NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demam di Kurungan

 

Hujan.

Tiga hari badai tanpa henti di pulau itu. Langit gelap, ombak ganas, seolah neraka pun lagi marah.

Dan di tengah badai, tubuh Florence tumbang.

Demam.

Mungkin karena kehujanan saat lari ke kapel. Mungkin karena hatinya patah denger “kabar kematian” orang tuanya. Mungkin karena ciuman paksa iblis itu meracuni pikirannya.

Yang jelas, malam keempat, Florence menggigil di ranjang. Selimut sutra tidak cukup. Kulitnya pucat, bibirnya kering, rambut coklatnya lengket di kening karena keringat dingin. Dia mengigau.

“Ibu... Suster... pulang...”

Pintu kamarnya dibuka kasar jam 2 pagi.

Lucifer. Dia tidak tidur. Mana bisa tidur kalau pengawalnya lapor: _Tawanannya sekarat._

Dia berdiri di samping ranjang, menatap Florence. Wajahnya datar. Dingin. Tapi mata birunya menyapu tubuh Florence dari atas ke bawah, menghitung. Mendiagnosis.

“Lemah,” gumamnya. Bukan ke Florence. Ke dirinya sendiri. Kesal.

Dia menjentikkan jari. Dokter pribadi langsung masuk, tas medis di tangan. Dua pengawal berdiri di sudut.

“Periksa,” perintah Lucifer singkat. Dia sendiri mundur, bersandar di dinding, tangan dilipat. Mengawasi.

“39,8 derajat, Tuan. Dehidrasi. Kelelahan mental,” lapor dokter setelah cek. “Perlu infus, penurun panas, dan istirahat total. Kalau dibiarkan... bisa berbahaya.”

Lucifer diam. Hanya anggukan kecil.

Dokter bergerak cepat. Pasang infus. Suntik penurun panas. Kasih kompres.

Selama itu, Lucifer tidak pergi. Dia di situ. Diam. Menatap.

Florence membuka mata sayu di tengah proses. Pandangannya kabur, tapi siluet tinggi kekar itu tidak mungkin salah. Iblisnya.

“Kenapa...?” suaranya serak, hampir tidak terdengar. “Kenapa... peduli kepadaku?”

Lucifer mendekat selangkah. Bayangannya menutupi cahaya lampu.

“Karena aku bilang,” suaranya tanpa emosi. “Aku yang kasih hidup, aku yang bisa mengambilnya. Ingat?”

Dia menunjuk vas di meja nakas. Mawar merah dari hari itu. Sekarang kepalanya sudah menunduk, kelopaknya menghitam. Layu.

“Kamu seperti mawar itu, Florence.” Jari Lucifer menyentuh kelopak layu. “Aku tidak suka lihat benda matii di pulauku. Mengganggu pemandangan.”

Florence mau ketawa kalau tidak sekalian mau mati. Panas demamnya bikin kepala berat, tapi otaknya masih jalan.

Lihat kan. Benar dugaanku.

“Jadi...” dia berbisik, napasnya panas, “aku cuma... barang. Kamu rawat aku biar... biar barangmu tidak rusak. Seperti... seperti mawar layu yang ganggu matamu.”

Bibir Lucifer menipis. Dia tidak membantah.

“Barangku harus utuh,” jawabnya kejam. Jujur. “Aku belum selesai denganmu. Kamu mati sekarang, itu namanya rugi.”

Dia mengambil handuk kecil dari baskom, yang dari tadi disiapkan dokter. Dokter mau ambil, tapi Lucifer memberi tatapan. Minggir.

Dengan gerakan kaku, tidak terbiasa, Lucifer duduk di pinggir ranjang. Dia peras handuk itu. Lalu... dia letakkan di kening Florence.

Dingin. Kaget.

Sentuhannya kasar. Tidak ada kelembutan. Ini bukan adegan drama. Ini seperti bos mafia ngecek mobilnya rusak atau tidak. Klinis. Efisien.

Tapi dia yang lakuin sendiri. Bukan dokter. Bukan pengawal. Tangannya.

Florence menutup mata. Air mata panas meleleh di pelipis. Bukan karena kompresnya. Karena hatinya sakit.

Tuhan, bahkan di saat aku sekarat, iblis ini nyelamatin aku bukan karena kasihan. Tapi karena aku masih berguna. Karena aku masih jadi pion untuk rencananya.

“Minum,” Lucifer menyodorkan gelas air dengan sedotan. Perintah, bukan tawaran. Saat Florence terlalu lemas ngangkat kepala, tangan Lucifer yang lain menyelinap ke belakang leher Florence, mengangkatnya sedikit. Paksa dia minum.

Jarak mereka dekat lagi. Florence bisa lihat pori-pori wajah Lucifer. Sempurna. Dan mata biru itu... kosong. Tidak ada khawatir. Hanya kalkulasi. _Asetku harus hidup._

Setelah Florence minum, Lucifer meletakkan gelas dengan keras. Dia berdiri. Topeng dinginnya 100% kembali.

“Dokter tinggal di sini sampai dia stabil,” perintahnya ke ruangan. “Kalau dia mati, kalian semua ikut dikubur.”

Dia menatap Florence terakhir kali. “Sembuh. Cepat. Aku benci ngurus orang sakit. Buang-buang waktuku.”

Lalu dia pergi. Membanting pintu. Meninggalkan ruangan yang mendadak terasa lebih dingin padahal AC-nya dimatikan.

Florence menatap langit-langit. Kompres di keningnya sudah mulai hangat. Tapi hatinya beku.

Dia benar. Semua ‘perhatian’ Lucifer — nambah pengawal, ngelarang steak, sekarang ngompres — itu bukan kebaikan. Itu SOP. Standar Operasional Iblis untuk menjaga barang berharga tetap hidup.

Dia bukan manusia di mata Lucifer. Dia mawar. Yang indah, tapi akan dibuang saat layu dan tidak berguna.

Di luar kamar, Lucifer berjalan ke balkon, membiarkan hujan menghantam wajahnya. Tangannya terkepal sampai berdarah. Bekas panas kening Florence masih terasa di telapak tangannya.

Sial. Kenapa barang yang satu ini... bikin gue takut rugi?

Dia benci demam ini. Benci karena sedetik tadi, dia hampir... khawatir beneran. Bukan karena aset. Tapi karena gadis itu.

Tidak boleh. Raja Neraka tidak boleh sakit gara-gara tawanannya sakit.

 

1
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!