Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mi Instan, Dasi Sutra, dan Goresan yang Mulai Menghilang
Malam itu, apartemen mewah Adrian terasa jauh lebih sempit daripada biasanya. Padahal, luasnya hampir tiga ratus meter persegi, namun keberadaan Zeva di sana menciptakan medan gravitasi baru yang mengacaukan orbit keteraturan Adrian.
Setelah pulang dari rumah Kakek Wijaya, suasana di antara mereka menjadi canggung yang aneh. Adrian langsung mengurung diri di ruang kerjanya, menatap tumpukan laporan keuangan yang tiba-tiba terasa seperti kumpulan huruf tanpa makna. Pikirannya terus berputar pada ucapan kakeknya: “Jika kau membiarkannya pergi hanya karena ini sebuah kontrak, kau adalah CEO paling bodoh.”
Sementara itu, di dapur yang didominasi peralatan stainless steel Jerman yang mengilap, Zeva sedang melakukan "penistaan" terhadap kemewahan. Ia merasa perutnya masih lapar meskipun tadi sudah makan nasi kuning mewah. Baginya, makanan elit itu hanya numpang lewat di tenggorokan tanpa memberikan rasa kenyang yang "bermartabat".
Zeva membongkar salah satu lemari kabinet atas. "Kosong? Serius? Masa apartemen segede ini isinya cuma sereal organik sama suplemen diet?" gumamnya kesal.
Beruntung, ia masih menyimpan "amunisi" di dalam tas ranselnya. Dua bungkus mi instan goreng yang ia selundupkan dari warung Mpok Leha. Dengan lincah, Zeva menyalakan kompor induksi yang harganya mungkin setara dengan tiga motor bebeknya.
Aroma micin yang sangat kuat dan menggoda segera memenuhi ruangan. Aroma itu merayap keluar dari dapur, melewati lorong minimalis, dan masuk ke bawah celah pintu ruang kerja Adrian.
Adrian yang sedang berusaha fokus pada grafik EBITDA tiba-tiba mendongak. Hidungnya mengendus udara. Bau apa ini? Apakah ada kebocoran gas kimia? pikirnya panik. Ia segera keluar untuk memeriksa.
"Zevanya! Apa yang kau lakukan dengan sirkulasi udara di tempat ini?" tanya Adrian, muncul di ambang dapur dengan wajah yang tampak lelah namun tetap terlihat tampan.
Zeva sedang sibuk mengaduk mi dengan sumpit kayu. Ia menoleh dengan cengiran lebar. "Masak makanan dewa, Bos. Lu mau? Kelihatannya lu stres banget abis ketemu kakek lu."
Adrian mendekat, menatap panci kecil itu dengan ngeri. "Itu... mi instan? Kau tahu berapa banyak pengawet dan MSG di dalam satu bungkus itu? Itu racun bagi sel otak."
"Racun tapi enak, Adrian! Lagian sel otak gue udah kebal sama polusi Jakarta, jadi micin ginian mah vitamin," jawab Zeva santai. Ia mengambil sebuah mangkuk porselen putih polos (yang sebenarnya adalah koleksi terbatas dari desainer Jepang) dan menuangkan mi itu ke dalamnya. "Sini, duduk. Lu butuh asupan kebahagiaan instan."
Adrian hendak menolak, namun perutnya justru berkhianat dengan mengeluarkan bunyi keroncongan yang cukup keras. Wajah Adrian memerah.
"Duduk," perintah Zeva lagi, kali ini dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Adrian akhirnya duduk di kursi bar yang tinggi. Zeva meletakkan mangkuk itu di depannya, lengkap dengan telur mata sapi yang bagian kuningnya masih setengah matang—sebuah karya seni jalanan yang sempurna.
"Gue nggak punya garpu perak, pake sumpit aja ya. Belajar jadi rakyat jelata dikit," kata Zeva sambil memberikan sumpit pada Adrian.
Adrian menatap mi itu sejenak, lalu perlahan mulai mencicipinya. Mata birunya (yang biasanya dingin) sedikit melebar. Rasa gurih yang intens, pedas yang pas, dan tekstur mi yang kenyal meledak di lidahnya. Ia tidak pernah merasakan sesuatu yang begitu "tidak sehat" namun begitu memuaskan.
"Bagaimana?" tanya Zeva, menopang dagu dengan tangannya sambil menatap Adrian.
"Sangat... berlebihan. Tapi saya akui, ini lumayan," jawab Adrian, meski tangannya tidak berhenti menyuap.
Zeva tertawa. "Tuh kan! Lu itu cuma butuh sedikit kekacauan di hidup lu, Adrian. Lu terlalu bersih, terlalu rapi. Lu kayak patung di museum. Bagus dilihat, tapi dingin kalau disentuh."
Kata-kata Zeva membuat Adrian berhenti mengunyah. Ia menatap gadis di depannya. Zeva sudah berganti pakaian dengan kaos oblong gombrang bergambar band rock tua dan celana pendek kain. Rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang. Dia terlihat sangat berantakan, namun di mata Adrian, dia terlihat sangat... nyata.
"Kenapa kau membantuku, Zevanya?" tanya Adrian tiba-tiba. "Maksudku, selain karena ganti rugi mobil. Kau bisa saja lari. Dengan keahlianmu benerin mesin, kau bisa hidup di mana saja tanpa harus pura-pura jadi tunangan pria kaku sepertiku."
Zeva terdiam sejenak. Ia memutar-mutar sumpitnya. "Awalnya emang karena mobil. Tapi pas gue liat lu di depan kakek lu... gue liat diri gue sendiri."
Adrian mengernyit. "Maksudmu?"
"Gue juga selalu dituntut buat jadi kuat di depan Mpok Leha dan temen-temen gue di jalanan. Gue nggak boleh kelihatan lemah karena kalau gue lemah, katering bibi gue nggak ada yang belain kalau dipalak preman. Kita berdua sama-sama lagi pake topeng, Adrian. Bedanya, topeng lu harganya miliaran, topeng gue harganya cuma segelas kopi hitam."
Adrian meletakkan sumpitnya. Keheningan di dapur itu terasa berbeda sekarang. Tidak ada lagi ketegangan, yang ada hanya pemahaman yang tulus.
"Topeng saya mulai terasa sangat berat, Zeva," bisik Adrian.
"Ya udah, lepas bentar. Di sini nggak ada Kakek Wijaya, nggak ada Clarissa, nggak ada kamera wartawan. Cuma ada gue, si cewek barbar yang nggak bakal laporin lu ke bursa efek kalau lu ketahuan makan mi instan pakai tangan kosong."
Adrian tersenyum. Sebuah senyuman yang benar-benar sampai ke matanya. Ia melepaskan dasi sutranya, membuka dua kancing teratas kemejanya, dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia merasa napasnya lebih ringan.
"Terima kasih, Zeva. Untuk mi-nya, dan untuk... suasananya."
"Sama-sama, Bos. Tapi inget, cuci piringnya sendiri ya! Itu bagian dari latihan jadi manusia," sahut Zeva sambil bangkit berdiri, hendak menuju kamarnya.
"Tunggu," panggil Adrian.
Zeva menoleh. "Apa lagi? Mau nambah mi?"
"Tentang pertunangan itu... Kakek benar-benar serius. Media mungkin akan mulai mencium hal ini minggu depan. Hidupmu tidak akan sama lagi. Kau tidak akan bisa lagi mengantar paket dengan bebas. Apa kau siap?"
Zeva terdiam di ambang pintu dapur. Ia menatap helm bogo pink-nya yang diletakkan Adrian di atas meja makan mewah. Ia tahu, ia sedang memasuki dunia yang bisa menelannya hidup-hidup. Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa meninggalkan Adrian sendirian di "hutan beton" yang dingin ini.
"Selama lu nggak berubah jadi jahat, gue bakal ada di belakang lu, Adrian. Lagian, siapa lagi yang bakal benerin kompor apartemen ini kalau tiba-tiba meledak?" jawab Zeva dengan kedipan mata yang nakal sebelum menghilang ke dalam kamarnya.
Adrian tetap di dapur, sendirian dengan sisa mangkuk mi instan di depannya. Ia menatap dasi sutranya yang tergeletak di meja. Dasi itu melambangkan semua beban dan ekspektasi yang ia pikul. Namun malam ini, ia memilih untuk membiarkannya tergeletak begitu saja.
Ia berjalan menuju jendela besar, menatap lampu-lampu Jakarta. Ia menyadari satu hal: goresan pink di kap mobilnya sudah lama diperbaiki di bengkel, namun "goresan" yang ditinggalkan Zeva di dalam pikirannya tampaknya bersifat permanen.
Keesokan paginya, kejutan lain menanti.
Adrian terbangun oleh suara musik dangdut yang berdentum keras dari ruang tengah. Ia keluar dengan wajah mengantuk—sesuatu yang sangat langka—dan menemukan Zeva sedang melakukan "operasi pembersihan" besar-besaran.
"Zevanya! Ini masih jam enam pagi!" teriak Adrian berusaha mengalahkan suara musik.
"Pagi, Bos! Apartemen lu ini baunya kayak rumah sakit, terlalu bersih! Gue lagi semprotin pengharum ruangan aroma jeruk purut biar seger!" Zeva berteriak sambil memegang botol semprot.
Adrian melihat ke sekeliling. Di atas meja marmernya kini ada vas bunga berisi bunga kamboja yang kemarin diambil Zeva dari rumah kakeknya. Di atas sofa kulitnya, ada bantal kecil dengan sarung bermotif macan tutul yang sangat mencolok.
"Apa yang kau lakukan pada dekorasi saya?" Adrian bertanya dengan nada horor.
"Gue bikin ini jadi 'rumah', bukan 'kantor'. Oh iya, gue tadi udah pesen bubur ayam di depan gedung. Abangnya mau naik nganterin ke sini tapi dilarang satpam, jadi gue turun ke bawah pake piyama. Kayaknya kita masuk berita pagi ini, soalnya banyak orang yang fotoin gue," kata Zeva santai sambil menyendok bubur dari plastik.
Adrian langsung memegang dahinya. "Kau turun ke lobi... pakai piyama bergambar ayam... dan mengambil bubur ayam?"
"Iya, kenapa? Buburnya enak lho, kerupuknya banyak."
Adrian terduduk di sofa. Ia membayangkan tajuk berita di portal gosip bisnis: 'Tunangan Misterius CEO Alfarezel Terlihat Mengambil Bubur Ayam dengan Piyama di SCBD'. Reputasinya sebagai pria paling elegan di Jakarta mungkin sudah hancur dalam satu subuh.
Namun, saat ia mencium bau bubur ayam yang gurih dan melihat Zeva yang begitu bersemangat menceritakan betapa sulitnya menyelundupkan sambal lebih ke dalam gedung, Adrian justru tertawa. Ia tertawa hingga perutnya sakit.
"Kenapa lu ketawa? Lu udah gila ya?" tanya Zeva bingung.
"Mungkin," jawab Adrian setelah tawa mereda. "Mungkin saya memang sudah gila sejak hari pertama helm merah mudamu itu menghantam mobil saya."
Adrian mengambil satu kantong bubur ayam dari tangan Zeva. "Bagi sedikit. Saya ingin tahu apa yang membuatmu sampai rela turun pakai piyama demi benda ini."
Mereka duduk di lantai—ya, Adrian Alfarezel duduk lesehan di atas karpet Persia-nya—makan bubur ayam bersama di tengah kebisingan musik dangdut. Di titik ini, benih permusuhan itu telah benar-benar mati. Namun sebagai gantinya, sebuah aliansi yang kacau, lucu, dan penuh warna telah lahir.
Bagian dari drama hidup mereka hari ini ditutup dengan aroma bubur ayam dan tawa yang menggema di langit-langit apartemen lantai 50. Musuh lama kini menjadi kawan seperjuangan, bersiap menghadapi badai yang lebih besar: dunia luar yang tidak akan pernah siap menghadapi duet antara sang CEO kaku dan gadis barbar yang tidak punya rem.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan