NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalinya Sang Sampah

Hari ketujuh di Lembah Jarum Beracun.

Kabut ungu di dasar ngarai mulai menipis seiring dengan pilar cahaya putih raksasa yang menembus awan beracun dari langit, mendarat tepat di titik awal pendaratan. Itu adalah Formasi Pemindah Ruang yang menjemput peserta yang selamat.

Dari tiga ribu calon murid yang dilempar ke lembah neraka ini tujuh hari lalu, kini hanya tersisa kurang dari tiga ratus orang yang berkumpul di sekitar pilar cahaya tersebut.

Pakaian mereka compang-camping, tubuh mereka dipenuhi luka bernanah, dan mata mereka memancarkan kehampaan orang-orang yang jiwanya telah remuk. Hampir separuh dari mereka bahkan tidak memiliki satu pun Inti Kalajengking di tangan; mereka datang ke titik penjemputan murni karena sudah tidak sanggup lagi berada di lembah itu, bersedia menerima nasib sebagai budak penambang asalkan bisa keluar hidup-hidup.

Namun, yang aneh adalah keheningan mereka. Ratusan orang itu tidak saling dorong, tidak juga saling bicara. Mereka berdiri menempel di dinding tebing, menyisakan sebuah jalan selebar lima tombak di tengah-tengah mereka.

Mata mereka semua menatap ke arah ujung jalan berbatu dengan campuran antara kengerian mutlak dan ketundukan.

Tap... Tap... Tap...

Suara langkah kaki yang santai terdengar. Dari balik kabut tipis, muncullah seorang pemuda berjubah hitam legam. Wajahnya bersih, rambutnya diikat rapi, dan matanya sedatar permukaan danau es. Tidak ada segores luka pun di kulit perunggunya, seolah ia baru saja kembali dari jalan-jalan pagi di taman bunga, bukan dari neraka Asura.

Itu adalah Chu Chen.

Di belakangnya, Meng Fan berjalan terbungkuk-bungkuk dengan wajah pucat dan berkeringat. Bukan karena takut pada monster, melainkan karena ia memanggul sebuah karung goni raksasa yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri. Karung itu bergemerincing setiap kali Meng Fan melangkah, memancarkan hawa racun tingkat tinggi yang kental.

Setiap kali Chu Chen melangkah maju, ratusan orang di sekitarnya serta-merta mundur satu langkah, menekan punggung mereka lebih keras ke dinding tebing seolah ingin menyatu dengan batu. Beberapa dari mereka bahkan menahan napas, takut suara napas mereka akan menyinggung pemuda berjubah hitam itu.

Mereka telah melihatnya. Selama lima hari terakhir, mereka menyaksikan bagaimana pemuda "Akar Roh Cacat" ini menjelma menjadi dewa kematian. Kalajengking Jarum Besi yang menjadi mimpi buruk mereka dibantai olehnya hanya dengan tangan kosong. Calon murid Lapis Kedelapan yang mencoba merampoknya dihisap hingga menjadi sekam kering.

Chu Chen adalah pemangsa puncak di rantai makanan lembah ini.

Chu Chen melangkah tepat ke tengah pilar cahaya formasi, diikuti oleh Meng Fan yang meletakkan karung raksasa itu dengan napas tersengal.

"Waktunya habis," gumam Chu Chen pelan.

WUUUSH!

Cahaya putih meledak, membutakan mata semua orang. Sensasi tarikan ruang kembali terasa, membawa mereka keluar dari Lembah Jarum Beracun menuju kebebasan.

Di Alun-alun Langit Kota Kekaisaran.

Matahari pagi bersinar cerah menyinari batu giok putih. Penatua bertubuh kurus kering—orang yang sama yang menghina Chu Chen tujuh hari lalu—berdiri dengan tangan di belakang punggung. Di sisinya, ada beberapa murid senior Sekte Awan Suci yang membawa buku catatan, bersiap mencatat hasil ujian.

"Mari kita lihat berapa banyak sampah yang berguna tahun ini," ucap Penatua itu dengan nada bosan. "Paling banyak hanya lima puluh orang yang bisa membawa sepuluh inti. Sisanya yang selamat akan dikirim ke Tambang Batu Bara Neraka."

Formasi raksasa di tengah alun-alun menyala terang. Ketika cahaya itu meredup, kurang dari tiga ratus orang tampak berdiri di sana.

Penatua itu mendengus sinis melihat jumlah yang sangat sedikit. "Lemah. Benar-benar generasi yang mengecewakan."

Namun, ketika matanya menyapu kerumunan yang berantakan itu, tatapan Penatua tersebut mendadak membeku. Urat di dahinya berkedut.

Di tengah-tengah kerumunan yang ketakutan dan menunduk, berdiri satu sosok yang tegak lurus bagaikan pedang. Pemuda berjubah hitam yang sangat tidak asing di ingatan sang Penatua karena memiliki Akar Roh yang benar-benar hancur total tujuh hari lalu.

