Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Ayunda berdiri di depan gerbang kost dengan perasaan gelisah yang tidak bisa ia sembunyikan. Matanya terus menatap ke arah jalan, menunggu sosok yang sejak tadi belum juga terlihat. Tangannya sesekali meremas ujung bajunya sendiri, tanda kecemasan yang semakin menumpuk. Ia sudah berkali-kali menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tetapi tetap saja hatinya tidak bisa diajak bekerja sama.
Hingga akhirnya, sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Ayunda langsung mengenali mobil itu.
“Itu mobilnya Pandu…” gumamnya pelan, wajahnya langsung berubah tegang.
Pintu mobil terbuka, dan Aira keluar dari dalam dengan ekspresi datar. Ia hanya sedikit menundukkan kepala ke arah Pandu yang masih berada di dalam mobil.
“Terima kasih, Pak,” ucap Aira singkat.
Pandu hanya tersenyum tipis, senyum yang justru membuat orang lain merasa tidak nyaman jika melihatnya terlalu lama. “Sama-sama, Aira. Hati-hati.”
Aira tidak menjawab lagi. Ia langsung menutup pintu mobil dan melangkah menjauh tanpa menoleh ke belakang.
Ayunda yang sejak tadi memperhatikan segera berlari kecil menghampiri.
“Aira!” panggilnya.
Aira menoleh, lalu tersenyum kecil meskipun terlihat dipaksakan. “Ayunda.”
Ayunda langsung memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan seksama. “Kamu tidak apa-apa?”
Aira menghela napas pelan. “Aku baik-baik saja.”
Ayunda menggeleng pelan, jelas tidak percaya. “Wajah kamu tidak bilang begitu.”
Aira tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya. “Hanya lelah saja.”
Ayunda terdiam sejenak, lalu menunduk. “Maaf…”
Aira sedikit terkejut. “Maaf untuk apa?”
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa,” jawab Ayunda lirih. “Aku cuma pegawai biasa. Tidak mungkin melawan Pandu. Aku bahkan tidak berani menegurnya.”
Aira menatap Ayunda beberapa detik, lalu tersenyum lebih lembut. “Tidak perlu minta maaf. Ini bukan salah kamu.”
“Tapi tetap saja…” Ayunda menggigit bibirnya. “Aku merasa seperti membiarkan kamu sendirian menghadapi dia.”
Aira menggeleng pelan. “Aku bisa menghadapi dia.”
Ayunda langsung mengangkat wajahnya. “Kamu yakin?”
Aira mengangguk. “Selama aku terus menolak, dia pasti akan berhenti.”
Ayunda langsung menghela napas berat dan menggeleng. “Tidak. Kamu belum benar-benar mengenal dia.”
Aira sedikit mengernyit. “Maksud kamu?”
“Pandu bukan tipe orang yang mudah menyerah,” kata Ayunda tegas. “Dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Selalu.”
Aira terdiam sejenak. Kata-kata itu jelas tidak menenangkan.
Namun ia tidak ingin terus membahas hal itu.
Aira kemudian tersenyum kecil, mencoba mengubah suasana. “Sudahlah. Kita bicarakan yang lain saja.”
Ayunda masih terlihat ragu. “Aira…”
“Aku ingin lihat kost kamu,” potong Aira ringan. “Katanya bagus, kan?”
Ayunda berkedip beberapa kali, lalu akhirnya mengangguk. “Iya… iya, bagus. Ayo, aku tunjukkan.”
Keduanya kemudian berjalan masuk ke dalam area kost. Suasananya cukup tenang, dengan bangunan yang terlihat sederhana namun terawat dengan baik.
Ayunda membuka salah satu pintu kamar. “Ini kamar yang kosong.”
Aira masuk perlahan, matanya langsung berkeliling memperhatikan setiap sudut ruangan.
