NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penglihatan Dari Balik Retakan

Episode 8

Aku masih berada di ketinggian tebing yang terbuat dari susunan tulang raksasa yang membeku. Angin di ketinggian ini berhembus lebih kencang daripada di dasar rawa tadi. Namun sekarang ada sesuatu yang berbeda. Aku bisa merasakan angin itu masuk melalui tenggorokanku yang baru serta mengisi kantong udara di dalam dadaku. Meskipun yang kuhirup bukanlah oksigen murni melainkan energi neraka yang panas serta berbau belerang namun sensasi pernapasan ini memberikan stabilitas yang luar biasa pada stamina otot ototku.

Bernapas adalah sebuah ritme. Sebagai pendaki aku tahu bahwa oksigen adalah bahan bakar bagi otot. Sekarang setelah aku memiliki paru paru semu ini aku merasa seolah olah setiap serat daging di tubuhku mendapatkan pasokan energi yang jauh lebih bersih. Aku tidak lagi merasa cepat lelah saat menarik beban tubuhku di dinding vertikal ini.

Aku menengadah ke atas melihat lubang lubang gua yang bertebaran di sepanjang dinding tebing. Suara siulan angin yang masuk ke dalam lubang tulang menciptakan suara yang terdengar seperti tangisan manusia yang tersiksa. Itulah alasan kenapa tempat ini disebut Tebing Ratapan. Aku harus tetap fokus karena di atas sana masih banyak pemangsa udara yang mengintai keberadaanku.

"Tuan Goma suaramu tadi benar benar membuatku terkejut. Aku tidak menyangka esensi dari kelelawar itu bisa langsung membentuk pita suara yang sesempurna itu. Sekarang kau benar benar terdengar seperti penguasa sejati."

Kharis terbang mendekat kemudian hinggap di sebuah tonjolan tulang tepat di samping tangan kananku. Mata ungunya menatap ke arah wajahku yang masih berupa tengkorak putih dengan api biru yang menyala di lubang matanya.

"Ini baru awal Kharis. Suara saja tidak cukup. Aku butuh penglihatan yang lebih tajam. Saat ini aku hanya bisa melihat melalui sensor jiwa yang terbatas pada energi panas. Aku butuh mata yang sesungguhnya agar aku bisa melihat warna serta detail dunia ini dengan lebih jelas."

Kharis mengangguk angguk pelan. "Jika kau menginginkan mata maka kau harus mencari mahluk bernama Echo Stalker. Mereka adalah predator yang sangat unik di tebing ini. Mereka tidak hanya melihat dengan cahaya namun mereka juga melihat dengan getaran suara yang memantul di dinding batu. Mata mereka sangat besar serta memiliki kristal lensa yang sangat murni."

Aku mulai merangkak naik kembali. Aku menggunakan ujung jari jari tanganku yang sudah memiliki kuku tajam untuk mencengkeram celah terkecil pada permukaan tulang. Teknik edging atau memijak ujung batu sangat mudah kulakukan sekarang karena kekuatan kaki bawahku yang sudah sempurna.

[ SISTEM: PENYALURAN ENERGI KE BAGIAN KEPALA DIMULAI ]

[ SISTEM: STATUS EVOLUSI: 25 % MENUJU TAHAP PENYEMPURNAAN WAJAH ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI GETARAN FREKUENSI TINGGI DARI ARAH GUA DI ATAS ]

Aku segera menghentikan gerakanku. Aku menempelkan dadaku yang berotot ke arah dinding tebing agar tidak terlihat dari arah atas. Tiba tiba dari dalam salah satu gua muncul suara yang sangat mengejutkan.

"Goma... Goma... Tolong aku..."

Suara itu terdengar sangat lembut serta sangat familiar di telingaku. Itu adalah suara Ibu Widya. Jantung semu ku berdetak sangat kencang mendengar suara itu. Bagaimana mungkin Ibu Widya ada di tempat terkutuk ini.

Ibu Widya. Apakah itu benar benar kau. Tidak tidak mungkin. Ini pasti jebakan.

"Jangan dengarkan itu Goma. Itu adalah teknik tipuan dari Echo Stalker. Mereka bisa meniru suara yang paling kau rindukan dari ingatan jiwamu untuk memancing mu masuk ke dalam sarang mereka," teriak Kharis dengan nada yang sangat serius.

Aku menggertakkan gigi tengkorak ku. Kemarahan mulai membara di dalam dadaku. Berani beraninya mahluk menjijikkan itu menggunakan suara orang yang paling kucintai untuk menjebak ku. Ini adalah penghinaan yang tidak bisa ku maafkan.

"Aku akan membunuhnya Kharis. Aku akan merobek mata mahluk itu karena telah berani mempermainkan ingatanku."

Aku memanjat dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Aku tidak lagi peduli pada kebisingan yang kutimbulkan. Aku melompat dari satu tonjolan ke tonjolan lainnya menggunakan teknik dyno yang sangat ekstrem. Dalam waktu singkat aku sudah berada di depan mulut gua tempat suara itu berasal.

Di dalam kegelapan gua aku melihat sepasang bola mata raksasa yang bercahaya kuning keemasan. Mahluk itu memiliki tubuh yang ramping dengan bulu halus berwarna hitam yang menutupi seluruh kulitnya. Ia tidak memiliki mulut yang terlihat jelas namun ia memiliki selaput di lehernya yang terus bergetar menghasilkan berbagai macam suara.

"Goma... kenapa kau marah... kemarilah..."

Mahluk itu kembali menirukan suara Ibu Widya namun kali ini aku sudah tidak terpengaruh lagi. Aku melepaskan teriakan yang sangat keras dari pita suara baruku.

"Diam kau monster sampah!"

Suara teriakanku yang mengandung energi jiwa menghantam dinding gua menciptakan gema yang sangat kuat. Mahluk Echo Stalker itu terkejut serta sedikit pusing karena jeritanku sendiri mengacaukan indera pendengarannya yang sangat sensitif.

Aku melesat masuk ke dalam gua tersebut. Aku menggunakan tangan kananku untuk mencengkeram leher mahluk itu sebelum ia sempat melarikan diri ke langit plafon gua. Mahluk itu mencoba mencakar dadaku menggunakan kuku kakinya yang panjang namun kulit abu abuku yang tebal mampu menahan serangan tersebut meskipun meninggalkan bekas goresan yang cukup dalam.

"Berikan matamu padaku!"

Aku menusukkan jari jari tangan kiriku yang masih berupa tulang murni ke arah kepala mahluk itu. Aku mengincar bagian di belakang bola matanya yang besar. Mahluk itu meronta ronta dengan sangat hebat mengeluarkan suara jeritan yang memekakkan telinga. Namun aku tidak melepaskannya. Aku terus menusuk serta merobek jaringan syaraf yang menghubungkan matanya dengan otaknya.

Croot.

Dua buah bola mata raksasa berhasil kulepaskan dari rongga kepala mahluk tersebut. Cairan bening yang sangat dingin mengalir membasahi tanganku. Echo Stalker itu jatuh tersungkur tidak berdaya lagi. Tanpa menunggu lama aku langsung memasukkan kedua bola mata itu ke dalam lubang mataku sendiri yang kosong.

[ SISTEM: PROSES TRANSPLANTASI ORGAN INDERA DIMULAI ]

[ SISTEM: MENGINTEGRASIKAN LENSA KRISTAL ECHO STALKER DENGAN JARINGAN SARAF JIWA ]

[ SISTEM: PERINGATAN: SENSORI BERLEBIHAN AKAN MENYEBABKAN RASA SAKIT YANG HEBAT ]

Rasanya seolah olah ada ribuan kabel listrik yang dicolokkan langsung ke dalam pusat kesadaranku. Aku jatuh berlutut di lantai gua sambil memegang kepalaku yang terasa seperti akan meledak. Pandanganku yang tadinya hanya berupa warna biru dan hitam kini mulai berubah secara drastis.

Aku mulai bisa melihat warna. Merah ungu kuning serta hijau mulai muncul di dalam kesadaranku. Namun yang lebih hebat lagi aku bisa melihat aliran energi yang mengalir di udara. Aku bisa melihat aliran esensi yang ada di dalam tubuh Kharis yang sedang terbang di depan gua. Aku bisa melihat setiap retakan terkecil pada dinding gua dengan sangat detail layaknya menggunakan mikroskop.

"Aaakh. Terlalu banyak cahaya. Terlalu banyak informasi."

"Tahan Goma. Fokuskan pandanganmu pada satu titik saja. Biarkan jiwamu mengatur informasi yang masuk secara bertahap," teriak Kharis dari kejauhan.

Aku mencoba untuk tenang. Aku mengatur ritme nafasku yang baru. Perlahan lahan kilatan cahaya yang menyilaukan itu mulai meredup digantikan oleh penglihatan yang sangat jernih serta tajam. Aku menatap tanganku sendiri. Sekarang aku bisa melihat tekstur kulitku bekas luka goresan tadi serta setiap urat otot yang berdenyut di bawah permukaan kulit abu abuku.

Tak hanya itu perubahan fisik mulai terjadi pada kepalaku. Dari bagian leher jaringan otot merah mulai merambat naik menutupi tulang rahang serta pipiku. Kulit abu abu yang kasar juga mulai tumbuh menyelimuti seluruh tengkorak ku. Rambut hitam yang kasar mulai tumbuh dari kulit kepalaku. Wajahku sekarang tidak lagi hanya berupa tulang kering. Meskipun belum memiliki hidung serta bibir yang sempurna namun aku sudah memiliki kelopak mata yang melindungi mata kuning keemasan ku yang baru.

[ SISTEM: EVOLUSI TAHAP WAJAH DAN INDERA PENGLIHATAN SELESAI ]

[ SISTEM: ANDA TELAH MEMPEROLEH: EYES OF THE ABYSS (MATA JURANG MAUT) ]

[ SISTEM: KEMAMPUAN: DAPAT MELIHAT ALIRAN ENERGI DAN MELIHAT DI KEGELAPAN TOTAL ]

[ SISTEM: SINKRONISASI JIWA MENINGKAT 30 % ]

Aku berdiri tegak kemudian berjalan menuju pinggiran gua untuk melihat ke arah luar. Pemandangan Gehenna sekarang terlihat sangat berbeda di mataku. Lembah Abu Hutan Sumsum serta Rawa yang kulewati tadi terlihat sangat luas serta penuh dengan warna warna energi yang misterius. Aku merasa seolah olah aku benar benar telah terlahir kembali.

"Kharis aku bisa melihatmu dengan sangat jelas sekarang. Kau terlihat seperti gumpalan energi ungu yang sangat berisik," ucapku sambil tersenyum tipis.

Kharis terbang mendekat kemudian menatap wajah baruku dengan penuh kekaguman. "Luar biasa Goma. Sekarang kau sudah memiliki wajah meskipun belum sempurna. Dengan mata itu kau tidak akan pernah bisa dijebak lagi oleh mahluk mahluk ilusi di dunia ini."

Aku melihat ke arah tangan kiriku yang masih memperlihatkan struktur tulang pada bagian punggung tangan dan jari jarinya. Ini adalah satu satunya bagian yang belum tertutup daging secara sempurna. Namun aku tidak terburu buru. Aku tahu bahwa perjalananku masih panjang.

Ibu Widya sekarang aku bisa melihat dunia ini dengan lebih jelas. Aku akan mencari jalan pulang untukmu. Tidak ada satu pun dewa yang bisa menyembunyikan jalan itu dariku sekarang.

Aku menatap ke arah puncak tebing yang masih tertutup kabut tebal. Di atas sana adalah batas wilayah luar Gehenna. Di balik puncak itu adalah wilayah tengah tempat tinggal para bangsawan iblis serta mahluk mahluk yang memiliki organ tubuh yang jauh lebih kompleks.

"Ayo Kharis. Kita tidak boleh berhenti di sini. Aku ingin melihat apa yang ada di balik tebing ini menggunakan mata baruku."

Aku mulai memanjat kembali namun kali ini gerakanku jauh lebih efisien serta lebih berani. Dengan penglihatan baruku aku bisa melihat titik lemah pada setiap bongkahan tulang yang ku panjat sehingga aku tidak akan pernah terjatuh lagi. Goma sang pendaki kini telah memiliki mata iblis yang mampu menembus segala kegelapan.

Setiap tarikan napas ku sekarang membawa aroma tantangan yang baru. Setiap inci daging yang tumbuh di kepalaku adalah bukti bahwa aku menolak untuk tetap menjadi sampah neraka. Aku adalah mahluk yang akan mendaki hingga ke surga hanya untuk mencongkel mata para dewa yang telah membuang ku ke sini.

Perjalanan ini baru saja memasuki babak yang sesungguhnya. Dan aku siap untuk menelan setiap musuh yang berani menatap mataku.

1
diy
hadir thor🤭
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
dibanyakin dong bab nya hehe 🤭
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!