Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Tangga Menuju Keabadian
Pintu batu bergeser terbuka sempurna, suara gemuruhnya menggema di seluruh lembah. Dari dalam menara, hembusan angin kuno menerpa wajah Arga—angin yang membawa aroma debu dan sesuatu yang lebih purba. Sesuatu yang tidak tersentuh waktu selama ribuan tahun.
"Masuklah," perintah Tetua Abu. Liontin bintang di ceruk pintu masih berpendar, tapi kini ia mencabutnya dan menggenggamnya kembali. Cahaya keemasan itu langsung memudar, seolah menara itu sendiri yang menyerap energinya. "Kau di depan. Aku di belakang. Teman-temanmu di tengah."
Arga menatap Darmaji dan Sinta. Keduanya masih kaku, hanya bisa menggerakkan mata. Tapi di mata mereka, Arga bisa membaca pesan yang sama: "Jangan khawatirkan kami. Lakukan apa yang harus kau lakukan."
Ia mengangguk pelan, lalu melangkah masuk ke dalam menara.
Tangga spiral di hadapannya terbuat dari batu hitam yang sama dengan dinding luar. Anak-anak tangganya lebar, cukup untuk tiga orang berjalan berdampingan, tapi tidak ada pegangan di sisi dalam—hanya kehampaan yang menganga ke bawah, ke kedalaman yang tidak terlihat dasarnya. Di dinding melingkar, ukiran-ukiran kuno berjajar dari bawah ke atas, menceritakan sesuatu dalam bahasa yang bahkan Arga butuh waktu untuk memahaminya.
"Sejarah Para Penjaga," ia membaca dalam hati saat mulai menaiki tangga. "Tiga keluarga dipilih. Tiga liontin diciptakan. Satu tugas diemban: menjaga gerbang, melindungi dunia."
Tetua Abu mengikutinya dari belakang, sementara Darmaji dan Sinta berjalan kaku di antaranya, dikendalikan oleh kekuatan liontin bintang. Langkah kaki mereka bergema di sepanjang tangga, menciptakan ritme yang menghipnotis.
"Ukiran-ukirannya menarik, bukan?" suara Tetua Abu terdengar dari belakang. "Aku sudah mempelajarinya dari salinan yang kami curi dari makam Penjaga. Tapi melihatnya langsung... berbeda. Lebih hidup."
Arga tidak menjawab. Ia terus menaiki tangga, matanya menelusuri ukiran demi ukiran. Adegan-adegan yang terpahat di dinding menceritakan kisah yang semakin lama semakin gelap.
"...dan dari Langit Kesepuluh, turunlah Pemangsa. Ia melahap bintang-bintang. Ia meminum lautan. Para Dewa ketakutan dan bersatu untuk mengurungnya..."
Ukiran berikutnya menunjukkan tiga sosok manusia—dua pria dan satu wanita—berdiri di depan gerbang raksasa. Masing-masing memegang liontin: lingkaran, bulan sabit, bintang. Mereka sedang melakukan sesuatu—menyegel sesuatu—di balik gerbang itu.
"...tiga Penjaga pertama mengorbankan diri mereka. Darah mereka menjadi kunci. Jiwa mereka menjadi gembok. Pemangsa terkunci selamanya..."
Jantung Arga berdetak lebih cepat. Tiga Penjaga pertama. Itu leluhurku.
Mereka terus menaiki tangga. Semakin tinggi, semakin dingin udara di dalam menara. Cahaya dari luar—yang tadinya masuk melalui celah-celah kecil di dinding—kini menghilang sepenuhnya. Satu-satunya penerangan adalah pendaran redup dari liontin di tangan Tetua Abu dan liontin di ceruk pintu yang kini jauh di bawah.
"Berapa tinggi menara ini?" tanya Arga, memecah keheningan.
"Tidak ada yang tahu. Dalam catatan yang kami temukan, disebutkan bahwa menara ini tidak memiliki puncak yang tetap. Ia tumbuh sesuai dengan kekuatan darah Penjaga yang memasukinya."