Kamar itu cukup luas. Tidak terlalu besar, tetapi jelas nyaman untuk ditinggali. Lantainya bersih, dindingnya rapi, dan pencahayaan dari jendela membuat ruangan terasa hangat.
“Lumayan,” ujar Aira pelan.
Ayunda langsung tersenyum. “Lumayan? Ini bagus, tahu.”
Aira tertawa kecil. “Iya, bagus. Aku suka.”
Ayunda terlihat lega mendengarnya. “Kalau kamu mau, kamu bisa pakai kamar ini.”
Aira berjalan mendekati jendela, lalu melihat keluar sejenak. “Fasilitasnya bagaimana?”
Ayunda langsung menjelaskan dengan semangat. “Kasurnya sebenarnya sudah ada, tapi karena lama kosong aku simpan dulu. Kalau tidak dipakai, bisa rusak.”
Aira mengangguk pelan.
“Aku juga punya kasur cadangan di gudang,” lanjut Ayunda. “Untuk kamu, aku sudah siapkan. Tinggal dipasang saja.”
“Serius?” tanya Aira.
“Iya. Sama kipas angin besar. Dijamin tidak kepanasan,” jawab Ayunda dengan nada bangga.
Aira tersenyum. “Kamu sudah siapin semua itu?”
Ayunda mengangkat bahu. “Aku berharap kamar ini cepat terisi. Daripada kosong terus.”
Aira terdiam sejenak, lalu mengangguk pasti. “Aku ambil.”
Ayunda langsung membelalakkan mata. “Serius?”
“Iya,” jawab Aira mantap. “Aku pindah besok.”
Wajah Ayunda langsung berubah cerah. “Benar-benar besok?”
Aira tertawa kecil. “Iya. Kamu kira aku bercanda?”
Ayunda langsung tersenyum lebar. “Aku senang sekali!”
Aira ikut tersenyum. “Aku juga. Sudah tidak enak terus merepotkan orang lain.”
“Aku akan bereskan semuanya malam ini,” kata Ayunda penuh semangat. “Kasur, kipas, semuanya siap. Besok kamu tinggal masuk saja.”
Aira mengangguk. “Terima kasih, Ayunda.”
Ayunda tersenyum hangat. “Sekarang kita bukan cuma teman kerja, tapi juga teman sekamar area.”
Aira tertawa kecil. “Semoga kamu tidak bosan.”
“Tidak mungkin,” jawab Ayunda cepat.
Sementara itu, di tempat lain, suasana yang sangat berbeda sedang berlangsung.
Bima duduk di sebuah restoran mewah dengan suasana yang tenang dan elegan. Lampu-lampu hangat menerangi ruangan, menciptakan kesan nyaman bagi siapa pun yang datang.
Namun, tidak untuk Bima.
Ia duduk tegak di kursinya, menatap kosong ke arah meja di depannya. Tangannya sesekali memainkan sendok tanpa tujuan yang jelas.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita datang menghampiri.
Penampilannya mencolok. Gaun yang ia kenakan terlihat mahal, riasannya sempurna, dan caranya berjalan penuh percaya diri.
“Maaf, apakah aku membuatmu menunggu lama?” tanyanya dengan suara lembut.
Bima mengangkat wajahnya, lalu menggeleng pelan. “Tidak. Aku juga baru sampai.”
Wanita itu tersenyum dan duduk di hadapannya. “Syukurlah.”
Ia adalah Julia Azka.
Seorang wanita yang diperkenalkan oleh keluarganya. Lebih tepatnya, pilihan ibunya.
Bima kemudian mengambil menu dan menyerahkannya. “Silakan. Kamu mau pesan apa?”
Julia menerima menu itu dengan anggun. “Terima kasih.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.
Julia akhirnya membuka percakapan. “Bagaimana hari-harimu?”
“Seperti biasa,” jawab Bima singkat.
Julia sedikit memiringkan kepala. “Seperti biasa itu seperti apa?”
