Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantin Berhantu dan Bakso Lari
Bagi siswa normal, kantin adalah surga dunia. Tempat di mana aroma penyetan bersaing dengan uap mi instan, dan tawa pecah di antara gosip tentang guru matematika yang killer. Namun bagi Satria, kantin SMA Wijaya Kusuma lebih mirip prasmanan di alam baka. Di sini, tingkat kepadatan penduduk antara yang bernapas dan yang sudah almarhum berada di rasio satu banding satu.
"Sat, kok kamu pesen baksonya di pojokan situ terus sih? Pak Kumis kan di tengah," tanya Arini sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih agak lembap karena sisa hujan tadi pagi.
Satria menelan ludah. Ia melirik ke arah stan "Bakso Mas Slamet" di pojok yang remang-remang. Mas Slamet sendiri adalah pria pendiam yang selalu memakai topi handuk. Yang tidak diketahui Arini—dan seluruh siswa lain—adalah bahwa di bawah kuali bakso Mas Slamet, ada sesosok hantu koki peninggalan zaman Jepang yang membantu menjaga api tetap stabil dengan tiupan hawa dinginnya. Aneh, tapi itulah rahasia kenapa bakso Mas Slamet selalu kenyal: didinginkan oleh hantu, dipanaskan oleh gas melon.
"Bakso Mas Slamet punya... tekstur yang lebih menantang, Rin," jawab Satria ngasal.
Sebenarnya, Satria ke sana karena ia butuh bantuan lagi. Ia melihat Ucok, si tuyul administrasi, sedang jongkok di atas tabung gas Mas Slamet sambil menghitung koin-koin kembalian.
“Mau apa lagi, Manusia Semprul? Stok koin saya sudah penuh,” bisik Ucok, suaranya teredam riuh rendah kantin.
"Gue mau pamer keberanian depan Arini. Kasih gue atraksi yang nggak bahaya tapi kelihatan keren," bisik Satria sambil berpura-pura membetulkan tali sepatu di dekat tabung gas.
Ucok menyeringai, menampakkan deretan gigi kecilnya yang runcing. “Atraksi ya? Baiklah. Saya panggilkan 'Si Pelari'. Tapi ingat, harganya dua bungkus permen karet stroberi.”
"Deal!"
Satria kembali ke meja di mana Arini sudah menunggu. Di belakang Arini, Meneer Van De Berg berdiri kaku seperti patung selamat datang di museum. Sang Meneer tampaknya masih mengawasi Satria dengan ketat setelah kejadian di halte kemarin. Matanya—atau lubang hitam di tempat matanya—tidak pernah lepas dari gerak-gerik tangan Satria.
"Rin, kamu tahu nggak? Katanya bakso di sini punya nyawa sendiri," ujar Satria memulai aksinya.
Arini tertawa, lesung pipitnya muncul, membuat jantung Satria melakukan salto tanpa matras. "Maksudnya? Baksonya bisa ngomong? 'Jangan makan aku, Mbak Arini, aku masih punya anak istri' gitu?"
"Bukan ngomong, Rin. Tapi... bereaksi terhadap energi," Satria berlagak seperti dukun sakti.
Tiba-tiba, pesanan mereka datang. Mas Slamet meletakkan dua mangkuk bakso urat yang mengepul panas di atas meja. Begitu Mas Slamet pergi, Satria memberi kode rahasia pada Ucok dengan mengetukkan jarinya ke meja tiga kali.
Wush!
Tiba-tiba, satu butir bakso di mangkuk Satria melompat keluar. Benar-benar melompat, seolah-olah memiliki otot kaki yang kuat. Bakso itu mendarat di atas meja, lalu mulai berguling-guling cepat mengitari botol kecap.
"Loh! Sat! Baksonya jalan!" Arini terpekik, matanya melotot lebar.
"Tenang, Rin! Ini yang gue maksud!" Satria berteriak dramatis. Ia mencoba menangkap bakso itu dengan sumpit, tapi si bakso—yang sebenarnya digerakkan oleh tangan-tangan kecil transparan milik anak-anak tuyul buah asuhan Ucok—menghindar dengan lincah.
Bakso itu melompat ke arah mangkuk Arini, berhenti sejenak di pinggirannya, lalu melakukan gerakan seperti sedang push-up.
"Astaga! Satria! Ini hantu ya?!" Arini mulai panik, tapi ada binar penasaran di matanya. Ia tidak lari, ia justru mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih dekat.
Meneer Van De Berg yang melihat "Noni"-nya terancam oleh sebutir daging giling segera bereaksi. Ia menghunus pedangnya. “MAKHLUK RENDAHAN! BERANI-BERANINYA KAU MENGGODA NONI DENGAN MAKANAN!”
Pedang Meneer diayunkan ke arah bakso tersebut. Karena pedang itu ghaib, baksonya tidak terbelah, tapi energi dingin dari pedang itu membuat si bakso membeku seketika dan berhenti bergerak.
"Yah... Meneer... ngerusak suasana aja," gumam Satria kecewa.
Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai. Karena Meneer menggunakan energi ghaib di area kantin yang padat penduduk astral, hal itu memicu reaksi berantai. Hantu koki Jepang di bawah kuali Mas Slamet merasa terganggu dengan energi dingin sang Meneer. Ia merasa "dapurnya" diintervensi.
Tiba-tiba, seluruh bakso di mangkuk-mangkuk siswa lain mulai ikut melompat. Kantin yang tadinya tenang berubah menjadi kekacauan total.
"COPOT! BAKSO GUE TERBANG!" teriak seorang siswa di meja seberang.
"EH! BAKSO GUE MASUK KE BAJU KAKEL!" teriak yang lain.
Ratusan bakso beterbangan di udara seperti hujan meteor daging. Arini bersembunyi di bawah meja, menarik tangan Satria agar ikut merunduk.
"Sat! Apa yang kamu lakukan?!" Arini berteriak di tengah suara gaduh mangkuk yang pecah dan teriakan histeris para siswa.
Satria ikut merunduk di bawah meja. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Bau parfum Arini yang manis bercampur dengan aroma kuah bakso memenuhi indra penciuman Satria. Di bawah meja yang sempit itu, mereka terjebak dalam momen yang sangat tidak lazim.
"Gue... gue cuma mau pamer, Rin. Maafin gue," Satria berkata tulus. Ia melihat wajah Arini yang ketakutan tapi juga menahan tawa.
"Kamu beneran indigo semprul ya, Sat!" Arini memukul lengan Satria pelan. "Bukannya bikin suasana romantis, malah bikin kerusuhan nasional!"
Di luar kolong meja, kekacauan makin menjadi. Meneer Van De Berg tampak kewalahan menebas ratusan bakso yang menyerangnya dari segala arah. Sang Meneer terlihat seperti pemain tenis yang sedang menghadapi mesin pelontar bola yang rusak.
“BERHENTI! KALIAN SEMUA AKAN SAYA LAPORKAN PADA KOMPENI!” teriak sang Meneer frustrasi.
Satria melihat ke arah luar meja. Ia melihat hantu koki Jepang itu tertawa terbahak-bahak sambil melemparkan lebih banyak bakso ghaib ke arah si Meneer. Satria tahu ia harus menghentikan ini sebelum Pak Broto datang dengan "pasukan" tuyul militernya.
"Rin, tunggu di sini. Gue harus beresin ini," ujar Satria mantap.
"Jangan, Sat! Bahaya! Nanti kamu ketiban gerobak!"
"Percaya sama gue."
Satria merangkak keluar dari bawah meja. Ia berdiri di tengah kantin yang sudah berantakan. Bakso-bakso masih beterbangan. Satria memejamkan mata, memusatkan energinya. Sebagai indigo, ia punya kemampuan untuk melakukan "Grounding"—menyerap energi ghaib yang berlebihan dan menyalurkannya kembali ke tanah.
Ia mengangkat kedua tangannya. "SE Semprul... Grounding!" teriaknya (dengan nama jurus yang sengaja dibuat-buat agar terdengar keren).
Tiba-tiba, hawa panas mengalir dari tubuh Satria. Seluruh bakso yang tadinya melayang mendadak jatuh serentak ke lantai. Puk! Puk! Puk! Suaranya seperti hujan buah jatuh. Kantin mendadak senyap. Seluruh mata siswa tertuju pada Satria yang berdiri dengan tangan terentang, keringat bercucuran di dahinya.
Hantu koki Jepang itu tertegun, lalu membungkuk hormat pada Satria sebelum akhirnya menghilang ke dalam kuali. Meneer Van De Berg menyarungkan pedangnya, tampak terengah-engah dan sangat malu karena seragamnya penuh dengan kuah bakso (secara metafisik).
Satria berbalik ke arah Arini yang masih mengintip dari bawah meja. "Aman, Rin. Baksonya sudah... pensiun."
Arini keluar dari persembunyiannya. Ia menatap Satria dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa heran, takjub, dan sedikit keinginan untuk melemparkan sendok ke arah Satria.
"Satria..."
"Ya, Rin?"
"Kamu... beneran keren sih tadi. Tapi lain kali, kalau mau pamer, mending pakai sulap kartu aja ya? Jangan pakai nyawa bakso orang se-sekolah," ujar Arini sambil membersihkan debu di roknya.
Satria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe, siap bos."
Tiba-tiba, Pak Broto muncul di pintu kantin dengan wajah merah padam. Di pundaknya, Ucok si tuyul tampak gemetar ketakutan karena tertangkap basah membantu Satria.
"SATRIA PRATAMA! KE RUANGAN SAYA SEKARANG!" gelegar Pak Broto.
Satria menoleh ke arah Arini. "Kayaknya gue harus pergi lagi, Rin. Masalah baru memanggil."
Arini tersenyum, kali ini senyumnya sangat tulus. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Satria. "Nanti pulang sekolah, aku tunggu di depan gerbang. Kita beli es krim aja. Es krim nggak bisa lari, kan?"
Satria merasa jantungnya meledak untuk kedua kalinya hari itu. "Siap, Rin! Es krim vanila, cokelat, atau stroberi, semua gue jamin nggak bakal ada yang melompat!"
Saat Satria berjalan menuju ruang Kepala Sekolah, ia melewati Meneer Van De Berg yang masih berdiri di pojok kantin. Sang Meneer menatapnya (dengan cara yang hanya bisa dirasakan Satria) dengan penuh rasa hormat yang terpaksa.
“KAU... PUNYA ENERGI YANG CUKUP KUAT, ANAK MUDA,” bisik Meneer. “TAPI TETAP SAJA, JANGAN BERANI-BERANI MENGAJAKNYA BELI ES KRIM DI TEMPAT YANG ADA HANTU PENJUALNYA.”
"Saran diterima, Meneer!" sahut Satria riang.
Hari itu, Satria belajar bahwa di SMA Wijaya Kusuma, cinta dan teror hanya dibatasi oleh selembar kulit bakso. Dan meskipun ia harus menghadapi amarah Pak Broto dan audit koin dari Ucok, setidaknya ia sudah mengamankan janji kencan kedua dengan Arini.