NovelToon NovelToon
SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.

Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.

Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.

Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.

Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.

"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."

Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.

Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?

Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: KEDATANGAN DI PAVILIUN BUNGA

Setelah meninggalkan gang sempit yang penuh dengan aroma kematian, Mo Fei berjalan melangkah ringan menyusuri jalanan kota Chang An yang mulai sepi. Bayangannya yang panjang tertarik di atas jalan batu, bergerak selaras dengan cahaya bulan yang bersinar temaram.

Ia tidak terburu-buru. Bagi seorang ahli jarum, ketenangan adalah kunci segalanya. Hati yang goyah akan membuat sasaran meleset, dan satu milimeter kesalahan saja bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.

"Tugas malam ini selesai," gumamnya pelan sambil membenarkan posisi ikat rambutnya. "Sekarang... waktunya mencari tempat istirahat yang nyaman."

Namun, baru saja ia hendak berbelok menuju penginapan kecil di sudut kota, tiba-tiba indranya yang tajam menangkap sesuatu.

Wusss!

Angin berubah arah. Tercium aroma wangi bunga yang sangat harum, namun bercampur dengan aura yang... tegang dan berbahaya.

Di kejauhan, dari arah Taman Kekaisaran, terlihat sekelompok orang berkuda dengan cepat. Di tengah barisan itu, terdapat sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda putih. Pengawal-pengawal yang mengelilinginya mengenakan baju besi mengkilap dan membawa tombak panjang.

Itu adalah iring-iringan keluarga kerajaan.

Namun, mata tajam Mo Fei segera menyadari ada yang salah.

Di atap-atap rumah di sepanjang jalan, terlihat bayangan-bayangan hitam bergerak cepat seperti kelelawar. Mereka mengikuti iring-iringan itu dari atas, bersiap menerkam kapan saja.

"Ah... ternyata malam ini masih ada pekerjaan rumah lain ya," Mo Fei tersenyum lebar, matanya berbinar penuh semangat. "Seru nih!"

Tanpa berpikir dua kali, ia melompat. Tubuhnya melayang ringan, mendarat dengan sempurna di atas atap sebuah toko obat, lalu terus melompat dari satu bangunan ke bangunan lain, mengikuti iring-iringan kerajaan itu dari jarak aman.

 

Sementara itu, di dalam kereta kencana yang mewah itu, duduklah seorang gadis muda.

Wajahnya cantik jelita dengan kulit seputih salju, namun alisnya terkerut dan ekspresinya sangat kesal. Ia memainkan sebuah kipas sutra berwarna merah muda dengan kasar, sesekali menghentakkan kakinya ke lantai kereta.

Ia adalah Putri Lian Er, putri kesayangan Kaisar yang terkenal memiliki sifat keras kepala dan berani mati.

"Membosankan! Sungguh membosankan!" gerutunya dengan nada tinggi. "Hanya karena ada sedikit kabar bahaya, Ayah melarangku keluar bebas? Apa aku ini burung yang harus dikurung dalam sangkar emas?!"

"Tuanku... Mohon tenang," bisik dayang yang menemaninya dengan wajah pucat. "Ini demi keselamatan Putri. Belakangan ini banyak pendekar jahat yang berkeliaran mencari masalah."

"Ah, sudahlah! Kalau ada yang berani datang, suruh saja pengawal itu memenggal kepalanya!" seru Lian Er dengan angkuh. "Aku tidak percaya ada orang di dunia ini yang berani melawan kekuatan Kekaisaran!"

Baru saja kalimat itu keluar dari mulutnya...

SYUUUUUT!!!

Puluhan anak panah hitam tiba-tiba meluncur deras dari segala arah! Mereka datang dari atap rumah, dari balik pohon besar, menembus hujan ke arah kereta kencana dengan niat membunuh!

DUNG! DUNG! DUNG!

Suara benturan keras terdengar saat panah-panah itu menghantam pelindung kereta. Meskipun kereta itu terbuat dari kayu keras dan berlapis besi tipis, serangan sepadat itu lama-lama bisa jebol juga!

"Serangan!! Musuh menyerang!!" teriak salah satu pengawal.

"Lindungi Putri!! Benteng Pertahanan!!"

Para pengawal segera membentuk formasi melingkar, mengangkat perisai mereka. Namun, para penyerang itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah pendekar-pendekar tingkat tinggi yang disewa untuk pembunuhan.

Dari atas atap, lima orang pria bertopeng melompat turun. Di tangan masing-masing, mereka membawa sabit berantai yang mematikan.

"Hahaha! Putri kecil yang manis... ayo ikut kami!" teriak salah satu penyerang dengan suara serak. "Kami akan membawamu ke tempat yang jauh lebih 'menyenangkan'!"

Lian Er terkejut hingga wajahnya pucat. Ia baru sadar, bahaya itu nyata. Ia mundur ke sudut kereta, tubuhnya gemetar bukan main. Keberaniannya tadi lenyap seketika melihat darah mulai tumpah di luar sana.

