Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Rekaman Lensa dan Skakmat Sang Pengkhianat
Udara pagi di SMA Taruna Citra terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Rama saja. Hari ini adalah hari eksekusi. Rencana gila yang disusunnya bersama Nayla di warung mie ayam kemarin sore akan segera diuji coba. Sepanjang perjalanan dari parkiran menuju kelas, otak Rama berputar cepat, mengalkulasi setiap kemungkinan terburuk layaknya sedang merancang strategi balapan di jalur pegunungan.
Di depan deretan loker siswa yang masih sepi, Nayla sudah berdiri menunggunya. Gadis itu bersandar santai pada pintu loker nomor 043, dua pintu di sebelah loker Rama. Di tangannya terdapat sebuah kotak bekal yang cukup besar dan sebuah buku kamus bahasa Inggris super tebal yang entah ia dapatkan dari mana.
"Pagi, Babu. Muka lo tegang amat kayak mau ujian nasional," sapa Nayla dengan senyum jahil yang seolah tak pernah absen dari wajahnya.
Rama mendengus pelan, menengok ke kanan dan kiri koridor memastikan tidak ada anak OSIS atau guru yang patroli. "Lo bawa apa yang gue minta semalam?"
Nayla membuka kotak bekalnya. Di dalamnya bukan berisi nasi goreng atau sandwich, melainkan sebuah ponsel pintar keluaran lama yang layarnya sudah sedikit retak, tapi lensa kameranya masih berfungsi sempurna.
"Nih, HP lama gue. Baterainya udah gue charge full sampai seratus persen. Aplikasi kameranya bisa ngerekam video non-stop sampai empat jam selama memorinya nggak penuh," jelas Nayla setengah berbisik. Ia lalu menyodorkan kamus tebal itu. "Dan ini, udah gue bolongin tengahnya buat nyelipin HP-nya. Lensa kameranya pas banget ngintip dari celah halaman. Rapi, kan? Raka nggak bakal sadar kalau dia lagi masuk TV."
Rama menerima buku itu dengan perasaan takjub. Ia membuka halamannya dan melihat lubang persegi panjang yang dipotong dengan sangat presisi di bagian tengah kertas. "Gila. Lo rela ngerusak kamus tebal begini? Kalau ketahuan guru bahasa Inggris, kelar hidup lo."
"Tenang aja, itu kamus edisi jadul, gue nemu di gudang rumah. Lagian, demi keselamatan majikan dan kelancaran hidup gue di sekolah ini, ngorbanin satu kamus sih bukan masalah besar," sahut Nayla acuh tak acuh.
Rama tersenyum tipis. Entah kenapa, kejahilan dan kenekatan gadis ini selalu berhasil meredam rasa cemasnya. Ia membuka loker nomor 045 miliknya, menyusun beberapa buku cetak sebagai alas, lalu meletakkan kamus jebakan itu dalam posisi berdiri. Lensa kamera dari HP Nayla menghadap lurus ke arah pintu loker. Siapa pun yang membuka pintu itu, wajahnya akan terekam dengan kualitas High Definition.
"Gue tekan tombol record-nya sekarang," ucap Rama sambil menekan layar HP tersebut sebelum menutup halaman kamus. Ia mengunci kembali lokernya. Klik. "Sekarang kita tinggal nunggu," bisik Rama. "Habis ini jam pelajaran olahraga gabungan kelas dua belas. Kelas pasti kosong, koridor juga sepi. Itu waktu yang paling logis buat Raka beraksi karena dia pasti ngerasa aman."
Nayla mengangguk setuju. "Sip. Gue bakal pura-pura sakit perut biar bisa diam di kelas, jadi gue bisa mantau pergerakan di koridor dari jendela. Lo fokus aja main basket sama teman-teman lo di lapangan. Kalau gue lihat Raka jalan ke arah loker lo, gue misscall."
"Hati-hati. Kalau dia masuk ke kelas dan lo ketahuan mantau dia, langsung lari keluar. Jangan coba-coba konfrontasi sendirian," ancam Rama dengan nada protektif yang lagi-lagi keluar tanpa sadar.
