Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Balik ke Titik Nol
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar tidak membuat perasaanku lebih cerah. Tubuhku terasa berat, mungkin efek kehujanan semalam, atau mungkin karena beban di dadaku yang tak kunjung terangkat.
Aku melirik keranjang cucian di sudut kamar. Kemeja itu masih ada di sana, terkubur paling bawah, tapi entah kenapa aku merasa aroma wood-scent milik Danendra masih memenuhi seisi ruangan. Sial.
"Zal! Buruan! Motor gue udah panas nih, entar keburu Pak Danendra lo itu nyariin asisten kesayangannya!" teriak Nesha dari luar kamar.
Aku menghela napas, menyambar tas, dan keluar. Pagi ini aku harus menebeng Nesha karena motor matic-ku masih terparkir di gedung kantor sejak kejadian semalam.
"Muka lo pucat amat, Zal. Efek 'malam panas' di mobil ya?" goda Nesha sambil menyodorkan helm.
"Berisik, Nesh. Buruan jalan," sahutku datar sambil naik ke boncengan.
Sepanjang jalan, aku hanya diam. Pikiranku bercabang. Hari ini aku punya misi. Aku harus menyelesaikan laporan revisi lapangan kemarin secepat mungkin, lalu meminta izin pulang lebih awal. Ada tempat yang sudah sangat lama tidak kukunjungi. Tempat yang menjadi alasan kenapa aku harus membeku seperti ini.
Sesampainya di kantor, aku langsung menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen. Aku bekerja seperti kesurupan, jari-jariku menari di atas keyboard tanpa henti. Aku tidak ingin memberi celah bagi Danendra untuk memanggilku ke ruangannya, atau lebih buruk lagi, menawariku makan siang lagi.
Tepat pukul sebelas siang, laporan itu selesai. Aku mengirimkannya melalui email internal, lalu dengan tangan gemetar, aku mengetik pesan singkat untuk Pak Bram—dan menembuskannya ke Danendra.
“Pak, mohon izin saya pulang pukul dua siang hari ini karena ada keperluan keluarga yang sangat mendesak. Semua laporan lapangan sudah saya selesaikan di meja kerja dan via email. Terima kasih.”
Klik. Terkirim.
Aku segera membereskan meja, bersiap pergi sebelum ada balasan yang menghalangi. Namun, belum sempat aku berdiri, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya di kubikelku.
Aroma itu lagi.
"Keperluan keluarga yang mendesak, atau pelarian yang tertunda, Azzalia?" suara bariton itu terdengar dingin, tapi ada nada cemas yang tersembunyi.
Aku mendongak. Danendra berdiri di sana, menatapku dengan mata yang tampak sedikit merah. Dia juga sepertinya tidak tidur dengan nyenyak.
"Ini urusan pribadi, Pak. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan," jawabku tegas.
Danendra terdiam lama, menatapku seolah sedang membaca draf pengunduran diri yang kemarin ia robek di mataku. "Dua minggu, Zal. Kamu janji akan tetap di sini selama dua minggu."
"Saya tidak pergi dari kota ini, Nen. Saya cuma izin pulang cepat," bisikku agar tidak terdengar staf lain. "Tolong, biarkan aku pergi kali ini saja. Tanpa pengawalan, tanpa paksaan."
Danendra perlahan mundur, memberi ruang bagiku untuk lewat. "Hati-hati di jalan. Motor kamu sudah dipindahkan ke parkiran depan oleh bagian keamanan. Kuncinya ada di meja lobi."
Aku hanya mengangguk tanpa kata terima kasih, lalu melangkah cepat meninggalkan gedung itu.
Perjalanan menuju pinggiran kota terasa sangat panjang. Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan dinding beton kusam yang dikelilingi kawat berduri. Begitu motorku berhenti di depan gerbang Lapas Kelas I, tanganku mulai gemetar hebat.
Sudah setahun aku tidak ke sini. Pengecut, memang. Aku terlalu malu melihat wajah pria yang dulu sangat kupuja itu harus mendekam di balik jeruji karena kasus korupsi yang menghancurkan seluruh martabat keluarga kami.
