"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: asing
Hujan di luar sana masih menggila, mengubah kaca jendela sedan mewah ini menjadi kanvas buram yang dihiasi aliran air yang tak putus. Di dalam kabin, suasana begitu kedap. Hanya ada suara gesekan halus ban mobil dengan aspal basah dan alunan musik instrumental yang diputar sangat rendah, nyaris tak terdengar.
Aku duduk di kursi belakang, bersandar pada jok kulit yang terasa dingin namun nyaman. Di sampingku, Bastian Adhitama duduk dengan postur yang sangat tenang. Ia tidak sedang sibuk dengan ponselnya seperti pria kebanyakan. Ia justru menatap ke depan, jemarinya yang panjang sesekali mengetuk pelan pada tas kerja kulit di pangkuannya.
Aroma di dalam mobil ini adalah aroma otoritas. Wangi maskulin yang elegan, campuran antara kayu cendana dan citrus yang segar. Sangat berbeda dengan mobil Kaivan yang selalu beraroma kopi basi dan tumpukan kertas laporan yang berserakan.
"Anda terlihat sangat lelah, Arelia," suara Bastian memecah keheningan. Suaranya berat, namun memiliki intonasi yang sangat terjaga.
"Hanya Senin pagi yang biasa, Pak," jawabku seprofesional mungkin, meskipun aku tahu penampilanku mungkin berantakan setelah konfrontasi dengan Kaivan tadi.
Bastian menoleh sedikit ke arahku. Matanya yang tajam seolah sedang membedah lapisan-lapisan pertahanan yang kupasang. "Senin pagi yang biasa tidak seharusnya membuat seorang analis utama seperti Anda terlihat seolah baru saja memikul seluruh beban gedung SCBD di pundaknya."
Aku tertegun. Kaivan tidak pernah menyadari kelelahanku kecuali jika hal itu menghambat pekerjaannya. Tapi pria ini, yang baru kutemui dalam konteks profesional beberapa kali, bisa melihatnya hanya dalam satu perjalanan singkat.
"Terkadang data memang berat untuk dipikul, Pak," kilahku sambil mencoba tersenyum tipis.
Bastian tidak mendesak. Ia justru beralih ke topik lain. "Tadi saya sempat membaca sedikit draf audit yang Anda susun. Mengapa Anda memasukkan variabel risiko politik pada sektor vendor C? Tim saya sebelumnya tidak pernah menganggap itu penting."
Inilah yang membuatku merasa asing. Ia tidak bertanya "Bisa bantu saya perbaiki ini?" seperti yang selalu dilakukan Kaivan. Ia bertanya "Mengapa Anda berpikir demikian?". Ia meminta pendapatku, menghargai metodologiku, dan memperlakukanku sebagai seorang ahli.
Aku pun mulai menjelaskan. Aku bicara tentang stabilitas logistik, tentang pengaruh kebijakan fiskal baru, dan tentang bagaimana data mikro seringkali mengabaikan sentimen makro. Sepanjang penjelasanku, Bastian mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Ia tidak memotong pembicaraanku. Ia tidak mencoba menggurui.
"Sangat menarik," ucapnya setelah aku selesai. "Anda memiliki perspektif yang tajam, Arelia. Sayang sekali jika perspektif seperti ini hanya digunakan untuk 'memperbaiki' pekerjaan orang lain."
Kalimat terakhirnya menusuk tepat di ulu hati. Ia tahu. Entah bagaimana, Bastian menyadari bahwa selama ini aku hanya menjadi penambal lubang di karier Kaivan.
"Terima kasih atas pujiannya, Pak."
"Itu bukan pujian. Itu observasi," Bastian mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela. "Besok pagi, saya ingin Anda memimpin rapat koordinasi di kantor saya. Hanya Anda. Tanpa... rekan kerja Anda yang sering keluar masuk ruangan Pak Dimas itu."
Aku menelan ludah. Ini adalah peluang besar, sekaligus ancaman besar bagi hubunganku dengan Kaivan. "Tapi Pak, secara struktural Kaivan adalah—"
"Secara struktural, saya adalah klien. Dan saya memilih dengan siapa saya ingin bekerja," Bastian memotong dengan nada yang sangat final. "Kita sudah sampai."
Mobil berhenti tepat di depan lobi apartemenku. Supir Bastian segera turun dan membukakan pintu untukku dengan payung besar yang sudah siap siaga.
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak Bastian," kataku sebelum turun.
"Beristirahatlah, Arelia. Anda butuh pikiran yang jernih untuk rapat besok jam sembilan pagi," pesannya sebelum kaca jendela kembali tertutup.
Aku melangkah masuk ke apartemenku dengan perasaan yang campur aduk. Ruangan sunyi ini biasanya adalah tempatku menunggu telepon dari Kaivan, namun malam ini, aku mematikan ponselku bahkan sebelum aku melepaskan sepatu.
