Menceritakan seorang wanita agen mata-mata bertransmigrasi ketubuh seorang Putri kerajaan dalam novel yang dia baca.
Semenjak kematiannya ditangan musuh, wanita itu masuk ketubuh barunya menjadi seorang putri yang tertindas. Setelah dirinya masuk ketubuh putri yang sering tertindas itu, dia berusaha merubah alur cerita dan mencegah satu kejadian dimana dia meninggal mengenaskan ditangan wanita licik.
Terus simak dan mampir jika kalian berminat membaca cerita ini, maaf kalau ada kalimat atau cerita yang sama karena ini murni ide dan khayalan saya sendiri.
Terimakasih banyak yang bersedia mampir dan singgah sebentar 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu 0325, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 6.
Waktu terus berjalan begitu cepat, sampai tengah malam Victoria masih berusaha mengingat kembali apa yang sudah dia baca sebelumnya.
Begitu lama berpikir sebuah ingatan muncul dibenaknya, sambil menjentikkan jarinya Victoria tersenyum puas ketika mengingat bagaimana cara supaya kekuatan terhebat diliontin ini jatuh ditangannya.
"Akhirnya aku tahu cara untuk membuat kekuatan ini jadi milikku!."ucap Victoria tersenyum lebar puas sambil menatap liontin ditangannya dengan percaya diri
Kemudian Victoria mengigit jari telunjuknya sampai berdarah, setelah itu meneteskan darahnya ke liontin tersebut. Begitu darah Victoria menetes pada liontin tersebut, darah yang menempel pada liontin tiba-tiba hilang tidak terlihat bekasnya.
Namun setelah darah itu menghilang, tidak terjadi sesuatu pada liontin itu. Bukankah seharusnya ketika dia meneteskan liontin dengan darahnya maka kekuatan didalam liontin ini akan muncul dan menjadi miliknya, tetapi kenapa tidak ada reaksi apapun.
Melihat bahwa liontin itu tidak bereaksi atau bekerja membuat Victoria menahan kesal, dengan tatapan bingung dia mengangkat liontin itu keatas sesekali memutar pelan masih tidak mengerti.
"Apa aku gagal mengaktifkan kekuatan itu, seharusnya menggunakan darahku sudah cukup bukan?. Kenapa liontin ini tidak bereaksi sama sekali?."ucap Victoria dengan bingung bukankah dirinya sudah melakukan sesuai yang dilakukan adik liciknya itu
"Apa jangan-jangan liontin ini palsu, kalaupun benar palsu itu wajar saja terjadi kan."lanjut Victoria sama sekali tidak mengerti
Jelas sekali adik tiri liciknya itu memang melakukan hal seperti ini bahkan tertulis dinovelnya sekalipun, tetapi kenapa dia tidak bisa melakukannya juga.
Atau mungkinkah hanya keturunan keluarga kerajaan Langit lah yang mampu menyelesaikan masalah ini.
"Dasar menyebalkan! Mentang-mentang aku masuk ketubuh wanita ini malah membuatku tidak bisa memiliki kekuatan sihir yang hebat itu."ucap Victoria kesal sambil memarahi liontin ditangannya dengan marah
"Apa sebaiknya aku gunakan cara lain untuk balas dendam pada mereka, aku seorang agen mata-mata profesional mana mungkin sampai menyerah dan putus asa hanya karena tidak bisa menguasai kekuatan sihir yang hebat ini."ujar Victoria jika dirinya akan membalas dendam dengan caranya sendiri
Dengan kekesalan diwajahnya, Victoria meletakkan liontin diatas meja riasnya dengan kasar. Kemudian melangkah menuju ranjang lalu tidur mengabaikan jika liontin itu tidak bekerja dan tidak bisa menjadi miliknya.
Tanpa Victoria sadari, liontin yang sebelumnya baik-baik saja. Tiba-tiba berubah warna dan memunculkan sinar warna putih terang disekeliling liontin itu berada.
Darah yang telah diteteskan telah menyatu kedalam liontin tersebut dan cahaya putih terang melayang dengan lembut seperti angin masuk kedalam tubuh si pemilik secara diam-diam.
*****
Keesokan harinya cahaya sinar matahari terbit dengan perlahan dan mulai menyinari setiap penjuru dengan keindahannya.
Dikediaman Victoria, sekarang dia sedang merias dirinya dimeja rias. Sibuk merias wajahnya arah tatapan Victoria seketika teralih pada liontin yang kemarin membuatnya jengkel.
