NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kantor Pusat

Bab 24

Kantor pusat PT. Nusantara Gelap ternyata tidak berada di gedung pencakar langit seperti yang Bambang bayangkan. Gedung itu hanya setinggi empat lantai, dengan cat krem yang mulai pudar di beberapa bagian. Di depan gedung, ada papan nama besar dengan logo perusahaan yang sama seperti di pabrik. Lambang yang tidak bisa Bambang pahami bentuknya. Dulu dia melihat lambang itu di gerbang pabrik. Sekarang dia melihatnya lagi di sini. Perasaan tidak enak langsung menyergap dadanya.

Dewi memarkir mobil di sebuah jalan samping, tidak jauh dari gedung. Dari sini, mereka bisa melihat pintu depan dan pintu belakang secara bergantian. Dewi mematikan mesin dan menoleh ke Bambang.

"Kamu dan Ucok turun di sini. Jalan ke belakang gedung. Ada pintu kecil di sana. Biasanya dipakai karyawan untuk merokok atau keluar masuk belakang. Kalian sembunyi di dekat situ. Jangan terlihat. Jangan bicara keras. Jangan nyalakan ponsel."

"Kalau ada apa-apa?" tanya Bambang.

"Kalau aku kirim SMS dengan kata 'bantuan', kalian masuk. Jangan tanya-tanya. Langsung cari aku. Aku akan berusaha berada di ruang arsip lantai dua. Tapi kalau situasi berubah, aku bisa di mana saja."

"Kamu yakin mau melakukan ini sendirian?" tanya Ucok dari kursi belakang. "Maya mungkin tidak sendiri. Mungkin ada orang lain di ruangan itu."

"Aku sudah biasa melakukan ini, Ucok. Sebelum kalian datang, aku sudah bertahun-tahun menyamar untuk liputan. Aku tahu cara membaca situasi. Aku tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam."

"Tapi ini berbeda," kata Bambang. "Ini bukan perusahaan tambang biasa. Ini perusahaan yang menghasilkan... makhluk."

"Aku tahu. Tapi aku tidak punya pilihan. Kalau aku tidak melakukan ini, temanku Rudi mati sia-sia. Dan kalian berdua tidak akan pernah bisa pulang dengan tenang."

Dewi membuka pintu mobil. Udara siang yang panas langsung masuk ke dalam kabin. Dia mengeluarkan tas selempang coklatnya dan menggantungkannya di bahu. Di dalam tas itu, ada buku catatan, pulpen, kamera kecil, dan sebuah alat perekam tersembunyi.

"Aku akan matikan ponselku dulu," kata Dewi. "Nanti kalau sudah selesai, aku nyalakan lagi. Kalian jangan matikan ponsel kalian. Aku bisa lacak posisi kalian kalau darurat."

Dewi berjalan menuju pintu depan gedung. Langkahnya mantap. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan. Bambang melihat dari balik kaca mobil. Perempuan itu benar-benar pemberani. Atau benar-benar gila.

"Ucok, ayo," kata Bambang.

Mereka turun dari mobil. Kaki Bambang masih sakit, tapi sudah lebih baik daripada beberapa hari lalu. Lukanya mulai mengering. Beberapa sudah membentuk keropeng tipis. Sepatu baru yang dibelikan Bang Anton kemarin masih terasa sedikit sempit, tapi setidaknya kakinya tidak telanjang lagi.

Mereka berjalan menyusuri trotoar menuju belakang gedung. Sesekali Bambang menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Jalanan sepi. Hanya beberapa mobil terparkir di pinggir jalan. Tidak ada orang. Mungkin karena jam makan siang.

Pintu belakang gedung ternyata tidak terlalu sulit ditemukan. Sebuah pintu besi berwarna abu-abu dengan gagang plastik hitam. Di samping pintu, ada tempat sampah besar. Bau sampah yang sedikit menyengat bercampur dengan bau minyak goreng bekas dari restoran di sebelah gedung.

"Kita sembunyi di balik tempat sampah ini," kata Ucok.

"Sembunyi di balik tempat sampah? Bau."

"Lebih baik bau daripada ketahuan."

Mereka berjongkok di balik tempat sampah besar itu. Dari sini, mereka bisa melihat pintu belakang dengan jelas. Jika ada yang keluar atau masuk, mereka bisa langsung tahu. Jika Dewi membutuhkan bantuan, mereka bisa masuk dalam hitungan detik.

Waktu berjalan lambat. Bambang tidak tahu sudah berapa lama mereka berjongkok di balik tempat sampah. Kakinya mulai kesemutan. Punggungnya sakit. Perutnya keroncongan karena belum makan siang. Tapi dia tidak berani bergerak. Tidak berani membuat suara.

"Ucok," bisik Bambang.

"Iya."

"Kamu pikir Dewi berhasil?"

"Aku tidak tahu. Tapi dia perempuan pintar. Dia tidak akan mengambil risiko kalau tidak perlu."

"Tapi dia mengambil risiko sekarang."

"Karena dia marah. Temannya mati. Atau hilang. Sama seperti kita yang kehilangan Joni dan Dul. Rasa marah itu membuat orang berani melakukan hal-hal gila."

Bambang terdiam. Ucok benar. Rasa marah adalah bahan bakar yang kuat. Lebih kuat dari ketakutan. Lebih kuat dari kelaparan. Lebih kuat dari kelelahan.

Sekitar satu jam kemudian, Bambang mendengar suara dari dalam gedung. Suara orang berdebat. Dua orang perempuan. Satu suara tinggi dan cepat. Satu suara rendah dan tegas.

"Itu Dewi," bisik Bambang.

"Aku dengar."

Mereka mendekatkan telinga ke pintu besi. Suara itu semakin jelas.

"Kamu tidak berhak meminta data itu!" teriak perempuan dengan suara tinggi.

"Ini untuk keperluan perbankan, Mbak. Saya hanya perlu konfirmasi alamat dan nomor kontak. Tidak ada data sensitif lainnya," jawab suara rendah. Itu Dewi.

"Kami tidak bisa memberikan data karyawan kepada sembarang orang. Apalagi kepada orang yang tidak punya surat pengantar dari bank."

"Saya sudah bilang, kartu identitas saya tertinggal di kantor cabang. Saya hanya ingin memastikan data Pak Toni sebelum mengajukan kredit."

"Tidak bisa. Saya tidak mau ambil risiko. Silakan kembali ke bank dan bawa surat pengantar yang lengkap."

"Tapi Mbak Maya..."

"Panggil saya Maya saja. Dan saya sudah bilang, tidak bisa."

Ada suara kursi digeser. Suara langkah kaki. Suara pintu terbuka. Kemudian suara Dewi lagi, lebih pelan.

"Baiklah. Saya akan kembali lain waktu. Tapi sebelum saya pergi, boleh saya minta tolong satu hal?"

"Apa?"

"Siapa nama atasan Pak Toni? Siapa yang memberi instruksi langsung kepada beliau?"

Diam sejenak. Bambang bisa merasakan ketegangan di balik pintu itu.

"Itu bukan urusan Anda," kata Maya akhirnya. Suaranya tidak lagi tinggi. Ada nada hati-hati di sana. Nada takut.

"Saya hanya ingin tahu. Untuk keperluan administrasi."

"Tidak ada yang bisa saya katakan. Silakan pergi."

Bambang mendengar langkah kaki menuju pintu. Pintu terbuka. Dewi keluar dari pintu depan gedung, bukan dari pintu belakang. Dia berjalan cepat menuju mobil, tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan.

Bambang dan Ucok berdiri dari balik tempat sampah. Mereka berjalan cepat menyusuri trotoar menuju mobil. Kaki Bambang terasa ringan meskipun kesemutan. Adrenalin membuatnya tidak merasakan sakit.

Mereka tiba di mobil bersamaan dengan Dewi. Dewi membuka pintu dan masuk. Bambang di sampingnya. Ucok di belakang.

"Gagal," kata Dewi sebelum mereka bertanya. "Maya tidak mau kasih data. Dia terlalu takut."

"Kita dengar," kata Bambang. "Dia bilang tidak bisa tanpa surat pengantar."

