Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Surat dari Patriark
Xiao Chen menggertakkan giginya begitu keras di luar ruangan, tangan luarnya mencengkeram dinding kayu hingga kuku-kukunya memutih.
Rasa kesal, benci, dan amarah kepada ketidakberdayaan dirinya sendiri berkecamuk di dalam dadanya.
Mengapa orang-orang baik di sekitarnya harus membayar harga semahal ini demi dirinya?
Saat waktu beranjak sore, langit perlahan berubah warna menjadi jingga kelabu yang temaram.
Xiao Chen yang berjalan tanpa arah untuk menenangkan pikirannya yang kalut, tidak sengaja melihat sesosok gadis sedang duduk sendirian di atas batu besar di tepi danau kecil milik sekte.
Itu adalah Qian'er. Gadis itu mengenakan jubah putih polos, duduk dengan melingkarkan kedua lengan di atas lututnya, menatap riak air danau yang tenang.
"Kau sedang apa di sini, Qian'er? Kenapa duduk sendirian di tempat dingin seperti ini?" tanya Xiao Chen pelan sambil berjalan mendekat.
Qian'er tersentak sedikit, menoleh ke arah Xiao Chen dengan wajah yang tampak lelah dan pucat. "Aku... aku hanya ingin mencari ketenangan, Xiao Chen."
Xiao Chen dapat melihat dengan sangat jelas bahwa kedua tangan Qian'er, tangan yang biasanya begitu lincah dan cepat dalam merajut benang serta jarum spiritual kini sedang gemetaran tanpa henti, sebuah trauma fisik dan mental yang belum hilang.
"Kau tahu, Xiao...?" Qian'er menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Suaranya terdengar sangat kecil dan ketakutan. "Aku... aku sangat takut. Aku takut jika suatu hari nanti, di masa depan... aku harus kembali bertemu dengan orang-orang yang semenakutkan Yan Shou. Semenjak kejadian malam itu... setiap kali aku memejamkan mata untuk tidur, aku selalu bermimpi buruk tentang kilatan belatinya dan cipratan darah di wajahku. Aku... aku sangat takut mati, Xiao Chen..."
Xiao Chen menatap gadis itu dengan pandangan penuh empati. Ia tidak mencoba menghibur Qian'er dengan kata-kata kosong seperti 'semua akan baik-baik saja' atau 'kau harus kuat'. Ia tahu kalimat-kalimat seperti itu tidak akan berguna bagi jiwa yang sedang terguncang hebat oleh teror kematian.
Tanpa suara, Xiao Chen melangkah maju dan mendudukkan dirinya di atas batu yang sama, tepat di samping Qian'er.
Ia hanya duduk di sana dalam keheningan yang panjang, menemani gadis itu di bawah langit sore, membiarkan kehadirannya menjadi sandaran sunyi bahwa Qian'er tidak lagi menghadapi ketakutan itu sendirian.
Di bagian lain dari kompleks sekte, di puncak Paviliun Utama, Instruktur Han Gu melangkah dengan tergesa-gesa menuju ke ruang kerja pribadi milik Pemimpin Sekte untuk mencari Patriark. Namun, sesampainya di sana, ruangan raksasa itu tampak kosong melongpong.
Hanya ada seorang pria yang sedang merapikan beberapa gulungan kitab.
"Di mana Patriark, Pemimpin sekte? Aku memiliki laporan penting terkait perkembangan psikologis para penyintas ujian luar," tanya Han Gu dengan dahi berkerut.
Pemimpin Sekte itu mendongak, lalu mengembuskan napas panjang. "Beliau baru saja pergi beberapa saat yang lalu. Beliau mengatakan ada urusan. aku tidak tahu urusan apa."
Pemimpin sekte itu menyodorkan sebuah surat yang disegel dengan lilin merah bergambar lambang kuno sekte.
Han Gu menerima pucuk surat tersebut dengan guratan heran di wajahnya. Ini adalah hal yang teramat langka.
Setelah bertahun-tahun lamanya memilih untuk mengasingkan diri dan bermeditasi di dalam ruang rahasia sekte, sang Patriark tiba-tiba memutuskan untuk kembali melangkah keluar dari ruangannya secara mandiri.
Dengan perlahan, Han Gu memecahkan segel lilin tersebut dan membuka lipatan kertas di dalamnya. Sepasang matanya yang biasanya sedingin es perlahan membelalak lebar seiring ia membaca setiap baris tulisan tangan sang Patriark yang tertulis di sana.
Napas Han Gu sempat tertahan untuk beberapa detik. Wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat.
"Apa-apaan ini...? Apa... apa Beliau benar-benar yakin dengan keputusan gila ini?!" bisik Han Gu dengan tangan yang sedikit bergetar.