NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Mobil SUV mewah milik Dokter Kim berhenti di depan sebuah restoran organik yang tenang dengan pemandangan taman kota Seoul yang mulai memutih karena salju tipis.

Suasana di dalam restoran sangat privat, dengan aroma teh melati dan kayu manis yang menenangkan.

Dokter Kim membantu Liana berpindah ke kursi kayu yang empuk, memastikan bantal penyangga punggungnya terpasang sempurna untuk kenyamanan kehamilannya.

Setelah memesan menu sehat kaya nutrisi, Dokter Kim menatap Liana dengan binar mata yang berbeda dari saat di rumah sakit.

"Sebenarnya," mulai Dokter Kim sambil menyesap teh hijaunya, "aku sudah menonton filmmu, Liana."

Liana tersentak kecil, matanya membelalak tidak percaya.

"Benarkah? Tapi kan baru tayang terbatas di Jakarta, sebelum kecelakaan itu."

Dokter Kim menganggukkan kepalanya dengan mantap.

Senyumnya kali ini terasa lebih pribadi, bukan sekadar senyum profesional seorang dokter kepada pasiennya.

"Aku punya kolega di Jakarta yang mengirimkan cuplikannya padaku saat aku diminta mempelajari kasusmu. Dan jujur saja, aku tidak bisa berhenti menontonnya. Bukan karena aspek medisnya, tapi karena caramu membawakan karakter itu," ucap Dokter Kim pelan, suaranya terdengar sangat tulus.

Liana merasa pipinya sedikit memanas. "Itu hanya akting, Dok. Dan sekarang, penari di film itu bahkan tidak bisa berdiri sendiri."

"Justru itu," potong Dokter Kim lembut, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang tenang.

"Di film itu, aku melihat api di matamu. Seorang wanita yang tidak akan menyerah pada keadaan. Dan saat aku melihatmu pertama kali di Incheon, api itu masih ada. Itulah yang membuatku yakin aku bisa membantumu berjalan lagi."

Dokter Kim mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Liana dengan intensitas yang membuat jantung Liana berdegup sedikit lebih kencang.

"Secara medis, aku tertarik pada kasus sarafmu. Tapi secara pribadi, aku tertarik pada kekuatan yang kamu miliki, Liana. Jarang sekali aku bertemu pasien yang masih bisa tertawa di tengah badai sebesar ini."

Liana terdiam, ia menyesap air putihnya untuk menutupi kegugupannya.

"Dokter terlalu banyak memuji. Aku hanya mencoba bertahan demi bayi ini."

"Dan itulah yang membuatmu semakin istimewa," balas Dokter Kim dengan suara bariton yang hangat.

Sementara itu, di sebuah sudut lain di Seoul, tepatnya di kantin rumah sakit yang sudah mulai sepi, Adrian dan Erwin baru saja menyelesaikan kopi ketiga mereka.

"Sudah hampir satu jam lebih terapinya selesai. Harusnya Liana sudah kembali ke kamar," ucap Adrian sambil melirik jam tangannya dengan perasaan tidak enak.

"Mungkin dia sedang istirahat di ruang observasi?" Erwin mencoba berpikiran positif, meski matanya juga mulai gelisah.

Keduanya bangkit dan melangkah terburu-buru menuju kamar VVIP. Namun, begitu pintu dibuka, mereka hanya menemukan Mama Liana yang sedang duduk tenang membaca majalah.

"Ma, Liana mana?" tanya Adrian cepat.

Mama mendongak, lalu tersenyum penuh arti yang membuat jantung Adrian dan Erwin seolah berhenti berdetak.

"Oh, Liana? Tadi diajak Dokter Kim makan siang keluar. Katanya untuk merayakan perkembangan saraf kakinya yang bagus hari ini."

"APA?!" teriak Adrian dan Erwin serentak, membuat Mama Liana kembali menggelengkan kepala melihat kepanikan dua pria itu.

Sementara itu di tempat lain dimana Restoran itu terasa sangat privat, hanya ada alunan musik klasik yang lembut dan suara denting alat makan yang halus.

Dokter Kim meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatap Liana dengan tatapan yang sangat tenang namun menyelidik.

Ia seolah bisa membaca ketegangan yang tersembunyi di balik senyum Liana.

"Liana," panggil Dokter Kim lembut.

"Boleh saya bertanya hal yang sedikitdi luar urusan medis?"

Liana menghentikan suapannya, menatap dokter tampan itu dengan rasa ingin tahu.

"Tentu, Dok. Apa itu?"

Dokter Kim menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah pintu restoran seolah memastikan tidak ada gangguan.

"Dua pria yang bersamamu Adrian dan Erwin. Mereka tampak sangat protektif, bahkan cenderung agresif satu sama lain. Sebenarnya, bagaimana hubunganmu dengan mereka?"

Liana menghela napas panjang, ia memutar gelas air putih di depannya.

"Erwin adalah sahabat kecilku. Dia orang yang selalu ada di setiap jatuh bangun hidupku, bahkan saat dunia membelakangiku. Sedangkan Adrian..." Liana menjeda kalimatnya, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata.

"Adrian adalah lelaki yang memiliki bayi ini. Dia produser filmku, dan juga pria yang terlibat sangat jauh dalam hidupku belakangan ini."

Dokter Kim mengangguk perlahan, ia tampak mencerna jawaban itu. Namun, pertanyaan berikutnya meluncur dengan lebih berani, membuat suasana di meja itu mendadak terasa lebih berat.

"Lalu, apakah kamu mencintainya?" tanya Dokter Kim langsung, matanya tak lepas dari netra Liana.

"Maksud saya Adrian. Apakah kamu bertahan karena bayi ini, atau karena ada perasaan yang nyata?"

Liana terdiam. Ia menatap keluar jendela, melihat salju yang mulai turun lebih lebat di jalanan Seoul.

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu ia hindari, bahkan di dalam pikirannya sendiri.

"Entahlah, Dok," jawab Liana lirih, suaranya hampir tertelan suara musik.

"Hubungan kami dimulai dengan cara yang rumit. Ada kontrak, ada ambisi, dan sekarang ada tanggung jawab besar. Terkadang aku merasa dia adalah pelindungku, tapi terkadang aku merasa dia adalah sumber dari segala kekacauan ini. Aku belum punya jawaban pasti untuk perasaan itu."

Dokter Kim tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan—antara simpati dan sesuatu yang lebih personal.

"Kejujuranmu sangat dihargai, Liana. Dalam proses pemulihan saraf, ketenangan hati sangatlah penting. Kebingungan hanya akan menambah beban pikiranmu."

Ia lalu mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Liana dengan sangat lembut di atas meja.

"Jika suatu saat kamu butuh tempat untuk sekadar bicara tanpa tekanan kontrak atau masa lalu, aku ada di sini. Bukan hanya sebagai doktermu, tapi sebagai seseorang yang mengagumi kekuatanmu."

Liana merasa jantungnya berdesir. Perlakuan Dokter Kim sangat berbeda dengan Adrian yang meledak-ledak atau Erwin yang posesif. Dokter ini menawarkan ketenangan yang selama ini ia rindukan.

Namun, momen itu pecah saat ponsel Liana di atas meja bergetar hebat. Nama "Adrian" muncul di layar, diikuti dengan rentetan pesan singkat dari "Erwin" yang menanyakan keberadaannya dengan nada panik.

Liana melihat ke arah ponselnya, lalu kembali menatap Dokter Kim yang masih tersenyum tenang.

"Sepertinya 'satpam' pribadiku sudah mulai melakukan patroli, Dok," ucap Liana dengan tawa kecil yang getir.

Liana menarik napas panjang sebelum menggeser ikon hijau di layar ponselnya.

