu, kau bisa kirimkan padaku semua perincian itu dan juga nomor rekeningmu. Mungkin besok, jika kau bisa membuatnya hari ini.”
“Atau kau bisa membantu kami berbelanja. Kebetulan aku punya rencana membeli susu dan popok Emi hari ini.”
Caelan langsung menyetujui ide Amelia. “Kita pergi bersama.”