⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Pertandingan Zyro
Hari telah berganti suasana di dalam ruangan VVIP terasa tenang dan hangat. Seorang perawat masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman bergizi untuk Valencia, lalu meletakkannya di atas meja pasien yang bisa ditarik ke depan tempat tidur.
"Ini makan siangnya, Nona. Silakan dimakan ya, harus banyak makan supaya cepat pulih tenaganya," kata perawat itu ramah, lalu pamit keluar ruangan.
Zyro segera duduk di sisi tempat tidur, mengambil sendok dan piring berisi bubur hangat itu. Ia menatap Valencia dengan senyum lembut.
"Ayo, Sayang. Makan dulu ya, harus banyak tenaga. Biar aku yang menyuapi," ucapnya lembut.
Tanpa menunggu jawaban, Zyro mulai menyuapi Valencia dengan sangat hati-hati dan telaten. Ia meniupnya sebentar agar tidak terlalu panas sebelum memasukkannya ke mulut wanita itu. Gerakannya begitu lembut dan penuh kasih sayang. Di sisi lain, Ansel duduk di sofa tak jauh dari sana, sesekali ikut tersenyum melihat pemandangan itu, namun matanya sesekali melirik ke arah televisi yang menyala di sudut ruangan.
Suara penyiar berita terdengar jelas dari televisi itu, memecah keheningan ruangan.
"Berita olahraga terkini... Dunia balap mobil sempat dihebohkan dengan ketidakhadiran pembalap andalan, Zyro. Pada pertandingan besar kemarin siang, Zyro tidak muncul di lokasi hingga perlombaan dimulai. Pihak tim terpaksa segera menggantinya dengan pembalap cadangan secara mendadak agar bisa tetap bertanding. Namun sayang, karena kurangnya persiapan dan strategi yang matang, tim akhirnya kalah telak dan gagal meraih kemenangan. Keberadaan Zyro sendiri hingga kini belum diketahui, pihak tim dan manajemen mengaku sudah berusaha menghubungi namun tidak berhasil. Banyak pihak menilai sikap Zyro sangat tidak profesional dan tidak bertanggung jawab. Ia dianggap kalah sebelum bertanding dan menjadi penyebab utama kekalahan timnya. Belum ada keterangan resmi mengenai alasan ketidakhadirannya hingga saat ini, dan nasib karirnya di dunia balap pun kini menjadi tanda tanya besar..."
Mendengar pemberitaan itu, tangan Zyro yang sedang memegang sendok seketika berhenti bergerak. Wajahnya yang tadinya cerah seketika berubah menjadi kaku dan muram. Ia diam membisu, matanya menatap kosong ke arah piring di tangannya.
Valencia yang sedang dibantu makan pun berhenti mengunyah. Ia melihat perubahan ekspresi di wajah Zyro, lalu menoleh ke arah layar televisi yang masih terus menayangkan berita tentangnya. Hatinya seketika terasa perih dan bersalah. Ia tahu betapa besarnya arti pertandingan bagi Zyro, Valen tau perjuangan karir zyro sampai dia pada titik ini, Namun demi dirinya, Zyro rela meninggalkan segalanya, rela menghilang begitu saja.
"Zyro..." panggil Valencia lirih, suaranya terdengar sedih dan menyesal. "Maafkan aku... Semua ini gara-gara aku,? Kalau bukan karena aku, kau pasti ada di sana, kau pasti bertanding, dan kau pasti jadi pemenangnya. Sekarang namamu jadi buruk, karirmu jadi terancam... Maafkan aku, Zyro... Aku yang menyebabkan semua ini..."
Air mata mulai menggenang di mata Valencia, rasanya ia sangat tidak berguna dan menjadi sumber masalah bagi pria yang dicintainya itu.
Zyro segera meletakkan piring dan sendoknya di atas meja, lalu dengan cepat mengusap air mata yang mulai menetes di pipi Valencia dengan lembut. Wajahnya kembali tersenyum, senyum yang tulus dan menenangkan, seolah berita buruk yang baru saja ia dengar sama sekali tidak berarti baginya.
"Jangan bicara begitu, Sayang..." bisik Zyro lembut.
"Dengarkan aku baik-baik. Biarkan mereka bicara apa saja, biarkan mereka menilai aku seburuk apa pun, biarkan mereka menyebutku kalah atau tidak profesional... Semua itu tidak ada artinya bagiku. Benar-benar tidak ada artinya."
Zyro menggenggam tangan Valencia erat-erat, menatap mata wanita itu dengan tatapan yang dalam dan serius.
"Bagaimana aku bisa mengikuti pertandingan sedangkan kau masih terbaring kritis di ruang ICU, belum sadar, nyawamu masih sangat genting. Bagaimana mungkin aku bisa berdiri di lintasan balap, memacu mobilku, dan berpikir tentang kemenangan... sementara wanita yang paling kucintai di dunia ini sedang berjuang mempertahankan nyawanya sendirian di balik pintu kaca ruang perawatan intensif? Aku tidak mungkin melakukannya, Valen. Aku tidak sanggup meninggalkanmu saat kau belum sadarkan diri."
"Aku memilih untuk tetap berada di sini, menunggumu, berdoa untukmu, dan memastikan kau aman. Bagiku, melihatmu bernapas dan perlahan membaik jauh lebih berharga daripada piala atau kemenangan apa pun di dunia ini. Aku sama sekali tidak menyesal, tidak sedetik pun. Pertandingan itu bisa diulang, kesempatan itu bisa dicari lagi, namaku pun bisa diperbaiki nanti. Tapi nyawamu... nyawamu hanya satu. Kalau aku meninggalkanmu saat itu demi balapan, dan terjadi sesuatu padamu... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri seumur hidupku," tegas Zyro dengan suara yang mantap dan penuh keyakinan.
Di sudut ruangan, Ansel yang mendengar semuanya pun bangkit berdiri dan berjalan mendekati mereka berdua. Wajahnya tampak serius dan penuh tekad.
"Zyro benar, Valen. Dia tidak menyesal, dan dia tidak rugi apa-apa. Justru merekalah yang rugi kehilangan pembalap sehebat dia, yang punya hati dan tanggung jawab sebesar ini," ucap Ansel tegas. Ia menatap Zyro lekat-lekat.
"Dan dengar, Zyro... Jangan khawatir soal apa pun yang dikatakan orang, soal timmu, atau soal karirmu. Aku akan membereskan semuanya. Aku akan pastikan namamu bersih kembali, reputasi mu pulih, dan posisimu tetap aman. Biarkan aku yang mengurus semua kekacauan di luar sana. Kau hanya perlu fokus di sini, menjaga Valen. Percayalah padaku."
Zyro menatap Ansel, lalu tersenyum tipis dan mengangguk perlahan. Rasa khawatir di hatinya perlahan hilang tergantikan oleh rasa syukur karena memiliki dukungan yang begitu kuat.
Sementara itu, Valencia menatap kedua pria itu bergantian. Hatinya terasa hangat dan terenyuh. Ia sadar, ia dicintai oleh dua pria yang begitu hebat, yang rela berkorban apa saja demi dirinya, dan saling mendukung satu sama lain demi kebahagiaannya. Air matanya jatuh kembali, namun kali ini adalah air mata bahagia dan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih... Terima kasih untuk semuanya..." bisiknya lirih.
"Aku berjanji, aku akan cepat sembuh. Dan aku akan memastikan bahwa pengorbanan kalian tidak sia-sia."
"Ayo lanjut makan lagi ya, Sayang. Jangan sampai dingin," kata Zyro lembut, kembali mengambil alih piring dan sendoknya, melanjutkan menyuapi Valencia dengan penuh kasih sayang seolah tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi.