Allyssa harus meninggalkan hidup nyamannya di Bandung dan memulai semuanya dari awal di Jakarta. Di sekolah barunya, ia mencoba menjalani kehidupan remaja seperti biasa, meski perlahan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
Pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk sosok misterius yang sulit dipahami, membuat hidup Allyssa berubah. Kejadian demi kejadian datang tanpa ia duga, seolah membawanya masuk ke dalam rahasia yang lebih besar.
Di tengah semua itu, ia hanya berpegang pada satu hal yang paling berarti—saudara kembarnya. Namun sebuah kejadian di malam yang seharusnya biasa saja, mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Allyssa menyadari bahwa tidak semua cerita berjalan sesuai harapan. Ada yang harus berhenti di tengah jalan—dan tak pernah sempat selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aynaaa12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 21
Orang-orang di kelasnya melihatnya dengan tatapan terkejut kagum. Penampilannya sangat berbeda dibandingkan saat ia mengenakan kacamata.
“Kamu sakit? Sakit apa?” Tanya guru itu. Ia sangat terbiasa dengan siswa yang suka memberikan alasan seperti itu saat telat.
“Tadi gak sengaja jatuh Bu” Ujar Allyssa menunduk. Bukan karena takut, ia sungguh tak terbiasa dalam berbohong. Ia sangat merasa berdosa pada gurunya. Tapi telat masuk juga bukan sepenuhnya salah dan keinginannya.
Guru yang melihat penampilan Allysa yang sedikit berantakan, ditambah memar di pipi gadis itu pun percaya bahwa muridnya sedang tidak berbohong.
“Baik! Silahkan duduk di bangkumu!” Perintah sang guru.
“Terima Kasih Bu.” Ujar Allyssa langsung menuju kursinya.
...****************...
“El! Lo bohong ya soal danau itu!” Ujar Allyssa ketus, lantas turun dari motor. Ia melepaskan helm yang dipakainya, kemudian ia berikan pada Gabriel.
“Bohong?” Tanya Gabriel bingung dengan maksud Allyssa. Ia meraih helm yang Allyssa sodorkan padanya.
“Iya! Katanya perjalanannya sejam doang, tapi kok rasanya lama banget nyampenya!”
“Ya kan gue bilang kalau gak macet Al.”
“CKCK. Awas aja tempatnya gak sesuai sama yang difoto! Kamu bakal Gue amukin!”
“Dari pada ngomel mulu, kita langsung jalan aja.”
“Jalan! Jadi kita bakal jalan lagi nih!?”
“Sebentar doang kok!”
“Hah?! Gak salah!”
“Gak jauh. Palingan 1 kilometer!”
“What! 1 Kilometer Lo bilang gak jauh! Sehat Lo?”
“CKCKCK. Ayo cepetan. Ntar keburu siang lagi!” Ujar Gabriel langsung menarik tangan Allyssa. Sedikit kaget, namun Allyssa biarkan saja Gabriel memegang tangannya.
...****************...
“El, Gue capek! Ini masih jauh ya? Jalannya juga nanjak-turun gini!” Tanya Allyssa yang sudah ngos-ngosan. Jalan itu sedikit naik-turun, membuat Allyssa kecapean. Sementara Gabriel, dia terlihat biasa saja.
“Bentar lagi Al. Sabar ya!” Jawab Gabriel.
Mereka terus berjalan. Danau yang menjadi tujuan mereka sudah terlihat.
‘Benar-benar cantik’ Gumam Allyssa kagum.
Alyyssa yang mengagumi keindahan danau itu, berlari dan tak sabar untuk melihat lebih dekat.
Namun sayangnya....
“Allyssa Awas...!!” Teriak Gabriel.
‘BRUK’
Allyssa terjatuh.
Gabriel menghampiri Allyssa yang tubuhnya sudah berciuman dengan tanah. Tak langsung menolong Allyssa, Gabriel malah mengeluarkan kamera kecil dari saku jaketnya. Ia tersenyum tipis dan memasukkan kembali kamera itu setelah mendapat beberapa potret Allyssa yang terjatuh tadi.
‘Cantik’ Batin Gabriel.
“Ckckck bukannya nolongin Gue, malah foto dan ngetawain! Jahat bangat jadi orang!”
“Sorry-sorry. Abisnya Lo lucu bangat jatuhnya.” Ujar Gabriel tersenyum lalu membantu Allyssa berdiri.
“Lucu-lucu! Ini kaki Gue sakit tahu gak!” Ujar Allyssa serius. Ia saat ini yang sudah dipapah oleh Gabriel.
Mendengar itu,raut wajah Gabriel berubah.
“Serius Lo!” Ujar Gabriel khawatir. Ia langsung jongkok untuk melihat kaki Allyssa.
Ia perlahan membuka sepatu dan kaos kaki gadis itu dan benar saja ada memar di pergelangan kaki kanannya.
“Makanya kalau jalan itu lihat-lihat! Jadi gini kan!” Seru Gabriel.
“Bukannya ngehibur, malah dimarahin.” Tukas Allyssa.
“Selain ini, ada lagi gak yang sakit?” Tanya Gabriel benar-benar khawatir.
“udah itu doang!.” Jawab Allyssa.
Langsung saja, Gabriel menggendong Allyssa. Ia membawa gadis itu ke kursi panjang yang ada di pinggir danau dekat sana.
Sementara Allysa, ia sangat kaget. Belum sempat dia ingin komplai atas tindakan Gabriel, laki-laki itu langsung membuat Allyssa terdiam.
“Gak usah nolak! Kalau maksa buat jalan, kaki Lo bakal tambah sakit!” Ujar Gabriel seolah paham dengan pikiran Allyssa.
“ckckc. Sekarang kaki Gue gimana! Lo cepetan nyari doketer sana!” Perintah Allyssa.
“Al, Lo liat sekitar deh. Lo kira di tempat kayak gini bakal ada dokter!”
“Terus! Solusinya gimana El! Masa nanti Gue baliknya ngesot sih?! Kan gak lucu!”
“Sekarang Gue coba urut ya?” Tanya Gabriel meminta izin pada Allyssa.
“Hah? Gak ya! Gue gak mau!” Tolak Allyssa.
“Pelan-pelan doang kok. Biar sakitnya agak berkurang.” Bujuk Gabriel.
“Kalau lo urut, yang ada Gue malah salah urat lagi! Terus nanti gak bisa jalan! Gak mau ah!”
“Gue bakal tanggung jawab.” Sahut Gabriel.
“Tanggung jawab! Lo pikir kalau kaki Gue patah bakal bisa dibalikin lagi apa?!"