NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - Luka Yang Dibagi

Senja turun pelan di taman belakang kampus dengan warna jingga pucat yang menempel di ujung langit. Daun-daun bergerak ringan diterpa angin sore, sementara suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar seperti berasal dari tempat yang jauh. Bangku kayu di bawah pohon besar itu kini menjadi tempat yang sering mereka datangi tanpa pernah benar-benar direncanakan.

Airel Virellia duduk sambil memegang botol air dingin yang belum dibuka sejak tadi. Jarinya memainkan tutup botol secara perlahan, kebiasaan kecil yang muncul saat pikirannya sedang sibuk. Di sampingnya, Zevarion Hale menyandarkan siku pada sandaran bangku dan menatap lapangan kosong di depan dengan wajah setenang biasa.

Hari itu mereka sudah bicara banyak hal remeh yang tidak penting, tetapi justru terasa menyenangkan. Tentang dosen yang gemar memberi tugas kelompok lalu menghilang saat mahasiswa kebingungan. Tentang kopi kantin yang kadang enak, kadang terasa seperti air pahit. Tentang Kalista yang selalu bisa membaca situasi lebih cepat daripada siapa pun.

Tawa kecil sempat muncul beberapa kali, lalu mereda dengan sendirinya. Setelah itu suasana berubah tenang, bukan karena kehabisan topik, melainkan seperti ada ruang kosong yang menunggu diisi sesuatu yang lebih jujur. Hening di antara mereka kini tidak lagi terasa canggung.

Airel memutar tutup botol sekali lagi sebelum bicara.

“Kamu pernah ngerasa capek sama sesuatu yang bahkan belum selesai?”

Zev menoleh padanya. Tatapannya tidak menunjukkan kaget ataupun bingung. Ia hanya terlihat benar-benar mendengarkan.

“Sering.”

Airel tersenyum tipis.

“Jawaban kamu selalu singkat.”

“Karena pertanyaan kamu kadang berat.”

Nada suaranya datar, tetapi cukup membuat Airel menahan senyum. Zev menatap langit beberapa detik sebelum kembali bicara.

“Apa yang bikin kamu nanya begitu?”

Airel menarik napas pelan. Ia sebenarnya tidak berniat membuka pembicaraan seperti ini hari itu. Namun ada sesuatu dari duduk di samping Zev yang membuat pertahanan yang biasa ia pasang terasa longgar sedikit demi sedikit.

“Aku pernah nunggu seseorang.”

Zev diam. Ia tidak menyela dengan pertanyaan cepat, tidak memotong, tidak pula memberi ekspresi iba. Ia hanya menunggu Airel selesai dengan caranya sendiri.

“Bukan pacar,” kata Airel cepat, seolah perlu menjelaskan lebih dulu. “Bukan hubungan yang jelas juga. Cuma seseorang dari masa kecil.”

Angin lewat membawa aroma tanah dan rumput basah. Airel menatap botol di tangannya seakan jawaban ada di sana.

“Dulu dia bilang bakal balik lagi,” lanjutnya pelan. “Dan aku percaya.”

Zev menatap wajahnya beberapa saat lebih lama.

“Berapa lama?”

Airel menunduk sebentar. Bahkan setelah bertahun-tahun, angka itu masih terdengar besar jika diucapkan keras-keras.

“Tujuh tahun.”

Suasana di sekitar mereka seolah menipis sesaat. Di kejauhan terdengar suara bola memantul dari lapangan lain, lalu kembali hening.

Zev tidak berkata bahwa itu terlalu lama. Ia juga tidak menyebut Airel bodoh atau terlalu naif seperti yang pernah ia dengar dari orang lain.

“Masih nunggu?”

Pertanyaan itu keluar tenang, namun tepat mengenai bagian yang paling sulit dijawab.

Dulu jawabannya selalu jelas. Ia akan berkata iya tanpa ragu. Namun sekarang, sejak Zev hadir terlalu sering dalam harinya, semuanya terasa berubah.

“Aku enggak tahu,” katanya jujur. “Mungkin yang aku tunggu sekarang bukan orangnya lagi.”

“Terus?”

Airel mengangkat bahu kecil.

“Jawaban.”

Zev mengangguk pelan. Ia tampak mengerti tanpa perlu penjelasan tambahan. Tidak semua penantian tentang seseorang yang datang kembali. Kadang yang dicari hanya kepastian bahwa waktu yang diberikan selama ini tidak terbuang sia-sia.

“Kamu hebat.”

Airel menoleh cepat.

“Karena nunggu terlalu lama?”

“Karena masih bisa percaya selama itu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh sesuatu yang selama ini jarang dipahami orang lain. Banyak yang menyuruhnya berhenti menoleh ke belakang. Sedikit yang mengerti bahwa bertahan pun membutuhkan tenaga.

Airel menatap Zev lebih lama.

“Kamu sendiri?” tanyanya. “Kamu pernah nunggu sesuatu?”

Zev menyandarkan kepala ke bangku dan melihat cabang-cabang pohon di atas mereka. Cahaya senja jatuh tipis di sisi wajahnya.

“Kayaknya aku lebih sering kehilangan daripada nunggu.”

Nada suaranya tenang, tetapi ada beban samar yang terasa jelas. Airel memalingkan tubuh sedikit agar lebih menghadapnya.

“Maksudnya?”

Zev diam cukup lama sampai Airel mengira ia akan mengganti topik seperti biasa. Namun beberapa detik kemudian, ia bicara pelan.

“Hidupku banyak bagian yang kosong.”

Airel mengernyit.

