Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Lampu di ruang kerja itu masih menyala temaram, namun suasana di dalamnya telah berubah total. Dokumen strategi yang tadi mereka bedah kini terabaikan, berserakan di atas karpet tebal setelah Xavier menyapunya dari meja. Ciuman yang dimulai dengan tuntutan posesif itu perlahan melunak, berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan penuh kerinduan.
Xavier melepaskan pagutan bibirnya sejenak, menatap Aeryn dengan napas yang memburu. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan api yang sanggup melelehkan pertahanan apa pun.
"Masih ada waktu untuk berhenti, Aeryn," bisik Xavier, suaranya parau. "Jika kau melangkah lebih jauh, tidak akan ada lagi jalan kembali ke kontrak lama kita."
Aeryn menatap wajah pria di depannya. Ia melihat luka, ia melihat kejujuran, dan ia melihat cinta yang selama ini disembunyikan di balik topeng kekuasaan. Ia meraih kerah kemeja Xavier, menariknya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan.
"Jangan berhenti," jawab Aeryn pelan namun pasti.
Xavier mengangkat tubuh Aeryn dengan mudah, membawanya keluar dari ruang kerja menuju kamar utama. Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya rembulan dari balik jendela, Xavier membaringkan Aeryn di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang meletakkan perhiasan paling berharga yang pernah ia miliki.
Gerakan Xavier sangat lembut saat ia membuka satu per satu kancing kemejanya sendiri, lalu membantu Aeryn melepaskan pakaiannya. Tidak ada kata-kata rumit, hanya suara napas yang bersahutan dan gesekan kain yang jatuh ke lantai.
Saat kulit mereka bersentuhan, Aeryn merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Xavier bergerak dengan sangat sabar, seolah ingin menghapus setiap jejak rasa sakit dan ketakutan yang pernah dialami Aeryn di masa lalu. Setiap sentuhannya adalah permohonan maaf, setiap kecupannya adalah janji perlindungan.
"Xavier..." rintih Aeryn saat jemari pria itu menelusuri lekuk tubuhnya.
Xavier berhenti sejenak, menatap Aeryn lekat-lekat. Ia menyisir rambut Aeryn yang berantakan ke belakang telinga.
"Kau tahu, Aeryn," bisik Xavier di dekat telinga wanita itu, membuat bulu kuduk Aeryn merinding. "Malam ini, bukan karena kontrak yang kita tandatangani. Bukan karena bisnis atau balas dendam terhadap Julian."
Xavier mengecup dahi Aeryn, lalu turun ke ujung hidungnya.
"Malam ini terjadi karena aku adalah pria yang mencintaimu sejak pertama kali melihat pita merah di rambutmu di balik jeruji besi itu. Aku telah menunggumu seumur hidupku."
Mendengar pengakuan itu, dinding terakhir di hati Aeryn runtuh sepenuhnya. Ia memeluk leher Xavier, menariknya ke dalam penyatuan yang intim dan penuh emosi. Malam itu, di bawah kesunyian mansion Arkananta, dua jiwa yang selama ini terluka dan kesepian akhirnya menemukan rumah mereka. Canggung pada awalnya, namun kemanisan yang mereka bagi terasa begitu nyata, menghapus segala batas antara "Tuan" dan "Nyonya" Arkananta.
****
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu dari celah gorden, menyinari wajah Aeryn yang masih terlelap. Ia mengerjap, merasakan beban hangat di pinggangnya. Tangan besar Xavier masih melingkar di sana, memeluknya dari belakang meski pria itu masih memejamkan mata.
Aeryn tersenyum tipis. Ia merasa tubuhnya pegal, namun ada rasa tenang yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia berbalik perlahan, menatap wajah Xavier yang tampak sangat damai saat tidur. Tanpa topeng kaku, Xavier terlihat jauh lebih muda.
"Kau sudah bangun?" suara Xavier terdengar serak khas orang baru bangun tidur. Ia membuka matanya dan memberikan senyum kecil yang tulus.
"Sudah," jawab Aeryn pelan. "Punggungmu... apa masih sakit?"
Xavier menarik Aeryn lebih dekat, mengecup keningnya. "Rasa sakitnya hilang setiap kali aku melihatmu di sampingku."
Aeryn tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada Xavier. "Kau pandai merayu sekarang."
"Hanya padamu," sahut Xavier.
Suasana pagi itu terasa sangat manis dan lembut. Mereka menghabiskan waktu beberapa saat hanya untuk saling menggenggam tangan dan bicara tentang hal-hal kecil tanpa beban bisnis. Namun, jauh di lubuk hatinya, sisi waspada Aeryn tidak benar-benar mati. Ia tahu dunia di luar kamar ini masih penuh dengan ancaman.
Setelah mandi dan berpakaian, Aeryn berniat menuju dapur untuk mengambil minum. Saat ia membuka pintu kamar, matanya menangkap sesuatu yang asing di atas lantai marmer.
Sebuah amplop cokelat polos tanpa nama pengirim tergeletak tepat di depan pintu.
Aeryn mengerutkan kening. Ia membungkuk dan mengambilnya. Dengan perasaan tidak enak, ia membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada secarik kertas putih dengan deretan angka yang tampak seperti koordinat geografis. Di bawahnya tertulis satu kalimat pendek dengan tinta merah:
"Di sini Herman menghembuskan napas terakhirnya. Pembunuhnya memegang kunci gerbang rumahmu."
Jantung Aeryn berdegup kencang. Pesan itu menyiratkan sesuatu yang mengerikan: pembunuh Herman bukan orang luar, melainkan seseorang yang memiliki akses bebas ke dalam mansion ini.
Ia segera berjalan menuju balkon yang menghadap ke halaman belakang, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai berkecamuk. Ia tidak ingin mencurigai siapa pun di rumah ini, terutama setelah malam yang ia lalui bersama Xavier. Namun, koordinat itu terasa seperti peringatan nyata.
Matanya menyapu area halaman belakang yang masih berkabut tipis. Di sudut dekat gudang tua dan area pembakaran sampah, ia melihat siluet seseorang.
Aeryn memicingkan matanya, bersembunyi di balik pilar balkon agar tidak terlihat.
Di bawah sana, Hugo berdiri sendirian di depan tong pembakaran baja. Wajah pria yang biasanya tenang dan setia itu kini tampak sangat tegang. Tangannya memegang sebuah bungkusan kain hitam.
Aeryn menahan napas saat Hugo melemparkan bungkusan itu ke dalam api yang menyala. Saat kain itu mulai terbakar dan terbuka, Aeryn bisa melihat dengan jelas: itu adalah sebuah kemeja hitam berlengan panjang. Dan di bagian lengan serta dadanya, terdapat noda merah gelap yang sangat luas yang ia yakini sebagai bercak darah kering.
Hugo menatap api itu dengan tatapan dingin, lalu ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah botol kecil—cairan pembersih kimia—lalu menyiramkannya ke kemeja itu agar cepat musnah.
Aeryn mundur perlahan dari balkon, tubuhnya gemetar hebat. Hugo? pria yang dipercaya Xavier seumur hidupnya? Apakah Hugo yang selama ini menjadi mata-mata di rumah ini? Atau lebih buruk lagi... apakah Hugo membunuh Herman atas perintah seseorang yang berada di dalam mansion ini?
"Apa yang kau lihat, Aeryn?"
Suara Xavier terdengar dari belakang, membuat Aeryn tersentak dan nyaris menjatuhkan surat di tangannya. Xavier berdiri di sana, sudah rapi dengan kemeja kerjanya, menatap Aeryn dengan rasa ingin tahu.
Aeryn segera menyembunyikan surat itu di balik saku gaun rumahnya, mencoba menampilkan senyum yang paling alami, meski hatinya kini dipenuhi keraguan yang menyesakkan.