Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsultan Investigasi Independen
Profesor Chronos tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sedih sekaligus bijaksana. Ia menunjuk ke arah gelang perak yang kini melingkar di pergelangan tangan Aris.
"Gelang itu adalah jangkar yang mengikat jiwamu pada masa kini," ujar sang Profesor tenang. "Begitu satu jam di masa lalu berakhir, atau kapan pun kau menekan tombol 'return' di sisi kiri gelang tersebut, kau akan ditarik kembali secara otomatis ke tempat kau memulai.
Profesor itu berjalan mendekati sebuah mesin besar yang berderak pelan, lalu menambahkan, "Kau tidak perlu khawatir tertinggal. Waktu di dunia aslimu akan berhenti sementara selama kau berada di dalam lorong. Bagimu, satu jam itu mungkin terasa panjang, namun bagi dunia nyata, kau tidak pernah benar-benar pergi."
Aris mengangguk pelan, merasa sedikit lega namun tetap dihantui oleh aturan keras yang baru saja ia dengar. Ia kini tahu bahwa perjalanannya hanyalah sebuah pengamatan—sebuah kunjungan singkat untuk mencari kedamaian batin, bukan untuk mengubah realitas.
"Ingat," tambah Profesor, "Jangan biarkan emosimu mengaburkan pandanganmu. Karena jika kau terlalu lama terjebak dalam kesedihan masa lalu, kau mungkin akan melupakan bahwa duniamu sendiri sedang menunggumu untuk terus berjalan."
Aris menatap gelang perak di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap Profesor Chronos yang masih sibuk dengan roda-roda gigi raksasanya.
"Profesor," panggil Aris, suaranya kini terdengar lebih tenang, namun penuh ketegasan. "Saya telah memutuskan. Saya tidak akan menggunakan jam ini untuk kembali ke masa lalu. Saya sadar, mencoba mengubah apa yang sudah terjadi adalah kesia-siaan yang hanya akan menyiksa diri saya sendiri."
Profesor itu berhenti bergerak, kacamata lensanya sedikit merosot, menatap Aris dengan saksama.
"Saya ingin kembali ke dunia saya sekarang," lanjut Aris. "Saya ingin berhenti bekerja di toko Elias, melepaskan ikatan masa lalu yang mengekang saya, dan saya ingin memulai lembaran baru. Namun, saya ingin membawa jam ini. Bukan untuk mengubah takdir, tapi sebagai pengingat bahwa waktu itu berharga, dan mungkin... sebagai alat yang menarik untuk menemani petualangan hidup saya selanjutnya."
Profesor Chronos tersenyum, kali ini lebih tulus. "Sebuah keputusan yang bijak, Nak. Menyadari bahwa kau tidak bisa mengubah masa lalu adalah langkah pertama untuk benar-benar merdeka di masa depan."
Aris terdiam sejenak, sebuah kekhawatiran tiba-tiba melintas di benaknya. "Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika jam ini rusak, atau saya terjebak dalam situasi yang tidak saya mengerti? Bagaimana cara saya menghubungi Anda kembali jika saya membutuhkan bantuan?"
Profesor Chronos berjalan menuju sebuah lemari kayu tua, mengambil sepotong logam kecil berbentuk kunci dengan simbol jam pasir terukir di atasnya. Ia menyerahkannya kepada Aris.
"Simpan ini," ujar sang Profesor. "Ini adalah 'Penanda Resonansi'. Jika suatu hari jam digitalmu mengalami anomali atau kau merasakan tarikan waktu yang tidak wajar, genggam kunci ini dengan erat dan fokuskan pikiranmu pada ruang laboratorium ini. Ia akan memancarkan frekuensi yang bisa menembus dimensi."
Profesor itu mendekatkan wajahnya, memberikan peringatan terakhir. "Namun ingat, Aris, kunci ini adalah pintu darurat. Gunakan hanya jika benar-benar diperlukan. Dunia nyata adalah tempatmu berpijak sekarang. Jangan terlalu sering melirik ke arah lorong waktu, atau kau akan lupa bagaimana caranya hidup di masa kini."
Aris menerima kunci itu dengan tangan gemetar. Ia merasa beban berat yang selama ini dipanggulnya—tentang kesalahan masa lalu dan rutinitas yang menyesakkan di toko Elias—perlahan terangkat. Kemudian Aris menekan tombol 'return' pada jam digitalnya. Cahaya biru kembali menyelimuti tubuhnya, lebih lembut kali ini, menariknya keluar dari lorong waktu.
Saat cahaya biru itu memudar, Aris tidak lagi berdiri di gudang berdebu milik Elias. Ia kini berdiri di tengah trotoar yang bersih dan megah, dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya neon. Di atasnya, kendaraan-kendaraan berbentuk ramping melintas dengan kecepatan tinggi di jalur magnetik.
Aris terbelalak. Ia berada di jantung kota Jakarta, namun Jakarta yang sangat jauh berbeda. Ini adalah masa depan, sebuah era di mana teknologi telah menyatu dengan arsitektur kota.
Ia memeriksa gelang peraknya. Layar digitalnya berkedip cepat, menampilkan koordinat geografis yang asing dan penunjuk waktu yang menunjukkan tahun 2045.
"Ini tidak mungkin..." bisik Aris. "Profesor bilang aku akan kembali ke tempat aku memulai, tapi ini..."
Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Gelang itu tidak hanya berfungsi sebagai alat perjalanan waktu, tetapi juga sebagai kompas lintas dimensi yang telah membawanya ke titik waktu yang belum pernah ia bayangkan. Ia telah keluar dari jangkauan Elias dan kehidupan lamanya, namun ia terlempar ke dunia yang asing.
Aris menarik napas panjang, menatap hiruk-pikuk Jakarta modern di hadapannya. Ia merasakan kunci logam pemberian Profesor masih tersimpan aman di saku jaketnya. Meskipun ia kini sendirian di tempat yang tidak ia kenal, rasa takutnya perlahan sirna, digantikan oleh gairah untuk bertualang. Ia tidak lagi terikat pada toko Elias, tidak lagi harus menunduk pada masa lalu.
Ia melangkah maju, membaur di antara orang-orang yang sibuk dengan perangkat canggih mereka. Aris tersenyum tipis. Mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan takdir—sebuah lembaran baru yang benar-benar bersih, di mana ia tidak lagi menjadi Aris yang dulu, melainkan Aris yang bisa menentukan takdirnya sendiri di masa depan.
***
Aris berdiri terpaku di tengah hiruk-pikuk Jakarta 2045. Lampu-lampu neon memantul di genangan air, menciptakan pemandangan yang terasa seperti mimpi.
Aris sadar, Ia harus bertahan hidup. Selama satu bulan pertama, Aris hidup berpindah-pindah. Ia bekerja serabutan: mulai dari mencuci komponen robot di bengkel bawah tanah hingga menjadi kuli panggul data di distrik pasar gelap.
Setiap malam, ia akan mencari hiburan di kedai cafe. Namun saat itu, tiba- tiba terjadi keributan.
Seorang pelanggan dituduh mencuri chip memori langka dari tas seorang pejabat tinggi. Polisi datang dan langsung menahan pelanggan itu karena bukti nyata di TKP mengarah padanya, sedangkan cafe tersebut tidak adanya camera CCTV.
Aris, yang duduk tak jauh dari sana, melihat kepanikan di mata pelanggan tersebut—ia terlihat jujur.
Kemudian Aris mengaktifkan gelang peraknya di bawah meja. Ia masuk ke dalam durasi satu jam "lorong waktu". Ia melihat kejadian itu berulang di hadapannya seperti film. Ia melihat sang pejabat sendiri yang menjatuhkan chip itu ke dalam tas pelanggan tersebut sebagai jebakan.
Sang pejabat tidak hanya memasukkan chip, tetapi ia menekan chip tersebut ke dinding tas menggunakan punggung tangannya dengan durasi yang cukup lama—seolah memastikan barang itu terselip jauh masuk ke dalam.
Aris menyimpulkan, bahwa tindakan itu meninggalkan jejak panas (kalor) yang berpindah dari kulit ke material tas yang sensitif.
Ia kembali ke waktu sekarang. Aris tahu ia tidak bisa menciptakan bukti fisik yang tidak ada, namun ia bisa mengarahkan polisi untuk melihat bukti yang sudah ada dari sudut pandang yang berbeda.
"Jangan fokus pada chip itu sendiri," bisik Aris kepada petugas kepolisian. "Coba periksa material kain di bagian dalam tas pelanggan, tepat di sisi yang menghadap ke arah sang pejabat saat dia duduk."
Petugas itu tampak bingung. "Untuk apa?"
"Gunakan alat pemindai termal atau tes mikroskopis pada serat kain tas itu. Saat sang pejabat menekan chip tersebut, gesekan yang ia lakukan dengan sangat kuat meninggalkan transfer minyak alami kulit yang terfokus pada titik yang tidak wajar. Tekanan itu meninggalkan pola jempol yang menyatu dengan serat kain, yang mungkin tidak akan terlihat jika hanya diperiksa secara kasat mata."
Petugas itu mendengus, namun karena tidak ada bukti lain, ia membawa tas tersebut ke unit forensik.
Hasilnya mengejutkan. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya konsentrasi minyak kulit yang membentuk pola sidik jari di bagian dalam tas—sebuah area yang tidak mungkin tersentuh oleh pemilik tas itu sendiri dengan pola tekanan yang sama. Dengan mencocokkan pola "sidik jari transfer" tersebut dengan sidik jari sang pejabat, kepolisian memiliki bukti telak bahwa pejabat itulah yang memasukkan chip tersebut.
Kasus tertutup. Sang pelanggan bebas, dan sang pejabat ditangkap dengan bukti forensik yang tidak terbantahkan.
Kejadian itu menjadi titik balik. Aris mulai dikenal dari mulut ke mulut sebagai seseorang yang memiliki "insting luar biasa" dalam membaca TKP. Ia mulai mendapatkan klien pertama: orang-orang kecil yang dizalimi oleh sistem, mereka yang tidak mampu menyewa pengacara mahal.
Ia membuka sebuah kantor kecil di pinggiran kota. Di pintunya, ia memasang papan kayu sederhana bertuliskan:
"Konsultan Investigasi Independen."
Jam perak itu kini bukan lagi sekadar mainan. Ia menjadi alat bantu—sebuah "mata" cadangan—saat analisis logikanya sendiri menemui jalan buntu. Aris akhirnya menemukan tujuannya di dunia yang asing ini: mengungkap kebenaran yang terkubur, satu jam per satu jam.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor