Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03
“Hai, Sayang.”
David menoleh dan tersenyum begitu melihat Miska masuk ke dalam ruangannya. Miska tersenyum manis sembari mendekati David.
“Sibuk ya?” Miska mencium pipi David.
“Enggak kok.”
“Ini cake nya, Sayang. Cobain deh.” Miska membuka kotak kue dan mengambilnya sepotong untuk sang kekasih.
“Terima kasih.”
“Enak kan, Sayang?” tanya Miska dengan mata berbinar berharap cake yang dibuatnya dengan penuh cinta rasanya akan enak.
Seharusnya Miska tak perlu khawatir karena dia sendiri lah yang membangun toko cake and bakery. Namun tetap saja mendapat pujian dari kekasih akan mendapat nilai plus bagi Miska.
David mengangguk. “Kue buatanmu adalah yang terenak, Mis. Wajar aja kalau tokomu laris manis.”
Miska tersenyum. “Tapi sainganku juga banyak banget, Vid.”
David mengangguk paham. “Aku yakin kok, Tokomu bisa bertahan.”
“Semoga aja ya. Aku juga nggak mau Tokoku bangkrut. Apalagi aku memulainya dari nol. Harus bisa sukses.”
David mengangguk. Dia menyukai pribadi Miska. Miska pekerja keras. Walaupun Miska anak orang kaya, tapi dia memilih jalannya sendiri untuk membuka usaha bakery yang digemarinya sejak remaja. Untunglah kedua orang tua Miska mendukung apapun keputusan sang anak.
“Dihabisin ya.”
“Hah? Segini banyak harus aku yang habisin?”
“Iya dong. Kan aku buatnya khusus buat kamu. Ada cinta di setiap gigitannya.”
David tertawa pelan. Setelahnya mereka mengobrol santai sembari menikmati cake buatan Miska.
Pintu ruang kerja David diketuk dari luar. Keduanya menghentikan obrolan.
“Masuk.”
“Maaf Bos. Motor yang tadi pagi saya ambil, sudah selesai.”
“Oh iya. Nanti saya hubungi pemiliknya. Terima kasih, Her.”
Heru mengangguk dan keluar dari ruangan. David mengambil ponsel dan mengetikkan pesan pada Tara bahwa motornya sudah selesai diperbaiki.
“Motor siapa, Sayang?” tanya Miska.
“Motor orang tadi pagi mogok di jalan. Karena kasihan ya udah aku minta Heru buat ambil motornya dan bawa kesini.”
“Oh gitu.”
David mengangguk. Sembari mengobrol, sesekali David melihat CCTV lewat laptop di depannya untuk memastikan kapan Tara datang. Entah kenapa tapi David sangat tidak sabar ingin bertemu Tara lagi. Padahal sangat jelas di depannya ada sang kekasih.
Hingga akhirnya yang ditunggu pun datang. Terlihat Tara masuk ke dalam bengkel dan mengedarkan pandangan mencari motor miliknya.
David langsung berdiri dan hendak keluar ruangan. Miska yang terkejut langsung ikut berdiri.
“Mau kemana, Sayang?” tanya Miska heran.
David menoleh. Oh sial. Dia hampir lupa kalau Miska ada di dalam ruangannya.
“Aku mau ke bawah sebentar mengurus sesuatu. Kamu tunggu disini nggak papa?” tanya David.
“Oh gitu. Ya udah. Cepet kembali ya.”
“Iya.”
David pun keluar ruangan. Miska mengedikkan bahu dan bermain ponsel sambil menunggu David kembali.
“Permisi, Mas. Saya mau ambil motor yang tadi pagi mogok dijalan dan dibawa salah satu karyawan David ke sini,” ujar Tara pada salah satu karyawan di sana.
“Motornya yang mana ya, Mbak?” tanya karyawan itu karena tak mengerti ada motor yang dibawa karyawan lain ke bengkel.
Belum sempat Tara menjawab, suara sapaan terdengar di telinganya.
“Tara.”
