Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian yang Dramatis
Sementara itu, ribuan mil dari kemewahan Jakarta, suasana sangat kontras. Helen Kusuma merangkak melalui semak duri yang rapat di pedalaman hutan tropis Venezuela. Bau tanah basah, lumut, dan dedaunan busuk menyengat indra penciumannya. Di belakangnya, ia merasakan napas berat dan langkah kaki yang terseret dari Ario Diangga.
Hutan ini adalah labirin hijau yang tak kenal ampun. Suara monyet melengking dan kepakan sayap burung-burung liar terdengar seperti ejekan bagi dua jiwa yang sedang diburu.
"Ario... sedikit lagi," bisik Helen, mencoba menguatkan suaminya.
Ario bersandar pada sebatang pohon besar, wajahnya pucat pasi, peluh mengucur deras membasahi kemejanya yang sudah hancur. Luka tembak di bahunya kembali merembeskan darah akibat aktivitas fisik yang ekstrem.
"Helen... kau harus... terus jalan," gumam Ario, suaranya parau. "Jika mereka menemukanku... kau harus tetap lari menuju landasan itu."
"Jangan bicara konyol!" Helen berbalik, merangkul pinggang Ario dan memaksa pria itu untuk tetap berdiri. "Kita sudah sampai sejauh ini. Kita melewati peluru di dermaga, kita melewati operasi tanpa bius di gubuk Miguel, dan kita melewati amuk massa di barrio. Aku tidak akan membiarkanmu menyerah di tengah hutan ini!"
Helen menatap mata Ario yang mulai meredup. "Kau adalah pelindungku, Ario. Sekarang biarkan aku menjadi kekuatanmu. Kita akan pulang ke Indonesia. Kita akan merebut kembali apa yang menjadi hak kita."
Ario menatap wajah Helen. Ia melihat transformasi yang luar biasa. Gadis yang dulu hanya tahu tentang gaun pesta dan pesta dansa, kini berdiri dengan kaki berlumpur, tangan yang penuh luka gores, namun dengan sorot mata sedalam samudera yang penuh tekad.
"Kenapa kau begitu yakin kita bisa menang?" tanya Ario lemah.
Helen tersenyum getir, menyeka keringat di dahi Ario dengan sisa kain bajunya. "Karena orang jahat seperti Tante Beatrix hanya memiliki uang. Kita... kita memiliki sesuatu yang tidak bisa dia beli: kemarahan seorang anak yang kehilangan ayahnya, dan kesetiaan seorang istri yang melihat suaminya nyaris mati demi dia."
****
Keheningan hutan tiba-tiba pecah oleh suara deru helikopter di kejauhan. Tak lama kemudian, terdengar gonggongan anjing pelacak yang menggema di antara pepohonan.
"Mereka sudah di belakang kita," desis Ario, insting tempurnya bangkit kembali. Ia menarik sebuah pisau kecil yang sempat ia simpan di balik sepatunya.
"Ayo, Ario! Cepat!"
Mereka merangkak menuruni lereng curam, menuju sebuah lembah tersembunyi di mana pesawat kargo kecil milik jaringan intelijen lama Ario seharusnya mendarat. Setiap langkah adalah siksaan. Duri-duri merobek kulit mereka, dan akar pohon seolah sengaja menjegal langkah mereka.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah atas lereng. Dor! Peluru itu menghantam batang pohon tepat di atas kepala Helen.
"Helen, tiarap!" Ario mendorong Helen ke balik sebuah batu besar.
Dari sela-sela pohon, muncul sosok yang sangat mereka kenali: Andre Willson. Ia berdiri dengan senapan laras panjang, wajahnya penuh kebencian karena harga dirinya telah dihancurkan oleh warga barrio sebelumnya.
"Berakhir sudah, Helen!" teriak Andre. "Menyerahlah! Beatrix sudah menyiapkan tempat khusus untukmu di Jakarta. Jangan buat aku harus melukaimu lebih parah lagi!"
Ario mencoba membidik Andre dengan sisa tenaganya, namun pandangannya mulai kabur. "Helen... lari ke arah sungai di bawah sana... pesawat itu akan mendarat di bantarannya..."
"Aku tidak akan meninggalkanmu!" jerit Helen.
****
Dalam keputusasaan yang memuncak, Helen melihat sebuah dahan besar yang rapuh di atas posisi Andre. Tanpa pikir panjang, ia mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya ke arah sarang lebah raksasa yang menggantung tepat di dahan tersebut.
Lemparan itu tepat sasaran. Sarang lebah itu jatuh menimpa bahu Andre, dan dalam sekejap, ribuan lebah hutan yang agresif menyerang pria itu.
"AAAGHHH! SIALAN!" Andre berteriak, menepis-nepis lebah yang menyengat wajah dan tangannya. Tembakannya menjadi serampangan, memberikan celah bagi Ario dan Helen untuk meluncur turun menuju dasar lembah.
Mereka tiba di tepian sungai yang alirannya deras. Di sana, di sebuah landasan tanah yang sempit, sebuah pesawat Cessna tua dengan mesin yang sudah menderu tampak bersiap untuk lepas landas. Seorang pilot lokal melambaikan tangan dengan panik.
"Cepat! ¡Pronto! ¡Pronto!" teriak sang pilot.
Ario dan Helen berlari di atas tanah berlumpur. Tepat saat mereka mencapai pintu pesawat, tim taktis Beatrix muncul di pinggir hutan dan mulai melepaskan tembakan bertubi-tubi.
Dor! Dor! Dor!
Lubang-lubang peluru muncul di badan pesawat. Sang pilot mulai menjalankan pesawatnya. Helen berhasil melompat naik lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya sekuat tenaga ke arah Ario.
"Tanganmu, Ario! Berikan tanganmu!"
Ario melompat, jarinya nyaris meleset, namun Helen mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang lahir dari cinta yang murni. Dengan bantuan pilot, Ario berhasil ditarik masuk ke dalam kabin sempit pesawat tepat saat roda pesawat meninggalkan tanah.
Peluru-peluru terakhir hanya menghantam angin saat pesawat itu menanjak tajam, membelah kabut pagi Venezuela menuju langit lepas.
****
Di dalam pesawat yang bising dan berguncang hebat, Helen jatuh terduduk di lantai kabin. Ia memeluk Ario yang pingsan karena kehabisan tenaga. Ia menatap keluar jendela kecil, melihat hutan Venezuela yang kian mengecil, dan di baliknya, ia membayangkan Jakarta.
Ia membayangkan Menara Kusuma yang kini mungkin sudah berganti nama. Ia membayangkan rumah masa kecilnya yang mungkin sudah dijarah.
"Kau dengar itu, Tante Beatrix?" bisik Helen, air matanya jatuh membasahi wajah Ario. "Kau ingin aku melihat kehancuran ayahku? Maka aku akan datang. Tapi bukan sebagai tawananmu."
Helen menggenggam tangan Ario yang dingin. "Aku akan kembali sebagai badai yang akan meruntuhkan setiap tembok yang kau bangun dengan darah ayahku. Kau bisa menghancurkan gedungnya, kau bisa membakar hartanya, tapi kau tidak bisa mematikan api yang kini menyala di nadiku."
Di Jakarta, Beatrix van Amgard tiba-tiba merasa merinding. Ia menatap sisa-sisa kristal di lantainya dan merasa seolah-olah bayangan Aditya Kusuma sedang menertawakannya dari kegelapan.
Permainan besar baru saja dimulai. Perjalanan pulang menuju tanah air bukan lagi sekadar pelarian, melainkan sebuah ziarah pembalasan dendam yang akan mengubah sejarah kerajaan bisnis di Indonesia selamanya.
****
Angin dingin dari pegunungan Andes berhembus tajam, menusuk hingga ke tulang, saat pesawat tua itu akhirnya mendarat darurat di sebuah landasan pacu rahasia di wilayah perbatasan antara Venezuela dan Kolombia. Mesin pesawat terbatuk untuk terakhir kalinya sebelum mati total, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di tengah hamparan lembah yang berkabut.
Helen Kusuma keluar dari perut pesawat dengan langkah yang goyah. Di bahunya, ia memapah Ario Diangga yang kondisinya kian memprihatinkan. Wajah pria itu sepucat salju, napasnya pendek, dan kesadarannya hanya bergantung pada seutas benang tekad yang tipis.
"Kita di mana, Ario?" bisik Helen, matanya menyapu cakrawala yang asing.
"Kolombia..." jawab Ario, suaranya nyaris hilang ditelan angin. "Tanah bebas... setidaknya untuk sementara."
Beberapa warga lokal yang mengenakan ponco tebal dan topi jerami mendekati mereka dengan tatapan waspada namun penuh selidik. Mereka adalah para petani kopi di pinggiran Cucuta. Melihat kondisi Ario yang bersimbah darah dan Helen yang mengenakan pakaian compang-camping namun memiliki sorot mata bangsawan yang terluka, rasa kemanusiaan mereka pun terusik.