Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Pagi di universitas selalu riuh, namun suasana di koridor utama fakultas bisnis mendadak berubah menjadi panggung teater saat seorang gadis berambut pirang dengan riasan yang sedikit luntur menghadang langkah Logan Enver-Valerio.
Namanya Amora. Dia adalah salah satu dari sekian banyak gadis yang pernah mengekor di belakang Logan selama beberapa minggu terakhir. Wajahnya sembab, tangannya gemetar saat ia memegang ujung jaket Logan di depan kerumunan mahasiswa yang mulai berbisik.
"Logan... aku... aku hamil," ucap Amora dengan suara yang cukup keras untuk memicu keheningan instan di koridor itu.
Teman-teman Logan—para atlet yang selalu bersamanya—terdiam seketika. Mata mereka beralih dari Amora ke Logan, menunggu reaksi dari sang "Pangeran Kampus" yang baru saja diterjang badai tuduhan paling mematikan bagi reputasi seorang mahasiswa.
Logan tidak menunjukkan tanda-tanda panik. Tidak ada keringat dingin atau raut wajah bersalah. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah smirk—senyum miring yang menghina dan tajam. Dia melepaskan tangan Amora dari jaketnya dengan gerakan yang sangat pelan, seolah tangan gadis itu adalah kotoran yang mengganggu.
"Hamil?" Logan mengulang kata itu dengan nada geli, seolah Amora baru saja menceritakan lelucon paling konyol tahun ini. "Wow. Aku baru tahu, ternyata berciuman bisa membuatmu hamil secepat itu, Amora."
Amora tersentak, wajahnya memucat. "Apa maksudmu? Kau harus tanggung jawab, Logan!"
Logan menoleh ke arah teman-temannya, lalu merentangkan tangannya lebar-lebar. "Hei, kalian dengar itu? Sepertinya aku melewatkan pelajaran biologi dasar. Apa berciuman di selama lima menit sekarang bisa membuat sel telur seseorang terbuahi secara otomatis?"
Tawa pecah dari kerumunan teman-teman Logan. Mereka tahu persis siapa Logan. Meskipun dia terkenal sebagai playboy yang bisa mendapatkan wanita mana pun dengan jentikan jari, ada satu rahasia umum di lingkaran dalamnya: Logan adalah pria yang sangat pemilih soal sentuhan fisik yang lebih jauh. Dia menikmati permainan rayuan, dia ahli dalam berciuman hingga membuat wanita lemas, namun dia tidak pernah membiarkan siapa pun masuk lebih dalam ke dalam hidupnya—maupun tempat tidurnya.
"Menjijikkan," desis Logan, menatap Amora dengan tatapan dingin yang menusuk. "Cari pria lain yang benar-benar menyentuhmu, Amora. Jangan gunakan namaku hanya karena kau butuh ayah untuk anak yang bukan milikku. Aku tidak sebodoh itu."
Logan melangkah pergi, mengabaikan tangisan histeris Amora yang kini terdengar palsu di telinganya. Baginya, drama wanita seperti Amora hanyalah gangguan kecil. Namun, di balik sikap apatisnya, ada alasan kenapa Logan membangun benteng setinggi itu di sekeliling dirinya.
Logan berjalan menuju kafetaria yang lebih sepi, menjauh dari kerumunan. Pikirannya melayang pada kenangan dua tahun lalu, saat dia masih mengenakan seragam high school.
Dulu, Logan tidak sedingin ini. Dia adalah pemuda yang percaya pada konsep kesetiaan. Hanya ada satu wanita yang pernah benar-benar ia izinkan menyentuh sisi rentannya. Namanya Elena. Mereka adalah pasangan sempurna, atau setidaknya begitulah pikir Logan. Hingga hari kelulusan tiba, dan rencana kuliah mereka berbeda kota.
Elena memutuskan hubungan dengan alasan klasik: dia tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh atau LDR. Namun, kenyataannya jauh lebih pahit. Logan yang saat itu ingin memberikan kejutan terakhir sebelum Elena pindah, mendatangi apartemen pria yang selama ini disebut Elena sebagai "sepupu jauh".
