"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Mencari Jejak di Kota Besar, Bau Darah Menyengat
Kota Heavenly Cloud. Salah satu kota terbesar dan termewah di wilayah ini. Di sini, gedung-gedung tinggi menjulang, lampu-lampu ajaib bersinar terang, dan orang-orang kaya berjalan mondar-mandir dengan pakaian mewah.
Namun di balik kemewahan itu, kota ini adalah sarang penipuan, kekerasan, dan kekuasaan. Dan di sinilah pusat kegiatan Klan Naga Hitam berada.
Li Yao kini berdiri di tengah keramaian alun-alun kota. Ia menyamar sebagai seorang pedagang barang antik yang pendiam. Jubahnya longgar, topinya rendah, menyembunyikan wajah garangnya dengan sempurna. Di matanya, kemewahan kota ini tidak terlihat indah. Yang ia cium hanyalah satu bau yang sangat familiar.
Bau Darah.
Bau itu samar, bercampur dengan bau parfum mahal dan bau makanan, tapi hidung Li Yao yang sudah terlatih bisa membedakannya dengan jelas. Bau kematian itu menguar sangat kuat dari arah sebuah kompleks bangunan megah di pusat kota yang dijaga ketat.
'Jadi kalian bersembunyi di situ ya... berpura-pura menjadi orang baik di balik tembok tinggi itu...' batinnya mencibir.
Ia berjalan menuju sebuah warung minuman keras yang kumuh di pinggiran pasar, tempat di mana para prajurit dan pengawal sering menghabiskan uang mereka setelah bertugas.
"Permisi, satu teko anggur," ucap Li Yao pelan saat duduk di meja paling sudut.
Pemilik warung yang berwajah bengis menaruh minuman itu dengan kasar. "Minum saja, jangan banyak tanya."
Li Yao tersenyum tipis. Ia tahu cara mendapatkan informasi. Ia meletakkan sepotong perak murni di atas meja, cukup untuk membayar minuman ini sepuluh kali lipat.
"Aku baru datang dari luar kota. Aku ingin tahu... siapa sebenarnya orang-orang yang memakai lambang naga hitam itu? Mereka terlihat sangat berkuasa," tanya Li Yao dengan nada santai, seolah hanya ingin tahu.
Pemilik warung itu menatap uang perak itu, lalu menoleh kanan-kiri memastikan tidak ada orang yang mendengar. Ia mendekatkan wajahnya.
"Wahai Tuan, sebaiknya kau jangan menanyakan nama itu terlalu keras. Mereka bukan sekadar berkuasa, mereka adalah penguasa bayangan kota ini."
"Maksudnya?"
"Mereka menguasai pasar gelap, perjudian, hingga perdagangan budak. Siapa pun yang menentang mereka, besok paginya sudah tidak ada lagi di dunia ini," bisik orang itu dengan napas yang berbau alkohol. "Dengar kabar terbaru, mereka sedang sangat gembira karena akan mengadakan pesta besar di markas utama mereka tiga hari lagi."
"Pesta?" mata Li Yao menyala tajam.
"Ya. Pesta perayaan perluasan wilayah. Konon, pemimpin cabang kota ini, seorang ahli bela diri tingkat tinggi yang dijuluki 'Naga Besi', akan hadir. Dan kabar burungnya... mereka juga sedang menahan beberapa tawanan istimewa yang katanya kerabat dari klan yang sudah musnah dulu."
Byur!
Jantung Li Yao seakan berhenti berdetak. Tangan yang memegang cangkir anggur itu gemetar hebat hingga cairan di dalamnya tumpah.
Kerabat klan yang musnah?
Apakah maksudnya... orang-orang dari Klan Ling?
"Kau yakin dengan apa yang kau katakan ini?" suara Li Yao berubah menjadi sedingin es, membuat suhu di sekitar meja itu turun drastis.
"Te-tentu saja! Seluruh penjaga kota tahu!" orang itu terkejut melihat perubahan aura pria di hadapannya. "Tapi jangan bilang-bilang ya! Kalau ketahuan aku membocorkan info, kepalaku yang melayang!"
"Tenang saja. Kau tidak akan ketahuan."
Li Yao berdiri. "Karena kau sudah memberiku informasi berharga, ini hadiah untukmu."
Ia meletakkan bukan hanya satu, tapi segenggam keping emas di atas meja. Jumlah itu cukup untuk membuat orang itu kaya mendadak.
"Wah! Terima kasih, Tuan! Terima kasih!" orang itu bersorak senang, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja membuka gerbang neraka bagi sesamanya.
Li Yao berjalan keluar dari warung itu. Angin kota berhembus menerpa wajahnya.
"Pesta... ya... Pesta yang bagus."
Mata Li Yao memancarkan cahaya merah yang mengerikan di balik bayangan topi.
"Kalau kalian ingin berpesta... maka aku akan datang. Aku akan menjadi tamu tak diundang yang membawa hidangan utama: Kematian."
Ia menatap gedung megah itu dari kejauhan.
"Bau darah itu semakin menyengat. Artinya... aku sudah semakin dekat. Tunggu aku, 'Naga Besi'. Tunggu aku, para sampah. Tiga hari lagi... aku akan datang dan mengubah pesta kemenanganmu menjadi tangisan kematian kalian."
Langkah kakinya kini terarah dan pasti. Perburuan telah memasuki tahap akhir. Iblis sudah sampai di depan pintu sarang monster.