NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Penilaian yang Memalukan

Angin pagi menusuk tulang di Lapangan Naga Terbang.

Ribuan murid Sekte Langit Biru berbaris rapi. Hari ini adalah Hari Penilaian Roh, hari di mana setiap murid harus membuktikan kemajuan kultivasi mereka di depan para Tetua.

Sorak-sorai menggema ketika seorang pemuda berjubah biru melangkah maju. Lin Hao, murid kebanggaan Puncak Pedang. Telapak tangannya menyentuh Batu Penilai Jiwa, dan batu giok itu langsung bersinar terang keemasan.

"Alam Kondensasi Qi lapis ketujuh! Luar biasa!" seru Tetua Penjaga Hukum, Leng Yue, dengan nada puas.

Lin Hao membusungkan dada. Matanya menyapu kerumunan, mencari satu sosok yang selalu menjadi bulan-bulanannya. Ia menemukannya berdiri di barisan paling belakang, mengenakan jubah lusuh yang sudah pudar warnanya.

Xiao Fan.

"Selanjutnya, murid Puncak Pelana Kayu. Xiao Fan."

Nama itu disebut, dan tawa kecil langsung bermunculan dari kerumunan.

"Si sampah masih hidup? Kukira dia sudah mati kelaparan di bukit terpencil itu."

"Tiga tahun di sekte, masih terjebak di lapis pertama. Anjing peliharaan Tetua saja lebih cepat naik tingkat."

"Memalukan. Dulu dia dipilih langsung oleh Tetua Tertinggi. Sekarang? Hanya beban."

Xiao Fan berjalan melewati bisikan-bisikan itu. Punggungnya tegak. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Hanya tangannya yang mengepal erat di balik lengan baju yang robek.

Tetua Leng Yue menatapnya dengan mata sedingin es. "Xiao Fan. Tunjukkan hasil kultivasimu selama setahun terakhir."

Xiao Fan mengangguk pelan. Ia meletakkan telapak tangannya di atas permukaan Batu Penilai Jiwa yang dingin.

Dia tahu apa yang akan terjadi.

Batu itu hanya berkedip redup. Sekejap. Seperti lilin yang nyaris padam tertiup angin. Tidak ada cahaya keemasan. Tidak ada tanda-tanda kemajuan.

Alam Kondensasi Qi Lapis Pertama.

Tawa meledak lebih keras dari sebelumnya.

Lin Hao menyeringai. "Kau bahkan tidak pantas disebut kultivator, Xiao Fan. Kau hanya sampah yang kebetulan bisa bernapas."

Tetua Leng Yue menghela napas panjang. Ada nada penyesalan dalam suaranya, tapi lebih banyak kekecewaan. "Xiao Fan. Sesuai aturan sekte, murid yang tidak mencapai Alam Fondasi dalam waktu lima tahun akan dikeluarkan. Kau sudah tiga tahun di sini, dan tidak ada kemajuan sama sekali."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih berat. "Mulai besok, kau akan dipindahkan ke Dapur Luar Sekte. Kau tidak akan lagi menerima pil roh, teknik pedang, atau bimbingan guru."

Dapur Luar.

Itu lebih rendah dari pelayan. Di sana, ia hanya akan menjadi juru masak untuk para murid yang dulu mengejeknya. Ia tidak akan pernah lagi menyentuh pedang. Tidak akan pernah lagi merasakan Qi Surgawi mengalir di meridiannya.

Xiao Fan menunduk. Rambut hitamnya menutupi matanya. "Murid... menerima keputusan Tetua."

Tapi tidak ada yang melihat sudut bibirnya tertarik tipis.

Karena saat telapak tangannya menyentuh Batu Penilai Jiwa tadi, sesuatu yang lain terjadi. Sebuah suara kuno bergema di dalam kepalanya, suara yang hanya bisa ia dengar seorang diri.

[Mendeteksi energi spiritual terbuang selama seribu tahun... Mengaktifkan Sistem Kuno Jalur Pembantaian Surga.]

[Selamat datang kembali, Tuan Muda.]

[Atau haruskah aku memanggilmu dengan nama lamamu... Kaisar Pedang yang telah terlahir kembali?]

Malam itu, Xiao Fan duduk bersila di atas batu karang tertinggi di Puncak Pelana Kayu. Angin malam menerpa jubah lusuhnya. Di kejauhan, lampu-lampu Puncak Utama berkelap-kelip. Para Tetua dan murid elit sedang merayakan keberhasilan penilaian hari ini.

Tidak ada yang peduli pada satu murid buangan di bukit terpencil.

Xiao Fan membuka matanya. Matanya tidak lagi terlihat kosong seperti siang tadi. Ada nyala dingin di sana. Nyala seorang pembunuh yang telah melewati ribuan medan perang.