Pemandangan di balik pintu apartemen itu—perselingkuhan yang nyata, desahan yang memuakkan, dan pengkhianatan yang terpampang jelas di depan matanya—telah membunuh sisi romantis dalam diri Logan.
Sejak hari itu, Logan memutuskan untuk tidak pernah lagi percaya pada komitmen. Baginya, hubungan hanyalah transaksi rasa bosan. Jika dia bisa dikhianati saat dia memberikan segalanya, maka dia tidak akan pernah memberikan apa pun lagi.
Kecuali mungkin, rasa penasaran yang kini mulai tumbuh untuk wanita bernama Vivian Wheeler.
Logan duduk di salah satu kursi kayu, mengeluarkan ponselnya. Dia mengabaikan ratusan notifikasi pesan dari gadis-gadis kampus dan langsung membuka ruang obrolan dengan kontak yang ia beri nama: "Kakak Galak".
Menarik perhatian Vivian telah menjadi hobi barunya. Ada sesuatu pada diri Vivian yang sangat berbeda dari gadis-gadis seusianya. Vivian memiliki otoritas, ketenangan, dan aroma "wanita dewasa" yang membuat Logan merasa tertantang. Selama ini dia selalu berhadapan dengan remaja yang mudah menangis seperti Amora atau Moana. Kini, bertemu dengan wanita berusia 27 tahun yang berani menyebut kencingnya belum lurus adalah sebuah anugerah.
Logan mulai mengetik dengan seringai nakal di wajahnya.
Logan: “Kau tahu, Kak? Baru saja ada gadis yang mengaku hamil karena ciumanku. Aku jadi berpikir... jika ciumanku saja bisa membuat orang berhalusinasi sehebat itu, bayangkan apa yang bisa kulakukan padamu malam ini.”
Dia menunggu beberapa saat. Dia tahu Vivian sedang bekerja, mungkin sedang memelototi sketsa desain atau memarahi karyawannya.
Tak lama, ponselnya bergetar.
Vivian: “Jangan kirim pesan sampah padaku, Bocah. Aku sedang rapat.”
Logan: “Rapat tentang bagaimana cara menghindariku? Sia-sia saja. Aku sudah memesan restoran. Pukul delapan. Jika kau tidak muncul, aku akan datang ke rumahmu dan berteriak di depan gerbang bahwa aku adalah ayah dari anak yang kau idamkan.”
Vivian: “Kau gila! Aku tidak pernah mengidamkan anak dari bocah sepertimu!”
Logan: “Kalau begitu buktikan padaku malam ini bahwa kau tidak tertarik. Sampai jumpa, Kak.”
Logan memasukkan ponselnya kembali ke saku dengan perasaan puas. Dia belum pernah berkencan dengan wanita yang lebih tua, tapi dia pikir, kenapa tidak? Jika dunia menganggapnya sebagai playboy tanpa hati, maka dia akan menggunakan hati yang sudah patah itu untuk memenangkan permainan dengan Vivian Wheeler.
Dia ingin tahu, apakah di balik sikap kaku yang ditunjukkan Vivian, ada gairah yang bisa menandingi api yang ia miliki. Logan tahu dia punya keahlian. Dan dia berniat menggunakannya untuk membuat Vivian lupa pada semua pria dewasa membosankan yang pernah ia temui—termasuk George.
"Dua puluh tujuh tahun, ya?" gumam Logan sambil menatap langit-langit kampus. "Mari kita lihat apakah pengalamanmu memang benar-benar setua umurmu, atau kau hanya seorang amatir yang bersembunyi di balik setelan mahal."
Logan bangkit, langkahnya kini terasa lebih ringan. Baginya, Vivian bukan sekadar "sasaran" baru. Vivian adalah pengalihan terbaik dari rasa muak yang ia rasakan pada dunia yang penuh dengan kebohongan seperti yang ditunjukkan Amora pagi ini.
Di mata Logan, setidaknya kemarahan Vivian itu nyata, bukan drama kehamilan palsu demi mendapatkan perhatian. Dan kenyataan, bagi Logan, adalah hal paling mewah yang bisa ia temukan saat ini.
gimana bisa ada gunung Argopuro ya