NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Bius Lokal

Dokter bedah masuk membawa nampan instrumen. Sabrina menatap jarum jahit itu dengan pandangan mati.

Logam perak melengkung berkilat di bawah lampu neon ruang operasi. Tirta memberi isyarat pada perawat anestesi di sudut ruangan.

"Kita mulai induksi bius totalnya sekarang, Pak Halim." Tirta mengangkat suntikan berisi cairan putih keruh. "Nyonya Sabrina akan tertidur pulas, dan kami bisa merekonstruksi kerusakan panggulnya tanpa memicu trauma syok berlebih."

Adrian berdiri menyandar pada dinding kaca buram, mengawasi prosedur dengan tangan terlipat di dada. "Lakukan."

Tangan kiri Sabrina mencengkeram besi pembatas ranjang kuat-kuat. "Letakkan suntikan itu."

Tirta menghentikan gerakannya di udara. "Nyonya?"

Mata hitam Sabrina menatap lurus ke wajah sang dokter, menolak bantahan. "Bius lokal saja. Lumpuhkan saraf panggulku. Otakku harus tetap sadar seratus persen."

Perawat anestesi saling pandang dengan sang dokter bedah.

Tirta membasahi bibirnya yang kering. "Tingkat kerusakannya sangat masif, Nyonya. Robekan jalan lahir Anda mencapai derajat tiga. Otot sfingter nyaris putus akibat proses persalinan paksa tanpa pelumas medis. Menjahit puluhan lapis jaringan otot dalam kondisi sadar akan menyiksa Anda. Anda bisa serangan jantung akibat menahan nyeri."

Sabrina menekan setiap suku kata lewat celah giginya. "Bius. Lokal."

Langkah berat Adrian mendekati sisi kanan ranjang. Pria itu merendahkan postur tubuhnya. "Jangan bertingkah seperti pahlawan kesiangan, Sabrina. Tubuh hancurmu butuh istirahat total. Tidur, biarkan dokter bekerja, lalu bangun dengan tubuh yang sudah dijahit rapi. Sederhana."

Sabrina memutar kepalanya menghadap sang patriark. "Tidur lelap di sarang ular sama saja dengan menyerahkan leher untuk digorok."

"Bunker ini milikku. Pengamanannya berlapis baja."

"Kania Tanjung juga punya pengamanan lapis baja di vilanya." Sabrina menarik napas dangkal, mengisi paru-parunya dengan aroma klorin. "Dan preman bayarannya mati berkalang tanah malam ini. Tidak ada tempat aman mutlak. Suntikkan bius lokalnya sekarang, Dokter!"

Adrian terdiam memindai wajah pucat berkeringat di depannya. Sabrina Tanjung yang ia kenal akan merengek hanya karena tersayat kertas dokumen. Perempuan di atas ranjang ini justru meminta sarafnya dikoyak jarum bedah dalam kondisi mata terbuka lebar.

Pria itu memberi isyarat anggukan kecil pada Tirta. "Turuti maunya. Kalau dia mulai kejang menahan sakit, suntik bius total secara paksa."

Tirta mengganti tabung suntikannya dengan cairan anestesi lokal berwarna bening. Dokter itu memposisikan ujung jarum tepat di atas panggul Sabrina. "Ini akan terasa sangat perih di awal, Nyonya."

Jarum panjang menembus kulit area perineum.

Sabrina memejamkan mata rapat-rapat. Otot lehernya menegang liar. Urat kebiruan menonjol di balik kulit pucatnya. Sensasi terbakar cairan kimia menyengat jutaan saraf halus di area paling sensitif tubuh perempuannya. Rasanya seperti disiram air raksa mendidih. Kuku jari tangan kirinya menggaruk kasar seprai rumah sakit, merobek serat kain putih itu perlahan.

Tirta memperhatikan jam dinding. "Satu menit untuk menunggu obatnya bekerja."

Sabrina mengatur ritme oksigennya. Tarik napas dangkal lewat hidung, buang perlahan lewat celah bibir. Taktik pernapasan penembak runduk. Memisahkan tubuh fisik dari kesadaran otak. Ruang operasi ini berbau yodium pekat dan amis darah segar, tapi pikiran Sabrina melayang jauh menembus koridor menuju ruang NICU yang sunyi.

Ia memvisualisasikan mata heterokromia Sebastian. Satu hitam pekat, satu biru kristal. Bayi kecilnya sedang berjuang hidup di dalam kotak kaca, mengembangkan paru-parunya melawan suhu sisa hipotermia.

Napas, Sayang. Ibu juga sedang merajut luka di sini.

Batin Sabrina memanggil anaknya dari kejauhan. Denyut jantung bayi itu serasa beresonansi langsung dengan detak jantungnya sendiri melalui dinding bunker. Kekuatan baru mengaliri sel-sel darah merahnya.

Tirta mengambil alat penjepit bedah. "Kita mulai penjahitannya, Nyonya."

Sentuhan logam dingin membuka paksa jalan lahirnya. Jarum bedah melengkung mulai menembus jaringan daging otot yang koyak.

Srut. Tarik. Ikat.

Bius lokal hanya menumpulkan sensasi tajam silet, tapi sama sekali tidak menghentikan tekanan mekanis jarum yang membelah daging. Sabrina merasakan setiap tarikan benang nilon bedah merajut otot-otot panggulnya. Ngilu panjang merambat lurus menuju tulang belakang. Keringat basah membanjiri dahi dan pelipisnya. Dadanya naik turun agresif memompa sisa udara steril. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menolak memberikan erangan pada tontonan maskulin di sekelilingnya.

Srut. Tarik. Ikat lagi.

Tirta menyeka keringat di dahi menggunakan lengan atas bahunya. "Empat jahitan lapisan dalam selesai."

Tangannya terus bergerak lincah. Pasien normal pasti sudah berteriak, menggelepar, atau memaki sejadi-jadinya. Perempuan ini hanya diam mematung layaknya bongkahan marmer es.

Di sudut ruangan, Adrian mengamati proses jagal medis itu tanpa berkedip.

Otak analitis sang taipan bekerja menyusun kepingan teka-teki ganjil. Ia sangat hafal profil psikologis Sabrina. Rapuh, penurut, trauma pada darah. Tatapan Adrian beralih pada pergelangan tangan kiri Sabrina. Cengkeraman pada perawat tadi bukan sekadar refleks panik orang bangun tidur. Itu murni teknik beladiri mematikan. Mengunci pembuluh karotis untuk memutus pasokan oksigen. Hanya pembunuh bayaran terlatih yang hafal titik anatomi tersebut di bawah tekanan konstan.

Srut. Tarik benang. Simpul mati.

Tirta mengambil gunting medis berukuran kecil. "Sedikit lagi, Nyonya. Lapisan luar."

Sabrina membuka matanya perlahan. Pupil hitamnya bertubrukan dengan tatapan menyelidik Adrian di seberang ruangan.

Mereka beradu pandang di tengah suara gunting bedah memotong sisa benang berdarah. Tidak ada ketakutan di mata Sabrina. Perempuan itu memakan rasa sakitnya sendiri, menelannya bulat-bulat sebagai bahan bakar kebencian.

Sabrina menatap lurus pria di seberangnya. "Kau menikmati pertunjukannya, Adrian?"

Adrian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Kau punya toleransi rasa sakit yang mengagumkan."

Sabrina memalingkan wajah ke langit-langit neon. "Kehidupan memberiku banyak latihan."

Adrian mencondongkan badannya ke depan. "Bukan kehidupan di bawah atap Tanjung Group. Siapa kau sebenarnya?"

Sabrina mengangkat dagunya menantang dominasi pria itu. "Aku ibu dari ahli warismu."

Gunting bedah Tirta berbunyi klik memutus benang terakhir.

Tirta membuang napas panjang. "Selesai. Dua puluh jahitan luar dalam. Pendarahan berhasil dihentikan secara permanen. Nyonya Sabrina butuh bed rest absolut selama dua minggu ke depan. Jahitan ini bisa robek kembali kalau panggulnya dipaksa menahan bobot."

Adrian mengangguk sekali. "Kerja bagus, Tirta."

Pria itu memutar badannya menatap Renaldo yang baru saja masuk melewati pintu geser otomatis.

Adrian menatap Renaldo lekat. "Bagaimana kondisi jalur luar?"

Renaldo merapikan posisi earpiece di telinga kanannya. "Bersih, Bos. Tidak ada pergerakan mencurigakan dari pihak Kania Tanjung dalam radius lima kilometer. Jalan tol Jagorawi menuju pusat kota juga aman terkendali."

Adrian memberikan instruksi finalnya. "Siapkan konvoi utama sekarang. Kita pindahkan istriku dan bayinya dari bunker ini. Area ini tidak lagi masuk kualifikasi aman absolut setelah kebocoran informasi di Puncak."

Sabrina memutar kepalanya waspada. Panggulnya masih berdenyut panas akibat tarikan benang nilon, namun adrenalin ancaman baru kembali terpompa. "Ke mana kau akan membawaku?"

Adrian merapikan kerah jasnya. "Ke tempat perlindungan yang sesuai dengan nilai kontrak kita. Sangkar terkuat yang tidak bisa ditembus oleh anjing-anjing Kania."

Sabrina menolak mundur dari dominasi suaminya. "Pastikan suhu inkubator anakku stabil selama perjalanan. Satu derajat turun, kubakar konvoimu."

Adrian menatap lama istrinya. Senyum seorang penakluk perlahan terlukis di wajahnya. Pria ini baru saja menemukan mainan paling berbahaya untuk dipelihara di dalam rumahnya.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!