NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa yang Terluka dan Mesin yang Menderu

Jakarta sedang tidak bersahabat malam ini. Hujan turun bukan seperti air yang membasuh, melainkan seperti ribuan jarum es yang menghantam kaca jendela penthouse Menara Alfarezel. Di dalam ruangan yang saking mewahnya sampai-sampai Zeva merasa harus melepas sandal jepit Swallow-nya hanya untuk bernapas, suasana justru lebih dingin daripada badai di luar.

Zeva duduk di tepi ranjang king-size yang empuknya tidak masuk akal. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah baut karatan nomor 10 yang ia temukan di kantong jaket kulitnya. Baut itu adalah sisa dari reruntuhan bengkelnya yang terbakar, pengingat bahwa hidupnya baru saja menjadi puing-puing, sementara di dalam perutnya, ada sebuah kehidupan baru yang sedang mencoba untuk tumbuh di tengah-tengah perang korporat.

"Gue ini mekanik, bukan porselen pajangan, Adrian!" Zeva tiba-tiba bersuara, memecah kesunyian yang memekakkan telinga.

Adrian, yang sedang berdiri di depan jendela sambil menyesap kopi hitam tanpa gula—minuman yang menurut Zeva rasanya seperti aspal cair—berbalik. Wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali kini tampak retak. Ada kantung mata yang dalam di sana.

"Dan aku adalah suamimu, Zeva! Aku ayah dari anak itu!" suara Adrian naik satu oktaf. "Setelah apa yang terjadi di gudang kemarin, kau masih mau bilang kalau kau aman di luar sana? Kau hampir mati! Dan kau membawa 'dia' bersamamu!"

Zeva berdiri, mengabaikan rasa mual yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya. "Denger ya, Bos Robot. Gue hargai lu sayang sama gue. Tapi kalau lu kurung gue di sini terus, lama-lama gue bakal mutasi jadi lumut. Gue butuh bau oli, gue butuh suara mesin, gue butuh maki-maki Ujang karena dia salah pasang karburator! Itu oksigen gue!"

"Kau tidak akan ke mana-mana sampai Robert Tan tertangkap," ujar Adrian dingin, kembali ke mode CEO-nya yang paling keras kepala. "Keamananmu adalah prioritas absolut Alfarezel."

Zeva mendengus kasar. "Prioritas absolut gundulmu! Lu itu bukan ngelindungi gue, lu itu lagi nge-stok barang di gudang. Gue bukan aset, Adrian! Gue Zevanya! Cewek yang lu temuin lagi belepotan oli, bukan manekin yang lu dandanin pake baju jutaan tapi nggak boleh gerak!"

Pukul dua pagi. Adrian akhirnya tertidur karena kelelahan setelah seharian berdebat dengan dewan komisaris. Zeva melihat suaminya itu dengan tatapan campur aduk. Ia sayang pria ini sampai mati, tapi ia tidak bisa membiarkan Adrian "membunuhnya" dengan rasa takut.

Zeva melompat dari tempat tidur dengan gerakan seringan kucing, meskipun perutnya mulai terasa sedikit aneh. Ia memakai celana kargo hitamnya, kaos oblong yang sudah agak belel, dan tentu saja, jaket kulit keberuntungannya.

"Sori ya, Bos Robot. Gue butuh healing versi gue," bisiknya sambil mengecup kening Adrian pelan.

Masalahnya satu: pengawalan di depan pintu kamar itu lebih ketat daripada pemeriksaan bandara. Dua orang pria berbadan sebesar lemari es berdiri tegak di sana. Tapi mereka lupa satu hal tentang Zevanya: dia adalah ratu dari segala celah sempit.

Zeva tidak lewat pintu. Dia lewat jalur ventilasi.

"Gila, kalau gue makin gede nanti, jalur ini nggak bakal muat lagi," gumam Zeva sambil merayap di dalam lorong besi yang sempit dan berdebu. Hidungnya gatal, tapi ia menahan bersin sekuat tenaga. "Untung gue belum makan banyak gara-gara mual, kalau nggak, gue bisa nyangkut kayak babi guling di sini."

Setelah perjuangan selama tiga puluh menit yang penuh dengan sumpah serapah dalam hati, Zeva berhasil keluar di ruang mesin lantai 40. Ia menyeringai, mengusap debu dari wajahnya yang kini terlihat seperti kucing garong. Dengan bantuan kunci duplikat yang ia "pinjam" dari tim teknisi gedung beberapa hari lalu, ia menuju parkiran rahasia di lantai bawah tanah—tempat di mana ia menyembunyikan "Si Merah", motor kustomnya yang sudah ia lengkapi dengan sistem peredam suara.

Malam itu, Zeva memacu motornya menuju satu-satunya tempat yang membuatnya merasa utuh: reruntuhan Jembatan Merah. Ia butuh bertemu Ujang. Ia butuh informasi yang tidak disaring oleh Adrian atau tim intelijen Alfarezel yang terlalu formal.

Di sebuah warung kopi remang-remang yang baunya campur aduk antara gorengan basi dan asap rokok, Ujang sudah menunggu. Wajahnya tampak pucat saat melihat Zeva.

