NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Perpustakaan Terlarang

Episode 8

Setelah kelas Instruktur Raka yang menguras energi mental itu berakhir, sebagian besar siswa memilih untuk langsung kembali ke asrama untuk beristirahat atau pergi ke kantin guna mengisi perut. Namun tidak dengan Reno. Ia tahu bahwa perhatian yang ia dapatkan hari ini adalah pedang bermata dua. Ia butuh tameng, dan tameng terbaik di dunia ini bukanlah baja, melainkan informasi.

"Reno, kau benar-benar ingin ke perpustakaan sekarang?" tanya Dito sambil menyeka keringat di dahinya. Kelinci putih di pelukannya sudah tertidur pulas karena kelelahan mental. "Aku merasa otakku mau pecah setelah tes tadi. Apa kau tidak lelah?"

Reno menatap gedung perpustakaan yang menjulang tinggi di sisi utara akademi. Gedung itu memiliki arsitektur kuno dengan pilar-pilar batu yang ditumbuhi tanaman merambat. "Istirahat itu penting, Dito. Tapi memastikan kita tidak dikeluarkan dari sini jauh lebih penting. Pergilah istirahat dulu, aku hanya ingin mencari beberapa referensi."

"Baiklah kalau begitu. Jangan sampai melewatkan jam makan malam, ya! Kudengar menu malam ini adalah sup ayam rempah," ucap Dito sebelum melambai dan berjalan menuju asrama.

Reno menghela napas panjang dan melangkah masuk ke dalam gedung perpustakaan. Begitu pintu kayu jati yang berat itu terbuka, aroma kertas tua, debu, dan kayu gaharu langsung menyergap indranya. Suasana di dalam sini sangat sunyi, hanya terdengar langkah kaki Reno yang menggema di lantai marmer.

"Tempat ini bau bangkai kertas," Nidhogg berkomentar pedas dari balik kerah baju Reno. "Untuk apa kita ke sini? Jika kau ingin tahu cara menjadi kuat, tanya saja padaku. Buku-buku ini hanya berisi sampah yang ditulis oleh manusia yang berumur pendek."

"Diamlah, Naga Sombong. Aku ke sini bukan untuk belajar cara bertarung," bisik Reno pelan sambil berjalan menyusuri rak-rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. "Aku harus mencari jenis binatang yang mirip denganmu. Aku perlu memberi 'nama' pada jenis spesies mu agar para guru tidak curiga kalau kau adalah makhluk pemusnah kuno."

"Kau ingin memberiku nama palsu? Benar-benar penghinaan!"

"Ini namanya strategi pemasaran, Nidhogg. Di dunia lamaku, produk yang buruk bisa terlihat hebat jika dikemas dengan benar. Apalagi kau yang sebenarnya hebat tapi terlihat seperti umpan pancing," balas Reno sinis.

Reno berjalan menuju bagian "Ensiklopedia Binatang Melata dan Serangga". Ia mulai mengambil satu per satu buku tebal dan membacanya dengan teliti. Ia mencari spesies cacing yang memiliki kemampuan pengerasan tubuh atau manipulasi energi.

Satu jam berlalu. Reno sudah membaca lima buku berbeda.

Cacing Tanah Raksasa? Terlalu besar.

Cacing Kristal Gua? Terlalu transparan.

Cacing Karang Besi? Hampir mirip, tapi mereka hanya hidup di air asin.

Sampai akhirnya, matanya tertuju pada sebuah buku kecil bersampul kulit hitam yang terselip di sudut rak yang berdebu. Judulnya sudah memudar, namun ia masih bisa membacanya: "Mutasi Langka: Spesies yang Terabaikan".

Reno membuka halaman tengah dan menemukan sebuah ilustrasi tentang cacing kecil berwarna gelap.

"Ini dia..." gumam Reno.