"Iya, iya, posesif banget sih jadi babu," ledek Nayla sambil terkekeh pelan dan melenggang pergi menuju kelas.
Dua jam kemudian, lapangan basket luar ruangan SMA Taruna Citra sudah riuh oleh suara decit sepatu dan pantulan bola. Matahari Yogyakerto mulai terasa menyengat. Rama berlari ke sana kemari, men-dribble bola, dan sesekali mencetak angka. Secara fisik ia berada di lapangan, bergabung dengan Dika dan anak-anak cowok lainnya. Namun pikirannya tertinggal di lorong loker.
Setiap beberapa menit sekali, Rama melirik ke arah kantong celana olahraganya yang sedikit menonjol, menunggu getaran yang menjadi sinyal dimulainya operasi penangkapan.
Dan getaran itu akhirnya datang.
Bzzzt! Bzzzt!
Rama langsung mengerem langkahnya secara mendadak, mengabaikan bola operan Dika yang akhirnya meleset keluar lapangan. "Woy, Ram! Lo ngelamun aja! Tangkap dong bolanya!" protes Dika dari tengah lapangan.
"Sori, Dik! Perut gue tiba-tiba mulas banget! Gue ke toilet bentar, bilangin Pak Yanto ya!" teriak Rama beralasan, langsung berlari kencang meninggalkan lapangan sebelum guru olahraganya itu sempat bertanya.
Begitu sampai di area gedung sekolah yang sepi, Rama mempercepat langkahnya menjadi lari sprint. Ia berbelok ke arah koridor laboratorium kimia yang tembus langsung ke area loker siswa. Di ujung koridor yang agak gelap, Rama melihat siluet Nayla yang sedang bersembunyi di balik pintu ruang lab yang tak terpakai. Gadis itu melambaikan tangan dengan panik, memberikan isyarat agar Rama mendekat tanpa suara.
Rama menyelinap masuk ke ruangan itu, napasnya sedikit memburu. "Gimana?" bisiknya persis di dekat telinga Nayla.
Nayla menunjuk ke arah celah pintu yang terbuka sedikit. "Itu dia. Target udah masuk perangkap."
Rama mengintip dari celah pintu. Darahnya mendidih seketika.
Di sana, berjarak sekitar lima belas meter dari tempat persembunyian mereka, Raka sedang berdiri tepat di depan loker 045. Cowok ber-name tag OSIS itu menengok ke kanan dan kiri dengan gelisah. Setelah merasa aman, Raka merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci master yang kemarin dilihat Rama di ruang OSIS. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan kunci itu, memutarnya, dan membuka pintu loker Rama.
Raka tersenyum licik. Ia lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dari balik kemejanya. Ia menaruh amplop itu tepat di atas tumpukan buku Rama, disusul dengan menempelkan satu lagi stiker logo Kobra Besi di bagian dalam pintu loker.
"Sialan. Dia beneran nyelundupin sesuatu," desis Rama. Rahangnya mengeras. Ia bersiap menendang pintu lab dan melabrak Raka saat itu juga, tapi tangan Nayla dengan sigap menahan lengannya.
"Tunggu, Ram. Biarin dia tutup lokernya dulu biar rekaman videonya aman dan nggak keburu dirusak sama dia kalau kalian baku hantam," tahan Nayla logis.
Rama menahan egonya mati-matian. Ia melihat Raka kembali mengunci loker itu dengan kunci master, lalu memasukkan kunci tersebut ke saku celananya. Saat Raka berbalik dengan senyum puas dan bersiap melangkah pergi meninggalkan lorong loker, Rama akhirnya mendorong pintu lab hingga terbuka lebar.
Langkah kaki Rama yang berat dan menggema di lorong sepi itu membuat Raka tersentak. Anggota OSIS itu kontan menoleh. Wajahnya langsung pucat pasi melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya. Rama Arsya Anta, dengan seragam olahraga yang basah oleh keringat, menatapnya dengan pandangan membunuh yang sama sekali tidak mencerminkan sosok Ketua Klub Sains yang kalem.
Di belakang Rama, Nayla mengekor dengan langkah santai, melipat tangan di depan dada seolah sedang menonton pertunjukan sirkus yang menarik.