Zev mengangkat tangan dan menunjuk kepalanya sendiri.

“Ingatan.”

Angin seolah berhenti sejenak. Airel menatapnya tanpa berkedip.

“Aku masih inget banyak hal biasa. Sekolah, rumah, beberapa orang, kejadian-kejadian umum. Tapi ada bagian tertentu yang hilang. Kayak buku yang beberapa halamannya dicabut.”

Airel menelan ludah pelan. Ia pernah mendengar Zev menyebut rasa familiar pada tempat atau situasi tertentu, tetapi baru kali ini ia menjelaskan sejelas ini.

“Sejak kapan?”

“Beberapa tahun lalu.”

“Karena kecelakaan?”

Sudut bibir Zev bergerak tipis.

“Kamu suka nebak dramatis.”

“Karena kamu suka misterius.”

“Bukan kecelakaan besar. Lebih ke kejadian yang bikin banyak hal berubah.”

“Apa kamu pernah cari tahu?”

“Pernah.”

“Terus?”

“Semakin dicari, semakin banyak yang enggak nyambung.”

Airel menatap tangannya sendiri. Ada rasa yang sulit dinamai. Bukan iba, bukan sekadar simpati. Lebih seperti melihat seseorang berjalan membawa beban yang tak terlihat siapa-siapa.

“Jadi waktu kamu bilang sering ngerasa kenal sama sesuatu…”

“Mungkin karena ada bagian yang ketinggalan,” potong Zev pelan.

Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, taman yang tadi luas terasa menyempit menjadi bangku itu saja.

Airel memahami sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan. Ia hidup dengan terlalu banyak masa lalu yang sulit dilepas. Zev hidup dengan terlalu sedikit masa lalu untuk dipegang.

“Kamu takut?” tanyanya.

“Apa?”

“Kalau suatu hari semua ingatan itu balik.”

Zev berpikir cukup lama. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya bergerak pelan.

“Kadang.”

“Kenapa?”

“Karena aku enggak tahu aku orang seperti apa dulu.”

Airel menatapnya tak percaya.

“Kamu pikir kamu jahat?”

“Aku enggak bilang gitu.”

“Tapi kamu mikirnya ke sana.”

Zev menghembuskan napas kecil.

“Ada alasan kenapa beberapa bagian hilang. Kadang aku mikir mungkin lebih baik tetap begitu.”

Airel menggeleng.

“Itu cuma takut.”

“Mungkin.”

“Kalau kamu dulu buruk, sekarang kamu bisa pilih jadi lebih baik.”

Zev menoleh padanya.

“Kalau aku dulu baik?”

Airel tersenyum kecil.

“Berarti kamu cuma lupa.”

Zev menatapnya beberapa detik, lalu tertawa pelan melalui hidung. Bukan tawa besar, tapi cukup membuat wajahnya tampak jauh lebih ringan.

Hening datang lagi setelah itu, namun kali ini terasa nyaman. Seperti dua orang yang baru saja menaruh beban masing-masing di tanah untuk beristirahat sebentar.

Matahari turun semakin rendah. Cahaya jingga menyentuh sisi rahang Zev dan membuat ekspresinya tampak lebih lembut dari biasanya.

“Kamu kenapa cerita ini ke aku?” tanya Airel pelan.

Zev menatap depan lagi.

“Enggak tahu.”

“Kamu bohong.”

“Aku jarang cerita beginian ke orang.”

“Kenapa ke aku?”

Kali ini Zev menoleh langsung padanya. Tatapannya tenang, tetapi terlalu jujur untuk dihindari.

“Karena kalau sama kamu, rasanya enggak perlu pura-pura ngerti semuanya.”

Dada Airel menghangat mendadak. Ia menggenggam botol air lebih erat agar tangannya tidak terlihat gemetar.

“Kamu juga,” katanya hampir berbisik.

“Apa?”

“Kalau sama kamu, aku enggak harus kelihatan kuat terus.”

Kalimat itu keluar begitu saja sebelum sempat ia tahan. Airel langsung menunduk, merasa terlalu terbuka.

Namun Zev tidak menertawakan.

“Bagus.”

“Apanya?”

“Kamu capek kalau terus begitu.”

Airel tertawa kecil tanpa suara. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ada orang yang bisa membaca lelahnya tanpa ia jelaskan panjang lebar.

Langit berubah semakin gelap. Lampu taman menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di jalan setapak.

Mereka bangkit hampir bersamaan. Saat mulai berjalan menuju gerbang belakang, langkah keduanya melambat secara alami. Tak satu pun tampak ingin segera pulang.

“Airel.”

“Iya?”

“Kalau orang yang kamu tunggu itu datang sekarang…”

Ia menoleh.

Zev tetap menatap jalan di depan.

“Apa kamu masih mau menemuinya?”

Jantung Airel berdebar aneh. Dulu ia punya jawaban yang sangat pasti. Kini semuanya terasa berbeda.

Ia tersenyum samar.

“Mungkin tergantung siapa dia saat datang.”

Zev mengangguk pelan.

“Jawaban aman.”

“Pertanyaan kamu juga enggak adil.”

Mereka saling pandang sebentar, lalu sama-sama tersenyum tipis sebelum kembali berjalan.

Malam turun perlahan ketika mereka keluar dari taman. Dua orang dengan kekosongan berbeda sedang berjalan berdampingan dalam langkah yang tenang.

Satu terlalu lama menjaga masa lalu.

Satu hidup dengan masa lalu yang terpotong.

Dan tanpa banyak disadari, keduanya mulai menjadi tempat singgah bagi luka yang belum sempat sembuh.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!