Di dalam buku itu disebutkan tentang sebuah spesies bernama Cacing Intan Hitam. Spesies ini sangat langka dan sering dianggap lemah karena ukurannya yang kecil. Namun, mereka memiliki kemampuan unik untuk mengompres energi mental mereka menjadi kepadatan fisik yang luar biasa, membuat tubuh mereka sekeras intan saat terancam.

"Nidhogg, lihat ini. Mulai sekarang, jika ada yang bertanya, kau adalah Cacing Intan Hitam yang mengalami mutasi warna menjadi merah. Paham?"

"Cacing Intan? Kedengarannya lumayan daripada hanya disebut cacing tanah," Nidhogg bergumam, tampaknya setuju dengan branding baru ini.

Reno menutup buku itu, namun sebelum ia mengembalikannya ke rak, selembar kertas tua yang terlipat jatuh dari sela-sela halaman buku tersebut. Reno memungutnya dengan rasa ingin tahu.

Kertas itu tampak sangat tua, warnanya sudah menguning dan tepiannya sudah rapuh. Di dalamnya terdapat sebuah sketsa peta dan beberapa baris kalimat yang ditulis dengan tinta merah yang sudah mengering.

"Di bawah kaki sang Elang, di mana bayangan menyentuh akar, terdapat jalan menuju sisa-sisa Nafas Naga yang hilang."

Reno mengerutkan kening. "Nafas Naga? Nidhogg, apakah kau tahu sesuatu tentang ini?"

Tiba-tiba, suasana di sekitar Reno terasa membeku. Nidhogg yang biasanya cerewet mendadak diam seribu bahasa. Tubuh cacing itu gemetar di bahu Reno.

"Energi ini... aku merasakannya," suara Nidhogg terdengar bergetar, bukan karena takut, tapi karena kegembiraan yang luar biasa. "Reno, itu bukan sekadar tulisan. Itu adalah lokasi salah satu fragmen jiwaku yang tersegel! Seribu tahun lalu, saat aku dikalahkan, jiwaku dipecah menjadi tujuh bagian. Tubuh yang ku tempati sekarang hanyalah bagian utama yang paling lemah!"

Reno terbelalak. "Maksudmu, jika kita menemukan fragmen lain, kau akan menjadi lebih kuat tanpa harus makan ribuan kristal?"

"Benar! Jika aku mendapatkan kembali satu fragmen saja, aku bisa langsung berevolusi ke bentuk Naga Tanah tanpa harus melewati fase cacing lagi!"

Reno segera melipat kertas itu dan menyembunyikannya di dalam sakunya. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah penemuan yang luar biasa, sekaligus sangat berbahaya. "Di bawah kaki sang Elang... bayangan menyentuh akar... mungkinkah itu merujuk pada patung Elang Perunggu di gerbang utama akademi?"

"Bisa jadi. Tapi kita tidak bisa mencarinya sekarang. Penjagaan di sana terlalu ketat," Nidhogg mengingatkan.

"Aku tahu. Kita harus menunggu sampai tengah malam."

Reno memutuskan untuk meninggalkan perpustakaan. Namun, saat ia berbalik, ia hampir menabrak seseorang.

"Oh! Maafkan aku," ucap Reno spontan.

Di depannya berdiri seorang wanita tua dengan rambut putih yang disanggul rapi. Ia mengenakan jubah abu-abu polos dan memegang sebuah kemoceng. Ia tampak seperti petugas kebersihan perpustakaan, namun tatapan matanya sangat dalam dan tenang.

"Anak muda, kau mencari sesuatu yang tidak seharusnya ditemukan," ucap wanita tua itu dengan suara serak.

Reno tersentak. Apakah wanita ini melihatnya mengambil kertas tadi? "Maaf, Nek. Saya hanya sedang mencari buku tentang spesies cacing untuk tugas kelas."

Wanita tua itu menatap Reno selama beberapa detik, lalu pandangannya beralih ke bahu Reno, tepat di mana Nidhogg bersembunyi di balik kerah baju. Reno merasa seolah wanita ini bisa melihat menembus pakaiannya.

"Cacing Intan Hitam adalah spesies yang menarik. Tapi ingat, intan pun bisa pecah jika diletakkan di bawah tekanan yang salah. Berhati hatilah dengan apa yang kau bawa," ucap wanita itu sebelum berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Reno terpaku di tempatnya. Siapa wanita itu? Dia bukan orang biasa, batinnya.

"Reno, wanita itu... auranya sangat aneh. Dia memiliki bau yang mirip dengan para Pahlawan Suci yang mengeroyokku dulu. Kita harus sangat waspada terhadapnya," bisik Nidhogg dengan nada serius yang jarang ia gunakan.

Reno mengangguk pelan. Ia segera keluar dari perpustakaan dengan pikiran yang berkecamuk. Baru dua hari di akademi, ia sudah menemukan petunjuk tentang fragmen jiwa Nidhogg dan bertemu dengan orang misterius.

Ia kembali ke asrama dengan langkah cepat. Di perjalanan, ia berpapasan dengan beberapa murid senior yang sedang berlatih bertarung dengan binatang kontrak mereka di lapangan kecil asrama. Ada seekor Harimau Api yang sedang melompat menembus lingkaran api, dan seekor Beruang Tanah yang sedang menghancurkan batang pohon raksasa.

Melihat itu, Reno menyadari betapa jauh jarak antara dirinya sekarang dengan para penjinak hebat itu. Namun, ia tidak merasa minder. Ia memiliki pengetahuan dari dunia modern, pengalaman hidup yang keras, dan seekor naga kuno yang haus akan kejayaan kembali.

Sampai di kamar, Dito sudah mendengkur halus. Reno duduk di atas kasurnya, mengeluarkan kertas misterius tadi, dan mempelajarinya kembali di bawah cahaya bulan.

"Kaki sang Elang... Bayangan menyentuh akar..." Reno menatap patung Elang raksasa dari jendela kamarnya.

"Reno, kau benar-benar akan melakukan ini? Jika kita tertangkap, kau akan dikeluarkan," Nidhogg bertanya.

"Keluar dari sini bukanlah masalah besar bagiku, Nidhogg. Tapi kehilangan kesempatan untuk membuatmu kuat adalah kerugian yang tidak bisa kuterima. Aku lelah menjadi lemah. Di dunia lamaku, aku punya segalanya tapi mati karena tidak punya kendali atas hidupku sendiri. Di sini, aku akan mengambil kendali itu, apa pun resikonya."

Reno mulai mempersiapkan peralatannya. Ia mengambil sabit kecilnya, beberapa utas tali, dan bungkusan daging sapi yang tersisa untuk Nidhogg agar cacing itu punya tenaga penuh.

Tengah malam tiba. Suasana asrama sudah benar-benar senyap. Reno membuka jendelanya perlahan. Ia tidak keluar lewat pintu depan karena pasti ada penjaga asrama. Ia menggunakan tali untuk turun dari lantai dua, bergerak dengan sangat hati-hati seperti seorang pencuri profesional.

Malam itu, di bawah perlindungan kegelapan, sang penjinak cacing mulai melangkah menuju rahasia terdalam yang tersembunyi di balik kemegahan Akademi Elang Hijau.

Langkah kakinya tidak bersuara di atas rumput. Di kantong bajunya, Nidhogg mengeluarkan aura hitam tipis untuk membantu menyamarkan keberadaan Reno dari sensor sihir penjaga.

"Kita hampir sampai," bisik Reno saat ia melihat siluet patung Elang Perunggu yang menjulang tinggi di kejauhan.

Namun, tepat sebelum ia sampai di kaki patung, ia melihat sebuah bayangan lain yang sedang berdiri di sana. Seorang pria berjubah hitam dengan penutup wajah, tampak sedang menggali tanah di bawah kaki patung tersebut.

Reno segera bersembunyi di balik semak-semak besar. Sial, ada orang lain yang tahu tentang rahasia ini?

Petualangan yang ia kira akan berjalan lancar, tiba-tiba menjadi jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

1
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
Jack Strom
Ayo rebut...😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!