Setelah melewati prosedur pemeriksaan yang ketat, aku duduk di balik kaca pembatas. Tak lama, seorang pria dengan seragam narapidana biru muncul. Wajahnya sudah jauh lebih tua, rambutnya memutih, dan badannya menyusut drastis.
"Zal... akhirnya kamu datang," suaranya serak terdengar lewat telepon penghubung.
"Ayah..." hanya satu kata itu yang mampu keluar dari tenggorokanku sebelum pertahananku runtuh.
Di tempat inilah ziraku benar-benar tidak berguna. Di depan pria yang menjadi alasan kenapa aku harus lari dari Danendra, aku sadar bahwa sejauh apa pun Danendra mengejarku, dinding pembatas ini jauh lebih nyata daripada cinta yang ia tawarkan.
"Ayah dengar... nak Danendra mencari kamu selama ini," ucap Ayah tiba-tiba, membuat jantungku mencelos.
"Ayah tahu dari mana?"
"Dia pernah ke sini, Zal. Enam bulan lalu. Dia datang minta izin Ayah untuk mencari kamu lagi."
Duniaku serasa berhenti berputar. Jadi, selama ini Danendra bukan cuma mencariku lewat Valerie? Dia bahkan mendatangi tempat paling hina di hidupku hanya untuk meminta izin?
" Lalu ayah jawab apa?" tanyaku pelan
Ayah terdiam sejenak, tatapannya yang sayu menembus kaca pembatas, seolah sedang memutar kembali memori pertemuannya dengan Danendra enam bulan lalu.
"Ayah mengizinkan dia mencarimu, Zal," ucap Ayah pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Ayah tahu di mana kamu tinggal, Ayah tahu kamu lari ke kota ini untuk membuang semua bayang-bayang masa lalu. Tapi saat melihat Nak Danendra berdiri di depan Ayah... Ayah sadar satu hal. Dia bukan cuma mencari pacar masa SMA-nya, dia sedang mencari separuh nyawanya yang hilang."
Aku menutup mulutku dengan tangan, berusaha meredam isak tangis yang mulai meledak.
"Maafkan Ayah, ya, Nak," lanjut Ayah dengan suara yang kian parau. "Karena masalah Ayah, kamu ikut keseret ke dalamnya. Kamu harus hidup menderita, pindah-pindah kota, dan bekerja pontang-panting sendirian hanya untuk menanggung malu yang bukan perbuatanmu. Ayah gagal menjagamu."
"Enggak, Yah... jangan ngomong gitu," rintihku.
"Ayah sengaja memberi tahu dia arah pelarianmu karena Ayah tidak mau kamu selamanya sembunyi di balik kesalahan Ayah. Nak Danendra bilang, dia tidak peduli siapa Ayahmu. Dia cuma peduli siapa kamu baginya." Ayah menyentuhkan telapak tangannya ke kaca, tepat di depan tanganku. "Zal, jangan hukum dirimu sendiri lebih lama lagi. Kamu berhak bahagia, meski Ayah ada di sini."
Aku keluar dari ruang kunjungan dengan langkah yang sempoyongan. Kepalaku pening, jantungku berdentum kencang menghantam ulu hati. Rahasia besar itu ternyata sudah lama pecah. Danendra bukan hanya tahu bahwa Ayah dipenjara; dia bahkan sudah duduk berhadapan dengan Ayah sementara aku sendiri masih sibuk membangun dinding penolakan.
Bagaimana bisa dia melakukannya? Bagaimana bisa dia mendatangi tempat ini, melihat kehancuran keluargaku, dan tetap menatapku dengan binar yang sama di kantor kemarin?
Aku memacu motor menjauhi area Lapas, namun pikiranku tertinggal di balik jeruji besi itu. Sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Danendra yang bersimpuh di ruangan Pak Bram dan wajah Ayah yang memohon maaf terus bergantian muncul.
Aku menyadari satu hal yang selama ini salah kuartikan. Zirah besiku bukan melindungiku dari Danendra, melainkan mengurungku dalam penjara yang aku buat sendiri.
Sesampainya di parkiran kost, aku melihat sosok itu lagi.
Danendra berdiri bersandar di mobilnya tepat di depan gerbang kost-ku. Ia masih memakai pakaian kantor yang sama, tapi dasinya sudah terlepas. Ia menungguku. Ia tahu ke mana aku pergi, dan ia tahu kebenaran apa yang baru saja aku dapatkan di sana.
"Kamu sudah bertemu dia?" tanya Danendra lirih saat aku turun dari motor dengan kaki yang gemetar.
Aku menatapnya dengan pandangan yang kabur oleh air mata yang tak terbendung lagi. Kali ini, aku tidak punya tenaga untuk lari. Aku tidak punya lagi kata-kata tajam untuk mengusirnya.
"Kenapa, Nen? Kenapa kamu harus sejauh itu?" tanyaku pelan, nyaris seperti rintihan.
Danendra melangkah mendekat, berhenti tepat di depan wajahku. Ia tidak menyentuhku, tapi kehadirannya merangkulku lebih hangat dari apa pun.
"Karena aku sudah berjanji pada Ayahmu, Zal. Aku nggak akan membiarkan kamu menanggung beban dunia ini sendirian lagi."
Aku menunduk, membiarkan tetesan air mata jatuh ke aspal parkiran. Suaraku terdengar serak, hancur oleh kelelahan mental yang sudah mencapai puncaknya.
"Tapi duniaku terlalu hancur untuk kamu ikut serta di dalamnya, Danendra," bisikku getir. "Bahkan aku bukan wanita yang bisa membuat kamu hangat. Aku bahkan nggak tahu cara mencintai kamu dengan benar. Aku nggak pantas di dekat laki-laki yang sudah mapan seperti kamu. Pergi, Danendra. Cari perempuan lain yang pantas menerima cinta dari kamu, dan yang pantas berdiri di sampingmu. Aku lelah..."
Aku memejamkan mata, menunggu ia melontarkan argumen atau perintah seperti biasanya. Namun, keheningan justru menyergap. Detik berikutnya, aku merasakan kehangatan yang tak terduga. Danendra tidak pergi. Ia justru merengkuhku dalam pelukan yang begitu erat, seolah mencoba menyatukan kembali kepingan diriku yang berserakan.
"Aku nggak butuh wanita yang tahu cara mencintai dengan benar, Zal," suaranya bergetar di atas kepalaku. "Aku cuma butuh kamu. Kamu bilang kamu nggak pantas? Siapa yang menentukan itu? Kamu sendiri? Aku sudah mapan karena aku ingin menjadi tempat bernaungmu, bukan untuk membuatmu merasa kian kecil."
Ia melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk memegang kedua bahuku dan memaksaku menatap matanya yang memerah.
"Kalau kamu lelah, berhenti berlari. Bersandar di aku. Kalau kamu merasa nggak tahu cara mencintai, biar aku yang ajarkan lewat cara aku bertahan selama enam tahun ini. Aku nggak akan cari perempuan lain, karena nggak ada satu pun perempuan di dunia ini yang punya nama 'Azzalia' di hatiku."
"Nen, tolong..." rintihku, mencoba mendorong dadanya lemah.
"Nggak, Zal. Kali ini nggak akan ada lagi kata pergi." Ia menyentuhkan dahinya ke dahiku, membuat napas kami saling beradu. "Ayahmu sudah menyerahkan tanggung jawabnya padaku. Kamu bukan lagi anak seorang narapidana yang harus menanggung malu sendirian. Kamu adalah masa depanku, dan aku adalah rumahmu. Pulanglah, Zal. Berhenti menganggap dirimu orang asing di hatiku."
Zirah besiku benar-benar lenyap, menguap diterpa kehangatan yang selama ini sangat aku takuti namun diam-diam selalu kurindukan. Di pelukan pria ini, di depan gerbang kost yang sederhana, aku menyadari bahwa hukuman yang kuberikan pada diriku sendiri sudah cukup. Enam tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah kesalahpahaman tentang martabat.
"Maafin aku, Nen..." akhirnya, kata itu keluar bersama isak tangis yang tumpah di dadanya.
Danendra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan pelukannya, seolah sedang berkata bahwa di pelukannya, badai apa pun akan berlalu.