Arga berhenti. "Maksudmu?"
Tetua Abu tersenyum. "Maksudku, menara ini sedang mengujimu, keturunan Penjaga. Semakin kuat darahmu, semakin tinggi ia akan membawamu. Dan semakin tinggi kau naik, semakin dekat kau dengan gerbang sejati."
Mereka melanjutkan pendakian. Arga tidak tahu sudah berapa lama mereka berjalan—waktu terasa berbeda di dalam menara ini. Lututnya mulai terasa lelah, napasnya memburu, tapi ia tidak berhenti. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut terus-menerus, seolah diberi energi oleh menara itu sendiri.
Lalu, tiba-tiba, tangga berakhir.
Di hadapan mereka, sebuah ruangan melingkar tanpa dinding—hanya lantai batu yang mengambang di tengah kehampaan. Di atasnya, langit-langit menara tidak terlihat, hanya kegelapan tak berujung. Tapi di tengah ruangan itu, ada sesuatu.
Sebuah altar batu. Di atasnya, tiga cekungan kosong—berbentuk lingkaran, bulan sabit, dan bintang.
"Tempat penyatuan," bisik Tetua Abu, suaranya bergetar oleh antisipasi. "Di sinilah ketiga liontin harus diletakkan. Di sinilah gerbang akan terbuka."
Ia mendorong Arga maju. "Kau yang akan meletakkannya. Sebagai darah Penjaga, hanya kau yang bisa mengaktifkan altar."
Arga melangkah mendekati altar. Liontin di dadanya—yang ia ambil kembali dari ceruk pintu sebelum naik—berdenyut kencang. Begitu juga liontin bulan sabit yang kini ia pegang. Dan liontin bintang di tangan Tetua Abu.
"Berikan liontin bintang," kata Arga.
Tetua Abu menimbang sejenak, lalu menyerahkannya. "Jangan coba-coba menipuku. Teman-temanmu masih dalam kendaliku."
Arga mengambil liontin bintang. Kini ia memegang ketiganya—lingkaran, bulan sabit, bintang. Ketiganya berdenyut seirama, menciptakan harmoni yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Benang Emas di Dantian-nya merespons, berputar lebih cepat, membentuk formasi yang lebih kompleks.
"Satukan kami..." Suara dari altar itu kini terdengar jelas di benaknya. "Satukan kami, darah Penjaga. Buka jalan menuju rumah..."
Arga menatap ketiga liontin di tangannya. Lalu menatap Tetua Abu yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya menyala-nyala oleh keserakahan.
Apa yang akan terjadi jika aku menyatukannya? pikirnya. Gerbang ke Langit Kesepuluh akan terbuka. Pemangsa akan bebas—atau setidaknya, jalannya akan terbuka. Tetua Abu akan mencoba mengendalikannya.
Tapi... bagaimana jika aku yang mengendalikannya?
Ide gila itu muncul tiba-tiba. Sebagai keturunan Penjaga, darahnya adalah kunci. Altar ini meresponsnya. Mungkin—hanya mungkin—ia bisa melakukan lebih dari sekadar membuka gerbang. Mungkin ia bisa mengendalikan apa yang keluar dari sana.
Atau setidaknya... mengarahkannya.
Ia meletakkan ketiga liontin ke dalam cekungan masing-masing.
Lingkaran. Bulan sabit. Bintang.
Cahaya meledak.
Altar itu berpendar dengan intensitas yang membutakan. Seluruh ruangan bergetar hebat. Di atas mereka, kegelapan tak berujung mulai membuka—bukan langit-langit, melainkan sebuah celah. Celah yang mengarah ke sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Cahaya keemasan dan keunguan bercampur, menciptakan pemandangan yang indah sekaligus mengerikan.
"GERBANG!" teriak Tetua Abu. "GERBANG ITU TERBUKA!"
Ia melangkah maju, hendak menerobos masuk ke dalam celah itu. Tapi saat ia melakukannya, sesuatu menahannya.
Arga.
Pemuda itu berdiri di antara Tetua Abu dan gerbang, tangannya terentang. Benang Emas di Dantian-nya kini bersinar terang, dan energi dari ketiga liontin mengalir ke dalam dirinya, bukan ke gerbang.
"Apa yang kau lakukan?!" Tetua Abu mencoba menerjang, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. "Lepaskan aku!"
Arga menatapnya dengan mata yang kini bersinar keemasan. "Kau bilang altar ini hanya merespons darah Penjaga. Kau benar. Tapi kau lupa satu hal." Ia melangkah maju, dan Tetua Abu justru terdorong mundur. "Darah Penjaga bukan hanya kunci. Darah Penjaga adalah pengendali."
Cahaya dari gerbang mulai berubah arah—tidak lagi menyebar keluar, melainkan tersedot ke dalam tubuh Arga. Liontin di altar bergetar hebat, lalu melesat dari cekungannya, menempel di dada Arga—ketiganya menyatu dengan liontin lingkaran yang sudah ada, membentuk satu mandala cahaya yang rumit.
"TIDAK!" Tetua Abu meraung. "INTI PEMANGSA ITU MILIKKU!"
Arga tidak menjawab. Ia menutup mata, membiarkan energi dari gerbang mengalir ke dalam dirinya. Bukan energi Pemangsa—itu masih terkunci di balik gerbang. Tapi energi dari para Penjaga itu sendiri. Warisan sejati yang ditinggalkan leluhurnya.
Benang Emas di Dantian-nya berubah. Bukan lagi emas biasa—kini ia berkilau dengan warna-warna yang tidak bisa dijelaskan. Panjangnya tetap sembilan ruas jari, tapi kepadatannya meningkat berkali-kali lipat.
Teknik baru...
Pengetahuan mengalir ke dalam benaknya. Bukan dari kitab, melainkan langsung dari warisan para Penjaga.
"Teknik Segel Langit."
Arga membuka matanya. Ia mengangkat satu tangan ke arah Tetua Abu, dan sebuah segel energi—berbentuk mandala yang sama dengan di dadanya—meluncur ke arah pria itu. Tetua Abu mencoba menghindar, tapi tubuhnya masih terkunci oleh kekuatan altar.
Segel itu menempel di dadanya.
"Apa... apa ini?!" Tetua Abu meraba dadanya. "Apa yang kau lakukan padaku?!"
"Aku menyegel kultivasimu," jawab Arga datar. "Untuk sementara. Sampai aku memutuskan apa yang harus kulakukan padamu."
Tetua Abu menatapnya dengan mata penuh kebencian dan ketakutan. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kekuatannya—koneksinya dengan liontin bintang—telah terputus.
Di belakang Arga, Darmaji dan Sinta tiba-tiba bisa bergerak. Kelumpuhan mereka hilang seiring dengan putusnya kendali Tetua Abu.
"Arga!" Sinta berlari mendekat. "Kau... apa yang terjadi padamu?"
Arga menatap tangannya sendiri. Mandala cahaya di dadanya masih berpendar, tapi perlahan memudar. Ia bisa merasakan kekuatan baru mengalir di dalam dirinya—kekuatan yang jauh melampaui apa yang ia miliki sebelumnya.
"Aku mendapatkan warisan para Penjaga," katanya pelan. "Dan aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya."
Ia menatap gerbang yang masih terbuka di atas mereka. Di baliknya, Langit Kesepuluh menanti. Dan di suatu tempat di sana, Pemangsa terkunci.
Suatu hari nanti, aku akan menutup gerbang ini untuk selamanya. Tapi tidak sekarang. Sekarang... aku belum cukup kuat.
Ia mengangkat tangannya, dan gerbang itu perlahan menutup. Cahaya memudar. Altar kembali sunyi.
"Kita pulang," kata Arga. "Dan kita bawa dia." Ia menunjuk Tetua Abu yang kini terduduk lemah di lantai.
Darmaji tersenyum tipis. "Aku suka rencanamu."
kenangan pertama
hancurkan dia Arga