Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Racun yang Mengamuk
Malam berikutnya tidak ada ketenangan.
Tidak ada belas kasihan.
Di dalam kamar pribadi sang Ratu, suasana terasa lebih dingin dari biasanya.
Lilin-lilin yang menyala tidak mampu menghangatkan ruangan itu.
Di tengah ruangan
sebuah meja batu hitam berdiri kokoh.
Di atasnya berderet botol-botol kecil.
Cairan di dalamnya berwarna tidak wajar.
Ungu pekat seperti luka yang membusuk.
Hijau gelap seperti racun yang hidup.
Dan hitam…
seperti kehampaan itu sendiri.
Sang Ratu berdiri diam di depannya.
Matanya menatap satu botol kecil.
Berisi cairan hitam keunguan.
Lebih kental.
Lebih dalam.
Seolah menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Senyum tipis perlahan muncul di bibirnya.
“Kalau satu tidak cukup…”
“...maka kita gunakan sesuatu yang tidak bisa dilawan.”
Tangannya meraih botol itu.
Memutarnya perlahan di bawah cahaya lilin.
Cairan di dalamnya bergerak…
seolah hidup.
“Racun ini…” ucapnya pelan,
“tidak membunuh secara langsung.”
Matanya menyipit.
“Dia akan masuk… tanpa disadari.”
“Menetap… tanpa terlihat.”
“Dan menghancurkan… dari dalam.”
Ia menurunkan botol itu perlahan.
“Meridian akan retak.”
“Aliran energi akan saling melahap.”
“Dan akhirnya…”
Senyumnya menghilang.
“...tubuh itu akan runtuh sendiri.”
Sunyi.
Namun di balik kesunyian itu keputusan telah dibuat.
Malam belum sepenuhnya pergi dari langit.
Kabut tipis masih menggantung di sekitar Akademi Kerajaan Averion.
Semua tampak tenang.
Namun di balik ketenangan itu
sesuatu bergerak.
Di sudut gelap dapur akademi
seorang pelayan wanita berdiri sendirian.
Tangannya sibuk menyiapkan makanan sederhana.
Porsi kecil.
Tidak istimewa.
Untuk seseorang yang tidak dianggap penting.
Sakura.
Langkah kaki terdengar.
Pelan.
Hampir tidak ada.
Pelayan itu menoleh dan langsung membeku.
Seorang pria berdiri di belakangnya.
Jubah hitam.
Wajah tertutup bayangan.
Kehadirannya…
tidak terasa seperti manusia.
“Ja—jangan teriak…”
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun sebelum pelayan itu sempat bergerak
sebuah belati sudah menempel di lehernya.
Dingin.
Tajam.
Tubuhnya langsung gemetar.
“A-aku tidak akan…”
“Bagus.”
Pria itu mendekat.
Dari balik jubahnya
ia mengeluarkan botol kecil.
Cairan hitam keunguan di dalamnya tampak tenang.
Tidak berasap.
Tidak berbau.
Seolah bukan racun.
“Masukkan ini ke dalam makanannya.”
Pelayan itu menatap botol itu dengan takut.
“Ini… racun?”
“Bukan urusanmu.”
Nada suaranya berubah tajam.
Belati itu menekan lebih dalam.
Setetes darah mengalir di lehernya.
“Lakukan.”
“Atau kau mati di sini.”
Air mata mulai menggenang di mata pelayan itu.
“Ba… baik…”
Tangannya gemetar saat menerima botol itu.
Ia membuka tutupnya perlahan.
Tidak ada aroma.
Tidak ada tanda apa pun.
Seolah itu hanya air biasa.
Namun justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.
Dengan tangan yang bergetar
ia menuangkannya ke dalam sup hangat.
Cairan itu menyatu seketika.
Menghilang.
Tanpa warna.
Tanpa jejak.
Pria itu mengamati.
Lalu mengangguk.
“Bagus.”
Dan dalam sekejap
ia menghilang.
Meninggalkan pelayan itu yang hampir jatuh karena ketakutan.
Pagi hari.
Ruang makan akademi tidak pernah benar-benar ramai bagi Sakura.
Ia duduk di sudut.
Seperti biasa.
Tidak ada yang mendekat.
Tidak ada yang peduli.
Pelayan itu datang.
Langkahnya kaku.
Tangannya masih gemetar.
Ia meletakkan nampan di depan Sakura.
Sup hangat.
Sederhana.
Namun hari ini
berbeda.
Sakura menatapnya sekilas.
“Terima kasih.”
Pelayan itu tidak menjawab.
Ia langsung pergi.
Tidak berani menatap.
Sakura tidak curiga.
Tidak ada bau.
