NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

“Lo gak tahu gimana hidup gue,” lanjut Shaka dengan suara bergetar. “Lo gak tahu apa yang udah gue lewatin.” Ustadz Haidar tetap diam mendengarkan dan itu justru membuat Shaka semakin kesal. “Jadi jangan sok ngerti!” bentaknya lagi.

Suara Shaka menggema di dalam mushola.

Dadanya naik turun dengan kasar, matanya memerah, bukan karena ingin menangis tapi karena kelelahan yang terlalu lama dipendam, rasa marah yang terlalu lama disimpan dan rasa sakit yang tidak pernah benar-benar sembuh. Namun di tengah semua ledakan emosi itu, ustadz Haidar tetap tenang. Ia sama sekali tidak merasa marah, tersinggung, ataupun membalas perkataan pemuda dihadapannya dengan nada tinggi. Ia hanya menatap Shaka dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.

“Aku memang tidak tahu,” ucap ustadz Haidar akhirnya yang membuat Shaka terdiam sesaat. “Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang kamu jalani. Aku juga tidak tahu penderitaan apa yang sudah kamu lewati sampai membuatmu berada di titik ini. Tapi Allah tahu.” Kalimat itu keluar dengan pelan di antara keheningan malam. “Allah tahu semua yang terjadi pada hamba-Nya.” Tatapan Ustadz Haidar tidak lepas dari wajah Shaka. “Termasuk luka yang tidak pernah kamu ceritakan ke siapa pun.”

Mushola itu kembali dipenuhi keheningan.

Namun kali ini, keheningan itu terasa berat.

Seolah udara di dalam ruangan ikut menahan sesuatu yang selama ini dipendam terlalu lama. Shaka masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertuju lurus pada Ustadz Haidar. Entah kenapa, kalimat yang dikatakan oleh laki laki paruh baya itu terasa mengganggu dan menusuk, seolah tanpa sadar membongkar sesuatu yang selama ini mati-matian ia kubur sendirian.

Shaka mengalihkan wajahnya sebentar, rahangnya mengeras. Ia benci perasaan ini. Ia benci saat ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam hidupnya. Karena setiap kali itu terjadi, semuanya selalu berakhir sama.

Pengkhianatan, kehilangan, rasa sakit. Dan sekarang laki-laki di hadapannya ini bicara tentang Tuhan seolah semuanya mudah, seolah luka bisa hilang hanya dengan beberapa kalimat.

Shaka tertawa kecil, namun tawanya terdengar getir dan pahit.

“Kalau Allah memang tahu semuanya...” ucap Shaka pelan yang membuat ustadz Haidar tetap diam mendengarkan. “Kenapa hidup gue jadi kayak gini?” Suaranya mulai naik. “Kenapa?” Dadanya naik turun dengan kasar. “Kalau Tuhan emang tahu penderitaan gue…” lanjutnya dengan suara bergetar, “kenapa Dia bikin hidup gue hancur begini?!”

Suara itu menggema di dalam mushola, bukan sekadar kemarahan, Itu jeritan seseorang yang terlalu lama menyimpan luka.

Shaka melangkah mundur beberapa langkah sambil mengusap wajahnya dengan kasar. “Kalian semua gampang ngomong soal Tuhan,” katanya sinis. “Soal sabar, soal ujian hidup.” Ia tertawa lagi, tapi kali ini tawanya terdengar lebih menyakitkan. “Lo tahu gak gimana rasanya hidup sendirian?” Tatapannya terlihat tajam saat mengarah pada Ustadz Haidar. “Lo tahu gak gimana rasanya jadi anak kecil yang gak punya siapa-siapa?”

Shaka kembali bicara sebelum Ustadz Haidar sempat menjawab.

“Gue yatim piatu.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan dingin namun menyimpan luka yang begitu besar. “Nyokap gue mati waktu gue kecil.” Napas Shaka mulai berat. “Bokap gue nyusul beberapa tahun kemudian.” Tatapannya terlihat kosong untuk sesaat seolah sedang melihat masa lalu yang tidak ingin ia ingat. “Setelah itu…” ia tersenyum miris, “Hidup gue kayak sampah.”

Ustadz Haidar masih diam, memberi ruang untuk Shaka bicara dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shaka terus bicara.

“Mau makan susah, mau sekolah susah, numpang hidup ke sana-sini kayak pengemis.”

Tangannya mengepal. “Gak ada yang peduli.” Kalimat itu keluar pelan namun terasa sangat berat. “Orang-orang cuma bilang kasihan.” Shaka tertawa sinis. “Tapi habis itu apa? Mereka pergi. Jadi jangan bilang Tuhan ngerti penderitaan gue kalau kenyataannya gue harus bertahan hidup sendirian.”

Suasana mushola terasa semakin sesak. Angin malam yang masuk dari sela jendela terasa dingin namun tidak sedingin cerita yang baru saja keluar dari mulut Shaka.

“Di dunia ini…” lanjutnya lirih, “Nggak ada yang bakal peduli sama anak yatim piatu kayak gue.” Ia menatap Ustadz Haidar dengan tajam.

“Kalau bukan gue sendiri yang berjuang.” Kalimat itu terdengar begitu jujur, begitu mentah dan menyakitkan. Shaka mengusap wajahnya dengan kasar sebelum melanjutkan perkataannya, “Lo pikir gue pengen jadi kayak gini?” Nada suaranya meninggi. “Lo pikir gue bangga jadi pengedar narkoba?!” Dadanya kembali naik turun. “Tapi dunia gak pernah kasih gue pilihan!” Tangan Shaka menunjuk dirinya sendiri. “Gue cuma mau bertahan hidup!” Nada suaranya terdengar pecah penuh emosi. “Dan jalan ini…” ia menggertakkan rahangnya, “Jalan ini satu-satunya yang bikin gue bisa makan.”

Suasana hening kembali memenuhi mushola.

Shaka menunduk sebentar sambil mengatur napasnya yang kacau. Semua emosi yang selama ini ia simpan seolah keluar begitu saja malam itu. Di hadapan orang asing yang bahkan baru dikenalnya beberapa jam. Namun anehnya, ia tidak bisa berhenti untuk tidak mengatakannya. Mungkin karena ia terlalu lelah, mungkin karena selama ini tidak pernah ada yang benar-benar mendengarkan keluh kesahnya, atau mungkin karena tatapan Ustadz Haidar tidak menghakimi dirinya.

Setelah beberapa saat, Ustadz Haidar akhirnya menarik napas pelan. Tatapannya tetap terlihat tenang namun kali ini terlihat lebih dalam dan memahami semua penderitaan yang dirasakan oleh Shaka.

“Aku tidak akan bilang hidupmu mudah,” ucap ustadz Haidar pelan yang membuat Shaka diam. “Aku juga tidak akan bilang rasa sakit mu tidak nyata.Tapi…” ia berhenti sejenak. Tatapannya menatap lurus ke mata Shaka.

“Kadang manusia terlalu sibuk menyalahkan Tuhan atas nasib yang menimpa dirinya.”

Shaka langsung mengernyit sementara rahangnya kembali mengeras, namun Ustadz Haidar tetap melanjutkan perkataannya, “Padahal Allah tidak pernah memaksa manusia memilih jalan yang buruk. Allah memberi manusia pilihan. Dan manusia sendiri yang menentukan jalan hidupnya.”

Shaka menatap ustadz Haidar dengan tajam.

“Lo mau nyalahin gue sekarang?”

“Tidak.” Jawab ustadz Haidar dengan cepat. “Tapi aku ingin kamu mengerti sesuatu.”

Ustadz Haidar melangkah pelan mendekat.

Tidak terlalu dekat, namun cukup untuk membuat kata-katanya terasa lebih nyata.

“Menjadi miskin bukan dosa. Menjadi yatim piatu juga bukan dosa.” Tatapannya terlihat lembut. “Tapi saat kamu memilih jalan yang menghancurkan hidupmu sendiri, itu pilihan.”

Shaka mengepalkan tangannya kuat-kuat sementara ustadz Haidar melanjutkan perkataannya,

“Aku tahu dunia bisa sangat kejam. Kadang manusia dipaksa bertahan dengan cara yang salah. Tapi salah tetaplah salah.”

Kalimat itu membuat wajah Shaka menegang.

Ia ingin membantah namun sebagian kecil dari dirinya tahu bahwa ada sesuatu yang benar dari ucapan itu dan itu membuatnya semakin kesal.

“Kamu bilang jadi pengedar narkoba adalah caramu bertahan hidup,” lanjut Ustadz Haidar. "Namun pernahkah kamu berpikir…” ia berhenti sejenak. "Tentang anak-anak muda yang hidupnya hancur karena barang yang kamu jual?” Shaka terdiam. “Pernahkah kamu berpikir tentang ibu yang menangis karena anaknya kecanduan? Tentang keluarganya yang rusak karena pengaruh barang haram itu hingga membuat hidup mereka berantakan?Jalan yang kamu pilih bukan hanya merusak hidupmu sendiri, nak. Tapi juga menghancurkan kehidupan orang lain.”

1
Yuni Avita
mending terlambat daripada nggak usaha sama sama sekali 👍
Yuni Avita
kl begini, aku jadi naksir sama Shaka thor🤣🤣🤣
Yuni Avita
ciee yang terpesona sama dirinya sendiri /Chuckle/
Suhadi Mulyo
ini baru yang dinamakan kacang yang nggak lupa sama kulitnya 👍
Yuni Avita: mending terlambat daripada nggak usah sama sekali 👍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
terus maju ke depan Shaka, jangan menoleh ke masa lalu mu yang tidak bermanfaat.
Suhadi Mulyo
buat apa berubah jika kita masih mengenang masa lalu.
Khumaira Nur Rahma
Shaka jadi idola baru di pesantren setelah ustadz Ilyas 🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan oleh berbagai rintangan saat berusaha melakukan kebaikan.
Kadang, niat baik kita disalahpahami, usaha kita diremehkan, atau bahkan dihalangi oleh mereka yang tidak peduli dan membenci.
Namun, satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia.
Berbuat baik, terutama untuk kemaslahatan orang banyak, adalah bentuk perjuangan yang membutuhkan keteguhan hati.
Tidak semua orang akan langsung memahami atau menghargai apa yang kita lakukan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti.
Setiap langkah kecil yang kita ambil untuk membantu sesama, sekecil apa pun, memiliki dampak yang besar di mata mereka yang menerimanya.

Mungkin terkadang kita merasa lelah, merasa perjuangan kita tidak berarti, tetapi ingatlah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Dunia ini membutuhkan lebih banyak orang yang tidak menyerah dalam menebarkan kebaikan.
Jadi, jangan pernah lelah berjuang. Teruslah menjadi cahaya di tengah gelap, tetaplah menjadi penggerak perubahan, dan yakini bahwa setiap kebaikan yang kita tanam akan berbuah pada waktunya...👍🤭
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Anyue: aslinya memang ganteng 🫣
total 1 replies
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
Anyue: kasihan Ozi nya harus melawan bosnya
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!