NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sejak kejadian dengan Alice tadi, ada sesuatu yang berubah di antara Nindi dan Clay. Bukan perubahan kecil. Bukan juga sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Melainkan jarak. Jarak yang tiba-tiba terasa jelas, dingin, dan menusuk.

Nindi marah.

Bukan marah biasa yang bisa hilang dalam beberapa menit. Tapi marah yang diam. Yang tidak meledak, namun justru lebih terasa karena ia memilih menarik diri.

Sepanjang hari itu, Nindi benar-benar menghindari Clay. Tidak ada sapaan. Tidak ada kontak mata. Bahkan sekadar berada di ruang yang sama pun, Nindi akan mencari alasan untuk menjauh.

Dan itu terasa jelas. Sangat jelas. Clay tidak bodoh. Ia menyadarinya sejak awal. Sejak pertama kali Nindi menolak menatapnya. Sejak pertama kali ia memanggil, tapi tidak mendapat jawaban. Sejak pertama kali ia melihat, gadis itu memilih berbicara dengan orang lain, tapi tidak dengannya. Dan anehnya hal itu mengganggunya lebih dari yang ia kira.

Clay mencoba mengingat kembali kejadian tadi. Momen di depan Alice. Tatapan Nindi. Jawaban yang diberikan gadis itu “anggap saja begitu.”

Nada yang dipaksakan. Senyum yang tidak tulus. Dan entah kenapa hal kecil itu terasa seperti sesuatu yang mengusiknya dari dalam. Seolah ada yang tidak ia suka. Seolah ada sesuatu yang salah. Tapi ia tidak benar-benar mengerti apa. Yang ia tahu hanya satu hatinya tersentil.

Dan sebelum sempat berpikir panjang, ia sudah bertindak. Mendekat. Menekan. Memojokkan. Memaksa Nindi menjawab. Dan sekarang … Clay  baru sadar.

Betapa salahnya itu.

Clay berdiri di balik meja bar, tangannya bergerak otomatis meracik kopi. Namun pikirannya tidak ada di sana. Matanya sesekali melirik ke arah kasir. Ke arah Nindi. Gadis itu terlihat biasa saja. Bekerja seperti biasa. Berbicara dengan pelanggan. Tersenyum pada orang lain. Tapi tidak untuknya. Dan itu terasa aneh. Tidak nyaman. Bahkan… mengganggu.

Di sisi lain ruangan, dua pasang mata memperhatikan. Sejak tadi. Tanpa benar-benar ikut campur. Maron menyandarkan tubuhnya di dekat meja, tangannya terlipat santai. Namun matanya tajam, mengikuti setiap pergerakan Nindi dan Clay. Di sampingnya, Cris berdiri dengan membawa nampan kosong, pura-pura sibuk, padahal sejak tadi tidak benar-benar bergerak.

“Kamu lihat itu?” bisik Maron pelan.

Cris melirik sekilas, lalu mengangguk kecil. “Lihat.”

Nindi baru saja melewati Clay. Dekat sekali. Namun tidak ada reaksi. Tidak ada sapaan. Bahkan tidak ada lirikan. Seolah Clay tidak ada di sana.

“Wah…” Maron tersenyum tipis. “Ini bukan marah biasa.”

Cris menghela napas pelan. “Dia benar-benar kesal.”

Maron tidak langsung menjawab. Ia justru menatap ke arah Clay. Memperhatikan lebih dalam. Gerakan tangannya yang sedikit lebih kaku. Tatapannya yang sesekali melirik tanpa sadar. Dan jeda-jeda kecil yang tidak biasa.

Ini pertama kalinya, ya?” gumam Maron pelan.

“Apanya?” tanya Cris.

“Clay, diabaikan.”

Cris terdiam sejenak. Lalu mengangguk. “Iya.”

“Aku yakin,” bisik Maron lagi, “ini bukan sekadar salah paham.”

Cris meliriknya.“Maksudmu?”

Maron menyeringai. “Dia terganggu karena Nindi.”

Cris terdiam. Memikirkan. Lalu perlahan ia mulai setuju.

Sepanjang hari, Clay terus mencoba. Dan sepanjang hari itu juga ia gagal. Nindi tidak memberinya ruang. Tidak memberi celah. Dan untuk pertama kalinya, Clay terlihat tidak tahu harus berbuat apa.

“Itu Clay kan?” kata Maron pelan. “Yang biasanya santai?”

“Sekarang kelihatan seperti orang bingung,” balas Cris.

“Bukan bingung,” koreksi Maron. “Tapi frustrasi.”

“Sepertinya…” ucap Maron lagi dengan santai, “aku tidak perlu repot-repot menyusun rencana lagi.”

Cris langsung menoleh. “Maksudmu?”

Maron mengangkat bahu ringan. “Dia sudah setengah sadar.”

Tatapannya kembali mengarah pada Clay. Lebih tajam. Lebih yakin.

“Kalau yang dia rasakan ke Nindi bukan lagi sekadar tertarik.”