Para pengawal satu per satu robohur tertusuk senjata musuh. Situasi semakin genting.

"Ini... ini kiamat ya?" bisik Lian Er dengan air mata berlinang. "Apa aku harus mati di sini?"

 

Tepat saat seorang penyerang besar mengayunkan sabitnya untuk menghancurkan atap kereta...

Ting!

Suara halus terdengar lagi.

Pria itu tiba-tiba berhenti bergerak. Sabitnya terlepas dari tangan, dan ia roboh tersungkur ke tanah dengan mata terbelalak. Tepat di lehernya, tertancap satu jarum emas yang sangat kecil.

"Hah? Ada apa dengan Boss?" tanya anak buahnya bingung.

Belum sempat mereka memproses apa yang terjadi, suara ting-ting-ting terdengar lagi bertubi-tubi, lebih cepat dari kedipan mata.

Satu per satu para penyerang itu roboh tanpa suara. Dalam hitungan detik, lima orang pembunuh yang tadi terlihat begitu garang dan menakutkan, kini sudah tergeletak tak bernyawa di jalanan.

Semua terjadi begitu cepat hingga para pengawal yang tersisa hanya bisa melongo tak percaya.

"Siapa... siapa yang melakukan ini?!" seru kepala pengawal dengan panik.

Dari atas atap rumah tertinggi, turunlah sebuah sosok berbaju putih. Ia melayang turun perlahan seperti kepingan salju, mendarat dengan anggun tepat di tengah jalan, di antara puing-puing pertarungan.

Itu adalah Mo Fei.

Ia masih tersenyum santai, tangannya kembali dimasukkan ke dalam lengan baju. Ia melangkah mendekati kereta kencana yang rusak sebagian.

"Waduh... waduh... ramai sekali ya," ucap Mo Fei dengan nada bercanda. "Maaf ya aku baru datang. Tadi sempat mampir makan bakpao dulu di jalan. Hehe."

Kepala pengawal segera menghunus pedang dan menodongkannya ke arah Mo Fei. "Kau! Kau siapa?! Apa kau kaki tangan mereka?!"

Mo Fei mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, senyumnya tak pernah hilang. "Aduh, jangan marah-marah dong, Om. Kalau aku musuh, kalian semua pasti sudah jadi mayat dari tadi lho."

Ia lalu menoleh ke arah jendela kereta yang terbuka. Di sana, terlihat wajah cantik Lian Er yang masih ketakutan, namun kini juga bercampur rasa penasaran.

Mata mereka bertemu.

"Nah, Nona Putri," sapa Mo Fei dengan ramah. "Malam-malam begini bahaya lho jalan-jalan sendirian. Untung ada 'Pangeran Penolong' lewat sini. Kalau tidak... hmm, mungkin Nona sudah jadi hidangan malam para hantu."

Lian Er menatap pemuda aneh itu. Tampan, tapi tingkahnya lucu dan santai sekali padahal baru saja membunuh banyak orang.

"Kau... kau yang membunuh mereka semua?" tanya Lian Er dengan suara pelan.

"Ya, sayalah yang melakukannya," jawab Mo Fei bangga. "Dengan ini... Nona Putri berhutang nyawa padaku lho. Gimana? Mau kasih hadiah apa buat pahlawanmu ini?"

Lian Er tiba-tiba mendengus kesal, menyembunyikan rasa takutnya dengan sikap angkuh. "Hah! Pahlawan apanya?! Cuma pakai trik curi-curi! Kalau berani lawan satu lawan satu pakai pedang yang gagah! Jangan pakai benda-benda kecil yang tidak jelas itu!"

Mo Fei tertawa keras mendengar jawaban itu. "Hahaha! Dasar gadis kecil yang tidak tahu terima kasih! Baiklah, terserah kamu mau bilang apa. Yang penting nyawamu selamat kan?"

Ia lalu menatap langit, wajahnya sedikit berubah lebih serius.

"Tapi ingat ya, Putri. Musuhmu bukan cuma mereka tadi. Bau darah yang kuat sudah tercium ke mana-mana. Mulai malam ini... duniamu tidak akan pernah sama lagi."

Tiba-tiba, dari arah hutan di luar kota, terdengar suara terompet panjang yang menusuk telinga. Suara itu bergema mengerikan, seolah memanggil seluruh kekuatan jahat untuk berkumpul di Chang An.

Wajah Mo Fei menjadi sungguh-sungguh.

"Permainan baru saja dimulai..." bisiknya.

1
anggita
Mo Fei...👌 ikut ng👍like aja, ☝iklan. moga novelnya lancar.
putra ilham: ​"Amin! Terima kasih banyak atas dukungannya dan sudah kasih 'like'. Doa seperti ini sangat berarti buat saya sebagai penulis. Stay tuned terus ya!"
total 1 replies
Fwyz
ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor
putra ilham: ​"Hehe, judulnya memang sengaja dibuat bikin penasaran. Makasih ya sudah bilang epik! Tunggu saja bab-bab selanjutnya, bakal lebih seru lagi!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!