"Itu hanya alasan. Sebenarnya dia takut. Takut pada Pak Toni. Takut pada perusahaan. Takut pada sesuatu yang tidak dia ceritakan."

"Kita bisa cari cara lain," kata Ucok. "Mendekati Maya lewat jalur berbeda. Mungkin di luar kantor. Mungkin di rumahnya."

"Aku sudah pikirkan itu," kata Dewi. "Tapi butuh waktu. Kita tidak punya banyak waktu. Perusahaan sudah tahu kalian kabur. Mereka pasti sudah perintahkan semua kantor cabang untuk waspada."

"Jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa?" tanya Bambang.

Dewi tidak menjawab. Dia menyalakan mesin mobil. Tangan kanannya memegang setir, tangan kirinya meraih ponsel dari tasnya. Ponsel itu menyala. Ada beberapa notifikasi. Dia membaca satu per satu.

Tiba-tiba wajahnya berubah.

"Apa?" tanya Bambang.

"Saya dapat pesan dari sumber saya. Di kantor pusat. Bukan Maya. Sumber lain."

"Pesan apa?"

"Sumber saya bilang, Pak Toni akan pergi ke pabrik besok malam. Ada pertemuan dengan seseorang. Orang penting. Mungkin dari pusat. Mungkin dari luar negeri."

"Ke pabrik? Di mana makhluk-makhluk itu berada?"

"Iya. Di pabrik itu. Mereka akan mengadakan pertemuan di gudang produksi. Tengah malam."

Bambang merasakan dingin di punggungnya. Pertemuan di gudang produksi. Tengah malam. Di tempat yang sama di mana makhluk-makhluk itu lahir. Di tempat yang sama di mana Dul dan Joni dan Herman dan dua belas orang lainnya berubah.

"Ini kesempatan kita," kata Ucok.

"Kesempatan untuk apa?" tanya Bambang.

"Kesempatan untuk menjebak mereka. Kita rekam pertemuan itu. Kita buktikan bahwa Pak Toni dan orang-orang itu terlibat dalam proyek ilegal. Bahwa mereka tahu tentang makhluk-makhluk itu."

"Kita harus kembali ke pabrik?" suara Bambang meninggi.

"Iya. Kita harus kembali."

"Tidak. Aku tidak mau kembali ke sana. Aku sudah cukup. Aku tidak mau melihat makhluk-makhluk itu lagi."

"Bambang, dengarkan aku," kata Ucok dengan suara rendah. "Aku juga tidak mau kembali. Tapi kalau kita tidak kembali, tidak akan ada yang pernah tahu kebenaran. Perusahaan akan terus beroperasi. Makhluk-makhluk itu akan terus lahir. Korban-korban baru akan terus berjatuhan. Mungkin suatu hari, orang tuamu, saudaramu, teman-temanmu, mereka bisa saja bekerja di pabrik itu. Dan mereka akan mengalami apa yang kita alami."

Bambang terdiam. Air matanya mengalir. Dia tahu Ucok benar. Tapi ketakutan itu masih terlalu besar. Setiap kali dia memejamkan mata, yang muncul adalah monitor nomor delapan. Makhluk tinggi dengan lengan panjang. Senyum yang mengerikan. Suara Ibu yang memanggil dari hutan.

"Kita tidak sendirian kali ini," kata Dewi. "Kita punya alat. Kamera. Alat perekam. Ponsel. Kita bisa rekam semuanya dari jarak aman. Kita tidak perlu mendekati mereka."

"Jarak aman di pabrik itu tidak ada," kata Bambang. "Mereka bisa mencium bau kita dari jarak berapa pun. Mereka bisa menemukan kita di mana pun."

"Maka kita harus lebih pintar dari mereka. Kita sembunyikan alat perekam di tempat yang tidak terlihat. Kita pasang kamera kecil di ruangan pertemuan. Kita rekam tanpa harus berada di sana."

"Kamu punya alat seperti itu?"

"Aku punya. Dulu untuk liputan di daerah konflik. Aku biasa pasang kamera tersembunyi di tempat-tempat berbahaya."

