Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 10
Langit di Puncak Petir tidak pernah berhenti mengamuk. Suaranya bukan lagi gemuruh, melainkan ledakan demi ledakan yang seolah ingin meruntuhkan gunung ini. Aku berdiri di atas altar batu alami yang luasnya hanya lima depa. Di sekelilingku, udara terasa sangat panas dan berbau belerang. Rambutku berdiri tegak karena muatan listrik yang memenuhi atmosfer.
"Jangan cuma mematung seperti tiang jemuran, Qinar! Tangkap!"
Duar!
Satu kilatan petir menyambar tepat di depan mataku. Kecepatannya jauh melampaui burung walet mana pun yang pernah kutangkap. Tanganku bergerak refleks, mencoba menyambar sisa energi listrik yang masih berderak di udara.
Cessss!
"Aaakh!"
Aku terlempar ke belakang hingga menghantam dinding tebing. Telapak tanganku hitam legam, mengeluarkan asap tipis dan bau daging terbakar. Seluruh tubuhku gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena aliran listrik ribuan volt baru saja menghantam saraf-sarafku.
Rasanya seperti ada ribuan jarum api yang sedang menari di dalam pembuluh darahku.
"Lagi! Berdiri!" teriak Ki Kusumo. Beliau berdiri di ujung tebing, wajahnya terlihat bengis di bawah kilatan cahaya biru langit.
"Aku... aku tidak bisa, Ki," bisikku lirih. Air mata mulai mengalir di pipiku, menguap seketika karena suhu tubuhku yang panas. "Ini mustahil. Aku baru tujuh tahun. Aku bukan dewa, aku cuma manusia!"
Aku mencoba bangkit, tapi kakiku terasa seperti jeli. Rasa sakitnya terlalu hebat. Selama setahun ini aku sudah menahan air es, dihantam batu, dan dipukul batang pohon, tapi petir... petir adalah sesuatu yang tidak bisa kulawan. Ia menghancurkanku dari dalam.
"Aku menyerah, Ki. Biarkan aku turun gunung. Aku mau jadi orang biasa saja," tangisku pecah. Aku tersungkur di atas batu yang kasar, membiarkan hujan mengguyur tubuhku yang penuh luka bakar.
Bugh!
Tiba-tiba, sebuah tendangan keras menghantam perutku hingga aku terseret beberapa meter.
"Uhuk! Ki... apa yang—"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipiku sebelum aku sempat bicara. Ki Kusumo menarik kerah bajuku, mengangkat tubuh kecilku hingga kakiku menggantung di pinggir jurang. Matanya yang biasanya jenaka kini berkilat penuh amarah yang murni.
"Menyerah? Orang biasa?" Ki Kusumo mendesis tepat di depan wajahku. "Kau pikir aku memungutmu dari tumpukan sampah hanya untuk melihatmu merengek seperti bayi?! Kau pikir kau punya pilihan untuk jadi orang biasa?!"
"Tapi ini sakit, Ki! Aku hampir mati!" teriakku putus asa.
"Memang! Semua orang hebat harus mati berkali-kali sebelum benar-benar hidup!" Ki Kusumo mencengkeram bahuku lebih keras. "Dengar, Qinar! Kau tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Tidak ada ayah yang akan menjagamu, tidak ada ibu yang akan memelukmu. Satu-satunya hal yang kau miliki adalah kekuatanmu sendiri! Jika kau menyerah sekarang, kau hanyalah sampah yang menunggu waktu untuk diinjak-injak oleh orang lain!"
Beliau melempar tubuhku kembali ke tengah altar batu.
"Ingat siapa dirimu! Kau adalah Qinar! Cahaya yang harusnya membakar kegelapan, bukan lilin kecil yang padam ditiup angin!" Ki Kusumo menunjuk ke langit yang semakin hitam. "Tangkap petir itu, atau aku sendiri yang akan melemparmu ke dasar jurang ini!"
Aku terdiam di tengah guyuran hujan. Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada tendangannya. Tidak punya siapa-siapa. Benar. Aku hanya punya diriku. Aku hanya punya Qi yang mengalir di nadiku. Jika aku berhenti di sini, aku akan tetap menjadi bocah buangan yang tidak tahu apa-apa selamanya.
Amarah mulai tumbuh di dadaku. Bukan amarah kepada Ki Kusumo, tapi amarah kepada kelemahanku sendiri.
"Aku... aku bukan sampah," bisikku.
Aku berdiri perlahan. Aku menarik Qi-ku yang berantakan, memaksa mereka masuk kembali ke jalurnya. Tanda merah di pergelangan tanganku mulai berdenyut liar, seolah-olah dia juga marah karena aku sempat menyerah. Warnanya bukan lagi merah redup, tapi merah membara yang menyilaukan.
"Hiaaaaaa!"
Aku berteriak sekuat tenaga, menantang langit.
DUAARRRR!
Satu sambaran petir raksasa menghujam tepat ke arahku. Kali ini, aku tidak menghindar. Aku tidak mencoba menangkapnya dengan tangan kosong yang gemetar. Aku membuka seluruh pori-pori kulitku, membiarkan energi listrik itu masuk, dan dengan sisa kesadaranku, aku memutar Qi-ku di dalam tulang.
Bzzzzzzttttt!
Seluruh tubuhku bercahaya biru keputihan. Aku merasakan sakit yang tak terbayangkan, tapi aku tidak jatuh. Aku menggenggam energi itu, menjinakkan liarnya listrik di dalam dadaku, dan menekannya masuk ke dalam pusat Qi-ku di bawah pusar.
Dunia seolah menjadi sunyi.
Aku jatuh terduduk. Napasku berat, setiap embusan napas mengeluarkan percikan listrik kecil. Tapi, ada yang berbeda. Rasa panas di perutku tidak lagi seperti api, melainkan seperti gumpalan energi murni yang padat dan sangat kuat.
Aku melihat tanganku. Luka bakarnya menghilang, digantikan oleh kulit yang kini memiliki guratan-guratan halus berwarna perak yang samar.
"Walah... dia benar-benar melakukannya," gumam Ki Kusumo. Kali ini, aku melihat senyum bangga yang tulus di wajah tuanya.
Aku merasakan sebuah getaran hebat di dalam jiwaku. Seolah-olah sebuah pintu besar baru saja terbuka di dalam tubuhku. Energiku meluap, sepuluh kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.
"Ki... aku merasakannya," bisikku.
"Ya. Selamat, Qinar. Kau sudah menembus Level 2 Kultivasi: Tahap Pemurnian Tulang," Ki Kusumo berjalan mendekat dan membantuku berdiri. "Dan dengan itu, Ujian Kedua: Menangkap Angin dan Petir... dinyatakan Lulus."
Aku menatap langit. Awan hitam mulai menipis, menampakkan cahaya bulan yang pucat. Tubuhku terasa sangat ringan, namun di saat yang sama, terasa sekeras baja. Di usiaku yang baru saja menginjak delapan tahun dalam proses ini, aku baru saja naik satu anak tangga menuju kekuatan yang sesungguhnya.
"Istirahatlah," kata Ki Kusumo sambil memberikan sebotol kecil cairan hijau. "Besok, kita tidak akan latihan fisik lagi. Kita akan mulai mempelajari sesuatu yang lebih... berbahaya."
Aku mengangguk lemah, namun di dalam hati, aku tersenyum. Aku gagal, aku dipukul, tapi aku bangkit. Dan sekarang, aku bukan lagi Qinar yang sama seperti kemarin.