"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Sisa Badai di Balik Senyum
"Ma, apa Papa menangis lagi di pojokan karena takut Mama diculik alien penulis itu?"
Suara ketus namun jenaka dari Axelle memecah kesunyian di dalam limosin mewah yang membawa kami pulang dari pesta gala. Axelle duduk di seberangku, memangku laptopnya yang masih menyala, menampilkan grafik keamanan siber yang rumit. Matanya melirik Liam yang duduk di sebelahku, masih memegang tanganku erat-erat seolah-olah aku akan menguap jika dilepaskan.
Liam berdehem kaku, memperbaiki letak kacamatanya yang sebenarnya tidak miring. Wajahnya kembali menjadi CEO yang dingin, namun telinganya yang memerah tidak bisa berbohong.
[Anak ini... benar-benar tidak punya rasa hormat pada ayahnya! Menangis? Aku hanya... mataku kelilipan angin laut tadi! Tapi benar, aku hampir gila saat Elodie menarik Blair ke balkon. Aku tidak akan membiarkan Blair sendirian lagi. Tidak sedetik pun!]
"Papa hanya kelelahan, Axelle. Jangan menggoda Papamu terus," ucapku sambil mengusap kepala Axelle. "Bagaimana dengan sistem yang kau buat? Apa semuanya aman?"
"Aman, Ma. Semua jejak digital Elodie sudah kukunci dalam server terisolasi. Dia tidak akan bisa menyentuh akun bank atau media sosial mana pun tanpa seizinku," jawab Axelle bangga. "Tapi Ma... ada satu hal yang aneh."
Aku mengernyitkan dahi. "Apa itu?"
"Saat aku membersihkan sisa-sisa malware di laptop Nenek Lily sebelum dia berangkat ke bandara tadi pagi, aku menemukan sebuah dokumen terenkripsi. Pengirimnya bukan Elodie," Axelle memutar laptopnya ke arahku. "Ini dikirim dari sebuah firma hukum di Swiss. Namanya... The Raven Trust."
Aku dan Liam saling pandang. Nama itu tidak ada dalam ingatan 'Blair asli', dan Liam tampak sangat terkejut mendengarnya.
"Raven Trust?" gumam Liam, suaranya memberat. "Itu adalah firma yang mengelola warisan kakekku. Tapi akun itu seharusnya sudah ditutup sepuluh tahun lalu saat Papa meninggal."
[Kakek? Kenapa firma itu muncul sekarang? Apa ada hubungannya dengan alasan Mama kembali ke Indonesia? Jangan-jangan... ada rahasia besar yang bahkan Elodie sendiri tidak tahu saat dia menulis novel ini?]
Suasana di dalam mobil mendadak mendingin. Aku merasakan genggaman tangan Liam semakin kuat.
"Axelle, bisa kau lacak siapa penerima manfaat dari dokumen itu?" tanyaku pelan.
"Sedang kucoba, Ma. Tapi enkripsinya level militer. Butuh waktu beberapa hari," sahut Axelle, jemarinya kembali menari di atas keyboard.
Aku menyandarkan kepala di bahu Liam, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkelebat di luar jendela. Ternyata, meskipun 'Penulisnya' sudah kalah, dunia ini terus berjalan dengan logikanya sendiri. Ada rahasia keluarga Alexander yang lebih gelap yang mulai terkuak.
"Jangan terlalu dipikirkan malam ini, Blair," bisik Liam sambil mengecup puncak kepalaku. "Kita sudah melewati banyak hal hari ini. Kau butuh istirahat."
"Aku hanya takut, Liam. Aku takut kebahagiaan ini hanya sementara," jawabku jujur.
Liam memutar tubuhku agar menghadapnya. Di bawah temaram lampu mobil, matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa.
"Dengarkan aku. Elodie mungkin yang memulai 'cerita' ini, tapi akulah yang akan menjaganya tetap berjalan. Aku tidak peduli dengan warisan kakek atau firma hukum mana pun. Jika mereka mencoba menyentuhmu atau Axelle, aku akan menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri."
[Aku bersumpah. Aku akan membangun benteng yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun. Aku mencintaimu, Blair. Sangat mencintaimu sampai rasanya seluruh harta Alexander pun tidak ada artinya jika dibandingkan dengan satu senyumanmu.]
Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar di hatiku. Aku tahu Liam sungguh-sungguh. Tapi aku juga tahu, sebagai mantan pegawai bank, dokumen dari Swiss tidak pernah berarti kabar baik. Itu biasanya berarti perebutan kekuasaan, hutang budi, atau munculnya ahli waris lain yang tidak terduga.
"Ayo kita pulang," ucapku. "Aku ingin melihat piring-piring yang kau cuci semalam. Apa benar-benar bersih atau ada sisa sabunnya?"
Liam tertawa lepas, suasana tegang itu sedikit mencair. "Aku jamin, kau bisa bercermin di piring-piring itu, Nyonya Alexander."
Mobil pun melaju membelah malam, membawa kami kembali ke mansion yang kini terasa seperti rumah yang sebenarnya. Namun, di kejauhan, sebuah pesawat jet pribadi mendarat di bandara Halim Perdanakusuma. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu aristokrat melangkah turun sambil memegang map hitam berlogo burung gagak.
"Jadi, ini tempat Ralph Liam Alexander bersembunyi dengan 'istri durhaka'-nya?" gumam pria itu dengan aksen Eropa yang kental. "Mari kita lihat, apa dia masih layak memegang kunci kekaisaran Alexander."
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/