"Kalian pikir aku tidak bisa berkultivasi?" bisiknya pada malam. "Kalian pikir aku sampah?"

Ia merentangkan kedua tangannya. Di dalam tubuhnya, terdapat 108 Meridian Surgawi—jumlah yang bahkan tidak dimiliki oleh Tetua Tertinggi sekalipun. Di kehidupan sebelumnya, meridian-meridian ini membuatnya menjadi Kaisar Pedang Tanpa Tanding, penguasa sembilan langit yang ditakuti bahkan oleh para Dewa.

Tapi di kehidupan ini, tubuh mudanya terlalu lemah.

Setiap kali ia mencoba menyerap Qi Surgawi, energi itu tidak masuk ke pusat kultivasinya. Energi itu malah tersedot oleh sesuatu yang lebih rakus di dalam jiwanya. Sebuah pedang hitam legam yang tertidur di lautan kesadarannya.

Pedang itu bernama Penelan Surga.

Pedang itu adalah alasan mengapa ia terjebak di lapis pertama selama tiga tahun. Seluruh Qi yang ia kumpulkan siang malam, seluruh pil roh yang ia curi dari dapur obat, semuanya habis dimakan oleh pedang terkutuk itu. Pedang itu membutuhkan energi untuk memulihkan diri dari pertempuran terakhir di kehidupan sebelumnya.

Tapi malam ini... berbeda.

[Inang, Pedang Penelan Surga telah mencapai 1% pemulihan.]

[Membuka Teknik Terlarang Tingkat Dewa: Siklus Pembalik Surga.]

Seketika, angin di sekitar Puncak Pelana Kayu berhenti. Lalu berputar liar ke arah yang berlawanan. Awan hitam bergulung-gulung menutupi rembulan. Burung-burung malam berhamburan ketakutan.

Di Puncak Utama, Tetua Leng Yue yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang kuno. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

"Aura kematian...?" bisiknya dengan dahi berkerut. "Dari arah Puncak Pelana Kayu? Tidak mungkin..."

Sementara itu, di atas batu karang, Xiao Fan tersenyum.

Bukannya menyerap Qi Surgawi yang murni, ia malah membalikkan aliran teknik pernapasannya. Ia menyedot Qi Bumi—energi kematian, kebencian, dan dendam yang terpendam di bawah tanah Sekte Langit Biru selama ribuan tahun. Sisa-sisa perang kuno yang seharusnya meracuni siapa pun yang berani menyentuhnya.

Energi hitam pekat itu mengalir deras ke dalam 108 meridiannya. Rasanya seperti menelan bara api dan pecahan kaca. Tapi Xiao Fan hanya menggertakkan gigi. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa malu yang ia telan selama tiga tahun.

Pedang Penelan Surga di lautan kesadarannya bergetar kegirangan. Ia melahap habis energi kematian itu.

DEG!

Suara seperti genderang perang menggema dari dalam tubuhnya.

Alam Kondensasi Qi Lapis Kedua!

Lapis Ketiga!

Lapis Keempat!

Lapis Kelima!

Empat lapisan kultivasi dilewati hanya dalam satu tarikan napas.

Xiao Fan membuka matanya. Bola matanya kini berubah. Sebelah kiri berwarna emas menyala seperti matahari. Sebelah kanan berwarna hitam pekat seperti jurang tak berdasar. Mata Surgawi dan Mata Iblis bersatu dalam satu tubuh.

Suara sistem itu bergema lagi.

[Misi Utama Telah Diberikan.]

[Hancurkan Sekte Langit Biru dalam 100 hari.]

[Jika gagal, Hukum Langit akan memusnahkan keberadaanmu.]

Xiao Fan menatap ke arah Puncak Utama yang megah. Tempat para Tetua yang menghinanya siang tadi sedang tertidur pulas. Tempat Lin Hao dan murid-murid elit lainnya bermimpi tentang masa depan cerah mereka.

"Seratus hari?" Xiao Fan terkekeh pelan. Suaranya dingin seperti pisau yang baru diasah. "Itu terlalu lama."

Angin malam berhenti sejenak, seolah ikut mendengarkan.

"Aku hanya butuh tiga hari."

Pedang Penelan Surga di lautan kesadarannya bergetar lebih keras. Kali ini, bukan karena lapar. Tapi karena ia juga merindukan rasa darah.

Di dunia persilatan yang kejam, malam itu adalah malam terakhir Sekte Langit Biru merasakan kedamaian. Karena dari Puncak Pelana Kayu yang terlupakan, Kaisar Pedang Iblis telah membuka matanya.

Dan ia tidak akan menutupnya lagi sampai seluruh dunia berlutut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!