Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Hanya Mimpi dan Tak Akan Pernah Terjadi
Tidak ada yang benar-benar dimulai.
Dan tidak ada yang benar-benar berakhir.
Bima hanya bermimpi sesuatu yang tidak akan terjadi atau itu adalah sebuah pertanda.
Yang ada hanyalah sesuatu yang terus terjadi—berulang, melipat, menelan dirinya sendiri seperti usus yang dipaksa keluar dari tubuh dan dijadikan lingkaran tak berujung.
Bima terbangun.
Atau setidaknya, ia merasa seperti hidup kembali.
Tubuhnya utuh. Napasnya normal.
Udara yang masuk ke paru-parunya tidak lagi terasa seperti ribuan jarum yang mencabik alveolusnya.
Tidak ada bau belerang.
Tidak ada rasa darah.
Angin malam tidak lagi terasa seperti angin.
Ia seperti napas.
Panjang.
Dingin.
Dan… hidup.
Teriak kinasih
“BIM!!!”
Bayangan Kinasih ditarik semakin panjang di tanah, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeramnya dari bawah.
Tanah retak pelan, bukan karena keras… tapi karena sesuatu di bawahnya bergerak.
Bima mencoba menarik tubuh Kinasih.
Namun anehnya—
Yang terasa berat bukan tubuhnya.
Tapi… bayangannya.
“Pegang aku, Nasih! Pegang aku!” teriak Bima panik.
Kinasih meraih tangan Bima dengan gemetar.
Tapi saat jari mereka hampir bertemu—
Sosok perempuan itu sudah berdiri di antara mereka.
Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Wajahnya kini jelas.
Dan benar…
Itu wajah Kinasih.
Namun lebih pucat.
Lebih kosong.
Dan matanya… tidak memiliki cahaya kehidupan.
“Sudah kubilang…” bisiknya lirih, “harus ada yang menggantikan…”
Bima mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya… dia merasa benar-benar tidak berdaya.
“Kamu siapa?! Kenapa ganggu kita?!”
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya menatap Kinasih.
Seolah Bima… tidak ada.
“Kamu sudah memilih…” katanya pelan.
“A-aku belum—”
“Kamu sudah menyentuh milikku.”
Koin itu kini ada di tangan perempuan tersebut.
Padahal—
Tidak ada yang melihat kapan ia mengambilnya.
“Koin itu… bukan untuk yang hidup.”
Tanah di bawah Kinasih mulai berubah.
Tidak lagi keras.
Melainkan seperti… kain.
Kain panjang.
Putih.
Kusam.
Dan… berbau tanah basah.
Bima menatap ngeri.
“Itu… kain kafan…”
Namun kain itu tidak membungkus.
Ia justru membuka.
Seperti sesuatu yang siap menerima tubuh.
“Keranda…” bisik Kinasih, matanya membesar.
Perempuan itu tersenyum.
“Pengantin… harus punya tempat pulang…”
Tiba-tiba—
Suara banyak orang terdengar.
Pelan.
Seperti dari kejauhan.
Namun semakin lama… semakin jelas.
Tangisan.
Doa.
Dan langkah kaki banyak orang.
Bima menoleh ke sekeliling.
Jalan sepi itu… berubah.
Lampu-lampu hilang.
Digantikan cahaya redup dari obor.
Dan di kiri kanan—
Orang-orang berdiri.
Diam.
Menatap.
Wajah mereka tidak terlihat jelas.
Seperti tertutup kabut.
Namun satu hal yang pasti—
Mereka semua… tidak memiliki mata.
“Kita… di mana…” suara Bima bergetar.
Kinasih tidak menjawab.
Matanya terpaku ke depan.
Ke arah keranda putih yang kini muncul perlahan dari tanah.
Kayu tua.
Retak.
Dan di atasnya—
Ada bunga.
Bunga melati.
Namun warnanya bukan putih.
Melainkan kekuningan.
Seperti sudah lama mati.
“Naiklah…” kata perempuan itu.
“Tidak…” Kinasih mundur.
“Kalau tidak…” suara itu berubah lebih berat, “…aku akan mengambilnya.”
“Mengambil apa?”
Perempuan itu menunduk.
Menatap bayangan Kinasih yang masih tertarik.
“Yang sudah jadi milikku…”
Bayangan itu mulai berdiri sendiri.
Perlahan.
Terlepas dari tubuh Kinasih.
Seperti kertas yang disobek dari permukaan.
“BIM! TOLONG!”
Bima langsung menarik Kinasih sekuat tenaga.
Namun tubuh Kinasih kini ringan.
Terlalu ringan.
Seperti… kosong.
“Nasih… kamu kenapa…”
Kinasih menatap tangannya sendiri.
Kulitnya memucat.
Dingin.
Dan… samar.
Seperti mulai menghilang.
“Aku… dingin…”
Perempuan itu tertawa.