Aku berjalan menuju balkon. Di kejauhan, lampu-lampu Jakarta masih menyala terang di balik tirai hujan. Pikiranku melayang pada kata-kata Bastian. Sayang sekali jika perspektif seperti ini hanya digunakan untuk 'memperbaiki' pekerjaan orang lain.
Selama tujuh tahun, aku bangga menjadi orang di balik layar. Aku merasa aman di bayang-bayang Kaivan. Aku mengira itulah cara mencintai yang paling tulus: memastikan orang yang kucintai tetap bersinar, meski aku harus tetap berada di kegelapan. Tapi sekarang, aku sadar bahwa aku bukan sedang mencintai, aku sedang mengikis diriku sendiri.
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari pintu apartemenku. Jantungku mencelos. Aku tahu siapa itu.
Aku membuka pintu, dan benar saja, Kaivan berdiri di sana. Ia basah kuyup. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini jatuh menutupi keningnya. Matanya merah, dan napasnya memburu.
"Kenapa ponselmu mati, Rel?" ia masuk begitu saja tanpa menunggu dipersilakan. Suaranya tinggi, penuh dengan amarah yang tercampur dengan kepanikan.
"Baterainya habis, Van. Dan ini sudah jam sepuluh malam. Kenapa kamu di sini?" tanyaku, tetap menjaga jarak.
"Kenapa aku di sini? Kamu tanya kenapa aku di sini?" Kaivan tertawa sinis. "Aku jemput kamu ke kantor tadi sore, Maya bilang kamu pulang bareng Bastian Adhitama. Kamu gila, Rel? Kamu tahu siapa dia? Dia itu hiu! Dia cuma mau manfaatin kamu buat dapet data internal kita!"
"Dia klien kita, Kaivan. Dan dia hanya mengantarku pulang karena hujan deras," jawabku tenang.
"Hanya mengantar pulang? Pak Bastian tidak pernah mengantar pulang siapa pun! Aku sudah riset soal dia!" Kaivan mendekat, mencengkeram bahuku. Cengkeramannya kuat, namun tidak lagi membuatku merasa terlindungi. "Kamu jangan mau dimanfaatkan, Rel. Kamu itu polos. Kamu nggak tahu dunia mereka. Sini, kasih tahu aku apa saja yang tadi kalian bicarakan di mobil."
Aku melepaskan tangannya dari bahuku dengan sekali sentakan. Rasa mual itu kembali muncul.
"Dia bertanya soal audit vendor C, Kaivan. Hal yang seharusnya kamu kerjakan kalau kamu tidak sibuk mengurus Nadine," kataku, suaraku kini bergetar karena emosi yang tertahan.
Kaivan tertegun. Namanya Nadine selalu menjadi tombol "pause" baginya. "Rel... aku kan sudah bilang, dia baru balik. Dia butuh teman."
"Dan aku? Aku butuh apa menurutmu, Van? Selama tujuh tahun, pernah nggak kamu tanya aku butuh apa?"
Kaivan terdiam. Ia menatapku seolah aku adalah makhluk asing. "Kamu butuh apa lagi, Rel? Kita selalu bareng. Makan siang bareng, pulang bareng, kerja bareng. Bukannya itu yang selama ini kita jalani?"
"Kita bareng karena kamu butuh aku buat beresin laporanmu. Kita bareng karena kamu butuh aku buat dengerin keluhanmu soal Nadine sepuluh tahun lalu. Kita bareng karena aku selalu tersedia buat kamu," aku menunjuk ke arah pintu. "Tapi sekarang, aku mau istirahat. Keluar, Kaivan."
"Rel, kamu benar-benar berubah gara-gara Bastian itu, ya?" Kaivan menatapku dengan tatapan terluka yang selama ini selalu berhasil membuatku memaafkannya. "Oke, aku pergi. Tapi jangan menyesal kalau nanti kamu cuma jadi mainannya dia."
Ia berbalik dan membanting pintu apartemenku.
Aku jatuh terduduk di lantai. Air mataku akhirnya jatuh, membasahi lututku. Rasa sakit ini bukan karena aku kehilangan Kaivan. Rasa sakit ini muncul karena aku baru menyadari betapa aku telah membiarkan diriku dihina selama tujuh tahun ini oleh orang yang kuanggap paling berharga.
Aku merasa asing dengan diriku sendiri yang baru saja berani mengusir Kaivan. Aku merasa asing dengan Arelia yang mulai berani berkata 'tidak'. Namun di saat yang sama, rasa asing ini memberikan semacam kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku merangkak menuju meja kerja, menyalakan laptop. Aku mulai menyusun materi presentasi untuk besok pagi. Kali ini, tidak ada nama Kaivan di halaman depan. Hanya ada namaku.
Arelia.
Malam itu, di bawah sunyinya apartemen, aku menyadari bahwa 'nyaris' adalah sebuah penjarahan waktu. Dan aku sudah selesai menjadi korban. Mulai besok, aku bukan lagi tempat pulang bagi siapapun. Aku adalah tujuanku sendiri.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain