Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 30
Rana berdiri sejenak di depan pintu ruang kerja suaminya, satu tangannya menggenggam jemari mungil Masayu. Gadis kecil itu berjalan dengan langkah pendek-pendek, boneka kelinci baru berwarna krem itu terjepit di pelukannya, sementara matanya yang bulat bening menatap ke segala arah dengan rasa ingin tahu yang besar.
Dengan pelan, Rana mendorong gagang pintu.
Ceklek...
Pintu terbuka, memperlihatkan ruang luas bernuansa gelap elegan dengan aroma khas kayu cedar dan samar wewangian kopi hitam yang masih hangat di sudut meja. Di balik meja kerja besar yang di penuhi tumpukan berkas, dengan laptop menyala, dan beberapa map dokumen berlabel penting, sedangkan suaminya duduk di kursi kebesarannya.
"Ayaaahhhh!" seru anak itu seraya berlari kecil menghampiri ayahnya yang tengah membaca dokumen.
Suara mungil nan polos milik Masayu memantul dalam ruangan luas tersebut, membuat pandangan Dipta beralih ke arah sumber suara.
Pria itu tersenyum melihat putrinya yang kini memeluk lututnya, gegas saja Dipta mendudukan putrinya di atas pangkuanannya.
"Ayah, lihat! Balusan bunda abis beliin Ayu boneka balu, lucu kan?" ucap anak itu seraya memperlihatkan boneka kelincinya.
Dipta terkekeh melihat tingkah lucu anaknya, "waahhh, kelincinya lucu sekali. Mirip Ayu, ya."
Rana mendekat, "udan makan siang, mas?"
Dipta mengangkat pandangannya dan jatuh pada istrinya yang duduk di sofa.
"Sudah, tadi. Mau mas pesankan makanan?" tanya Dipta seraya bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah istrinya.
Rana menaruh tasnya di sofa, menyilangkan kakinya. Netranya menatap sebuah map di atas meja kaca. Ia meraih map itu dan membuka isinya.
"Mbak Laras melamar kerja di sini?"
Rana menoleh ke arah suaminya yang sudah duduk di sofa tunggal. Sedangkan putrinya sudah turun dan di dudukkan di sofa.
"Ya. Kebetulan kami bertemu. Kenapa? Apa..kamu tidak menyetujuinya?" tanya Dipta menyelidiki.
Rana tersenyum, "tidak. Itu kan hak kamu mas," jawab Rana. "Terus, dia kerja di bagian apa?" lanjut Rana seraya menaruh kembali berkas lamaran kerja milik Laras.
"Divisi keuangan." Jawab Dipta ringan.
Rana terdiam, "apa...tidak terlalu terburu-buru Mas menugaskan Mbak Laras di bagian keuangan? Bukan maksud aku mencurigainya..."
"Dia lulusan terbaik." Jawab Dipta cepat. "Terlebih aku mengenalnya." Lanjutnya.
Dipta bangkit dari duduknya, lalu meraih gagang telpon.
"Alfian, tolong minta OB buat anterin dua gelas teh hangat dan satu gelas susu!" perintahnya.
Setelah perintah itu ia ucapkan ia kembali duduk. Memperhatikan putrinya yang tengah memainkan boneka barunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lorong utama di lantai eksekutif siang itu lenggang, hanya di isi langkah kaki beberapa staf yang berlalu-lalang dengan map kerja di tangan. Di tengah kesibukan masing-masing, seorang OG berjalan hati-hati sambil membawa nampan perak berisi dua gelas teh cangkir hangat dan satu gelas susu hangat.
Aroma teh melati yang lembut berpadu dengan wangi susu hangat, meninggalkan jejak samar di udara.
Akan tetapi langkah wanita paruh baya itu terhenti ketika bertemu dengan Laras yang membawa map laporan keuangan.
Laras tampil dengan anggun dalam balutan blouse satin berwarna gading dan rok span hitam yang membingkai siluet tubuhnya dengan sempurna.
"Mbak, itu untuk siapa?" tanyanya lembut, nada suaranya manis seperti biasa.
Office Girl itu langsung menunduk hormat.
"Untuk ruang CEO, Bu."
Mata Laras bergerak pelan menatap nampan yang berisi tiga cangkir. Alisnya terangkat nyaris tak kentara.
"Biar saya yang antarkan," ucapnya ringan, seolah hanya berniat membantu. "Kebetulan saya juga ingin menemui Pak Dipta untuk memberikan laporan keuangan."
"Oh, baik Bu..." jawab wanita paruh baya itu tanpa curiga.
Dengan gerakan anggun, Laras mengambil alih nampan itu. Jemarinya yang lentik berhenti sesaat ketika dua bola matanya menatap segelas susu hangat itu. Sorot matanya menajam tipis, namun hanya sesaat sebelum kembali tertutup senyum lembut nyaris tanpa cela.
Siapa yang ada di dalam ruangan Dipta?
Ia berjalan menuju ruangan, namun ketika ia akan melangkah lebih lanjut ia bertemu dengan Alfian. Pria itu menatap Laras penuh tanya.
"Siapa? Kenapa bukan office girl yang bawa pesanan Pak Dipta?" tanyanya cukup tegas.
Wanita itu melirik tajam, memperlihatkan sisi lain dari dirinya.
"Kenapa memangnya? Kebetulan juga saya mau ke ruangannya Dipta." Serunya seraya berniat melanjutkan langkahnya.
Namun kembali terhenti, "tunggu dulu."
Laras menatap tajam Alfian. "Saya cuma mau bertemu Dipta. Kalau kamu menghalangi saya. Akan saya laporkan kamu kepadanya biar Dipta langsung memecat kamu!" ucapnya.
Alfian menatap Laras sejenak, ia tahu siapa wanita itu. Akhirnya ia melepaskan wanita itu dan berpura-pura menghormatinya.
"Maafkan saya. Pasti anda Bu Laras, kalau begitu... silahkan." Ucapnya seraya beranjalan dan membukakan pintu untuk Laras.
Saat Alfian membukakan pintu, Laras masuk dan dengan wajah anggunnya itu langsung berucap manis.
"Dipta, kamu pesan..."
Ucapan Laras belum terucap sempurna ketika ia melihat siapa yang berada di dalam ruangan. Rana duduk menyilangkan kaki, menatap ke arah Laras yang tertegun.
"Hai, Mbak Laras."
Laras melirik Dipta, wanita itu langsung bersikap biasa saja dan berjalan mendekat ke arah meja. Lalu meletakkan nampan itu di atas meja.
"A-aku...mau ngasih laporan ini. Barusan, Bu Dian memintaku untuk memberikannya kepada Pak Dipta." Ujar Laras seraya menyodorkan map.
Rana membenarkan posisi duduknya dan menatap suaminya. "Mas, kamu bilang kamu menempatkan Mbak Laras di divisi keuangan. Tapi...tapi kenapa dia malah bawa nampan pesanan kita?"
Rana melirik Laras yang terlihat tengah mencari alasan. "Ba-barusan aku nggak sengaja liat Bu Ratih yang bawa nampan ini. Dia kelihatan pucat, makanya aku berinisiatif membantunya."
Rana berdiri, melangkah mendekat kepada Laras yang masih memegang map. Rana meraih laporan keuangan itu dan membukanya. Sedangkan Dipta di sibukkan dengan putrinya yang kembali mendekat.
"Laporan keuangan kali ini cukup rapi." Ucap Rana seraya menutup kembali map itu dan menatap kepada Laras yang salah tingkah. "Duduk Mbak, kebetulan suamiku sedang memesan pizza. Kayanya sebentar lagi juga datang."
Kedua tangan Laras mengepal di sisi pakaiannya. Ia menatap Rana dan tersenyum sebisanya. Harga dirinya terasa jatuh ketika Rana meraih laporan keuangan darinya.
"Eh...Ng...nggak usah. Aku harus kembali ke ruangan. Pasti Bu Dian sudah menungguku." Ucapnya gugup.
Rana meraih ponselnya dari tas, lalu membuat panggilan suara.
"Selamat siang Bu Rana.."
Rana melirik Laras lagi.
"Bu Dian. Nanti kalau Bu Laras telat kembali ke ruangannya, tolong jangan memberikan hukuman. Saya sedang ingin makan camilan bersama dengannya." Ujar Rana dengan senyum kemenangan membuat Laras semakin malu.
"Oh, baik Bu."
Sambungan terputus. Rana mendekati Laras yang tengah menelan rasa malunya itu.
"Ayo Mbak, kita duduk dulu. Mbak kan baru masuk ke perusahaan kami. Lagian Mbak Laras kan bukan orang baru bagi Mas Dipta...dan aku." Ucap Rana elegan.
"Eh, i-itu...nggak usah Ran, lagian...gak enak juga sama yang lain." Ucapnya.
Dipta menoleh dan menatap Laras. "Nggak apa-apa, kamu duduk aja. Temenin Rana. Aku mau keluar dulu. Ada rapat dengan klien penting." Ujar Dipta seraya menurunkan putrinya.
Alfian sudah siap berdiri di dekat pintu dengan buku agendanya.
"Ran, Mas tinggal dulu ya. Kita pulang bareng habis Mas selesai rapat. Sekalian Mas pake mobil kamu dulu. Mobil Mas lagi di bengkel." Ucap Dipta sembari memakai jasnya.
"Iya, sayang." Ujar Rana. Kata sayang yang terucap dari lisan Rana membuat Laras di paksa tersenyum.
...****************...
Gimana? Apa kita bikin Laras tahu diri dengan cara Rana ini?
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, subscribe, bintang lima dan follow akun Yehppee 🫶