NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama

Suasana kediaman keluarga Ardiansyah tampak begitu riuh. Janur kuning melengkung di depan gerbang, aroma melati yang menyeruak tajam memenuhi setiap sudut ruangan, dan suara riuh rendah tamu undangan yang mulai memadati area kursi. Di tengah keramaian itu, Shakira Naomi duduk mematung di depan cermin besar.

Gadis berusia 22 tahun itu tampak memukau dalam balutan kebaya putih bersih dengan payet yang berkilauan. Riasan flawless di wajahnya seharusnya membuat ia merasa seperti ratu sejagat, namun nyatanya, beban di pundaknya terasa jauh lebih berat daripada sanggul yang bertengger di kepalanya.

"Shakira, senyum dong. Ini hari bahagia kamu," bisik Mama sembari merapikan sedikit kerudung tipis yang menutupi bahunya.

Shakira hanya menatap pantulan dirinya dengan pandangan kosong. "Bahagia buat siapa, Ma? Buat Papa sama Om Ardi? Buat Zidan? Bukan buat Shakira."

"Shakira, Zidan itu sahabat kamu dari kecil. Dia anak baik, dia juga sudah punya usaha sendiri sekarang. Kurang apa lagi?"

"Dia tengil, Ma. Nggak jelas. Dan yang paling penting, Shakira nggak cinta," gumamnya pelan, tepat saat suara lantang dari ruang tengah terdengar melalui pengeras suara.

"Saya terima nikah dan kawinnya Shakira Naomi binti... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"SAH!"

Gemuruh kata 'sah' itu bak hantaman palu hakim bagi Shakira. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Mulai detik ini, statusnya bukan lagi mahasiswi tata boga semester akhir yang bebas merdeka, melainkan istri dari seorang Zidan Ardiansyah.

Beberapa saat kemudian, Shakira dituntun keluar menuju pelaminan. Di sana, Zidan sudah berdiri dengan setelan beskap putih yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa dari biasanya—setidaknya kalau dia diam. Begitu melihat Shakira mendekat, senyum lebar yang terlihat sangat menyebalkan bagi Shakira langsung terbit di wajah cowok itu.

Zidan mengulurkan tangannya ke arah Shakira.

"Apa?!" tanya Shakira ketus, suaranya tertutup oleh riuh tepuk tangan tamu, tapi cukup tajam untuk telinga Zidan.

"Salim, Sayang. Kamu kan udah jadi istri aku sekarang," ucap Zidan dengan nada yang dibuat-buat semanis mungkin, matanya mengedip nakal.

Shakira mendengus, tangannya bergerak hendak menepis tangan Zidan yang terulur. Namun, sebelum hal itu terjadi, suara Papa berdehem keras dari arah belakang.

"Shakira, hormat sama suaminya," tegur Papa dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Dengan sisa-sisa kesabaran yang menipis, Shakira meraih tangan Zidan dan menempelkannya ke dahi dengan gerakan secepat kilat. Zidan tertawa kecil, ia memanfaatkan momen itu untuk mengusap kepala Shakira dengan lembut, yang langsung dihadiahi lirikan maut oleh sang istri.

Acara resepsi yang melelahkan itu akhirnya berakhir saat matahari mulai terbenam. Karena bengkel yang baru dirintis Zidan masih membutuhkan banyak modal, mereka sepakat untuk tinggal sementara di rumah orang tua Zidan.

Kamar Zidan sudah dihias sedemikian rupa dengan taburan kelopak bunga mawar di atas sprei. Shakira masuk ke kamar dengan wajah masam, langsung melempar tas kecilnya ke atas meja rias.

"Gila, capek banget! Lo juga, ngapain sih tadi di pelaminan pakai acara peluk-peluk pinggang segala? Cari kesempatan ya?" semprot Shakira begitu Zidan menutup pintu kamar.

Zidan yang sedang melonggarkan kerah beskapnya hanya nyengir tanpa dosa. "Ya kan biar fotonya bagus, Ra. Masa pengantin baru jaraknya satu meter, nanti dikira musuhan."

"Emang kita musuhan!" balas Shakira cepat. Ia segera mengambil baju ganti dan menuju kamar mandi.

Sekeluarnya dari kamar mandi dengan pakaian rumahan yang jauh lebih santai, Shakira mendapati Zidan sudah berbaring santai di kasur, masih dengan kemeja putihnya yang kancing atasnya sudah terbuka.