Suara tawanya tidak lagi pelan.
Kini menggema.
Dari segala arah.
Dari bawah tanah.
Dari udara.
Dari dalam kepala.
“Dia sudah setengah jalan…”
Tiba-tiba—
Koin itu jatuh.
Ting!
Semua suara berhenti.
Semua orang… diam.
Perempuan itu menoleh ke arah koin.
Untuk pertama kalinya—
Ekspresinya berubah.
Marah.
“Kembalikan!”
Bima melihat kesempatan itu.
Tanpa pikir panjang, ia menyambar koin tersebut.
Begitu menyentuhnya—
Dingin menyengat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Seperti listrik.
Seperti… sesuatu yang masuk.
“AARGH!”
Bima terjatuh.
Koin itu menempel di tangannya.
Tidak bisa dilepas.
Dan di kepalanya—
Suara itu masuk.
“Sekarang… kamu…”
Bima menjerit.
Matanya berubah.
Gelap.
Kinasih menatap ngeri.
“Bima…?”
Perempuan itu tersenyum lagi.
“Kini… lebih mudah…”
Tubuh Bima berdiri perlahan.
Namun bukan dia yang menggerakkan.
Kepalanya menunduk.
Lalu… terangkat.
Dengan gerakan yang tidak alami.
“Kinasih…” katanya.
Namun suaranya…
Bukan miliknya.
“Ambil… tempatmu…”
Bima melangkah mendekat.
Setiap langkahnya… kaku.
Seperti boneka.
Kinasih mundur.
“Bim… sadar, Bim… ini aku…”
Namun Bima terus mendekat.
Matanya kosong.
Tangannya terangkat.
Dan dari ujung jarinya—
Keluar sesuatu.
Seperti benang hitam.
Tipis.
Hidup.
Benang itu melesat ke arah Kinasih.
Mengikat pergelangan tangannya.
Lalu menarik.
“AAAH!”
Tubuh Kinasih terseret ke arah keranda.
Perempuan itu berdiri di sampingnya.
Menunggu.
“Pengantin… tidak boleh terlambat…”
Keranda itu kini terbuka.
Dan di dalamnya—
Ada tubuh.
Tubuh perempuan.
Dengan gaun putih.
Wajahnya tertutup kain.
Namun dari bentuknya…
Itu jelas—
Kinasih.
“Tidak… tidak… ini bukan aku…”
Namun kain di wajah itu perlahan terbuka.
Dan benar.
Itu dirinya.
Namun dengan mata terbuka.
Kosong.
Dan tersenyum.
“Masuk…” bisik perempuan itu.
“Tidak!!!”
Kinasih berusaha melawan.
Namun benang hitam semakin kuat.
Bima mendekat.
Tangannya mendorong bahu Kinasih.
“Masuk…”
Saat tubuh Kinasih hampir menyentuh keranda—
Tiba-tiba—
Suara azan terdengar.
Jauh.
Samar.
Namun nyata.
Semua berhenti.
Benang itu melemah.
Bima terhenti.
Perempuan itu menoleh ke arah suara.
Wajahnya berubah.
Kesal.
Marah.
“Belum waktunya…”
Kesempatan itu tidak disia-siakan.
Kinasih menarik tangannya.
Melepaskan diri.
“BIM! LAWAN!”
Bima terjatuh.
Koin itu terlepas dari
tangannya.
Sekali lagi—
Ting!
Dunia kembali berubah.
Jalan sepi.
Lampu jalan.
Tidak ada keranda.
Tidak ada orang.
Tidak ada perempuan itu.
Hanya mereka berdua.
Terengah.
Pucat.
Dan… masih hidup.
Namun—
Koin itu masih ada.
Di tanah.
Bergetar pelan.
Seperti… bernapas.
“Ini belum selesai…” bisik Kinasih.
Bima mengangguk pelan.
“Dia… mau kamu jadi pengganti…”
Kinasih menatap koin itu.
Lama.
Dalam.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia mengerti.
Ini bukan sekadar gangguan.
Ini… perjanjian.
“Bim…” katanya pelan.
“Kalau aku…”
“Jangan ngomong aneh-aneh.”
“…kalau aku nanti kenapa-kenapa…”
“NASIH!”
Kinasih tersenyum lemah.
“…jangan cari aku.”
Angin malam kembali berhembus.
Namun kali ini—
Lebih dingin.
Lebih dalam.
Dan dari kejauhan—
Suara itu kembali terdengar.
Pelan.
Namun jelas.
“Pengantin…”
Bab ini belum berakhir.
Karena saat mereka pulang malam itu—
Jam kembali berhenti.
05.17.
Dan di cermin kamar Kinasih—
Ia tidak sendirian lagi.
Ada seseorang di belakangnya.
Memakai gaun putih.
Dan tersenyum.
Menunggu hari pernikahannya.