"Zev! Lu gila?! Pak Adrian bisa bikin gue jadi sate kalau tahu lu kabur lewat gue!" bisik Ujang panik.

"Halah, diem lu. Pak Adrian lagi tidur nyenyak, mimpiin grafik saham," sahut Zeva sambil mencomot satu bakwan dingin. "Gimana infonya? Siapa yang main di belakang pembakaran bengkel?"

Ujang menelan ludah. Ia mengeluarkan sebuah ponsel murah yang layarnya retak. "Gue dapet info dari anak-anak jalanan, Zev. Ada orang dalam yayasan yang koordinasi sama anak buah Robert Tan. Namanya... Pak Hendra."

Zeva tersedak bakwannya. "Hendra? Manajer keuangan yayasan yang keliatannya kayak bapak-bapak alim yang hobi pelihara burung perkutut itu?"

"Iya. Dia yang kasih akses kode gerbang belakang. Dia dapet janji posisi di Singapura sama Robert Tan," lanjut Ujang.

Zeva memukul meja kayu itu hingga kopi Ujang tumpah sedikit. "Kurang ajar. Udah gue kasih kerjaan, udah gue kasih bonus, malah dia mau manggang gue idup-idup. Ini bener-bener definisi 'ngasih makan anjing, malah digigit'."

Tiba-tiba, suasana di warung kopi itu berubah. Suara deru mobil-mobil hitam bermesin besar terdengar mendekat. Bukan mobil polisi, dan jelas bukan mobil pengawal Adrian.

"Zev... itu mereka," bisik Ujang dengan suara gemetar.

Zeva menyipitkan matanya. Tiga buah SUV hitam berhenti, menutup jalan keluar. Sekelompok pria berpakaian rapi namun dengan tatapan haus darah keluar dari sana. Di tengah-tengah mereka, muncul sosok pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang tampak sangat tidak cocok di lingkungan kumuh itu. Robert Tan.

"Zevanya Sanjaya. Atau haruskah aku memanggilmu Nyonya Alfarezel?" suara Robert Tan terdengar serak dan penuh penghinaan. "Kau benar-benar sulit dicari. Adrian membungkusmu dengan sangat rapi, tapi ternyata kau sendiri yang mengantarkan nyawamu ke sini."

Zeva berdiri tegak. Ia meletakkan tangan kirinya secara refleks di perutnya, sementara tangan kanannya sudah menggenggam kunci inggris nomor 12 yang selalu ia selipkan di ikat pinggangnya.

"Halo, Om Robert. Wah, jasnya bagus ya? Pasti mahal. Sayang banget kalau nanti kena oli atau darah," sahut Zeva dengan nada semprul-nya yang khas, meskipun jantungnya berdegup seperti mesin yang pistonnya mau copot.

"Kau pikir kau bisa menang dengan kunci inggris itu?" Robert tertawa dingin. "Berikan dokumen asli saham itu padaku, dan aku akan membiarkanmu pulang untuk melahirkan anak cacat itu dalam damai."

Mendengar kata "cacat", amarah Zeva meledak. Ia tidak peduli lagi soal protokol keamanan atau peringatan dokter.

"Lu boleh hina gue, lu boleh bakar bengkel gue, tapi jangan sekali-kali lu hina anak gue, lu tua bangka karatan!" teriak Zeva.

Zeva tidak menunggu serangan. Ia justru menyerang lebih dulu. Dengan kelincahan yang mengejutkan bagi seorang wanita yang sedang hamil muda, ia melempar baut karatan yang tadi ia bawa tepat ke arah mata salah satu pengawal Robert. Saat pengawal itu mengerang, Zeva merangsek maju.

BUGH!

Kunci inggris itu mendarat tepat di tulang kering pengawal lainnya. Zeva tidak bertarung seperti pahlawan film aksi. Dia bertarung seperti kucing jalanan yang terpojok—kotor, efektif, dan penuh tipu daya. Dia menendang tulang kering, menusuk mata, dan menggunakan segala benda di warung kopi itu sebagai senjata.

"Ujang! Lari! Cari bantuan!" perintah Zeva sambil menghantamkan botol kecap ke kepala seorang penyerang.

Tapi Robert Tan bukan amatir. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk mengepung Zeva. Dalam hitungan menit, Zeva sudah terdesak ke arah dinding gudang tua yang lapuk. Napasnya memburu, keringat bercampur air hujan membasahi wajahnya. Perutnya mulai terasa nyeri, sebuah peringatan dari tubuhnya bahwa ia sudah terlalu jauh bertindak.

"Sudah selesai, Zevanya," ujar Robert sambil mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jasnya. "Adrian akan sangat hancur melihat hartanya yang paling berharga berakhir di selokan ini."

Zeva memejamkan mata sejenak. Sori ya, Adrian. Gue emang istri yang bandel, batinnya. Namun, ia tidak menyerah. Ia bersiap untuk serangan terakhir, meskipun ia tahu kemungkinannya kecil.

