"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Satu per Satu Anak Buah Mulai Jatuh
Malam semakin larut, dan suasana di markas Klan Naga Hitam terasa semakin mencekam. Awalnya, tempat ini adalah benteng yang dijaga ribuan pasukan tangguh, tempat di mana orang biasa tidak berani mendekat dalam radius seratus langkah.
Namun, tiga hari terakhir ini... sesuatu yang aneh terjadi.
Seperti ada hantu maut yang berkeliling di dalam benteng mereka sendiri.
GLEK!
Di sebuah lorong gelap di bagian gudang belakang, seorang penjaga berdiri dengan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya mengawasi kanan-kiri dengan panik.
"Si... siapa di sana?! Keluar kau!!" teriaknya sambil mengacungkan pedang dengan tangan gemetar.
Baru saja rekan-rekannya berteriak memanggilnya, tapi sekarang... sunyi. Tidak ada suara apa pun kecuali desiran angin yang dingin.
Tadi, ada lima orang penjaga yang bertugas di area ini. Sekarang, tinggal dia sendiri.
Teman-temannya satu per satu menghilang. Tidak ada suara pertarungan, tidak ada teriakan minta tolong. Mereka hanya pergi memeriksa suara aneh, dan tidak pernah kembali. Hanya ada genangan darah dan senjata yang tertinggal di lantai.
"Astagfirullah... monster... ada monster di sini..." batinnya menjerit ketakutan.
Tiba-tiba, dari bayangan tembok di depannya, sebuah suara berat dan dingin berbicara pelan.
"Kalian memang banyak bicara untuk ukuran orang yang akan mati."
"SIAPA?!" Penjaga itu mengayunkan pedangnya sembarangan. "Muncul! Lawan aku secara jantan!!"
"Jantan? Kalian tidak pantas disebut jantan. Kalian hanya serigala yang suka memangsa domba tak berdosa."
Wush!
Sebuah bayangan hitam melintas begitu cepat di depan matanya. Penjaga itu hanya sempat melihat kilatan mata merah yang mengerikan sebelum lehernya terasa hangat dan ringan secara tiba-tiba.
Byur!
Kepala itu terguling, dan tubuhnya rubuh.
Di tengah kegelapan, Li Yao menyeka bilah pedangnya yang basah dengan kain. Matanya menatap gerbang utama aula utama yang masih jauh.
"Satu lagi," bisiknya datar. "Masih banyak lagi."
Sejak malam pertama ia menyusup masuk, ia tidak langsung menyerang pusat. Ia bermain kucing dan tikus. Ia memburu para pengawal, para ahli, dan para komandan kecil satu per satu, seperti memetik bunga di taman.
Di ruang komandan, suasana sedang kacau balau.
"Berapa banyak lagi yang hilang malam ini?!" teriak seorang komandan berbadan besar sambil menggebrak meja. Wajahnya pucat pasi karena marah sekaligus takut.
"J-jumlahnya sudah mencapai dua puluh tujuh orang, Tuan! Termasuk tiga orang pemimpin regu!" jawab anak buahnya dengan gemetar.
"Dua puluh tujuh?! Dalam waktu kurang dari tiga jam?! Bagaimana bisa?! Apakah ada pasukan musuh yang menyerang secara massal?!"
"Bukan... bukan pasukan, Tuan. Sepertinya... hanya satu orang."
"SATU ORANG?!" Komandan itu melongo tak percaya. "Kau gila?! Satu orang bisa membunuh dua puluh tujuh ahli bela diri kami tanpa ada yang sempat memberi tahu?! Itu mustahil!"
"Tapi itulah kenyataannya, Tuan! Para penyintas terakhir bilang... mereka tidak melihat bentuk tubuhnya jelas. Hanya melihat bayangan hitam dan mata merah. Dia bergerak lebih cepat dari angin! Dia seperti iblis!"
Tiba-tiba, dari arah jendela yang terbuka, sebuah benda melayang masuk dan jatuh brak di lantai ruangan itu.
Semua orang menunduk melihatnya. Itu adalah kepala manusia! Kepala salah satu penjaga elit mereka yang tadi bertugas di gerbang dalam!
Di leher yang putus itu, tergantung sebuah catatan kecil yang ditulis dengan tinta darah:
"Giliran kalian selanjutnya."
"AAAAAAHHHH!!!"
Teriak histeris pecah di ruangan itu. Para prajurit yang biasanya gagah berani kini berlarian panik, mengacungkan senjata ke segala arah, tidak tahu harus melindungi diri dari mana.
Ketakutan itu menular. Jika rekanmu yang kuat mati satu per satu tanpa bisa melawan, maka mentalmu akan hancur sebelum pedang musuh menyentuh lehermu.
Di atas atap yang tinggi, Li Yao duduk santai memandang kekacauan di bawah. Ia bisa mendengar teriakan-teriakan panik itu.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang kejam.
"Lihatlah mereka, Qingyu..." bisiknya pada angin malam. "Dulu mereka begitu sombong, begitu kejam saat menangkapmu. Tapi lihat sekarang? Hanya dengan sedikit permainan, mental mereka sudah hancur lebur."
Ia berdiri, pedangnya siap di tangan.
"Permainan bersembunyi sudah selesai. Sekarang... saatnya pesta pembantaian yang sesungguhnya dimulai."
Li Yao melompat turun dari atap, menyatu dengan kegelapan.
Satu per satu...
Satu per satu...
Ia tidak akan berhenti. Ia akan terus membunuh sampai tidak ada lagi yang bernafas di tempat ini. Sampai nama Klan Naga Hitam musnah dari muka bumi.