"A-Anta? Lo... bukannya lo lagi jam olahraga di lapangan?" suara Raka bergetar, mencoba mempertahankan senyum arogannya yang kini terlihat sangat dipaksakan. Ia diam-diam memundurkan langkahnya, tangannya refleks meraba saku celana yang berisi kunci master.
Rama tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati lokernya, berdiri tepat berhadapan dengan Raka. Aura gelap yang biasanya hanya ia keluarkan di jalanan Wana Asri kini menguar kuat, membuat Raka merasa seperti sedang berhadapan dengan psikopat, bukan teman satu sekolahnya.
"Gue emang lagi olahraga, Rak. Tapi gue tiba-tiba penasaran, kira-kira ada tikus got nggak ya yang lagi asyik ngacak-ngacak loker gue?" suara Rama terdengar sangat rendah dan berat. Ia memutar kode gembok kombinasinya, membuka pintu lokernya, dan menatap amplop cokelat yang diletakkan Raka beberapa detik lalu.
Rama mengambil amplop itu, merobek ujungnya, dan mengeluarkan isinya. Matanya menyipit. Itu adalah lembaran-lembaran kertas yang berisi kunci jawaban lengkap untuk try out ujian nasional minggu depan.
Sebuah tawa sinis meluncur dari bibir Rama. "Wah, kunci jawaban try out? Biar besok pas ada razia dadakan lagi, lo bisa nemuin ini di loker gue dan nuduh gue curang biar posisi juara paralel sekolah gue dicabut? Licik juga ide lo. Ini ide murni dari otak udang lo, atau perintah langsung dari bos jalanan lo itu? Si Tora?"
Mendengar nama 'Tora' disebut secara gamblang oleh Rama, mata Raka membelalak ngeri. Lututnya seketika lemas. "Gue... gue nggak tahu apa yang lo omongin! Gue cuma kebetulan lewat sini! Itu amplop emang udah ada di dalam loker lo dari awal! Lo jangan nuduh sembarangan, ya! Gue bisa laporin lo ke Pak Trisno atas tuduhan fitnah ke anggota OSIS!"
Raka mencoba mengelak dengan suara lantang, mengandalkan jabatannya untuk menekan Rama.
"Laporin aja," sela Nayla tiba-tiba. Gadis itu melangkah maju, berdiri di sebelah Rama. Ia tersenyum manis ke arah Raka. "Kebetulan banget, gue sama Rama dari tadi lagi ngerjain proyek dokumenter buat tugas ekskul sinematografi. Dan lo tahu nggak bagian paling lucunya?"
Nayla menunjuk ke dalam loker Rama. Raka mengikuti arah telunjuk itu dan melihat sebuah kamus tebal. "Di dalam kamus itu, ada kamera HD yang lagi asyik merekam semua kegiatan di depan loker ini dari tadi pagi. Termasuk detik-detik di mana tangan lo yang mulia itu masukin kunci jawaban dan nempel stiker kobra sialan ini."
Wajah Raka yang pucat kini berubah menjadi seputih kertas HVS. Ia menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin membasahi dahinya. Ia menatap loker itu, lalu menatap Rama dan Nayla bergantian dengan napas terengah.
Rama menutup pintu lokernya dengan suara bantingan yang cukup keras, membuat Raka terlonjak kaget. Tangan kiri Rama melesat maju, mencengkeram kerah seragam Raka, dan mendorong cowok itu hingga punggungnya menghantam deretan loker besi dengan suara dentuman nyaring.
"Dengerin gue baik-baik, pecundang," desis Rama di depan wajah Raka. Mata elangnya mengunci pandangan Raka yang kini diliputi teror. "Gue tahu Tora bayar lo buat jadi anjing suruhannya di sekolah ini. Lo pikir dengan neror gue di sini, lo bisa bikin gue hancur? Lo salah besar. Lo baru aja ngebangunin iblis yang salah."
"Ram... lepasin gue, Ram... gue bisa jelasin..." Raka memohon dengan suara tercekat, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Rama yang ternyata sekuat cengkeraman catok besi bengkel.