Tara menoleh dan tersenyum singkat. “Hai, Vid.”
“Mau ambil motor?”
“Iya. Katamu udah selesai.”
“Iya. Tuh udah selesai,” tunjuk David pada salah satu motor yang berada di tempat khusus untuk motor yang sudah selesai di perbaiki.
“Oh oke. Terima kasih ya Vid.”
David mengangguk. Tara pun mengedarkan pandangan mencari meja kasir untuk membayar biaya perbaikan motor.
“Mau kemana, Ra?” tanya David tanpa sengaja memegang tangan Tara. David tahu kalau Tara akan menuju meja kasir.
Tara melirik tangannya dan melepasnya pelan. “Aku mau ke kasir.”
“Nggak perlu bayar.”
“Eh? Kenapa?”
“Nggak papa. Kamu bawa pulang aja motornya. Nggak usah bayar.”
“Jangan gitu dong, Vid. Ini kan usaha kamu. Kalau nggak dibayar, nanti kamu rugi.”
“Enggak kok. Kamu bawa pulang aja.”
Tara menggeleng. “Enggak, Vid. Aku harus bayar.”
David menggeleng keras. “Please, jangan ngeyel, Ra.”
“Sayang.”
David menoleh saat sebuah suara menyapanya. Dia kenal suara siapa itu sehingga membuat David mematung sejenak.
Tara ikut menoleh dan mengernyitkan dahi melihat ekspresi David yang mematung menatap seorang gadis cantik dan cukup seksi yang baru saja memanggil David dengan panggilan ‘sayang’.
“Miska? Kenapa turun?” David tersenyum kaku.
Miska tak menjawab dan menatap Tara. “Kamu Tara kan?”
Tara mengangguk. “Iya. Tapi maaf, apa kita saling kenal?” Tara mengamati wajah wanita cantik yang berdiri di sebelah David.
Miska tersenyum. Benar dugaannya bahwa wanita yang mengobrol dengan kekasihnya di lantai bawah adalah mantan kekasih David waktu SMA. Miska melihat semuanya dari jendela transparan dari ruangan David dan mengernyit saat melihat wajah wanita itu.
“Aku Miska, mantan wakil ketua osis waktu SMA dulu.”
Tara mengernyitkan dahi mengingat-ingat. “Ehm.. Miska? Oh iya.. aku ingat. Kamu disini juga? Sedang memperbaiki kendaraan?”
Miska menggeleng. “Aku kesini untuk menemui pacarku, David.”
Tara menegang. “Kalian pacaran?”
“Ya. Sejak tiga tahun lalu.”
Tara tersenyum kaku dan memandang David yang sedari tadi hanya diam. “Oh gitu. Selamat. Ehm, aku harus pulang. David, terima kasih ya udah nolongin aku. Kalau kamu maksa, oke aku nggak akan bayar. Aku permisi dulu.”
Tara mengangguk sekali dan melangkah menghampiri motornya. Setelah Tara pergi, David langsung berjalan naik ke lantai dua tanpa menoleh sedikitpun pada Miska.
Miska tersenyum getir melihat reaksi David. Dia menyusul David masuk ke ruangan kerjanya.
“Kenapa kamu menolak pembayaran dari dia, Vid?” tanya Miska setelah mereka masuk ke dalam ruang kerja David.
“Memangnya kenapa kalau aku gratisin? Toh aku mengenalnya.”
“Apa semua motor milik kenalan kamu yang masuk ke bengkel ini kamu gratisin? Bisa bangkrut bengkel kamu lama-lama, Vid,” ujar Miska dengan nada tak suka. Apalagi kenalan David itu adalah mantan kekasihnya.
David menoleh dan menatap Miska. “Kamu nggak perlu ikut campur urusan bengkelku, Mis. Aku juga nggak pernah ikut campur urusan toko bakery mu. Aku mau gratisin siapa aja kek, itu bukan urusanmu.”