“Bekerja,” jawab Bima. “Tidak ada yang istimewa.”
Julia tersenyum kecil. “Kedengarannya membosankan.”
Bima tidak menjawab.
Julia kemudian mulai bercerita. “Kalau aku, akhir-akhir ini sedang sibuk belajar modeling.”
Bima mengangkat sedikit alisnya, tetapi tidak terlihat terlalu tertarik. “Begitu.”
“Iya,” lanjut Julia dengan semangat. “Aku sedang ikut beberapa pelatihan. Katanya aku punya potensi.”
Bima hanya mengangguk pelan. “Bagus.”
Julia tetap tersenyum, meskipun respon Bima terasa dingin. “Aku juga sedang mencoba beberapa pemotretan kecil.”
“Semoga berhasil,” kata Bima datar.
Percakapan itu terasa berat.
Julia berusaha menghidupkan suasana, sementara Bima hanya menjawab seperlunya.
Padahal, jika dilihat dari luar, mereka tampak seperti pasangan yang sempurna.
Namun kenyataannya jauh dari itu.
Bima sebenarnya tidak menginginkan pertemuan ini.
Ia tidak menginginkan hubungan ini.
Sudah dua bulan ia menjalin hubungan dengan Julia, tetapi tidak ada satu pun perasaan yang tumbuh.
Tidak ada ketertarikan.
Tidak ada kedekatan.
Tidak ada apa-apa.
Ia hanya menjalani semuanya karena terpaksa.
Ibunya menginginkan ini.
Ibunya percaya bahwa Julia adalah pilihan yang tepat. Latar belakang keluarga yang baik, penampilan yang menarik, dan sikap yang sopan membuat Julia terlihat sempurna di mata siapa pun.
Termasuk ibunya.
Namun bagi Bima, semuanya terasa kosong.
Ia menatap Julia yang masih berbicara dengan penuh semangat tentang kegiatannya. Tentang kelas modeling, tentang fotografer, tentang rencana ke depan.
Bima mendengarkan, tetapi tidak benar-benar menyimak.
Ia hanya mengangguk di waktu yang tepat.
Menjawab seperlunya.
Menjaga agar percakapan tetap berjalan.
Bukan karena ia tertarik.
Tetapi karena ia tidak ingin menyakiti Julia.
Julia adalah wanita yang baik.
Ia tidak pantas diperlakukan buruk.
Namun masalahnya, Bima juga tidak bisa memaksakan dirinya untuk merasa sesuatu yang memang tidak ada.
Ia terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama sulit.
Mengikuti keinginan ibunya, atau jujur pada dirinya sendiri.
Dan sejauh ini, ia memilih untuk diam.
“Bima?”
Suara Julia membuyarkan pikirannya.
“Ya?” Bima langsung menatapnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Julia.
“Aku baik-baik saja,” jawab Bima cepat.
Julia menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kamu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.”
“Tidak,” jawab Bima singkat.
Julia tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan. “Kalau begitu, bagus.”
Pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan.
Keduanya mulai makan dalam suasana yang masih terasa canggung.
Julia sesekali mencoba membuka percakapan, sementara Bima tetap dengan sikapnya yang datar.
Di balik semua itu, ada sesuatu yang jelas.
Hubungan ini tidak berjalan dengan seimbang.
Julia berusaha mendekat.
Bima justru menjaga jarak.
Dan untuk saat ini, tidak ada yang berani mengubah keadaan itu.
Bima hanya bisa menjalani semuanya, satu langkah demi satu langkah, tanpa tahu ke mana arah akhirnya.
Sementara di tempat lain, Aira justru menemukan awal baru yang sederhana, tetapi terasa jauh lebih nyata.
Dua dunia yang berbeda.
Satu penuh keterpaksaan.
Satu lagi penuh harapan.
Dan keduanya, tanpa mereka sadari, perlahan akan saling bertabrakan.