Suara Adrian langsung menyambar, terdengar panik bercampur geram yang bisa dirasakan bahkan tanpa fitur loudspeaker.

"Liana! Kamu di mana? Mama bilang kamu pergi dengan dokter itu? Kenapa tidak bilang? Aku hampir menelepon polisi Incheon!"

Liana menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga, lalu menjawab dengan suara setenang mungkin.

"Adrian, tenanglah. Aku sedang makan siang dengan Dokter Kim untuk merayakan perkembangan sarafku tadi pagi. Tolong jangan khawatir, aku aman. Aku akan segera kembali setelah ini. Beritahu Erwin juga, ya?"

Tanpa menunggu balasan protes lebih lanjut, Liana menutup teleponnya.

Ia menatap Dokter Kim yang sejak tadi memperhatikan dengan senyum maklum.

"Mereka pasti sedang dalam perjalanan ke sini jika aku tidak segera memberikan kabar," gumam Liana sambil menyandarkan punggungnya.

"Kalau begitu, sebelum mereka benar-benar mengepung restoran ini, bagaimana kalau kita mencari udara segar sebentar?" ajak Dokter Kim.

"Taman di depan sangat cantik saat salju mulai turun tipis seperti ini. Oksigen tambahan akan bagus untuk sirkulasi darahmu."

Dokter Kim bangkit, lalu dengan gerakan yang sangat luwes, ia kembali membopong Liana ke kursi roda.

Ia menyelimuti kaki Liana dengan blanket wol yang hangat, memastikan tidak ada celah udara dingin yang masuk.

Mereka keluar menuju taman rumah sakit yang tertata rapi.

Salju yang turun tipis menghiasi dahan-dahan pohon yang meranggas, menciptakan pemandangan yang sangat puitis.

Dokter Kim mendorong kursi roda Liana dengan perlahan, membiarkan Liana menikmati ketenangan yang jarang ia dapatkan di Jakarta.

"Lihat itu," Dokter Kim menunjuk ke arah kolam kecil yang permukaannya mulai membeku.

"Alam pun butuh waktu untuk diam sebelum ia kembali bersemi. Sama seperti kakimu, Liana. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."

Liana menengadahkan wajahnya, membiarkan butiran salju dingin menyentuh pipinya yang hangat.

"Di Jakarta, semuanya bergerak sangat cepat, Dok. Karier, ambisi Adrian, proteksi Erwin, aku merasa seperti sedang berlari marathon tanpa kaki."

Dokter Kim berhenti mendorong kursi roda, lalu berjalan memutar hingga ia berdiri tepat di depan Liana.

Ia berjongkok, menyamakan tingginya dengan posisi duduk Liana, lalu menatap matanya dalam-dalam.

"Di sini, di Seoul, waktu adalah milikmu. Bukan milik Adrian, bukan milik Erwin," ucap Dokter Kim pelan.

"Fokuslah pada dirimu dan bayi itu. Aku akan menjagamu dari gangguan luar, jika itu yang kamu butuhkan."

Liana merasa ada kehangatan yang menjalar di hatinya, sesuatu yang berbeda dari rasa bersalah yang sering ia rasakan saat bersama Adrian atau rasa ketergantungan pada Erwin. Namun, ketenangan itu terusik saat di kejauhan, ia melihat sebuah taksi berhenti dengan rem mendadak di depan gerbang taman.

Dua sosok pria dengan jaket tebal keluar dari taksi itu dengan langkah seribu, mata mereka liar mencari-mencari ke seluruh penjuru taman.

"Sepertinya waktu tenang kita sudah habis, Dok," bisik Liana sambil menahan tawa saat melihat Adrian dan Erwin berlari ke arah mereka seperti sedang mengejar buronan internasional

1
Dewi Anjani
kirain cuman di baperin aja,,ternyata malah sampe sejauh itu
Dewi Anjani
kasian liana malah di buat baper sama adrian,,,
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!