Tidak ada perubahan rasa.
Ia mulai makan.
Satu suapan.
Dua suapan.
Tiga
Semuanya terasa normal.
Hangat.
Hambar.
Biasa.
Ia menghabiskannya tanpa berpikir panjang.
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada yang terjadi.
Sakura berdiri.
Berjalan keluar dari ruang makan.
Langkahnya stabil.
Namun
dadanya terasa… sedikit sesak.
“…?”
Ia berhenti sebentar.
Namun rasa itu terlalu ringan untuk dipikirkan.
Ia melanjutkan langkahnya.
Satu langkah.
Dua langkah
“UGHH—!!”
Rasa sakit itu datang.
Tiba-tiba.
Brutal.
Seperti sesuatu meledak dari dalam tubuhnya.
Sakura langsung terhenti.
Tangannya mencengkeram dada.
Napasnya tersendat.
“Ini… bukan…”
Tubuhnya gemetar.
Di dalam dirinya racun itu menyebar.
Cepat.
Sunyi.
Berbeda dari sebelumnya.
Jika racun lama menyiksa perlahan
yang ini…
langsung menghancurkan.
Meridian di dalam tubuhnya terasa retak.
Aliran energi saling bertabrakan.
Tidak memberi ruang untuk bertahan.
“Ah—!!”
Sakura jatuh berlutut.
Pandangan mulai kabur.
Keringat dingin membasahi wajahnya.
Namun rasa sakit itu
tidak berhenti.
Semakin kuat.
Seolah tubuhnya dihancurkan dari dalam.
“Dia… mengubah…”
Suaranya gemetar.
“Bukan menyerang… dari luar…”
Napasnya terputus-putus.
“...tapi dari dalam…”
Di dalam tubuhnya
racun lama yang selama ini ia tahan…
bereaksi.
Seolah merasa terancam.
Dua kekuatan itu
bertabrakan.
Tidak selaras.
Tidak stabil.
Energi di dalam dirinya menjadi kacau.
Seperti badai yang tidak terkendali.
Di kejauhan Claudia berdiri.
Menatap.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Sepertinya…”
Matanya menyipit.
“...hari ini benar-benar hari terakhirmu.”
Sakura tidak mendengar.
Dunianya mulai tenggelam.
Suara-suara menghilang.
Tubuhnya melemah.
Namun di dalam dirinya
sesuatu bangkit.
Aura gelap keunguan itu muncul kembali.
Namun kali ini tidak tenang.
Tidak diam.
Ia bergerak.
Berdenyut.
Seperti makhluk hidup yang marah.
Racun baru itu mencoba menghancurkan
dan aura itu…
melawan.
Benturan terjadi.
Di dalam tubuhnya.
Sakura menggigit bibirnya.
Darah mengalir.
Namun matanya perlahan terbuka.
Untuk pertama kalinya ia tidak hanya merasakan rasa sakit.
Ia… merasakan aliran itu.
Racun.
Energi.
Benturan.
Segalanya.
“…aku… bisa…”
Tangannya gemetar.
Namun perlahan ia mencoba menahan aliran itu.
Mengarahkannya.
Walau kacau.
Walau menyakitkan.
Namun untuk pertama kalinya
ia tidak hanya bertahan.
Ia mencoba mengendalikan.
Udara di sekitarnya berubah.
Beberapa murid mundur tanpa sadar.
“Apa yang terjadi…?”
“Kenapa rasanya…”
Tekanan tipis menyebar.
Tidak kuat.
Namun cukup untuk membuat semua orang merasa tidak nyaman.
Sakura masih berlutut.
Namun kali ini ia tidak jatuh.
Tangannya mencengkeram lantai.
Tubuhnya gemetar.
Namun bertahan.
Aura gelap itu berdenyut pelan.
Tidak stabil.
Namun hidup.
“…aku… tidak akan mati…”
Suaranya sangat pelan.
Namun jelas.
Di dalam dirinya sesuatu mulai berubah.
Bukan hanya racun.
Bukan hanya kekuatan.
Tapi cara ia bertahan.
Di kejauhan Claudia berhenti tersenyum.
Matanya menyipit.
Untuk pertama kalinya
ia tidak sepenuhnya yakin.
“Kenapa… dia belum mati…?”
Dan di tempat yang jauh di dalam kamar gelap istana
sang Ratu membuka matanya perlahan.
Ia merasakan sesuatu.
Sangat halus.
Namun cukup untuk membuatnya terdiam.
“…masih hidup?”
Tatapannya mengeras.
Kali ini
bukan hanya amarah.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang mulai ia sadari
bahwa racun yang ia kirim…
tidak lagi cukup untuk menghentikan gadis itu.