Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam di Alpen tidak pernah sesunyi ini. Salju turun perlahan, menutupi pepohonan pinus dengan selimut putih yang murni. Di balkon lantai dua vila, Evelyn berdiri terpaku. Lensa kontak canggih di matanya sedang memindai area hutan, memastikan tidak ada lagi sisa-sisa anak buah Sebastian Black yang bersembunyi setelah ia menumbangkan beberapa dari mereka tadi sore.
Namun, fokusnya terpecah saat ia mendengar suara langkah kaki yang terukur. Suara langkah yang tidak diseret, namun penuh kehati-hatian.
Srak... srak...
Sebuah jubah tebal berbahan kasmir yang sangat hangat tiba-tiba mendarat di bahu Evelyn. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau samar antiseptik mahal langsung menyergap indra penciumannya. Evelyn menoleh dan menemukan Arkan sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Kau sedang apa di sini? Mencari penyakit?" suara Arkan rendah, nyaris tenggelam dalam desau angin.
Evelyn segera mengubah tatapan tajamnya menjadi pandangan kosong dan bingung. Ia membetulkan kacamatanya yang sedikit melorot. "T-tuan Arkan... Eve cuma mau lihat bintang. Bintangnya bersih ya, Tuan? Nggak ada debunya."
Arkan tidak menjawab. Matanya tertuju pada leher Evelyn yang terpapar udara dingin. Tanpa sadar, tangannya bergerak memperbaiki posisi jubah di bahu Evelyn. Jari-jari Arkan yang panjang dan tanpa sarung tangan sempat bersentuhan dengan kulit leher Evelyn.
Evelyn tersentak kecil. "Tuan... tangan Tuan dingin. Nanti Tuan kumanan kalau pegang-pegang Eve tanpa sarung tangan."
Arkan terdiam sejenak. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Biasanya, menyentuh kulit manusia lain tanpa pembatas akan membuatnya merasa ingin segera mandi dengan cairan pemutih. Namun sekarang, rasa hangat dari kulit Evelyn justru membuatnya enggan melepaskan sentuhan itu.
"Baju ini sudah kusemprot disinfektan tadi sore. Dan udaranya... cukup bersih malam ini. Jadi tidak masalah," bisik Arkan.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak satu meter yang biasanya menjadi hukum suci bagi Arkan, kini dilanggar dengan sengaja. Wajah Arkan perlahan merunduk, mendekati wajah Evelyn yang kini memerah—bukan hanya karena kedinginan.
Evelyn menahan napas. Ia bisa merasakan hembusan napas Arkan yang segar beraroma mint. Di balik topeng nerdy-nya, jantung sang Queen Mafia berdegup kencang. Kenapa pria higienis ini tiba-tiba menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan jantungku? batinnya.
Tepat saat hidung mereka hampir bersentuhan, dan Arkan mulai memejamkan matanya...
"EVE! ABANG DATANG BAWA CILOK STERIL YANG SUDAH DIVAKUM!"
Suara teriakan menggelegar dari halaman bawah menghancurkan atmosfer romantis itu seperti ledakan bom.
Arkan langsung menjauh dengan gerakan kaku, seolah-olah ia baru saja tersengat listrik. Ia membetulkan letak kerah bajunya, wajahnya yang biasanya pucat kini memerah hingga ke telinga.
"Siapa... siapa orang gila yang berteriak soal makanan kotor di tengah malam ini?" geram Arkan, mencoba mengalihkan rasa malunya.
Evelyn mengintip ke bawah balkon. Di sana berdiri Franco Adrian Grant, mengenakan jaket musim dingin yang sangat modis namun membawa sebuah kantong plastik transparan yang terlihat sangat kontras. Di belakangnya, Kenan sedang menodongkan termometer suhu ke arah dahi Franco.
"Itu Abang Eve, Tuan! Wah, Abang bawa cilok! Tuan tahu tidak, cilok itu kalau dicelup bumbu kacang bisa meningkatkan hormon kebahagiaan!" Evelyn bersorak pura-pura senang, meski di dalam hati ia ingin melempar Franco dengan snipernya karena merusak momen langka tadi.
Arkan mendengus. "Cilok? Bola-bola tepung yang direbus di pinggir jalan itu? Itu adalah bom bakteri, Evelyn."
Mereka berdua turun ke ruang tamu. Di sana, Franco sudah duduk dengan santai di atas sofa yang sebenarnya sudah dipesan Arkan untuk tidak diduduki tamu.
"Halo, adik iparku yang paling bersih!" Franco menyapa dengan senyum lebar. Ia meletakkan kantong ciloknya di atas meja kristal. "Arkan, jangan khawatir. Cilok ini dibuat di laboratorium Grant Group. Tepungnya dicuci pakai air distilasi, dagingnya diperiksa di bawah mikroskop, dan bumbunya dimasak dalam suhu yang sanggup membunuh virus paling tangguh sekalipun."
Arkan menatap kantong plastik itu dengan pandangan jijik namun penasaran. "Kenapa kau ke sini, Franco? Bukankah kau harus mengurus Grant Group?"
"Aku merindukan adikku yang culun ini," jawab Franco sambil mengacak rambut Evelyn dengan kasar (yang sebenarnya adalah kode untuk memeriksa apakah kancing komunikasi Evelyn masih aman). "Lagipula, Daddy Stefan titip suplemen ini untuk Evelyn."
Franco mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Ini suplemen vitamin eksklusif. Hanya Evelyn yang boleh meminumnya."
Evelyn menerima botol itu. Ia tahu itu bukan vitamin. Itu adalah alat penyadap cair yang bisa dideteksi oleh sensor Edward. Franco sengaja memberikannya karena ia tahu Arkan mulai memasang detektor sinyal di seluruh vila.
Lana Knight tiba-tiba muncul dari arah dapur, mengunyah apel yang sudah dicuci tujuh kali. "Wah, ada Kak Franco! Kak, ciloknya beneran steril? Kalau iya, aku mau satu!"
"Jangan berani-berani, Lana!" bentak Arkan.
Namun, perhatian Arkan teralih kembali pada Evelyn. Ia melihat Evelyn sedang berbicara bisik-bisik dengan Franco. Ada kedekatan yang sangat alami di antara mereka berdua—kedekatan yang membuat Arkan merasa ada sesuatu yang tidak nyaman di dadanya. Rasa tidak nyaman yang lebih buruk daripada melihat setumpuk debu di atas mejanya.
*Kenapa dia terlihat sangat manja pada kakaknya, tapi terlihat sangat takut padaku?* pikir Arkan.
Arkan melangkah maju dan tiba-tiba merebut botol "vitamin" dari tangan Evelyn. "Aku yang akan menyimpannya. Aku harus memeriksa kandungannya di laboratorium pribadiku sebelum kau meminumnya. Aku tidak mau ada zat adiktif kotor yang masuk ke tubuh istriku."
Franco menaikkan sebelah alisnya. "Waduh, posesif sekali ya King kita ini? Padahal itu cuma vitamin, Arkan."
"Keamanan istriku adalah tanggung jawabku," balas Arkan dingin.
Evelyn menelan ludah. Gawat. Kalau Arkan mengecek cairan itu, dia akan tahu kalau itu adalah nanobot komunikasi!
Evelyn segera beraksi. Ia pura-pura tersandung kaki meja—gerakan klasik "Evelyn si Nerdy". "Aduh! Tuan Arkan, hati-hati! Botolnya licin!"
Evelyn menabrak Arkan dengan sengaja. Tangannya "tidak sengaja" menyenggol tangan Arkan, membuat botol itu jatuh. Di saat yang sama, Evelyn menggunakan kecepatan tangannya untuk menukar botol itu dengan botol parfum "sabun bayi" kecil yang selalu ia kantongi di saku dasternya.
Pyar!
Botol yang jatuh itu pecah (Evelyn memastikan itu botol kaca yang ia bawa sebagai cadangan). Aroma sabun bayi yang lembut langsung memenuhi ruangan.
"Maafkan Eve, Tuan! Eve ceroboh banget... hwaaaa, vitaminnya tumpah!" Evelyn pura-pura menangis tersedu-sedu.
Arkan tertegun. Ia melihat cairan yang tumpah itu berbusa dan beraroma sangat harum. Ia menatap Evelyn yang sedang berlutut di lantai dengan wajah penuh penyesalan.
Bukannya marah karena kotor, Arkan justru mengulurkan tangannya. Tanpa menggunakan tisu atau sarung tangan, ia menarik Evelyn berdiri.
"Sudahlah. Hanya vitamin," ucap Arkan pelan. Ia membersihkan sisa pecahan kaca dengan kaki botnya, lalu menatap Franco. "Bawa pulang cilokmu. Besok aku akan menyewa koki bintang lima untuk membuatkan Evelyn makanan yang benar-benar bersih."
Franco tertawa kecil. "Baiklah, baiklah. Aku pergi. Eve, jangan lupa belajar fisika kuantumnya ya!"
Setelah Franco pergi, Arkan masih memegangi lengan Evelyn. Ia menatap mata di balik kacamata tebal itu. "Evelyn."
"I-iya, Tuan?"
"Kenapa setiap kali kau ada di dekatku, selalu ada aroma sabun bayi ini? Apa kau... menggunakan deterjen khusus?"
Evelyn nyengir kuda, menutupi kegugupannya. "Itu... itu bau keringat Eve memang begitu, Tuan! Kata Daddy, Eve itu 'bayi besar' jadi baunya nggak bisa ilang!"
Arkan terdiam lama. Ia perlahan melepaskan lengan Evelyn, lalu berbalik pergi menuju kamarnya. "Mandilah lagi. Kau baru saja menyentuh lantai yang kotor."
Evelyn menatap punggung Arkan. Ia melihat telapak tangan Arkan yang tadi memegang lengannya. Arkan tidak langsung menyemprotnya dengan alkohol. Arkan justru menggenggam tangannya sendiri, seolah ingin menyimpan sisa kehangatan dari kulit Evelyn.
Lana, yang sejak tadi menonton dari balik pilar, berbisik pada dirinya sendiri. "Pangeran Disinfektan sudah mulai terinfeksi virus cinta. Menarik."
Sementara itu, di dalam kamarnya, Arkan duduk di tepi tempat tidur. Ia mencium telapak tangannya. Bau sabun bayi.
"Samuel," panggil Arkan lewat jam tangannya.
"Ya, Bos?"
"Lupakan soal perusahaan deterjen. Cari tahu siapa identitas asli Evelyn Valentina Grant sebelum dia pindah ke rumah keluarga Grant sepuluh tahun lalu. Aku merasa... dia bukan sekadar gadis culun yang takut debu."
Di kamar sebelah, Evelyn sedang sibuk mengetik di laptopnya. "Edward, kirim tim pembersih ke koordinat hutan tadi. Jangan tinggalkan satu pun selongsong peluru. Suamiku mulai menggunakan insting hidungnya lebih tajam dari detektor kuman."
Perang dingin di vila Alpen baru saja dimulai, dan kali ini, batas antara musuh dan cinta mulai kabur seburuk embun di kacamata Evelyn.