Dengan tatapan tenang dia mengambil liontin itu lalu memutar liontin nya kesembarang arah untuk memeriksa lagi.
"Apa benar didalam liontin ini terdapat kekuatan sihirnya, tapi kenapa liontin ini sama sekali tidak bekerja setelah darahku diteteskan pada liontin ini."ucap Victoria bingung terus memperhatikan liontin itu tanpa henti
Pada saat Victoria sedang memperhatikan liontin ditangannya, suara langkah kaki terdengar masuk kamarnya. Dengan langkah perlahan wanita itu masuk kedalam kamar Victoria dengan pakaian rapi.
"Victoria, apa kamu sudah selesai bersiap!."ucap ibu berdiri dibelakang Victoria setelah selesai bersiap
Mendengar suara dari belakang, Victoria dengan cepat memasukkan liontin kedalaman sakunya. Lalu menoleh kebelakang menatap ibunya yang datang kekamarnya.
"Ibu, iya aku sudah siap!."jawab Victoria tersenyum kecil lalu beranjak dari duduknya berdiri didepan ibunya
"Sebaiknya kita segera berangkat, sebelum nenek datang lebih dulu!."ucap ibu menatap Victoria dengan tatapan tenang
"Baiklah!."sahut Victoria mengerti menganggukkan kepalanya pelan
Sebelum Victoria melangkah pergi, dia meraih kotak kecil yang dia siapkan kemarin malam. Lalu melangkah pergi mengikuti ibunya pergi menuju aula dimana semua orang berkumpul untuk menemui nenek.
Pada saat Victoria berjalan disamping ibunya sesaat dia melihat Reyna membawa tiga kotak besar ditangannya seorang diri. Melihatnya langsung membuat Victoria bertanya pada ibu kenapa mereka membawa hadiah sebanyak itu.
"Ibu kenapa membawa begitu banyak hadiah, memangnya akan diberikan pada siapa?."tanya Victoria melirik kebelakang melihat hadiah yang dibawa Reyna berjalan dibelakang mereka juga menatap ibu disampingnya
"Tiga hadiah itu untuk nenek dan kedua saudara tirimu."jawab ibu dengan raut wajah tenang mengatakan hadiah-hadiah yang telah dirinya siapkan
"Yang ku tahu biasanya ibu hanya memberikan nenek hadiah, kenapa ibu juga memberikan hadiah pada mereka. Kalau ibu ingin memberikan kak Alesio tidak jadi masalah bagiku, tapi untuk Bianca apakah dia bisa menerimanya."ucap Victoria dengan tatapan serius mengingat perlakuan Bianca terhadap ibunya dulu
"Tidak apa-apa, ibu tidak akan memaksa jika Bianca menolak hadiah ini. Karena tujuan utama ibu hanya ingin memberikan hadiah sebagai balas budi pada Alesio atas kebaikannya selama ini pada kita."ujar ibu dengan tatapan tenang tidak terlalu ambil pusing
Kalau saja dia hanya memberikan hadiah pada Alesio saja, mungkin Bianca akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Akan lebih baik jika memberikannya juga agar tidak terjadi keributan antara dua keluarga nantinya.
"Oh, begitu. Baiklah Victoria patuh saja pada ibu, tapi kalau wanita licik itu memaki ibu dan mengomentari hadiah ibu aku tidak akan membiarkannya."ujar Victoria dengan penuh ancaman terhadap wanita licik itu pada ibunya
Mendengar perkataan Victoria yang begitu membelanya dan melindunginya, ibu sejenak semakin merasa bahwa putrinya telah berubah sejak kemarin malam.
Perubahan pada sikap dan perilaku Victoria yang sebenarnya cukup mencurigakan baginya, tetapi ada sedikit kesenangan dihati ibu. Sepertinya dia tidak sedang bermimpi ini benar-benar nyata terjadi.
Kemudian mereka bertiga pun kembali berjalan menuju aula yang sempat terhenti sejenak. Melihat putrinya jauh lebih percaya diri dan berani berinteraksi dengan baik membuat ibu tersenyum senang.
Bahkan semasa perjalanan Victoria tidak henti-hentinya mengajak mereka mengobrol bersama. Mengatakan bahwa Victoria juga telah menyiapkan hadiah untuk nenek, hal itu membuat ibu semakin senang yang sulit diungkapkan.