Tiba-tiba, suara deru mesin yang sangat ia kenal terdengar membelah hujan. Bukan satu, tapi belasan. Lampu sorot tinggi menyinari lokasi itu, membutakan Robert Tan dan anak buahnya.

Rolls-Royce hitam membelah kerumunan, diikuti oleh iring-iringan motor pengawal bersenjata lengkap. Adrian keluar dari mobil itu bahkan sebelum mobilnya berhenti sempurna. Wajahnya tidak lagi dingin; wajahnya adalah perwujudan dari kiamat bagi siapa pun yang menyentuh Zeva.

"Letakkan senjatamu, Robert," suara Adrian terdengar sangat rendah namun berwibawa. Di belakangnya, puluhan polisi dari unit taktis muncul dari balik bayang-bayang.

Robert Tan tampak panik. "Jangan mendekat! Aku akan menembaknya!"

"Tembak saja," suara Zeva tiba-tiba menyahut, masih sempat-sempatnya dia menyengir meskipun ujung pistol ada di depannya. "Tapi lu harus tahu satu hal, Om. Adrian udah pasang pelacak di jaket gue yang tersambung langsung ke satelit militer. Dan oh ya, video pengakuan lu soal pembakaran bengkel tadi udah live streaming ke seluruh dewan direksi Alfarezel. Lu bukan cuma bakal masuk penjara, lu bakal miskin tujuh turunan."

Robert melihat ke arah kerah jaket Zeva, di sana ada sebuah lampu kecil yang berkedip merah. Ia tidak tahu kalau itu sebenarnya cuma lampu LED mainan yang Zeva pasang sendiri buat gaya-gayaan, tapi di saat panik seperti itu, Robert percaya saja.

Kebimbangan itu adalah celah yang dibutuhkan. Dalam hitungan detik, tim taktis melumpuhkan Robert Tan dan anak buahnya. Adrian berlari kencang, menangkap Zeva tepat saat kakinya mulai lemas.

"Zeva! Kau tidak apa-apa?!" Adrian memeluknya dengan sangat erat, tangannya gemetar hebat.

"Aduh, aduh... pelan-pelan, Bos Robot. Lu mau bikin anak lu jadi geprek?" gerutu Zeva, meskipun ia menyandarkan kepalanya di dada Adrian dengan lega. "Gue oke. Cuma ya... agak mual dikit. Bakwannya tadi kayaknya kurang mateng."

Kembali di Menara Alfarezel, suasana jauh lebih hangat. Adrian tidak lagi marah dengan cara yang meledak-ledak. Ia justru diam seribu bahasa sambil telaten mengobati luka lecet di tangan Zeva. Keheningan itu justru membuat Zeva merasa bersalah.

"Adrian... maaf ya. Gue emang semprul. Gue cuma nggak tahan dikurung," bisik Zeva pelan.

Adrian menghela napas panjang. Ia meletakkan kapas pembersih, lalu menatap Zeva dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku hampir gila saat melihat tempat tidur kosong tadi, Zeva. Aku takut sejarah terulang lagi. Aku takut kehilanganmu seperti aku kehilangan orang tuaku."

Zeva memegang pipi Adrian. "Lu nggak bakal kehilangan gue. Gue ini kan baut baja, bukan baut plastik. Tapi lu juga harus janji, jangan kurung gue lagi. Kita hadapi dunia ini bareng-bareng. Lu pake otak korporat lu, gue pake kunci inggris gue. Deal?"

Adrian tersenyum tipis—senyuman yang sangat jarang ia keluarkan. "Deal. Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Besok kita pasang sistem keamanan yang bener-bener canggih di jaketmu. Bukan lampu LED mainan yang kau beli di pasar loak itu," sindir Adrian.

Zeva tertawa terbahak-bahak. "Eh, tapi ampuh kan? Robert Tan yang licin itu aja ketipu sama barang dua rebu perak!"

Malam itu berakhir dengan mereka berdua duduk di balkon, bukan lagi sebagai CEO dan tawanan emas, tapi sebagai pasangan pejuang. Di tengah badai Jakarta yang mulai mereda, Zeva tahu bahwa tantangan ke depan akan lebih berat. Robert Tan mungkin sudah jatuh, tapi dinasti Alfarezel masih punya banyak musuh di balik selimut.

"Eh Adrian," panggil Zeva.

"Ya?"

"Lu tahu nggak apa yang paling gue pengen sekarang?"

"Apa? Susu hamil organik? Atau tidur di hotel bintang lima?"

Zeva menyeringai lebar. "Gue pengen martabak manis keju susu yang menteganya sampe tumpah-tumpah. Dan lu yang harus beli sendiri, pake baju tidur, nggak boleh pake pengawal. Gimana? Berani nggak, Bos Robot?"

Adrian memutar bola matanya, tapi ia berdiri dan mengambil kunci mobilnya. "Hanya untukmu, Zevanya. Hanya untukmu."

Zeva tertawa puas. Di dalam perutnya, ia merasa ada tendangan kecil—atau mungkin itu cuma efek asam lambung karena kebanyakan makan bakwan dingin. Tapi satu hal yang pasti: sang singa mungkin terluka, tapi mesinnya masih menderu dengan sangat kencang.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!