Bambang menghela napas. Pikirannya berperang. Satu sisi ingin lari sejauh mungkin dari pabrik itu. Sisi lain ingin mengakhiri semuanya. Ingin membongkar kejahatan. Ingin membuat Pak Toni dan semua orang yang terlibat berhenti selamanya.

"Baik," kata Bambang akhirnya. "Aku ikut. Tapi dengan satu syarat."

"Syarat apa?" tanya Dewi.

"Kita tidak hanya merekam. Kita juga menghancurkan kolam itu. Sumber dari semua makhluk itu. Kalau kolam itu mati, makhluk-makhluk itu mati. Atau setidaknya mereka tidak akan bisa berkembang biak lagi."

"Itu terlalu berbahaya," kata Ucok. "Kita sudah coba. Herman sudah coba. Dul sudah coba. Semua gagal."

"Mungkin kita belum coba dengan cara yang benar."

"Cara apa?"

Bambang ragu. Kalimat itu muncul lagi di kepalanya. Darah manusia biasa adalah racun bagi mereka. Kalimat yang tidak pernah dia baca di mana pun. Kalimat yang muncul begitu saja. Mungkin dari pikirannya sendiri. Mungkin dari makhluk-makhluk itu. Tapi dia tidak peduli lagi.

"Darah," kata Bambang. "Darah manusia bisa melukai mereka. Mungkin juga bisa membunuh kolam itu."

Dewi dan Ucok menatap Bambang dengan tatapan heran.

"Darah?" tanya Dewi. "Darah siapa?"

"Darah kita. Darah manusia biasa. Aku sudah lihat sendiri. Waktu aku melukai bibirku, darahku menetes ke tangan makhluk. Makhluk itu menjerit dan meleleh. Hanya sedikit. Tapi itu efeknya."

"Kamu yakin?" tanya Ucok.

"Aku tidak yakin. Tapi aku melihatnya dengan mataku sendiri. Dan Dul juga menulis sesuatu tentang darah di buku hariannya. Gambar kolam. Dan kata darah."

Ucok terdiam. Wajahnya berpikir keras. "Kalau itu benar, kita butuh banyak darah. Banyak sekali. Cukup untuk meracuni kolam. Dari mana kita bisa mendapatkan darah sebanyak itu?"

Kita tidak harus menggunakan darah kita sendiri, kata Dewi. Kita bisa ambil dari rumah sakit. Atau dari bank darah. Tapi itu akan mencuri. Dan kita tidak punya waktu.

Maka kita gunakan darah kita sendiri, kata Bambang. Kita bertiga. Mungkin cukup.

Itu bunuh diri, kata Ucok. Kalau kita mengeluarkan terlalu banyak darah, kita bisa mati.

Maka kita tidak perlu mengeluarkan semua darah kita, kata Bambang. Kita hanya perlu cukup banyak untuk membuat kolam itu sakit. Lemah. Lalu kita bakar. Api bisa menyelesaikan sisanya.

Dewi menatap Bambang lama. Matanya berkaca-kaca. Kamu benar-benar ingin melakukan ini? tanyanya.

Aku tidak ingin. Tapi aku harus. Untuk Joni. Untuk Dul. Untuk Herman. Untuk dua belas nama di dinding kantin. Untuk Rudi. Untuk semua yang tidak bisa melawan.

Ucok menghela napas panjang. Baik. Aku ikut. Tapi kalau situasi terlalu berbahaya, kita mundur. Tidak ada yang mati sia-sia.

Setuju, kata Bambang.

Setuju, kata Dewi.

Mereka bertiga berjabat tangan di dalam mobil tua itu. Di tengah panasnya siang. Di depan gedung kantor pusat PT. Nusantara Gelap. Di tempat di mana semua kejahatan ini bermula.

Mobil melaju meninggalkan gedung itu. Bambang menatap ke belakang. Gedung krem setinggi empat lantai itu semakin kecil di kaca spion. Tapi dia tahu, ini bukan akhir. Ini hanya awal dari pertempuran terakhir.

Besok malam, mereka akan kembali ke pabrik. Bukan untuk kabur. Tapi untuk melawan.

Dan kali ini, mereka tidak akan lari.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!