"Nggak ada yang perlu dijelasin," potong Rama mutlak. "Mulai besok, lo mundur dari pencalonan Ketua OSIS. Lo kasih alasan apa pun terserah, sakit kek, pindah rumah kek, gue nggak peduli. Dan lo bilang sama bos lo si Tora, kalau dia berani masukin satu stiker lagi ke area sekolah ini, atau dia berani nyentuh sehelai aja rambut cewek di sebelah gue ini..."
Rama melirik Nayla sekilas sebelum kembali menatap Raka dengan tatapan membunuh. "...gue sendiri yang bakal seret lo berdua ke kantor polisi pakai bukti rekaman ini, plus bukti kunci master ilegal yang sekarang ada di saku celana lo. Paham lo?!"
Raka mengangguk-angguk cepat dengan panik, air mata ketakutan nyaris menetes dari sudut matanya. "Paham! Paham, Ram! Gue janji gue bakal mundur! Gue nggak bakal ikut campur urusan lo sama Tora lagi! Sumpah!"
Rama menatap jijik pada cowok di depannya itu. Dengan sekali dorongan kasar, ia melepaskan cengkeramannya. Raka nyaris jatuh terduduk, terbatuk-batuk mencari udara.
"Cabut dari hadapan gue sekarang sebelum gue berubah pikiran dan beneran matahin hidung lo," perintah Rama dingin.
Tanpa disuruh dua kali, Raka langsung mengambil langkah seribu. Ia berlari kocar-kacir meninggalkan lorong loker, harga dirinya sebagai OSIS kebanggaan sekolah hancur lebur tanpa sisa dalam hitungan menit.
Koridor kembali sunyi. Rama menyandarkan sebelah tangannya di pintu loker, menundukkan kepalanya, dan membuang napas panjang. Beban berat yang sejak kemarin bertengger di dadanya kini menguap sebagian. Ancaman internal di sekolah berhasil dilumpuhkan.
"Wah, gila. Akting lo meranin bos mafia tadi natural banget, Ram. Sumpah, kalau gue jadi Raka, gue mungkin udah ngompol di celana," puji Nayla sambil bertepuk tangan pelan, memecah ketegangan yang pekat.
Gadis itu mengambil kamus jebakannya dari dalam loker, mengeluarkan ponselnya, dan menekan tombol stop pada rekaman videonya. "Aman. Bukti udah tersimpan di cloud. Raka nggak bakal berani macem-macem lagi sama lo di sekolah."
Rama menoleh menatap gadis itu. Raut wajahnya yang keras perlahan melembut. Ia mengacak-acak rambutnya yang basah oleh keringat, lalu tanpa sadar menyentuh puncak kepala Nayla yang tertutup jilbab ungu, mengusapnya pelan.
"Makasih," ucap Rama tulus, suaranya terdengar sangat lega. "Otak lo ternyata berguna juga biarpun isinya kebanyakan novel halu. Kalau nggak ada ide gila lo, gue mungkin udah baku hantam sama Raka dan kena DO hari ini."
Nayla terpaku. Usapan lembut di kepalanya itu seperti aliran listrik statis yang langsung menyengat jantungnya. Matanya mengerjap beberapa kali, wajahnya memanas hebat. Ia buru-buru menepis tangan Rama dari kepalanya, pura-pura merapikan jilbabnya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali.
"A-apaan sih pegang-pegang! Berani ya lo sekarang ngelecehin majikan sendiri," omel Nayla salah tingkah, membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan senyumnya yang tertahan. "Sebagai gantinya, lo harus beliin gue mie ayam komplit sehabis pulang sekolah. Titik."
Rama terkekeh lepas. Tawa renyahnya menggema di lorong loker yang sepi itu. Beban dua dunianya masih ada, ancaman Kobra Besi di aspal jalanan masih menanti, namun selama gadis cerewet ini berada di sisinya, Rama merasa ia tidak perlu lagi bertarung sendirian di dalam kegelapan.
"Siap, Tuan Putri. Mie ayam komplit meluncur. Tapi lo yang bayar parkirnya," canda Rama sambil berjalan berdampingan meninggalkan koridor, siap menghadapi apa pun yang akan dilemparkan dunia jalanan kepadanya malam nanti.