"Gak usah deket-deket ya! Awas aja nanti kalo pas gue tidur Lo cari kesempatan!" ancam Shakira sambil menunjuk hidung Zidan dengan telunjuknya.

Zidan mengerutkan kening, bangkit duduk di tepi ranjang. "Eh, kok 'gue-lo' sama suami, Sayang? Bahasanya diperbaiki dong."

"Apa sih. Minggir, gue mau tidur. Gue capek mau ngerjain revisi laporan PKL besok," usir Shakira, mencoba mendorong bahu Zidan agar menjauh dari sisi ranjang yang ingin ia tempati.

Zidan justru tidak bergeming. Ia malah merentangkan tangannya, menghalangi jalan Shakira. "Zidan apaan sih. Minggir nggak!"

"Nggak," jawab Zidan pendek. Wajahnya yang biasanya tengil berubah sedikit lebih serius, meski sorot matanya tetap jahil. "Nggak akan minggir sebelum kamu bilang 'aku-kamu' ke aku."

Shakira berkacak pinggang. "Nggak sudi."

"Yaudah, aku jagain di sini terus. Aku peluk malah kalau nggak mau ganti panggilannya," ancam Zidan sambil memajukan wajahnya sedikit.

Shakira tersentak mundur. Ia tahu Zidan itu nekat. Cowok ini kalau sudah bucin memang tidak tahu malu. Mengingat ia sudah sangat mengantuk dan tidak punya energi untuk berdebat lebih panjang, akhirnya ia menyerah.

"Iya, iya! Udah ah, aku mau tidur. Puas?"

Zidan tersenyum puas, lesung pipitnya terlihat jelas. "Puas banget, Istriku." Ia kemudian bergeser, memberi ruang bagi Shakira.

Shakira segera naik ke atas ranjang. Hal pertama yang ia lakukan adalah menyambar guling panjang dan meletakkannya tepat di tengah-tengah kasur sebagai pembatas permanen.

"Ini garis khatulistiwa. Jangan lewat satu inci pun, atau lo—eh, kamu—tidur di lantai," tegas Shakira.

Ia kemudian merebahkan tubuhnya di ujung ranjang, membelakangi Zidan dan memeluk bantalnya erat-erat. Suasana kamar menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara detak jam dinding dan deru pelan AC.

"Ra?" panggil Zidan pelan.

"Apa lagi?"

"Jangan mepet banget ke pinggir gitu, nanti jatuh. Sini agak tengah," ujar Zidan lembut, tanpa nada tengil yang biasanya.

"Bodo amat. Urusin aja sisi kamu sendiri," sahut Shakira ketus.

Zidan menghela napas, ia berbaring menghadap punggung Shakira, menatap garis punggung istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku tahu kamu nggak suka perjodohan ini. Tapi aku serius, Ra. Aku bakal buktiin kalau aku bisa jadi suami yang baik buat kamu. Bengkel aku mulai ramai, nanti kalau udah cukup uangnya, kita pindah ke rumah sendiri."

Shakira terdiam. Ia tidak membalas, namun matanya tetap terbuka menatap dinding kamar. Ada rasa sesak yang aneh saat mendengar nada bicara Zidan yang mendadak tulus. Selama ini, Zidan hanyalah sahabat masa kecil yang hobinya menjahilinya, tukang bikin rusuh, dan cowok yang selalu ada untuk membelikannya martabak saat ia sedang galau urusan kuliah. Menjadikannya suami terasa sangat tidak nyata.

"Tidur, Dan. Berisik," gumam Shakira akhirnya, meski sebenarnya jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

"Iya, selamat tidur, Istriku yang galak. Mimpiin aku ya," goda Zidan kembali ke mode aslinya.

Shakira memejamkan mata kuat-kuat, mencoba mengabaikan eksistensi Zidan di belakangnya. Di tengah hening malam, ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di depannya ada skripsi dan ujian tataboga yang menanti, dan di sampingnya, ada seorang Zidan Ardiansyah yang siap mengacaukan harinya—atau mungkin, menjaga harinya.

Shakira tidak tahu mana yang lebih dulu akan terjadi, tapi yang jelas, malam pertama ini ia habiskan dengan memeluk guling pembatas seerat mungkin, berharap hari esok hanyalah mimpi—meskipun wangi parfum Zidan yang tertinggal di bantal mulai terasa familier dan menenangkan.

1
apiii
novel yg selalu bikin senyum" sendiri🤭
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!