Miska tersenyum sinis. “Beberapa saat yang lalu bahkan kita masih mengobrol santai, tapi setelah Tara datang, tiba-tiba sikap kamu berubah ke aku. Ada apa, Vid?”
“Aku cuma nggak suka kamu ikut campur masalah urusan bengkelku.”
“Apa aku salah nanya gitu? Kamu membangun bengkel ini dari nol dengan susah payah. Tapi kamu menolak pembayaran dari Tara sama seperti kamu menolak pembayaranku dulu saat motorku di servis disini.”
“Lalu masalahnya apa buat kamu? Kamu nggak mau pacaran lagi sama aku kalau aku jatuh miskin?”
Miska melotot. “Kenapa jadi kesana sih arahnya?”
“Ya terus apa? Hanya masalah aku nggak mau dibayar oleh Tara, kamu langsung marah gini.”
Miska menggeleng pedih. “Bukan masalah itu, Vid. Aku cuma cemburu.”
David tertawa pelan. “Cemburu? Apa kamu lupa kalau Tara sudah menikah dengan pria lain? Apa alasan kamu cemburu sama dia?”
Miska menatap David. “Tatapan matamu, Vid.”
David terdiam, menatap Miska. David bisa melihat sorot terluka Miska saat menatapnya dan kini membuatnya merasa bersalah.
“Tatapan matamu ke dia beda dengan tatapan matamu ke aku. Itu sebabnya aku cemburu,” ujar Miska menatap sedih sang kekasih.
David terdiam. Memang benar kata orang, mulut bisa berbohong, tapi mata tak kan pernah bisa berbohong. Dan jelas David tak bisa mengontrol tatapan matanya sendiri.
“Apa kamu diam-diam ketemu sama dia dibelakangku?” tanya Miska masih terus menatap David.
David menggeleng. “Aku baru ketemu sama dia tadi pagi.”
Miska menghela napas. “Kenapa kamu nggak bilang kalau orang yang kamu tolong itu Tara?”
“Haruskah?”
“Setidaknya aku nggak kaget waktu lihat kamu tiba-tiba berdiri dan melangkah keluar ruangan dengan dalih ada urusan di bawah. Nggak tahunya kamu ingin menemui Tara.”
“Lalu apa maumu sekarang?”
Miska tersenyum lirih. “Tiga tahun kita pacaran. Tiga tahun aku merasa bahagia berada di sampingmu, Vid. Tapi tiga tahun itu tak berarti apa-apa di banding lima menit kamu bersama Tara tadi. Tatapan mata kamu ke dia itu menunjukkan kamu bahagia bertemu lagi dengannya.”
David terdiam. Miska menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. “Sepertinya aku gagal. Aku gagal masuk ke dalam hatimu. Hatimu memang terbuka untukku. Tapi nggak bisa sepenuhnya karena Tara masih kamu simpan di sana. Aku tahu kamu masih menyimpan foto kebersamaan kalian di laci mejamu padahal saat itu aku meminta kamu membuangnya agar kamu bisa melupakan Tara dan fokus ke aku. Tapi aku salah. Aku nggak bisa gantiin posisi Tara di hatimu. Aku udah kalah, Vid. Sejak awal aku udah kalah dari dia.”
David menatap Miska dengan lekat. Dia pun tak tahu kalau kehadiran Tara akan membuatnya dilema seperti ini. Entah karena memang kehadiran Tara atau hatinya yang sulit jatuh cinta pada wanita lain yang membuatnya dilema.
“Jadi?” David mencoba menerka kemana arah pembicaraan ini.
Miska mengangguk lalu tersenyum. Air mata tak kuasa untuk tak ikut menetes seiring hatinya yang patah. “Kita putus aja, Vid.”
David terkejut. “Pu..tus?”
“Iya. Aku nggak bisa menjalin hubungan dengan orang yang belum selesai dengan masa lalunya. Tiga tahun aku kayak orang bodoh yang berharap kamu mencintai dan menikahiku. Tapi mataku terbuka saat melihatmu bersama Tara tadi. Kamu masih sangat mencintainya walau aku ada disisimu selama tiga tahun ini, Vid. Aku nggak ingin nyakitin perasaanku lebih lama lagi.”
“Maaf.”
Hanya itu kata yang bisa diucap David. Miska tersenyum hancur. Tak ada penolakan saat dia mengatakan putus yang itu artinya David pun menginginkan putus darinya. Tiga tahunnya sia-sia. Mereka hanya menjalani hubungan yang dipaksakan.
Miska mengusap air matanya dan tersenyum. “Aku nggak nyesel pernah pacaran sama kamu, Vid. Sejak SMA aku menyukaimu dan berharap bisa pacaran sama kamu. Dan akhirnya suatu kejadian membuat kita bersama. Aku udah berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, tapi aku tetap aja kalah. Tara akan tetap menjadi pemenang cintamu.”
David memeluk Miska. “Maaf, aku udah nyakitin kamu.”
Miska balas memeluk David dengan erat karena setelah ini statusnya akan berubah. Dia tak kan bisa memeluk David sebagai seorang kekasih.
David melepas pelukannya dan mencium kening Miska. “Semoga kamu mendapat pria yang lebih baik dari aku. Kamu wanita yang baik. Aku senang pernah jadi pacarmu selama ini.”
Miska tersenyum. ”Aku juga berdoa semoga ada wanita lain yang bisa membuatmu jatuh cinta dan melupakan Tara sepenuhnya. Jangan jadi perusak rumah tangga orang.”
David menggeleng dan tersenyum. “Aku nggak pernah merusak rumah tangganya.”
Miska mengangguk. “Apa kita masih bisa berteman?”
“Tentu saja. Kapanpun kamu butuh bantuan, kamu bisa hubungi aku.”
Miska mengangguk. Mengambil tasnya dan berjalan keluar ruangan. Saat tangan menyentuh gagang pintu, dia menoleh dan tersenyum. “Bye, Vid.”
David tersenyum. “Bye, Miska.”
***
Haris terduduk lemas sambil memegang ponselnya. Layarnya masih terbuka dan menunjukkan foto seorang pria tengah berjalan di lorong hotel dengan satu pria lainnya.
Haris bingung harus berbuat apa. Adik iparnya tak berubah. Bukannya mencintai Tara, dia malah menggandeng pria lain.
“Bener dugaan gue. Pria brengsek itu punya mainan baru lagi. Gue udah curiga sejak tiga tahun lalu. Dan gue baru dapet buktinya sekarang.”
“Terus adik lo gimana?” tanya pria yang satu ruangan dengan Haris. Pria itulah yang memberikan foto itu ke Haris.
Haris menggeleng. “Kalau adik gue tahu, pernikahan mereka akan hancur.”
“Hancurkan sekarang juga, Ris. Kasihan adik lo punya suami yang nggak normal sekaligus nggak waras itu. Terus adik lo nikah sama gue deh. Njirr, adik lo cantik banget. Seksi pula.”
Haris mendelik tajam. “Lo sama Devan itu sama. Nggak ada beda. Jangan harap gue mau nikahin dia sama lo.”
Pria itu tertawa. “Lo lagi nggak cemburu sama gue kan?”
Haris menghela napas jengah. “Thanks. Lo udah dapetin bukti ini. Setidaknya gue tahu siapa lawan main dia.”
“Lo mau nyamperin cowok itu?”
“Ya enggaklah. Gue perlu bukti-bukti buat nyelamatin adik gue dari pernikahan palsu itu. Setelah cukup buktinya, gue bakal ajak dia pergi menjauh dari sini.”
“Lo kakak yang baik, Ris. Gue salut sih sama lo. Lo tenang aja. Gue bakal bantuin lo dapetin bukti-bukti lainnya. Tapi lo tahu itu nggak gratis.”
Haris mengangguk paham. Demi Tara, dia akan melakukan apapun untuk pria yang membantunya ini berapapun biayanya.
Bersambung …