NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Pagi itu rumah terasa lebih hidup. Cahaya matahari masuk lebih hangat dari hari-hari sebelumnya, menyapu lantai dan dinding dengan warna keemasan yang lembut. Udara terasa lebih ringan, namun anehnya justru membuat segalanya terasa lebih jelas.

Fania turun dari tangga dengan langkah pelan. Ia mengenakan outfit kasual yang tetap terlihat elegan. Rambutnya tergerai rapi di bahu, sedikit bergoyang mengikuti langkahnya.

Namun begitu pandangannya menangkap sosok di ruang makan, langkahnya terhenti.

Ronald. Pria itu sudah duduk di sana. Benar. Seperti yang ia katakan semalam. Duduk santai dengan secangkir kopi di tangannya.

Tidak terburu-buru, tidak sibuk, tidak ada laptop, tidak ada panggilan. Hanya diam

menikmati pagi. Tenang dan berbeda.

Fania menatapnya sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang terasa asing. Namun bukan asing karena jauh melainkan karena terlalu dekat.

Hal yang jarang ia lihat. Namun ia tidak menanggapi lebih jauh. Ia kembali melangkah duduk di kursinya. Berhadapan seperti biasa.

Namun suasana tidak lagi sama. Ada kesadaran di antara mereka. Diam yang terasa lebih penuh.

“Kau jadi keluar?” tanya Ronald.

Fania sedikit terkejut, sangat tipis. Namun cukup terasa. Ia tidak menyangka Ronald akan membuka percakapan lebih dulu.

“Iya,” jawabnya singkat.

Ronald mengangguk, mengambil sedikit jeda.

“Dengan siapa?” Pertanyaan itu sederhana. Namun ada sesuatu dalam nadanya. Bukan sekadar bertanya. Lebih memperhatikan.

Fania menoleh sekilas. Seolah mencoba membaca maksudnya.

“Temanku” jawabnya.Nada suaranya tetap datar, namun pikirannya mulai bergerak.

Ronald mengangguk lagi, tidak bertanya lebih jauh. Namun diamnya kali ini tidak kosong.

Seolah ada sesuatu yang ia tahan.

Fania mengalihkan pandangannya. Ia menyelesaikan sarapannya lebih cepat dari biasanya. Seolah ingin keluar dari situasi itu. Situasi yang tidak ia mengerti.

“Aku pergi” ujarnya.

Ronald hanya mengangguk. “Hati-hati.” Kalimat itu sederhana. Pendek namun terasa hangat.

Dan justru itu yang mengganggu keseimbangan Fania. Ia tidak menjawab langsung beranjak pergi.

***

Di sebuah kafe rooftop yang cukup ramai, Fania duduk bersama teman-temannya. Chaerlina dan beberapa lainnya yang Fania tidak terlalu akrab.

Langit cerah, angin berhembus pelan. Suasana hidup dan terasa ringan. Tawa terdengar di berbagai sudut. Obrolan mengalir tanpa jeda. Segalanya terlihat seperti tempat yang tepat untuk merasa baik-baik saja.

Namun tidak untuk Fania. Ia duduk di sana, tersenyum dan mengangguk. Sesekali tertawa, namun semuanya terasa otomatis. Seperti refleks bukan benar-benar hadir. Pikirannya kosong atau justru terlalu penuh.

“Fan, kau mendengar ku?” tanya Chaerlina tiba-tiba.

Fania tersentak kecil, seolah ditarik kembali.

“Hm? Iya.”

Namun jelas ia tidak mendengar. Chaerlina mengernyit.

“Kau kenapa?”

Fania menggeleng kecil dengan cepat.

“Aku baik-baik saja.” Jawaban itu lagi, selalu sama. Namun kali ini bahkan ia sendiri tidak percaya.

Beberapa saat kemudian, suasana berubah.

Salah satu teman mereka datang bersama pasangannya. Mereka duduk bergabung.

Dan sejak saat itu Fania mulai merasa tidak nyaman. Ia memperhatikan tanpa sadar. Hal-hal kecil yang biasanya tidak ia pikirkan.

Cara pria itu menarik kursi untuk pasangannya. Cara wanita itu tersenyum kecil. Cara mereka berbagi makanan, saling menyuapi, saling menyentuh dengan natural, tanpa canggung, tanpa berpikir. Seolah itu hal yang paling wajar di dunia.

Dan memang itu wajar. Untuk dua orang yang saling terhubung. Namun bagi Fania saat ini terasa asing, sangat asing.

Padahal dulu, ia juga seperti itu. Bersama Ronald, tanpa berpikir, tanpa batas, tanpa jarak.

Fania menunduk, tangannya menggenggam gelas di depannya. Sedikit lebih erat, dadanya terasa sesak. Lagi, perasaan itu muncul lagi.

Lebih jelas dari sebelumnya.

Tidak bisa diabaikan, tidak bisa ditolak begitu saja. Ia menghela napas pelan, berusaha menahan. Namun gagal.

“Fan?” Suara Chaerlina kembali menariknya.

Fania mengangkat wajahnya. Memaksakan senyum tipis. “Aku ke toilet sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban ia berdiri. Melangkah pergi namun langkahnya tidak menuju toilet. Tanpa sadar ia berjalan ke arah balkon samping.

Lebih sepi, lebih tenang. Angin menyambutnya, menyentuh wajahnya. Terasa sejuk namun tidak cukup menenangkan.

Ia berdiri di sana, menatap jauh ke depan.

Kosong dan tidak fokus.

“Apa yang sebenarnya terjadi” gumamnya pelan.

Lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Ia menutup mata, menghela napas panjang.

Ronald, dulu, sekarang. Dan dirinya sendiri.

“Aku yang menginginkan semua ini” bisiknya lirih.

Semua ini, kesepakatan dan jarak itu. Pilihan dan kejujuran itu keputusan. Namun kenapa rasanya seperti kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia lepaskan secara sadar?

Fania membuka matanya perlahan, tatapannya kosong. Namun hatinya tidak.

Di sana ada sesuatu yang mulai terbentuk.

Perasaan yang selama ini ia tekan, ia abaikan, ia sangkal.

Namun kini tidak bisa lagi, ia rindu. Rindu pada hal-hal kecil. Rindu pada kebiasaan yang dulu terasa biasa. Rindu pada Ronald, bukan sebagai kewajiban. Tapi sebagai seseorang.

Namun ia tidak mengakuinya. Belum.

Karena jika ia mengakuinya segalanya akan berubah. Dan ia belum siap menghadapi itu.

Beberapa menit berlalu, Fania tetap berdiri di sana. Lebih lama dari yang ia sadari. Hingga akhirnya ia menarik napas dalam. Mengumpulkan dirinya kembali. Lalu berbalik.

Namun langkahnya tidak menuju meja tadi.

Ia justru mengambil tasnya.

“Fan, kau akan pergi?” tanya Chaerlina.

Fania menatapnya sekilas. “Ada urusan.” Singkat, tidak membuka ruang.

“Kau yakin baik-baik saja?”

Fania mengangguk. “Iya.”

Namun matanya tidak sepenuhnya meyakinkan. Chaerlina ingin bertanya lagi.

Namun Fania sudah berbalik pergi meninggalkan mereka.

Meninggalkan tawa, meninggalkan suasana hangat itu. Bukan karena ia tidak suka. Namun karena ia tidak sanggup berada di sana. Tidak saat ini, tidak dengan perasaan yang belum ia pahami.

Chaerlina masih menatap punggung Fania yang mulai hilang di telan sekat dinding kafe. Ia khawatir pada sahabatnya itu. Rasanya ingin membantu namun Fania belum mau terbuka padanya.

***

Di dalam mobil, Fania duduk diam. Tangannya menggenggam setir. Namun mesin belum dinyalakan. Matanya menatap lurus ke depan. Kosong. Namun pikirannya penuh. Ia mengingat satu hal, ucapan Ronald pagi tadi.

“Hati-hati.”

Kalimat sederhana. Namun kini terasa berbeda, lebih personal, lebih dekat, dan lebih berarti.

Fania menutup matanya sesaat. Lalu membukanya kembali. Ia menyalakan mesin.

Suara mobil menyala memecah keheningan.

Namun ia tidak langsung bergerak.

Ia tidak tahu harus pergi ke mana.

Tidak tahu apa yang sebenarnya ia cari.

Yang ia tahu hanya satu, ia sedang mencoba lari. Dari sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya. Namun semakin ia menjauh, semakin jelas terasa. Bahwa perasaan itu tidak akan hilang hanya karena dihindari.

Dan mungkin untuk pertama kalinya ia mulai sadar. Bahwa yang ia hindari selama ini bukan Ronald melainkan dirinya sendiri.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!