NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Pesan Ancaman dan Es Krim Vanila

Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi nyaring, terdengar seperti suara sangkakala pembebasan bagi mayoritas murid SMA Taruna Citra. Namun, bagi Rama Arsya Anta, bunyi bel itu hanyalah penanda pergantian giliran sif. Sif pertama sebagai anak teladan tanpa cela telah selesai, dan kini saatnya dia bersiap untuk sif kedua: menjadi bayangan liar di aspal Wana Asri.

Rama berjalan menyusuri koridor dengan langkah tegap dan senyum tipis yang selalu standby untuk membalas sapaan guru maupun adik kelas. Di tangannya terdapat setumpuk buku tebal bersampul keras yang sengaja dia pamerkan sebagai properti. Setibanya di gerbang sekolah, mobil sedan hitam mengilat milik keluarganya sudah menunggu. Pak Maman, sopir setianya, membukakan pintu belakang dengan sigap.

"Kita langsung pulang, Mas Rama? Tadi Nyonya pesan supaya Mas istirahat, katanya wajah Mas kelihatan agak pucat akhir-akhir ini," ucap Pak Maman sambil menatap Rama dari kaca spion tengah.

"Iya, Pak. Langsung pulang saja," jawab Rama datar. Dia menyandarkan kepalanya ke jok kulit yang dingin, memejamkan mata. Pucat? Wajar saja. Tulang rusuknya masih ngilu akibat aksi heroik—atau lebih tepatnya, aksi konyol—menyelamatkan cewek berjilbab ungu itu semalam.

Sesampainya di rumah, Rama melakukan rutinitasnya dengan akurasi layaknya mesin. Masuk kamar, meletakkan buku dengan rapi, mandi, lalu duduk di meja belajar seolah sedang mereview pelajaran. Tapi begitu matahari benar-benar tenggelam dan suasana rumah menjadi lengang karena orang tuanya belum pulang dari kesibukan duniawi mereka, Rama beraksi. Kemeja rapinya berganti kaus oblong hitam dan jaket kulit andalannya. Kacamata minusnya dia masukkan ke dalam laci. Lewat jendela lantai dua, dia meluncur turun layaknya ninja dan menghilang di balik bayang-bayang pohon besar.

Tiga puluh menit kemudian, deru knalpot motor sport-nya membelah malam menuju bengkel Sakti Jaya. Udara malam yang bercampur debu jalanan langsung menyambutnya. Di markas The Ghost itu, anak-anak sudah berkumpul. Suara dentingan kunci inggris yang beradu dengan baut mesin, tawa meledak, dan asap rokok memenuhi udara. Ini adalah habitat aslinya. Di sini, dia tidak perlu menahan napas atau berpura-pura suka membaca buku sejarah.

"Tumben lo agak telat, Bos. Biasanya jam segini udah nangkring sambil ngopi," sapa Galang sambil melempar lap majun yang langsung ditangkap Rama dengan satu tangan.

"Ada urusan bentar tadi," kilah Rama singkat. Dia duduk di atas jok motornya yang sedang dibongkar bagian fairing-nya oleh Cakra. "Gimana mesinnya, Cak? Karbunya udah lo setting ulang buat balapan lusa?"

"Aman, Ram. Tarikannya bakal lebih enteng dari yang kemarin. Tapi lo yakin rusuk lo udah nggak apa-apa? Semalam kan lo jatuhnya lumayan parah. Gue masih heran kenapa lo tiba-tiba banting setir ke trotoar," selidik Cakra sambil mengelap tangannya yang belepotan oli.

Rama mengernyit, membuang muka. "Cuma kucing lewat. Gue refleks aja."

Galang tertawa sinis. "Sejak kapan bos besar kita peduli sama nyawa kucing jalanan? Biasanya juga ditabrak sekalian kalau lagi di lintasan."

Belum sempat Rama menjawab dan mengarang alasan lain, benda pipih di saku jaket kulitnya bergetar hebat. Rama mengerutkan kening. Nomor yang dia pakai ini adalah nomor khusus, hanya segelintir petinggi geng yang tahu. Orang tuanya dan teman-teman sekolahnya menghubungi nomor lain yang selalu dia tinggal di laci meja belajarnya.

Dengan enggan, Rama mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan WhatsApp masuk dari nomor tak dikenal. Matanya menyipit membaca rentetan kalimat di layar, dan detik berikutnya, rahang Rama mengeras. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.

