NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-14

Arkan mendengus lalu ia melepas pelukannya dari pinggang Nara..

"Saya kekamar mandi sebentar, kamu jangan kemana mana!"

Nara mengangguk patuh. "Siap, Pak. Saya tunggu di sini."

Arkan pun berjalan cepat meninggalkan Nara, meninggalkan wanita itu yang kini berdiri sendirian di sudut ruangan yang cukup sepi. Wajah pria itu terlihat memerah menahan emosi campur aduk rasa kesal.

Dasar wanita gak peka,! Bodoh banget! aku bilang gitu juga gak nyampek-nyampek! gerutu Arkan dalam hati sepanjang jalan. Baginya sangat frustasi melihat Nara yang begitu polos dan lambat menangkap sinyal. Padahal ia sudah berusaha sejelas mungkin menunjukkan rasa memiliki, tapi Nara tetap saja menganggap itu semua hanya tugas profesional.

________

Sementara Nara menunggu...

Tiba-tiba sebuah tangan besar menepuk bahunya pelan dari belakang.

"Permisi... Nara Amanda kan?"

Nara menoleh kaget, dan matanya langsung membelalak melihat siapa yang ada di hadapannya.

"Dimas?!"

Pria itu tersenyum lebar, tampak sangat terkejut dan senang. "Beneran kamu! Wah, gak nyangka bisa ketemu lagi di sini. kamu cantik banget malam ini, Nar."

Dimas berdiri sangat dekat, tatapannya penuh kekaguman dan rasa suka yang tak disembunyikan. "Aku kira janjian kita kemarin batal selamanya, eh ternyata Tuhan baik banget pertemuin kita lagi di sini."

Nara tersenyum ramah, sikap profesionalnya kembali muncul. "Iya Dim, kebetulan banget. aku di sini sama Pak Arkan, jadi pendamping beliau."

"Ya tahu lah sama si Bos Galak itu," celetuk Dimas santai. Ia malah semakin mendekat, bahkan berani merapikan sedikit rambut Nara yang berantakan tertiup angin AC. "Tapi serius deh, kamu cantik banget. Sayang banget kalau cuma jadi pendamping doang. Mending nanti pulang sama aku aja, aku ajak makan enak, terus kita ngobrol-ngobrol kayak dulu."

Nara tergelak kecil, "Ah kamu ini bisa aja..."

Namun, tawa Nara terhenti seketika saat ia merasakan aura dingin yang sangat kuat menyelimuti punggungnya. Suasana di sekitar mereka seakan mendadak beku.

Dari arah belakang, Arkan sudah berdiri di sana. Wajahnya datar, sangat datar, tapi matanya... matanya memancarkan api kemarahan yang siap meledak kapan saja. Ia melihat jelas bagaimana Dimas menyentuh rambut Nara, mendengar jelas ajakan pria itu, dan melihat betapa akrabnya mereka.

kreetek!

Suara jemari Arkan yang saling menekan terdengar jelas.

Melihat kedatangan Arkan,Dimas langsung menyapa..

"Pak Arkan..." sapa Dimas dengan senyum santai, sama sekali tidak terlihat takut. Ia bahkan sengaja tetap berdiri sangat dekat di samping Nara. "Wah, kebetulan banget ya. Saya lagi ngobrol seru sama Nara."

Arkan tidak menjawab. Ia hanya menatap Dimas dengan tatapan sedingin es. Aura 'Bos Besar' yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat suhu ruangan seakan turun drastis. Namun, Dimas tampak tak bergeming, malah ia tersenyum mengejek seolah berkata 'liat aja deh siapa yang dapet'.

"Nara cantik banget malam ini kan, Pak? Sampai-sampai saya hampir gak kenal," ucap Dimas sengaja, tangannya bahkan berani menyentuh lengan Nara pelan.

Itu adalah pemicu terakhir.

Tangan Arkan bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Dimas dengan kuat sebelum sempat menyentuh Nara lebih jauh. Genggamannya keras, penuh dominasi, dan menyakitkan.

"Jangan sentuh dia," ucap Arkan pelan, tapi suaranya terdengar serak dan berbahaya. Wajahnya tetap datar, tapi matanya menatap tajam menusuk jiwa. "Dia bukan barang pameran yang bisa kamu pegang seenaknya."

Dimas mendengus mencoba melepaskan tangannya, "Loh, kan cuma sentuhan sopan sesama teman. Pak Arkan ini protektif banget ya ternyata. Lagian Nara kan juga seneng ngobrol sama saya."

"Siapa bilang?" potong Arkan dingin. Ia lalu menarik Nara dengan lembut namun pasti hingga berada tepat di belakang tubuhnya, melindungi wanita itu sepenuhnya dari pandangan Dimas. "Dan kalau kamu tidak bisa menjaga jarak, saya suruh bodyguard mengantar kamu keluar dari acara ini."

 ____

Di tengah posisi itu, Nara benar-benar merasa seperti berada di antara dua raksasa yang sedang berkelahi. Jantungnya berdegup kencang bukan main, campur aduk antara malu, panik, dan... entah kenapa ada rasa hangat melihat Arkan membela dirinya seperti ini.

Tapi sebagai sekretaris yang profesional, ia tidak boleh membiarkan suasana makin ricuh.

"Pak Arkan... Pak Dimas..." Nara berbicara dengan suara tenang namun tegas, berusaha masuk di antara mereka. "Tolong jangan begini, ini acara resmi. Kita kan mitra kerja, jangan sampai ada masalah pribadi yang mengganggu hubungan bisnis."

Ia menarik sedikit lengan Arkan, "Pak, ayo kita ke sana saja. Tadi Bapak bilang mau ketemu investor kan?"

Nara berusaha mengalihkan perhatian, berharap Arkan mau menuruti kata-katanya. Ia menatap Arkan dengan mata memohon, 'Jangan ribut dong Pak, malu lho...'

Arkan menatap Nara sejenak. Melihat wajah tenang dan profesional itu, amarahnya sedikit mereda, tapi rasa cemburunya makin membara. Ia tidak suka Nara bersikap seolah-olah ini semua hanya urusan pekerjaan saat hatinya sedang terbakar.

"Ayo," jawab Arkan singkat. Ia tidak melepaskan tangan Nara, malah menggenggamnya erat, lalu menatap Dimas tajam untuk yang terakhir kalinya. "Maaf, kami ada kepentingan lain. Dan lain kali... tolong hormati batasan."

Arkan pun menarik tangan Nara pergi meninggalkan Dimas yang berdiri mematung di sana.

Sepanjang jalan, Nara berusaha tetap berjalan tegak dan anggun, meski dalam hati ia berteriak. Ampun dahh... panas banget aura mereka berdua! Nyaris gosong aku di tengah-tengah! batinnya menjerit.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!