NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.

Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.

Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.

Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.

Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 20.

Ruangan langsung sunyi setelah laporan kasim Bernard.

Raja Alexander perlahan menarik tangannya dari wajah Evelyn, tatapannya berubah dingin dalam sekejap.

“Berapa banyak?” tanyanya.

Bernard menunduk hormat. “Belum besar, namun mereka bergerak diam-diam melalui wilayah utara dan barat.”

Alexander menyipitkan mata.

“William mulai tidak sabar.”

Evelyn berdiri perlahan dari kursinya, pikirannya langsung bekerja cepat.

Pasukan pribadi.

Pergerakan diam-diam.

Wilayah utara.

Semua itu hanya berarti satu hal.

Pangeran William mulai membangun kekuatan militer di luar kendali kerajaan.

“Apakah para menteri tahu?” tanya Evelyn.

“Belum semuanya, namun beberapa bangsawan pasti sudah menyadarinya.” Jawab Bernard.

Alexander berjalan menuju jendela, tatapannya gelap melihat malam di luar. “Dia tidak akan bergerak kalau belum siap.”

Evelyn memperhatikan pria itu diam-diam, kali ini ia benar-benar melihat tekanan yang dipikul Alexander sebagai raja. Karena ancaman terbesar sering kali bukan datang dari luar kerajaan, namun dari darah sendiri.

“Apa Yang Mulia akan menangkap William?” tanya Evelyn akhirnya.

Alexander tertawa dingin, Ia menoleh perlahan. “Dengan alasan apa? Dia belum memberontak.”

Dan itulah masalahnya, William bergerak sangat hati-hati. Dia tidak pernah meninggalkan bukti kuat untuk dihukum. Kalau Alexander bertindak gegabah, para bangsawan bisa menganggap raja menindas adiknya sendiri. Dan itu akan menjadi senjata balik bagi William.

Evelyn menyilangkan tangan pelan. “Jadi kita buat dia bergerak lebih cepat.”

“Kamu punya ide?” Ia menoleh perlahan.

Evelyn berjalan mendekati meja besar, lalu membuka peta kerajaan. “William percaya dirinya unggul... karena memiliki dukungan diam-diam.”

Jari wanita itu menunjuk wilayah utara, tatapannya mengeras. “Kalau kita mulai memotong jalur uang dan suplai mereka, dia akan mulai kehilangan kesabaran.”

Alexander langsung mengerti, itu berbahaya tapi efektif.

“Pedagang?” tanyanya.

Evelyn mengangguk. “Serikat pedagang sudah berada di pihakku.”

“Dan keluarga Hawthorne bisa mengawasi jalur militer,” tambah Kasim Bernard cepat.

Hening beberapa detik.

Perlahan, Alexander tersenyum. “Kalian benar-benar mulai membangun perang dari balik meja.”

Evelyn menatap pria itu dengan wajah tanpa ekspresi. “Perang selalu dimulai... jauh sebelum pedang diangkat.”

Jawaban itu membuat Alexander tertawa pelan, namun matanya justru semakin gelap. Karena ia tahu, Evelyn benar.

Keesokan paginya, aula rapat kerajaan dipenuhi para menteri. Suasana lebih berat dari biasanya.

Lord Vincent berdiri di depan sambil membacakan laporan wilayah. “Distribusi pangan di utara mengalami gangguan.”

Beberapa menteri langsung mulai berbisik.

“Pasar juga mulai berubah,” lanjut Vincent.

“Beberapa pedagang besar menghentikan kerja sama dengan keluarga tertentu.”

Tatapan beberapa orang langsung berubah, karena mereka tahu siapa yang dimaksud. Keluarga pendukung pangeran William.

Di sisi lain aula, William duduk tenang sambil tersenyum tipis. Seolah semua itu tidak ada hubungannya dengannya.

Namun Evelyn melihat jemari pria itu mengetuk kursi perlahan, tanda kecil bahwa William mulai terusik.

Raja Alexander duduk di singgasana dengan wajah datar.

“Apa penyebabnya?” tanyanya dingin.

Lord Vincent membungkuk sedikit. “Pasar memilih pihak yang lebih stabil.”

Jawaban itu terdengar biasa, namun semua orang mengerti maksudnya. Pasar sedang memilih Evelyn, dan secara tidak langsung... memilih Alexander.

“Bukankah terlalu berbahaya, jika istana ikut bermain dalam perdagangan?” William akhirnya bicara, nada suaranya lembut seperti biasa.

Evelyn langsung menoleh padanya, tatapannya tenang. “Lebih berbahaya jika perdagangan dipakai untuk melemahkan kerajaan.”

Beberapa menteri mulai menunduk, karena ucapan Evelyn adalah tamparan langsung pada William.

Namun William tetap tersenyum. “Ratu terlihat sangat mengerti soal politik.”

“Karena aku tidak buta.” Jawaban Evelyn cepat dan lugas.

Untuk sesaat, suasana aula terasa menekan.

Ibu Suri Helena yang duduk di sisi aula memperhatikan semuanya tanpa bicara, tatapannya pada Evelyn semakin dingin. Karena sang Ratu, kini terlalu sulit dijatuhkan. Dan lebih buruk lagi, Alexander selalu membiarkan Evelyn bicara.

Malam harinya...

Evelyn kembali masuk ke Ruang Ajaib, cahaya putih langsung menyambutnya. Ia berjalan cepat menuju rak penyimpanan, lalu membuka beberapa laci logam. Di dalamnya, tersimpan alat-alat dari dunia modern.

Radio kecil.

Peralatan medis.

Dan beberapa buku strategi perang.

Evelyn mengambil satu buku tebal.

“Psikologi perang.”

Matanya bergerak cepat membaca halaman demi halaman. Kalau William mulai membangun pasukan, maka perang tidak bisa dihindari lagi. Dan Evelyn... tidak berniat kalah.

Ia lalu berjalan ke bagian lain Ruang Ajaib, sebuah pintu logam besar terbuka perlahan. Di baliknya, tersimpan lebih banyak hal mengejutkan.

Bahan kimia.

Blueprint senjata.

Dan mesin-mesin yang bahkan belum pernah ada di zaman ini.

Tatapan Evelyn perlahan berubah dalam, ruang Ajaib ini terlalu luar biasa untuk sekadar tempat penyimpanan. Dan semakin lama, ia merasa tempat ini seolah memang menunggunya. Bukan kebetulan, seolah seseorang… sudah merencanakan semuanya jauh sebelum ia datang ke dunia ini.

Evelyn menghela nafas pelan lalu menutup kembali pintu logam itu, ia belum siap menyentuh terlalu banyak hal berbahaya sekaligus.

Tak lama kemudian, Evelyn membuka mata kembali di kamarnya.

Suasana istana masih sunyi, namun suara langkah di luar pintu segera terdengar.

Tok. Tok. Tok

“Yang Mulia.”

Suara kasim Bernard terdengar cepat dan serius.

Evelyn segera berdiri. “Masuk.”

Pintu terbuka, Bernard masuk sambil membawa gulungan peta.

“Kita menemukan gudang rahasia di wilayah utara.”

Tatapan Evelyn langsung berubah tajam. “Milik William?”

“Diduga begitu.” Bernard menyerahkan peta tersebut. “Isinya senjata dan persediaan makanan dalam jumlah besar.”

Evelyn langsung memahami situasinya, William sedang bersiap. Bukan sekadar bermain politik lagi, namun membangun fondasi perang.

Saat itulah pintu kembali terbuka, Alexander masuk dengan langkah tenang, namun tatapannya langsung berubah dingin begitu melihat ekspresi Bernard.

“Ada apa?”

Bernard segera membungkuk hormat sebelum menjelaskan ulang laporan tadi.

Alexander mengambil peta itu cepat, lalu membukanya di atas meja. Tatapannya semakin tajam. “Dia mulai memindahkan logistik.”

Evelyn menyandarkan tubuh pelan di sisi meja. “Kalau begitu... kita buat dia kehilangan salah satunya.”

Alexander menoleh.

“Kau mau menyerang?”

“Bukan terang-terangan.”

Evelyn mengambil pena lalu menandai beberapa titik di peta. “Gudang sebesar ini tidak mungkin berdiri tanpa jalur distribusi.”

Jari Evelyn bergerak cepat.

“Seperti yang sudah aku katakan, putus suplai mereka, dan sebarkan rumor bahwa wilayah utara mulai kekurangan persediaan.”

Kasim Bernard langsung mengerti. “Kita akan menciptakan kepanikan pasar.”