Babu, ke Kedai Manis Sudut Kota sekarang. Gue pengen es krim tapi males makan sendirian. Nggak nyampe dalam 20 menit, korek api lo yang ada inisial R ini gue serahin ke satpam sekolah besok pagi sekalian cerita soal aksi heroik lo di aspal. - Majikan lo.

"Sialan!" umpat Rama tanpa sadar, suaranya cukup keras sampai membuat Galang dan Cakra menoleh kaget.

"Kenapa, Bos? Ada musuh yang nantangin lagi?" tanya Bagas yang baru datang membawa sekantong gorengan.

Rama buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke saku. Otaknya berputar cepat. Bagaimana caranya cewek gila itu bisa tahu nomor rahasianya? Sial, dia baru ingat kalau semalam, saat dia berguling-guling jatuh, ponsel cadangannya sempat terlempar ke pinggir jalan. Jangan-jangan cewek itu sempat melihat nomornya di lockscreen atau semacamnya? Apapun itu, Nayla benar-benar tahu cara mengancamnya.

"Gue... gue ada urusan mendadak. Banget," ucap Rama terbata-bata, turun dari motornya dan langsung menyambar kunci motor bebek butut milik Galang yang tergeletak di atas meja perkakas.

"Loh? Mau ke mana lo, Ram? Motor lo kan lagi dibongkar! Terus ngapain lo bawa motor Supra gue?!" teriak Galang kebingungan melihat bos besarnya tiba-tiba terlihat panik.

"Pinjam bentar! Darurat!" balas Rama sambil menstarter motor bebek itu. Menggunakan motor sport-nya ke tempat umum saat ini terlalu mencolok, apalagi jika dia harus bertemu gadis itu. Suara mesin motor bebek yang agak pincang itu pun menjauh meninggalkan markas, menyisakan tanda tanya besar di kepala anggota The Ghost.

Lima belas menit kemudian, Rama memarkirkan motor pinjamannya itu agak jauh dari pelataran Kedai Manis Sudut Kota, sebuah kafe aesthetic yang biasanya jadi tempat nongkrong anak-anak hits Yogyakerto. Rama menarik ritsleting jaketnya sampai ke leher, memakai kupluk dari hoodie abu-abunya untuk menutupi rambutnya yang sedikit berantakan, mencoba menyamar sebaik mungkin.

Begitu masuk ke dalam kedai yang didominasi warna pastel itu, mata Rama langsung menangkap sosok yang membuatnya kelabakan setengah mati. Nayla duduk di dekat jendela kaca, mengenakan sweter oversized berwarna krem dan jilbab ungunya yang khas. Di depannya terdapat semangkuk besar es krim vanila dengan taburan cokelat. Gadis itu sedang membaca novel sambil sesekali menyuapkan es krim ke mulutnya dengan santai, seolah tidak ada dosa.

Rama berjalan menghampiri meja itu, menarik kursi di hadapan Nayla dengan kasar sampai menimbulkan decitan nyaring di lantai. Beberapa pengunjung menoleh, tapi Rama tidak peduli. Dia duduk, menatap Nayla dengan tatapan membunuh.

"Wah, tepat waktu lagi. Masih sisa lima menit, loh. Lo emang punya bakat terpendam jadi asisten pribadi yang disiplin," sapa Nayla tanpa mengangkat wajahnya dari buku novel yang sedang dibacanya.

"Dapat dari mana lo nomor gue yang ini?!" desis Rama dengan suara tertahan, mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, urat di punggung tangannya menonjol.

Nayla menutup novelnya, meletakkannya di atas meja, lalu tersenyum manis. Senyum yang membuat Rama ingin mengacak-acak kedai ini. "Gue kan udah bilang, korek lo ketinggalan semalam. Dan oh, dompet lo juga sempet kebuka pas lo jatuh. Gue lihat ada kartu nama kecil nyelip, isinya cuma inisial R dan nomor telepon. Insting gue langsung jalan. Bener kan tebakan gue? Itu nomor khusus lo buat urusan dunia gelap lo?"

Rama mengusap wajahnya dengan kasar. "Lo bener-bener cewek paling menyebalkan, paling nekat, dan paling gila yang pernah gue temui. Lo sadar nggak sih lo lagi main api? Lo lagi berurusan sama siapa, hah?"