"Kau..." Penatua itu menunjuk ke arah Chu Chen dengan mata melebar tak percaya. "Bagaimana mungkin kau masih hidup? Sampah Lapis Kelima sepertimu seharusnya mati di hari pertama!"

Chu Chen melangkah keluar dari kerumunan dengan santai, mengabaikan tatapan heran dari para murid senior. Ia berhenti tepat sepuluh langkah di depan Penatua kurus tersebut.

"Nasibku terlalu buruk, Penatua," jawab Chu Chen dengan nada datar yang mengerikan. "Tampaknya bahkan neraka pun merasa jijik untuk menerima sampah sepertiku."

Penatua itu menggertakkan giginya. Keangkuhannya merasa tertampar oleh ketenangan pemuda itu. "Lidah yang tajam tidak akan menyelamatkanmu! Ujian ini bukan tentang siapa yang bisa bersembunyi paling lama! Tunjukkan padaku sepuluh Inti Kalajengking! Jika kau tidak memilikinya, aku sendiri yang akan mematahkan kakimu dan melemparmu ke tambang!"

Chu Chen tidak membalas. Ia hanya menoleh sedikit ke arah belakang. "Meng Fan."

Meng Fan, yang masih terengah-engah, memaksakan senyum sinis. Ia menyeret karung goni raksasa itu ke depan Chu Chen, tepat di hadapan sang Penatua.

Penatua itu mengernyitkan alis melihat ukuran karung tersebut. "Apa-apaan ini? Batu? Kau pikir bisa membodohiku dengan—"

SRAAT!

Chu Chen menarik simpul karung goni itu dengan satu sentakan cepat.

KRATAAAK!

Ratusan butir benda bulat bercahaya hitam keunguan tumpah ruah dari dalam karung, mengalir seperti air bah dan menutupi lantai giok putih di depan kaki Penatua tersebut. Suara gemerincing dari ratusan inti binatang buas itu menggema di seluruh alun-alun yang mendadak sunyi senyap.

Hawa racun dari inti-inti itu begitu pekat hingga membuat udara di sekitar alun-alun berdesir.

Mata sang Penatua melebar hingga urat-urat matanya terlihat merah. Mulutnya terbuka setengah, tapi tidak ada suara yang keluar. Para murid senior di sebelahnya menjatuhkan kuas dan buku catatan mereka karena terkejut.

Itu bukan sepuluh inti. Itu adalah ratusan Inti Kalajengking Jarum Besi! Dan jika diperhatikan dengan teliti, di tumpukan paling atas, ada satu inti berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa yang memancarkan energi mematikan.

"I-Itu... Inti Raja Kalajengking!" teriak salah satu murid senior dengan panik, menunjuk ke arah inti raksasa tersebut. "Binatang Buas Puncak Tingkat 1! Bahkan beberapa Murid Dalam belum tentu bisa membunuhnya sendirian!"

Chu Chen melangkah melewati tumpukan inti tersebut, memperpendek jarak dengan Penatua yang masih membeku.

Tidak ada yang menyadari, namun saat Chu Chen melangkah, aura Penempaan Raga Lapis Kesembilan Puncak bocor sedikit dari tubuhnya, menghantam langsung ke dada sang Penatua.

Merasakan tekanan fisik murni yang setara dengan pemangsa buas purba, Penatua yang berada di Alam Inti Emas itu secara naluriah mundur satu langkah. Langkah mundur itu tidak lebih dari selebar satu jari, namun di mata para kultivator, mundurnya seorang Penatua di hadapan calon murid adalah sebuah penghinaan mutlak.

Wajah Penatua itu langsung memerah karena malu dan marah saat menyadari kemundurannya sendiri.

"Sepuluh inti untuk menjadi penyapu halaman luar, bukan?" Chu Chen memecah keheningan dengan suara yang sangat tenang. Ia menunjuk ke arah gunungan inti di lantai. "Bawa semuanya. Ambil kembaliannya untuk memperbaiki Pilar Takdir kalian yang cacat. Mulai hari ini, aku adalah Murid Luar dari Sekte Awan Suci."

Tanpa menunggu persetujuan, tanpa menunduk hormat sedikit pun, Chu Chen berbalik dan melangkah pergi menuju gerbang pemukiman Murid Luar di kaki gunung raksasa tersebut.

"Meng Fan, bawa plakat kita," perintah Chu Chen tanpa menoleh.

"S-Siap!" Meng Fan segera berlari menuju meja pendaftaran yang dijaga oleh murid senior yang masih terbengong, merebut dua buah plakat pengenal Murid Luar berwarna perak, lalu berlari menyusul punggung Chu Chen.

Penatua kurus itu berdiri kaku, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Menatap punggung pemuda berjubah hitam yang perlahan menjauh, Niat Membunuh melintas di mata tuanya.

"Selidiki anak itu," bisik Penatua itu kepada salah satu murid senior di sebelahnya. Suaranya bergetar menahan amarah. "Seseorang dengan Akar Roh hancur tidak mungkin bisa mencapai hal ini. Jika dia adalah telik sandi sekte lain, aku akan menguliti tubuhnya hidup-hidup."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!