Evelyn mengangguk kecil.

“Begitu para pendukung William mulai takut rugi…” tatapannya berubah dingin, “…mereka akan mulai saling menggigit.”

Alexander memperhatikan Evelyn dalam diam. Tatapan pria itu perlahan berubah kagum, seperti biasanya setiap kali melihat Evelyn mampu menangani masalah dengan tenang dan cerdas.

“Kau benar-benar kejam.”

Evelyn mengangkat bahu. “Aku hanya mencoba lebih efisien.”

Dan Alexander, sangat menyukai jawaban wanita itu.

...*****...

Dua hari kemudian, rumor mulai menyebar di wilayah utara.

“Gudang keluarga bangsawan terbakar.”

“Persediaan makanan menurun.”

“Pasar akan kacau.”

Orang-orang mulai panik.

Pedagang menarik diri.

Harga berubah tidak stabil.

Dan tepat seperti perkiraan Evelyn, beberapa bangsawan pendukung William mulai saling menyalahkan.

Di sebuah rumah besar wilayah utara, suasana rapat berlangsung panas.

“Kau bilang semuanya aman!”

“Ini bukan salahku!”

“Kalau perdagangan jatuh, kita semua selesai!”

Sementara itu, William duduk diam di kursinya. Tatapannya dingin, ia tahu semua itu bukan kebetulan. Alexander mulai bergerak, namun instingnya mengatakan bukan Alexander yang paling berbahaya sekarang... melainkan Evelyn.

William mengepalkan tangan, tatapannya menggelap. “Ratu itu, harus disingkirkan lebih cepat!“

Malam harinya, Sophia kembali dipanggil diam-diam. Begitu masuk ke ruangan, ia langsung berlutut.

William berdiri membelakanginya. “Kau tahu apa masalah terbesarmu?”

Sophia menunduk.

“Kau terlalu emosional.” William menoleh perlahan pada wanita itu. “Kau membenci Evelyn, padahal seharusnya... kau memanfaatkannya.”

Sophia menggigit bibir. “Aku hanya ingin membunuhnya.”

William tertawa kecil, tanpa kehangatan.

“Itu sebabnya kau kalah.“ Pria itu berjalan mendekat. “Orang pintar tidak selalu membunuh musuhnya.”

William berhenti tepat di depan Sophia, Ia mengangkat dagu wanita itu paksa. “Terkadang… mereka menghancurkan hati dan kepercayaannya lebih dulu.”

Mata Sophia berubah samar, perlahan ia mulai memahami maksud William. Ia harus menghancurkan kepercayaan Evelyn pada Alexander, menciptakan kesalahpahaman seolah Raja lebih memilih dirinya dibanding sang Ratu.

Karena cinta… adalah kelemahan yang paling mudah menghancurkan seseorang.

1
Miss Typo
ternyata bukan hanya Evelyn yg masih keturunan dari zaman kuno
tapi musuh Evelyn di dunia modern, juga musuh keluarga Evelyn di zaman kuno
Tiara Bella
waduh pinter bngt author ceritanya saling menyambung ya
Wanita Tangguh🧩🌠: Kurang tau kak, mungkin beberapa ada yg gk lanjut baca 🤭 pas beberapa bab gak sesuai ekspektasi mereka, jd gk lanjut baca. Gpp, nulis ini aku santai aja kak bt selingan karya Leya😁
total 3 replies
Surianto Tiwoel
wah,, pasti ibu suri yg bunuh,, ibunya Alexander
Miss Typo
Raja dan Ratu bikin perasaan campur aduk, harusnya formal aja eh romantis bgt lagi 🤣
Tiara Bella
so sweet bngt ya raja Alexander sm ratu Evelyn.....😍
Rita
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😅😅😅😅😅
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
😅😂😂😂😂😂
Rita
wah siap2 evelyn ngambek😅😂😂
Rita
waahhhh👍👍👍👍
Nyonya Gunawan
Kirain alex beneran koma..😄😄
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili
Rita
ceritanya bagus,seru,tegang g betele2
Rita
berani macam2 tunggu pembalasan ku😅😂pov evelyn
Rita
bangun̈in singa betina
Rita
ikut panik
Rita
waspada yg bs dilakukan plus bersiap
Rita
peka
Rita
waspada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!