Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kaca yang Pecah
Mesin mobil sedan sewaan itu menderu pelan. Membelah kesunyian pinggiran Jakarta yang mulai berselimut kabut subuh. Suara merdu selawat tarhim sayup-sayup sudah mulai terdengar dari kejauhan.
Cahaya lampu merkuri di sepanjang jalan raya memantulkan bayangan yang memanjang dan meliuk-liuk. Seolah-olah hantu-hantu kota sedang menyambut kedatangan sang pengantin yang telah hancur. Di dalam kabin, udara terasa membeku.
Bukan karena pendingin ruangan yang diputar maksimal, melainkan karena keheningan yang keluar dari pori-pori kulit Larasati. Kebekuan yang terus menjalari setiap inci rasa di tubuhnya.
Bagas sesekali meringis, memegang perutnya dan mengusap sudut bibirnya yang lebam. Bekas pukulan akting yang ia terima beberapa jam lalu di jalan tol.
"Maafkan aku, Laras... Maafkan suamimu yang lemah ini. Aku benar-benar tidak menyangka mereka akan sekeji itu. Kalau saja aku punya senjata, kalau saja aku lebih kuat..."
Suara Bagas terdengar parau, penuh dengan penyesalan yang dikalibrasi dengan sangat rapi. Ia mengulurkan tangan, mencoba mengusap rambut Larasati yang berantakan.
Mencoba membelai jemari istrinya yang kaku. Namun, Larasati tidak bergeming. Ia tidak menjauh, tapi juga tidak merespons. Tubuhnya ada di sana, di kursi penumpang. Namun jiwanya seolah-olah telah terkubur di semak-semak KM 42.
Bagi Larasati, sentuhan Bagas kini terasa seperti gesekan ampelas di atas luka terbuka. Tidak ada lagi rasa hormat, tidak ada lagi rasa kagum pada pahlawan yang dulu di banggakan Ayahnya di depan orang banyak.
Dunianya yang kemarin, dunia di mana ia adalah kembang desa yang suci dan penuh harapan telah lenyap. Larasati yang duduk di mobil itu adalah sesosok asing yang ia sendiri tidak kenali.
Hatinya membeku, matanya kosong menatap lampu-lampu jalanan yang kabur oleh sisa air mata yang tak kunjung berhenti menetes. Dadanya semakin sesak dengan tatapan mata terus kosong tak berujung. Seakan tenggelam oleh kegelapan tanpa dasar.
Janji Apartemen dan Realitas Kontrakan
Mobil itu perlahan keluar dari jalan protokol, masuk ke gang-gang sempit yang dipadati oleh deretan rumah petak dan jemuran yang menggantung liar. Larasati sedikit mengernyit.
Di mana apartemen mewah yang dijanjikan Bagas? Di mana gedung tinggi dengan balkon yang menghadap ke lampu kota. Seperti yang sering diceritakan Bagas saat mereka masih di Sukamulya. Mobil berhenti di depan sebuah rumah kontrakan bercat kusam dengan pagar besi yang sudah berkarat.
"Laras, sayang... dengarkan aku," Bagas bicara sembari mematikan mesin. Suaranya dibuat sedalam mungkin untuk menenangkan kecurigaan.
"Sebenarnya, apartemen kita di pusat kota sedang direnovasi besar-besaran. Ada kerusakan pada saluran air dan instalasi listriknya. Pihak manajemen bilang mungkin butuh waktu setahun untuk benar-benar selesai. Aku tidak ingin membawamu ke sana dalam kondisi berantakan, apalagi setelah kejadian traumatis semalam."
Larasati tetap diam. Ia hanya menatap tembok kontrakan yang berlumut itu. Menatap suasana hiruk-pikuk sekitar kontrakan yang penuh celotehan kasar yang tentu laras belum terbiasa dengan suasana itu.
"Untuk sementara, kita tinggal di sini dulu. Ini rumah kontrakan milik Maya. Kebetulan Maya juga tinggal di sini. Jadi kalau aku sedang bekerja nanti, kau tidak sendirian. Ada Maya yang bisa menemanimu, menghiburmu. Aku sangat khawatir meninggalkanmu sendirian setelah serangan preman itu," dalih Bagas dengan kelicikan yang sempurna.
Larasati hanya mengangguk lemah. Baginya, tinggal di istana atau di lubang tikus sekalipun tidak ada bedanya sekarang. Kesuciannya sudah hilang, kehormatannya sudah dirampas. Lokasi hannyalah koordinat geografis yang tak lagi bermakna bagi hatinya yang telah mati.
Di Balik Pintu Kamar yang Bersebelahan
Bagas bergerak cepat menurunkan tas-tas pakaian mereka dari bagasi. Ia membawa Laras masuk ke dalam rumah yang berbau pengap dan lembap itu. Ia menuntun Laras masuk ke sebuah kamar kecil yang hanya berisi kasur lantai tipis dan sebuah lemari plastik.
"Istirahatlah di sini, Laras. Aku akan membereskan barang-barang kita," ucap Bagas sembari mengecup dahi Laras.
Laras hanya terduduk diam di ujung kasur, matanya menatap lantai semen yang dingin. Air matanya kembali menetes. Membasahi kain kebaya pernikahannya yang sudah ternoda tanah dan dosa dan robek di mana-mana.
Begitu pintu kamar tertutup, raut wajah Bagas langsung berubah. Tidak ada lagi kepanikan, tidak ada lagi rasa sakit.
Ia melangkah menuju kamar sebelah. Kamar yang selama ini ditempati Maya. Kamar itu dulunya adalah kamar tamu jika ada teman mereka yang menginap. Namun kini telah menjadi sarang persembunyian bagi dua pengkhianat ini.
Di dalam, Maya sudah menunggu dengan gaun tidur tipis. Ia langsung menyambar leher Bagas, menciumnya dengan penuh nafsu yang selama ini tertahan.
"Bagaimana? Berhasil?" bisik Maya di sela-sela cumbuan mereka.
"Sempurna," jawab Bagas sembari membalas pelukan Maya dengan kasar.
"Permadi puas. Hutangku lunas dan si bodoh itu sekarang hanya bisa menangis di kamar sebelah. Dia sama sekali tidak curiga."
Bagas menarik Maya ke atas tempat tidur, mereka mulai bercumbu dengan suara yang nyaris terdengar ke kamar sebelah. Bagas berbisik tepat di telinga Maya, "Jangan pergi ke mana-mana hari ini. Aku sudah bilang padanya kalau apartemen sedang direnovasi selama setahun. Itu alasan agar kau bisa tetap di sini, menemani dia dan memastikan dia tidak melakukan hal bodoh atau mencoba menghubungi orang tuanya di desa."
Maya tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan penuh kemenangan, "Kau cerdas, Bagas, biarkan dia di sana meratapi nasibnya, sementara kita menikmati uang sisa yang kau bawa dari ayahnya."
Dua Dunia dalam Satu Atap
Hanya terpisah oleh dinding tipis yang tidak kedap suara. Dua pemandangan kontras terjadi.
Di satu kamar, Larasati meringkuk di atas kasur tipis. Memeluk lututnya dalam kegelapan. Ia sesekali mendengar suara tawa kecil dan bisikan dari kamar sebelah.
Namun otaknya yang sudah mati rasa menganggap itu hannyalah suara televisi atau percakapan biasa antara suami dan temannya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pria yang baru saja ia panggil suami. Sedang merayakan kehancurannya di atas ranjang bersama sahabat terbaiknya.
Larasati teringat ibunya di desa. Ia teringat Pak Tarno yang mungkin sekarang sedang bangga menceritakan pada tetangga. Bahwa putrinya sudah hidup mewah di Jakarta. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya. Ia merasa telah menjadi aib, sebuah cacat yang tidak pantas kembali ke Sukamulya.
Di saat yang sama di pusat kota Jakarta, Rizki Pratama tidak bisa memejamkan mata. Ia berdiri di balkon rumah sakit, menatap ke arah pemukiman padat penduduk yang terlihat dari kejauhan. Firasatnya semakin tajam, rasa nyeri di dadanya belum hilang.
"Dimanah kamu sekarang, Laras?" gumam Rizki.
Rizki tidak tahu bahwa gadis yang ia cari berada di sebuah kontrakan kumuh. Hanya berjarak beberapa kilometer darinya. Ia tidak tahu bahwa bunga yang ingin ia selamatkan. Sedang berada di tangan dua predator yang siap menghisap sisa-sisa hidupnya sampai kering.
Malam itu, Jakarta menjadi saksi atas dua takdir yang berlawanan. Sebuah pengkhianatan yang dirayakan dengan nafsu di satu kamar dan sebuah kehancuran yang diratapi dengan air mata darah di kamar lainnya.
Sandiwara Bagas telah dimulai dan Larasati, dalam diam dan bekunya. Kini telah menjadi tawanan dalam rumah kaca yang ia kira adalah tempat perlindungan. Tanpa menyadari bahwa kaca itu telah pecah dan duri-durinya siap menusuknya setiap saat.