Cris tidak langsung menjawab. Namun kali ini, ia tidak membantah.

Kembali pada Clay.

Frustrasi? Benar. Itu yang Clay rasakan. Ia ingin menjelaskan. Ingin mengatakan bahwa apa yang terjadi tadi bukan seperti yang Nindi pikirkan. Ia tidak berniat membuat Alice cemburu. Tidak berniat menyeret Nindi ke dalam hubungan yang tidak jelas. Tidak juga berniat mempermainkan situasi. Semua itu terjadi begitu saja. Karena satu hal sederhana, ia terganggu.

Terganggu oleh jawaban Nindi. Terganggu oleh kemungkinan bahwa Nindi tidak benar-benar peduli padanya. Dan entah kenapa, itu tidak ia suka.

Tapi bagaimana menjelaskannya?

Bagaimana ia harus mengatakan bahwa dirinya terganggu karena hal seperti itu?

Bahkan bagi dirinya sendiri, itu terdengar aneh. Tidak masuk akal. Dan mungkin memalukan. Karena selama ini, ia tidak pernah peduli. Tidak pernah merasa perlu untuk peduli. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda.

Hari jadi terasa panjang. Lebih panjang dari biasanya. Dan bagi Clay, itu melelahkan. Bukan karena pekerjaan. Tapi karena jarak yang terus dijaga Nindi. Jarak yang tidak bisa ia tembus.

Hingga akhirnya, kafe sudah masuk jam tutup. Lampu mulai diredupkan. Suara pelanggan menghilang satu per satu. Suasana menjadi lebih tenang. Lebih sepi. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Clay melihat kesempatan.

Nindi sedang merapikan meja. Sendirian. Clay menarik napas. Lalu melangkah mendekat.

“Nindi.”

Tidak ada jawaban.

“Nindi, kita perlu bicara.”

Nindi berhenti. Tapi tidak menoleh. Beberapa detik hening. Lalu akhirnya, Nindi berbalik. Tatapannya datar. Tidak ada emosi. Dan justru itu yang terasa paling menusuk.

Clay tidak terbiasa dengan tatapan seperti itu. Bukan marah. Bukan benci. Tapi, dingin. Seolah ia tidak penting.

“Aku minta maaf.” Kalimat itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan. Lebih jujur dari biasanya. “Seharusnya aku tidak melakukan itu.”

Nindi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Beberapa detik. Cukup lama untuk membuat Clay merasa tidak nyaman.

“Aku tidak butuh permintaan maafmu,” jawab Nindi akhirnya. Nada suaranya tenang. Tapi tegas.

Clay menahan napas. “Tadi aku—”

“Bercanda?” potong Nindi. Tatapannya berubah. Lebih tajam.

“Kalau itu yang kamu anggap bercanda, berarti kita punya definisi yang berbeda.”

Clay terdiam.

“Apa kamu tahu rasanya diposisikan seperti itu?” lanjut Nindi.

“Di depan orang lain. Di depan mantanmu. Seolah aku bagian dari permainanmu?” Nada suaranya tidak tinggi. Tapi setiap kata terasa.

“Kalau kamu punya masalah dengan Alice, selesaikan dengan dia. Jangan bawa aku.”

Clay mencoba menjawab.

“Aku sudah bilang ke dia—”

“Tapi itu bukan urusanku,” potong Nindi lagi.

Hening.

Untuk pertama kalinya, Clay tidak punya jawaban. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan. Semua yang ingin ia katakan tiba-tiba terasa tidak cukup.

“Ya…” Clay akhirnya menghela napas pelan.

“Kamu benar.” Kalimat itu keluar pelan. Tapi jujur. Ia menunduk sejenak. Lalu menatap Nindi lagi.

“Kali ini… aku memang salah.”

Nindi tidak bereaksi. Tidak melembut. Tidak juga menjauh. Ia hanya diam. Dan di situlah Clay sadar. Ia memang seperti itu. Selama ini. Lebih sering menyakiti daripada membahagiakan. Lebih sering bermain daripada serius. Dan tanpa sadar ia melakukan hal yang sama pada Nindi.

“Aku tidak minta kamu langsung memaafkanku,” lanjut Clay. “Cuma… jangan hindari aku seperti ini.”

Nindi menatapnya. Ada sedikit perubahan di matanya. Bukan lunak. Tapi ragu. Namun hanya sebentar.

“Aku tidak menghindar,” jawabnya akhirnya. “Aku cuma memilih tidak terlibat.”

Kalimat itu sederhana. Tapi jelas. Dan cukup untuk membuat Clay terdiam.

Nindi melangkah pergi. Meninggalkannya. Tanpa menoleh. Dan Clay hanya bisa berdiri di sana. Menatap punggung Nindi yang menjauh. Dan untuk pertama kalinya, Clay menyadari satu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahwa untuk pertama kalinya, Clay tidak tahu bagaimana cara memperbaiki sesuatu yang sudah ia rusak sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!