Nayla menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap tepat ke dalam manik mata Rama yang memancarkan amarah. Tapi anehnya, tidak ada kilat ketakutan sama sekali di mata bulat gadis itu. "Gue tahu persis gue lagi berurusan sama siapa. Sama Rama Arsya Anta. Ketua angkatan, murid kesayangan guru, yang saking takutnya mengecewakan ekspektasi bapaknya sampai harus nyari pelarian konyol di jalanan raya pakai motor bising."

Jleb. Kata-kata Nayla tepat sasaran, menembus pertahanan Rama seperti pisau bedah yang tajam. Rama terdiam kaku. Selama ini, orang-orang di sekitarnya hanya melihat dua versi dirinya: sang dewa prestasi atau sang iblis jalanan. Tidak ada yang benar-benar repot-repot mencari tahu alasan mengapa dia menciptakan dua dunia itu. Galang dan teman-teman gengnya mengira dia membalap karena gila harta taruhan dan adrenalin. Keluarganya mengira dia belajar mati-matian karena memang bercita-cita menjadi profesor.

Hanya cewek asing di depannya ini, yang baru mengenalnya kurang dari dua puluh empat jam, yang langsung bisa membaca luka terdalamnya.

"Lo... lo nggak tahu apa-apa soal hidup gue. Jangan sok tahu," suara Rama kini tidak lagi membentak, melainkan terdengar rendah dan sedikit bergetar. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, membuang muka melihat jalanan di luar jendela.

Nayla menyodorkan mangkuk es krimnya ke arah Rama. "Makan tuh, biar otak lo dingin dikit. Nggak capek apa tiap hari harus ganti kepribadian? Pagi jadi malaikat, malam jadi preman pasar."

Rama mendengus sinis, melirik es krim itu dengan sebelah mata. "Gue nggak suka manis."

"Bagus dong, hidup lo kan udah pahit. Butuh penyeimbang," balas Nayla cepat, sama sekali tidak mau kalah.

Terjadi keheningan di antara mereka. Suara alunan musik lofi dari speaker kedai mengalun pelan, kontras dengan gemuruh di dada Rama. Dia menatap Nayla lekat-lekat. Gadis ini bukan cuma sekadar pengancam biasa. Dia cerdas, berani, dan sialnya... ada pesona aneh dari cara bicaranya yang ceplas-ceplos.

"Terus sekarang lo mau apa nyuruh gue ke sini? Mau pamer kalau lo berhasil bikin bos geng motor jadi kurir es krim lo?" tanya Rama akhirnya, nadanya sudah jauh lebih melunak, meskipun gengsinya masih setinggi langit.

Nayla tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terlihat tulus tanpa unsur ejekan. "Nggak. Gue cuma mau buktiin aja, sejauh mana lo mau berkorban buat nutupin rahasia lo. Dan ternyata, lo lebih milih nurunin harga diri lo jadi babu gue daripada harus menghadapi bapak lo, kan?"

Lagi-lagi tebakan mematikan. Rama tidak bisa membantah, karena itulah kebenaran mutlaknya. Ayahnya adalah sosok otoriter yang tidak mentolerir kecacatan. Jika sampai ayahnya tahu, bukan hanya motornya yang disita, tapi seluruh hidup dan kebebasannya akan dirampas secara permanen.

"Gue nggak bakal ngebocorin rahasia lo, kok," lanjut Nayla santai, kembali menyuapkan es krim ke mulutnya. "Asal lo nurut sama gue. Hidup di sekolah elit kayak Taruna Citra itu membosankan banget buat anak pindahan kayak gue. Nggak ada hiburan. Dan kebetulan, nyuruh-nyuruh cowok paling arogan di sekolah ini ternyata lumayan menyenangkan."

Rama memutar bola matanya malas. "Sinting."

Namun, di balik umpatan kasar itu, ada perasaan lega yang aneh menyelinap masuk ke dalam hatinya. Saat menatap wajah Nayla yang belepotan sedikit es krim di ujung bibirnya, sudut bibir Rama tanpa sadar sedikit terangkat. Ya, dia terikat dalam perjanjian konyol ini. Ya, rahasianya berada di ujung tanduk. Tapi entah kenapa, berbagi rahasia gelapnya dengan gadis berjilbab ungu cerewet ini, tidak terasa semengerikan yang dia bayangkan sebelumnya. Sepertinya, lintasan hidup Rama kali ini benar-benar akan berbelok ke arah yang tidak pernah ada di peta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!