NovelToon NovelToon
Pendekar Muda

Pendekar Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEKUATAN TANPA BATAS

Langit masih bergetar pelan.

Seolah dunia belum siap menerima apa yang baru saja terjadi.

Namun Bima… sudah berjalan.

Meninggalkan medan itu tanpa menoleh.

Langkahnya ringan.

Tapi setiap pijakan… meninggalkan bekas bayangan tipis yang perlahan menghilang.

Seperti dunia menolak menyimpan jejaknya.

Di batas hutan…

angin kembali berubah.

Kali ini… tidak liar.

Tidak tajam.

Tapi… menyingkir.

Memberi jalan.

WUSSH…

Pepohonan bergoyang pelan, seolah memberi hormat.

Bima tidak memperhatikan, Matanya lurus ke depan.

Ke arah desa.

Lalu berjalan menuju arah rumahnya yang terpencil di tengah hutan.

Suara aliran sungai yang selalu ia dengar.

langkahnya berhenti.

Seketika.

Hening.

“kau mengikutiku.”

Suara Bima datar.

Tidak menoleh.

Tidak terkejut.

Dari balik bayangan pepohonan… muncul satu sosok.

Berjalan perlahan.

Tepuk.

Tepuk.

Tepuk.

“luar biasa…”

Suaranya pelan… namun jelas.

“aku sudah lama tidak melihat sesuatu sepertimu.”

Bima tetap diam.

Namun bayangan di kakinya… mulai bergerak lagi.

Pelan.

Waspada.

Sosok itu berhenti beberapa langkah di belakangnya.

Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat.

Tertutup tudung hitam.

Namun… matanya.

Menyala redup.

“empat pemburu elit… satu pemanggil entitas…”

Ia terkekeh kecil.

“dan kau menghapus mereka seperti debu.”

Hening.

“aku jadi penasaran…”

Ia sedikit menunduk.

“kau ini… apa?”

Sunyi beberapa detik.

Lalu

“seseorang yang ingin pulang.” Jawaban Bima singkat.

Dingin.

Tanpa emosi.

Sosok itu diam, lalu tersenyum tipis.

“jawaban yang membosankan.”

WUSSH

Dalam sekejap ia sudah berada di depan Bima.

Cepat.

Terlalu cepat untuk manusia biasa.

Namun Bima tidak bergerak.

Bahkan tidak berkedip.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk sesaat…

udara membeku.

“menarik.”

Sosok itu berbisik.

“kau tidak takut.”

“tidak perlu.” Balasan Bima langsung.

Tanpa jeda.

Tanpa ragu.

Hening.

Angin berhenti lagi, Namun kali ini… bukan karena tunduk.

Tapi karena… bingung.

Tidak tahu harus bergerak ke mana.

Sosok bertudung itu menatap Bima lebih dalam.

Lebih lama.

Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa dibaca.

“baiklah.”

Ia mundur satu langkah.

Perlahan.

“aku tidak akan menghalangimu sekarang.”

Bima tetap diam.

“tapi…”

Nada suaranya berubah.

Lebih berat.

“perburuan ini bukan milik mereka saja.”

Bayangan di sekitar mereka… bergetar halus.

“kau baru saja membuka pintu.”

Ia mengangkat satu tangan.

Di udara…

muncul retakan kecil.

Tipis.

Namun… dalam.

Dari celah itu…

terasa sesuatu.

Bukan energi.

Bukan aura.

Tapi… kehadiran.

Banyak.

Sangat banyak.

“dan di balik pintu itu…”

Senyumnya melebar.

“ada yang jauh lebih lapar.”

CRRRRKKK…

Retakan itu perlahan menutup kembali.

Sunyi.

Gelap kembali normal.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Sosok itu berbalik.

“nikmati waktumu, Bima.”

Langkahnya perlahan menjauh.

“sebelum mereka menemukanmu.”

WUSSH…

Ia menghilang, Benar-benar hilang.

Tidak ada jejak.

Tidak ada sisa.

Hanya angin yang kembali bergerak, Namun kini…

lebih dingin.

Bima berdiri diam.

Beberapa detik.

Atau mungkin lebih.

Tidak ada yang tahu.

Lalu ia kembali berjalan.

Namun kali ini… lebih cepat.

rumahnya mulai terlihat.

Dari jauh terlihat Andi, Bayu dan Dimas sedang duduk cemas di depan rumah menunggu kepulangan bima.

Hangat.

Tenang.

Langkahnya melambat.

Untuk pertama kalinya…

ekspresinya berubah.

Sedikit.

Sangat tipis.

“rumah.” gumamnya

“keluarga”

Namun bayangannya di tanah…

tidak ikut melambat.

Ia bergerak sendiri.

Merayap ke arah Andi dan yang lain.

lebih dulu.

Seolah…

tidak sabar.

Hening.

Langkah Bima berhenti lagi.

Matanya sedikit menyipit.

“…jangan.”

Bayangan itu berhenti.

Namun tidak sepenuhnya diam.

Bergetar.

Seperti menahan sesuatu.

Keinginan, Dorongan.

Atau…

lapar.

Bima menutup mata sebentar, Menarik napas.

Lalu membuka kembali.

“satu hal lagi.”

Suaranya sangat pelan.

Namun tegas.

“jangan sentuh mereka.”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu bayangan itu… perlahan kembali.

Masuk ke dalam kakinya.

Tenang.

Untuk sekarang.

Di kejauhan…

seekor anjing tiba-tiba melolong panjang.

AAAAUUUUU—

Disusul… hening yang terlalu dalam.

menyadari.

Sesuatu telah pulang.

Namun bukan lagi… yang dulu pergi..

bima hampir sampai di rumahnya, tapi dia kembali diam.

“Bima!” teriak Bayu.

Mereka semua berlarian menghampiri bima.

“kenapa KAI baru kembali” tanya Andi.

“kami sangat menghawatirkan mu” ucap Dimas

bima terdiam menatap mereka satu persatu.

Mereka yang melihatnya terdiam kembali menyemangati nya.

“paman mu sudah tenang di alam baru nya, disini masih ada kami.” ucap andi menenangkan bima.

“bukankah sekarang kita keluarga,”

“keluarga ya!” gumamnya dalam hati.

Bima tersenyum tipis.

“baiklah ayo kita pulang, aku sangat lapar sekarang.”

Dia kembali seperti dirinya yang biasa, bima yang ceria dan energik.

“begitu dong, ini baru bima yang ku kenal” ucap Bayu sembali tersenyum.

“kalian tunggulah,” gumamnya dalam hati.

“tidak akan kubiarkan kalian menyentuh keluarga ku lagi.”

“kali ini biarkan aku yang jadi pemburunya.”

“kau kenapa melamun lagi?” ucap Dimas.

bima hanya membalas dengan senyuman.

Mereka tidak tau bima sedang merencanakan pemburuan seorang diri.

hari itu akan tiba.

sekarang bima memang sangat kuat.

tapi kekuatan dalam dirinya masih belum sepenuhnya keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!